^Kembali ke Atas

foto1 foto2 foto3 foto4 foto5

Hari Anti Korupsi

Setiap tanggal 9 Desember, diperingati sebagai Hari Anti Korupsi Se-dunia yang di Indonesia rencananya akan dirayakan secara meriah dengan melakukan aksi demo massal di beberapa titik di Jakarta dan hampir di seluruh Kota Besar di Indonesia.

Pemberitaan yang gencar di seluruh media pemberitaan terhadap rencana aksi demo dalam rangka Hari Anti Korupsi Sedunia, mengusik Dhany dan Izan untuk bertanya kepada kami, yaitu : “yah … apa sich arti Korupsi itu ?? “

Sejenak berpikir untuk memberikan penjelasan tentang arti Korupsi kepada Dhany dan Izan, akhirnya kami berikan penjelasan kepada Dhany dan Izan bahwa korupsi adalah tindakan mencuri uang yang bukan merupakan haknya. “Berarti sama dengan pencuri dong !! “ ujar Dhany yang serta-merta membuat saya harus berpikir kembali mencari contoh yang tepat untuk menjelaskan arti korupsi kepada seorang anak kecil kelas 4 SD.

Akhirnya terpikir juga untuk membuat contoh sederhana. “Dhan … korupsi itu contohnya kalo Dhany minta uang ke Ayah untuk membeli Buku, waktu ayah Tanya berapa, Dhany menjawab harga bukunya 15 ribu, padahal harga bukunya Cuma 10 ribu. Jadi waktu ayah kasih Dhany uang sebanyak 15 ribu, Dhany kemudian mengambil sisa uang yang 5 ribu karena harga bukunya sebenarnya Cuma 10 ribu. Nah … tindakan Dhany yang semacam itu bisa dikategorikan sebagai Korupsi uang pembelian buku. Seharusnya harganya 10 ribu, tapi Dhany bilang harganya 15 ribu dan selisih uang yang 5 ribu Dhany ambil untuk dipake beli jajan di kantin sekolah.”

Ibu Guruku Tukang Timbang Bayi …

Oleh Didi Mardiyanto

Perumahan Taman Griya Kencana atau biasa disebut TGK, adalah salah satu perumahan yang ada di Kota Bogor. Walaupun secara administratif masuk ke wilayah kota bogor, namun lokasinya relatif cukup jauh dari ibukota Bogor. Seperti kebanyakan perumahan yang baru tumbuh, warga perumahan TGK sebagian besar adalah keluarga muda yang memiliki 1 atau 2 anak yang masih berada dikisaran antara 0 hingga 12 tahun.

Secara strata sosial, sebagian besar warga memang bekerja sebagai karyawan swasta, namun kebanyakan berada pada level yang tidak terlalu tinggi di perusahaannya. Ibu-ibunya sebagian besar adalah ibu rumah tangga yang kesehariannya adalah mengurus rumah dan anak balita mereka.

Kelembagaan Sosial di TGK tumbuh dengan baik. Salah satunya adalah Lembaga Posyandu yang dalam kegiatannya diawaki oleh ibu-ibu yang bekerja sebagai relawan yang menyandang gelar sebagai Kader Posyandu. Radio Komunitas Suara Kencana juga hadir, menyemarakkan TGK dengan beragam program penyiaran dan Program Off air yang secara berkala diadakan.

Pemikiran tentang perlunya dilahirkan satu lembaga baru, perlahan hadir ketika para Kader Posyandu mengisi slot siaran Kreasi Anak Griya di Radio Komunitas Suara Kencana. Para Kader Posyandu yang menjadi Host dalam acara Kreasi Anak Griya, agak tergagap-gagap ketika menyadari bahwa di TGK banyak anak yang sudah masuk usia TK tetapi tidak bisa ikut sekolah TK karena orang tua mereka menyatakan tidak mampu menyekolahkan anak mereka di sekolah TK. “ Biar aja … nanti langsung masuk SD “ ujar mereka ketika ditanya kenapa tidak disekolahkan ke sekolah TK.

Para Kader Posyandu yang kegiatannya berbasis kepada kesehatan anak balita, merenung dan berpikir bahwa akan timpang ketika asupan gizi dan pemantauan kesehatan yang mereka lakukan terhadap balita TGK, ternyata tidak diimbangi dengan asupan pendidikan sejak usia dini.

 

Renungan tersebut akhirnya berbuah aksi nyata …. Membentuk Pos PAUD yang diberinama PAUD Karang Balita yang dalam pengelolaannya berbasis sukarelawan dengan mengusung jargon “ Sekolah Murah Tapi Tidak Murahan

Tanggapan warga … luar biasa … pada kegiatan pengajaran pertamanya tercatat sebanyak 80 anak yang dititipkan oleh warga untuk belajar di PAUD Karang Balita. Antusiasme warga tentunya harus dijawab dengan melakukan perencanaan kegiatan dengan mengadopsi seluruh kurikulum yang harus diberikan kepada anak yang berada di jenjang sekolah taman kanak-kanak.

Para Kader Posyandu yang berperan ganda menjadi Guru, harus secara kilat mengupgrade diri mereka untuk dapat menjalankan peran sebagai pendidik. Upgrade kemampuan yang dilakukan oleh para kader Posyandu tersebut untuk pertama kalinya adalah sangat sederhana, yaitu mengupgrade diri agar menjadi lebih sabar menghadapi anak-anak dan lebih banyak lagi menghapal lagu-lagu yang bernuansa taman kanak-kanak.   Koordinator PAUD bergerak cepat dengan mengekplorasi beragam permainan anak yang sering dimainkan di Taman Kanak-kanak.

Kehadirannya yang pada saat baru menjadi wacana, banyak diremehkan oleh Lembaga Taman Kanak-kanak yang terlebih dahulu hadir, berbalik menjadi kekhawatiran bahwa PAUD Karang Balita akan mencaplok lahan bisnis mereka. Bagaimana tidak …. Ketika Lembaga Taman Kanak-kanak yang ada di TGK rata-rata hanya memiliki 30 anak didik, PAUD Karang Balita langsung menggebrak dengan 80 anak didik.

Tanggal 10 September 2006, PAUD Karang Balita diresmikan oleh Kepala Kelurahan Kencana berbarengan dengan Peresmian Perpustakaan Suara Kencana oleh Kepala UPTD Perpustakaan Daerah Kota Bogor, yang pendiriannya diinisiasi oleh Radio Komunitas Suara Kencana, melaluai suatu rangkaian kegiatan akbar yang bertajuk Gebyar Hari Aksara.

Semangat para Guru PAUD Karang Balita terus menggelora ketika berhasil mendapatkan Surat Keputusan dari Kepada Dinas Pendidikan Kota Bogor nomor No. 425/13.DISDIK/2007 Tanggal 22 Januari 2007 sebagai Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini yang beroperasi secara resmi. Gelora Semangat memang pantas berkobar, karena terbitnya SK tersebut menjadikan PAUD Karang Balita sebagai satu-satunya Penyelenggara Pendidikan Anak Usia Dini yang memiliki izin resmi di lingkungan TGK.

Keinginan dari orang tua anak didik agar fasilitas belajar ditingkatkan, disambut dengan kesediaan salah seorang warga yang bersedia halaman rumahnya digunakan sebagai tempat belajar bagi siswa-siswi PAUD Karang Balita.   Pada perkembanganya, PAUD Karang Balita kini memiliki Gedung Sendiri yang berukuran 45 M2 dengan luas lahan bermain lebih dari 300 M2 yang pembangunannya disupport oleh salah satu instansi pemerintah dan mendapatkan kucuran dana lebih dari 25 juta rupiah untuk pengadaan peralatan ajar dan alat peraga pendidikan dari Dinas Pendidikan Jawa Barat.

Satu Bulan sekali, kegiatan PAUD Karang Balita harus diliburkan, karena berbarengan dengan kegiatan Posyandu. Pada saat kegiatan Posyandu, para Guru beralih tugas menjalankan peran masing-masing dalam pengelolaan Posyandu. Dua Fungsi yang berbeda yang dilakukan oleh orang yang sama, kadang mendapatkan komentar yang menggelitik dari siswa-siswi PAUD Karang Balita …. Ibu Guruku Tukang Timbang Bayi ….