^Kembali ke Atas

foto1 foto2 foto3 foto4 foto5

ANAK-ANAK KARBITAN

Oleh Dewi Utama Faizah,
bekerja di Direktorat pendidikan TK dan SD Ditjen Dikdasmen, Depdiknas,
Program Director untuk Institut Pengembangan Pendidikan Karakter divisi dari Indonesian Heritage Foundation.

Anak-anak yang Digegas Menjadi Cepat Mekar, Cepat Matang, Cepat Layu...

Pendidikan bagi anak usia dini sekarang tengah marak-maraknya. Dimana mana orang tua merasakan pentingnya mendidik anak melalui lembaga persekolahan yang ada. Mereka pun berlomba untuk memberikan anak-anak mereka pelayanan pendidikan yang baik. Taman kanak-kanak pun berdiri dengan berbagai rupa, di kota hingga ke desa. Kursus-kursus kilat untuk anak-anak pun juga bertaburan di berbagai tempat. Tawaran berbagai macam bentuk pendidikan ini amat beragam. Mulai dari yang puluhan ribu hingga jutaan rupiah per bulannya. Dari kursus yang dapat membuat otak anak cerdas dan pintar berhitung, cakap berbagai bahasa, hingga fisik kuat dan sehat melalui kegiatan menari, main musik dan berenang. Dunia pendidikan saat ini betul-betul penuh dengan denyut kegairahan. Penuh tawaran yang menggiurkan yang terkadang menguras isi kantung orangtua ...

Captive market! Kondisi diatas terlihat biasa saja bagi orang awam. Namun apabila kita amati lebih cermat, dan kita baca berbagai informasi di internet dan literatur yang ada tentang bagaimana pendidikan yang patut bagi anak usia dini, maka kita akan terkejut! Saat ini hampir sebagian besar penyelenggaraan pendidikan bagi anak-anak usia dini melakukan kesalahan. Di samping ketidak-patutan yang dilakukan oleh orang tua akibat ketidak-tahuannya!

Selengkapnya: ANAK-ANAK KARBITAN 

Ibu Guruku Tukang Timbang Bayi …

Oleh Didi Mardiyanto

Perumahan Taman Griya Kencana atau biasa disebut TGK, adalah salah satu perumahan yang ada di Kota Bogor. Walaupun secara administratif masuk ke wilayah kota bogor, namun lokasinya relatif cukup jauh dari ibukota Bogor. Seperti kebanyakan perumahan yang baru tumbuh, warga perumahan TGK sebagian besar adalah keluarga muda yang memiliki 1 atau 2 anak yang masih berada dikisaran antara 0 hingga 12 tahun.

Secara strata sosial, sebagian besar warga memang bekerja sebagai karyawan swasta, namun kebanyakan berada pada level yang tidak terlalu tinggi di perusahaannya. Ibu-ibunya sebagian besar adalah ibu rumah tangga yang kesehariannya adalah mengurus rumah dan anak balita mereka.

Kelembagaan Sosial di TGK tumbuh dengan baik. Salah satunya adalah Lembaga Posyandu yang dalam kegiatannya diawaki oleh ibu-ibu yang bekerja sebagai relawan yang menyandang gelar sebagai Kader Posyandu. Radio Komunitas Suara Kencana juga hadir, menyemarakkan TGK dengan beragam program penyiaran dan Program Off air yang secara berkala diadakan.

Pemikiran tentang perlunya dilahirkan satu lembaga baru, perlahan hadir ketika para Kader Posyandu mengisi slot siaran Kreasi Anak Griya di Radio Komunitas Suara Kencana. Para Kader Posyandu yang menjadi Host dalam acara Kreasi Anak Griya, agak tergagap-gagap ketika menyadari bahwa di TGK banyak anak yang sudah masuk usia TK tetapi tidak bisa ikut sekolah TK karena orang tua mereka menyatakan tidak mampu menyekolahkan anak mereka di sekolah TK. “ Biar aja … nanti langsung masuk SD “ ujar mereka ketika ditanya kenapa tidak disekolahkan ke sekolah TK.

Para Kader Posyandu yang kegiatannya berbasis kepada kesehatan anak balita, merenung dan berpikir bahwa akan timpang ketika asupan gizi dan pemantauan kesehatan yang mereka lakukan terhadap balita TGK, ternyata tidak diimbangi dengan asupan pendidikan sejak usia dini.

Selengkapnya: Ibu Guruku Tukang Timbang Bayi

Guru Pos PAUD Butuh Sertifikasi

Oleh Didi Mardiyanto

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Pengalaman mendampingi sebuah Lembaga Sosial yang berkegiatan di bidang pendidikan dan berbasis sukarelawan, dalam bentuk Pos PAUD yang bernama Karang Balita, menyadarkan kepada saya bahwa memang banyak tantangan untuk mengelola sebuah lembaga yang berbasis sosial.

Sejak awal pendirian Pos PAUD yang saya dampingi, konsep awalnya adalah membangun lembaga pendidikan yang Murah Tapi Tidak Murahan, ternyata relatif sulit dalam hal menarik orang untuk mau bergabung menjadi pengelola, tanpa ada efek financial bagi mereka yang diajak bergabung.

Wal hasil, sukarelawan yang bersedia bergabung terbentur dengan basic pendidikan yang mereka miliki. Agak sulit memang menjalankan Lembaga Pendidikan, walaupun hanya setingkat PAUD, jika sumber daya yang dimiliki memang tidak berasal dari bidang pendidikan. Banyak para sarjana di lingkungan PAUD Karang Balita yang saya dampingi, menyatakan beribu alasan ketika diajak bergabung dan diberikan informasi bahwa honor yang didapatkan adalah ala kadarnya.

Tuntutan dari orang tua anak didik, agar disediakan guru yang memenuhi syarat bagi putra-putri mereka yang dititipkan di PAUD, terus disampaikan setiap kali ada pertemuan orangtua dan pengelola. Walaupun para orang tua menyadari bahwa Pos PAUD yang dikelola ini adalah Pos PAUD yang basisnya sukarelawan, tetapi tetap saja tuntutan Guru berkualitas selalu disampaikan. Hal yang wajar menurut saya. SK Dinas Pendidikan yang mensyahkan pendirian dan pengelolaan Pos PAUD, ternyata belum cukup menjadi modal untuk menyakinkan orang tua siswa bahwa para guru yang mengelola PAUD sudah dinyatakan memenuhi syarat pengelolaan dari instansi yang berwenang.

Selengkapnya: Guru Pos PAUD Butuh Sertifikasi

Setiap lembaga yang melakukan pengelolaan PAUD harus melengkapi diri dengan beragam administrasi standard dalam pengelolaan PAUD.   Begitu pula halnya dengan mereka yang mengelola PAUD yang tidak berbasis komersial, tetap harus menunjukkan aspek professional dalam melakukan pengelolaan PAUD.

Salah satu dokumen yang penting untuk menunjukkan sebuah Lembaga PAUD dikelola secara professional, adalah adanya dokumen Kurikulum Belajar untuk para siswa mereka.  Melalui Dokumen Kurikullum tersebut,  masyarakat dapat menilai seberapa professional orang-orang yang mengelola Lembaga PAUD.

Untuk keperluan membantu para pengelola PAUD non komersial yang ingin mendapatkan Panduan dalam penyusuan kurikulum belajar, kami sediakan beberapa file SKH (Satuan Kegiatan Harian), SKM (Satuan Kegiatan Mingguan), RPP Silabus Lengkap untuk PAUD, serta Contoh Buku-Buku Administrasi pengelolaan PAUD.

Selengkapnya: Buku administrasi PAUD

Terbayang nggak  jika anak kita sudah hampir menginjak usia 2 tahun, ternyata belum juga dapat berbicara ?  pasti kita akan dilanda kepanikan luar biasa.  Hal ini juga menimpa kami ketika anak kami yang pertama (Dhany), ternyata sangat lambat berbicara.  Dhany baru bisa berbicara setelah usianya 2 tahun.

Kami mendeteksi kelambatan bicara anak kami ketika usianya menginjak usia 18 bulan, tetapi tidak menunjukkan perkembangan bicara yang sesuai dengan usianya.  Dhany hanya bisa ah .. uh .. ah .. uh ketika meminta sesuatu, sehingga sangat membingungkan kami ketika Dhany meminta sesuatu, tetapi kami tidak mampu menangkap apa yang diinginkannya karena bicaranya yang tidak jelas.

Melihat kondisi tersebut, kami melakukan beberapa pemeriksaan dasar terhadap Dhany.  Kami mencoba memanggil namanya dari jarak sekitar 5 meter dan ternyata Dhany merespon panggilan tersebut dengan menolehkan kepalanya ke arah suara yang memanggilnya.  Kami mengucap syukur, karena berarti anak kami tidak memiliki masalah dalam pendengarannya.  

Setiap saat kami selalu melakukan rangsangan kepada Dhany agar dapat mengucapkan sesuatu dengan jelas.  Namun hingga ulang tahunnya yang kedua, Dhany tetap tidak menunjukkan perkembangan kemampuan bicaranya.  Tetapi untuk perkembangannya secara fisik relatif tidak memiliki masalah.  Gigi-gigi Dhany tumbuh dengan baik, Langit-langit Lidahnya juga tidak terlalu pendek yang berarti tidak ada peluang cadel, serta pada usia belum genap 2 tahun, Dhany sudah mampu berlari dengan keseimbangan yang cukup baik.

Selengkapnya: Anak Terlambat Bicara