^Kembali ke Atas

foto1 foto2 foto3 foto4 foto5

Rumah Jagal Kambing

Salah satu ritual yang harus dilakukan sebagian besar jamaah Haji asal Indonesia adalah melakukan pembayaran Dam atau denda dalam bentuk pemotongan hewan Kambing. Pembayaran Dam ini harus dilakukan karena sebagian besar jamaah haji Indonesia mengambil Haji Tamatu’ yang mewajibkan pembayaran Dam berupa 1 ekor kambing.

Pembayaran Dam dilakukan secara kolektif yang pelaksanaannya dikoordinir oleh Ketua Rombongan kami.

Pada saat hari pemotongan kambing Dam, seluruh jamaah diajak untuk melihat secara langsung proses pemotongan kambing di rumah Jagal.

Tiba di lokasi, kami langsung masuk ke dalam kawasan rumah jagal dan dibawa ke area pemotongan yang sudah disiapkan untuk rombongan kami.

Petugas yang menangani pemotongan hewan dam kemudian memanggil nama kami satu per satu untuk menyaksikan pemotongan hewan Dam secara langsung.

Usai pemotongan hewan Dam atas nama kami, Ucap syukur Alhamdulillah kami panjatkan kepada Allah Subhanna Wa’Taala karena kami diberikan kelancaran menjalankan syariat dan syarat dalam menjalankan ibadah haji kami.

Terkait dengan aktivitas pembayaran Dam dalam bentuk pemotongan hewan kambing, banyak mukimin atau warga Negara Indonesia yang tinggal di Arab Saudi, yang mengajukan diri sebagai koordinator yang mengatur pembelian, pemotongan, serta distribusi daging kambing tersebut.

Salah satu hal yang menjadi perhatian utama jamaah haji untuk memutuskan akan mengambil tawaran yang diajukan, adalah dengan melihat fasilitas tambahan yang diberikan oleh pengelola. Fasilitas tambahan tersebut adalah fasilitas ziarah ke beberapa tempat yang lokasinya tidak berjauhan dengan lokasi pemotongan hewan Dam tersebut.

Rombongan kami memutuskan menggunakan jasa Koordinator seorang mukimin asal Madura untuk pengelolaan Kambing Dam karena memberikan fasilitas ziarah ke Jabal Tsur, Jabal Rahmah, serta melintasi kawasan Padang Arafah, Muzdalifah, dan Mina untuk memberikan gambaran jamaah lokasi tempat menjalankan ritual ibadah haji.

Jabal Tsur

Usai melakukan pemotongan hewan kambing Dam, jamaah haji kemudian dibawa mengunjungi Jabal Tsur. Mengutip situs Kementrian Agama Republik Indonesia, Jabal Tsur terletak disebelah selatan Masjidil Haram sejauh kurang lebih 6 km. Jabal Tsur ini mempunyai nilai penting dalam sejarah Islam.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersama-sama dengan Abu Bakar Ashiddiq pernah berlindung di gunung tersebut waktu hendak hijrah ke Madinah. Menurut riwayat, setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam selamat dari kepungan orang kafir Quraisy dirumahnya, maka beliau dengan diam-diam menyinggahi sahabat Abu Bakar Ashiddiq.

Dari rumah Abu Bakar beliau bersama-sama dengan Abu Bakar lebih dahulu berlindung bersembunyi di Jabal Tsur kemudian menuju Madinah, sebagian orang-orang kafir Quraisy waktu mengejar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ada yang telah sampai Gua Tsur, mereka mendapatkan gua tersebut, tertutup dengan sarang laba-laba, dan nampang burung merpati yang sedang bertelur di sarangnya.

Dengan melihat keadaan yang sedemikian itu, mereka berkesimpulan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak mungkin bersembunyi di gua tersebut. Sewaktu orang-orang Quraisy di muka gua, bukan main cemas hati sahabat Abu Bakar Ashiddiq, kemudian turun wahyu Allah Surat At-Taubah ayat 40. Setelah orang kafir Quraisy pergi maka beberapa hari kemudian Abu Bakar Ashiddiq berangkat menuju Madinah dengan selamat.

Di atas Jabal Tsur terdapat sebuah gua, jika ingin masuk ke dalam gua haru bertiarap dan setelah masuk hanya dapat duduk saja. Untuk mencapai gua Tsur ini memerlukan perjalanan mendaki selama kurang lebih 1,5 jam.

Kami tidak mengunjungi Jabal Tsur secara langsung karena kondisinya yang tidak memungkinkan. Bis yang mengantar kami berhenti di salah satu pinggir simpangan jalan dan pemandu tour memberikan informasi kepada kami dimanakah lokasi Jabal Tsur berada.

Jabal Rahmah

Perjalanan menuju Jabal rahmah melewati kawasan Mina dan Padang Arafah yang dipenuhi dengan tenda untuk para jamaah haji. Pemandu tour juga memberikan penjelasan kepada kami dimana lokasi Terowongan Mina yang dalam beberapa hari ke depan akan kami gunakan untuk menuju ke area Lontar Jumrah.

Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, kami akhirnya tiba di kawasan Jabal Rahmah.

Dikutip dari situs www.duniatimteng.com, disebutkan bahwa Jabal Rahmah terletak di tepi padang Arafah yang merupakan daerah di pinggiran timur Makkah. Tempat legendaris ini tak pernah sepi dari jamaah Haji maupun Umroh terutama jamaah Haji asal Indonesia.

Konon, Jabal Rahmah merupakan titik pertemuan antara Nabi Adam dan Hawa setelah masing-masing terpisah di antara ujung dunia. Di titik itulah kini berdiri monumen putih tanda pertemuan kedua manusia pertama tersebut.

Jabal Rahmah tidak jauh dari Padang Arafah, dimana jamaah Haji menunaikan wukuf pada tanggal 9 Dzulhijjah.

Dari asal katanya, rahmah berarti kasih sayang. Sebuah nama yang diambil dari kisah masyhur di kalangan umat Islam, kisah pertemuan antara Adam dan Hawa setelah sekian lama tak berjumpa.

Ketika Adam dan Hawa diturunkan ke bumi, mereka ditempatkan secara terpisah.

Sebagai pengingat moment pertemuan itu, di atas Jabal Rahmah ada sebuah monumen yang terbuat dari beton persegi panjang dengan lebar 1,8 meter dan tinggi 8 meter. Masyarakat setempat percaya, lokasi pertemuan Adam dan Hawa adalah persisi di titik bangunan monumen putih itu.

Jabal Rahmah sendiri merupakan bukit batu. Tingginya hanya sekitar 70 meter dan bisa dinaiki melewati batu-batuan terjal. Perjalanan dari bawah kaki bukit hingga sampai ke monumen Adam dan Hawa biasanya menghabiskan waktu sekitar 15 menit saja.

Meski Ulama Saudi sendiri sudah menegaskan bahwa berziarah ke Jabal Rahmah bukanlah hal yang disunnahkan apalagi diwajibkan, nyatanya banyak peziarah berdatangan dan berdoa menengadahkan tangan di sana saat wukuf. Jamaah haji asal Indonesia, banyak yang memadati bukit ini saat wukuf tanggal 9 Dzulhijjah. Tak heran jika kita dapati coretan-coretan nama-nama orang Indonesia di tugu monumen putih.

Pemandangan Padang Arafah yang dapat dilihat dengan jelas dari puncak Jabal Rahmah menjadi pesona tersendiri. Pemandangan indah saksi bisu reuni Adam dan Hawa di bumi.

Banyak yang percaya, jika berdoa minta jodoh di Jabal Rahmah maka akan cepat terkabul.permintaan tersebut. Hal ini juga yang menjadi daya tarik jamaah.

Masjid Terapung Jeddah

Usai prosesi Armina dan menuntaskan seluruh ritual ibadah haji, kami mengikuti kegiatan city tour dengan lokasi tujuan masjid Terapung di Kota Jeddah.

Perjalanan dari Hotel Pemondokan kami di mekkah ke Kota Jeddah menempuh waktu sekitar 2 jam perjalanan. Seluruh anggota rombongan diminta untuk bersiap pada pukul 09.00 agar ketika tiba di Masjid Terapung yang berada di pinggir Laut Merah tidak terlampau sore.

Perjalanan ke Jeddah menggunakan bis berukuran besar yang berwarna merah dengan kondisi interior yang terkesan mewah.

Alhamdulillah, kami tiba di Masjid Terapung pada waktu Dzhuhur. Jauh dari bayangan kami tentang masjid terapung. Ternyata yang dimaksud dengan masjid terapung adalah masjid yang dibangun di pinggir laut dengan pondasi yang berada di laut, sehingga seolah-olah bangunan masjid seperti terapung.

Berada di kawasan Pantai Laut Merah, angin sepoi-sepoi khas suasana pantai, membuat kami ingin segera mengabadikan suasana di sekitar pantai Laut Merah.

Jangan berpikir bahwa air Laut Merah itu juga berwarna merah, karena nyatanya air laut merah berwarna seperti air laut lain pada umumnya.

Masjid terapung ini bisa jadi adalah masjid paling popular di kota Jeddah bagi para jamaah haji ataupun jamaah umroh, termasuk jamaah dari Indonesia. Walaupun sebenarnya tak ada keistimewaan apapun dalam kaitannya dengan ibadah haji ataupun umroh dengan masjid satu ini, kunjungan ke sini hanya sebatas wisata.

Awalnya masjid ini sempat diberi nama masjid Fatimah, dikemudian hari pengunjung ke masjid ini se-akan terpeleset lidah menyebut nama masjid ini menjadi Masjid Fatimah Az-Zahra, dan dikait-kaitkan dengan Nama putrid Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tersebut, sampai kemudian pemerintah Saudi Arabia mengubah nama masjid ini menjadi Masjid Arrahmah hingga hari ini. penggantian nama tersebut memang disengaja, salah satu alasannya adalah untuk menghindari salah pengertian diantara para jamaah terkait dengan keberadaan masjid ini.

Masjid Qisos

Masjid Qisos adalah masjid yang berada di kawasan Jeddah yang dijadikan sebagai lokasi pelaksanaan hukuman Pancung bagi terpidana yang telah diputuskan bersalah.

Qisas adalah prinsip hukum yang mensyaratkan pembalasan setara. Contohnya, dalam kasus pembunuhan, jika seseorang membunuh korbannya hingga mati maka si pelaku harus dihukum mati pula.

Qisas diterapkan oleh negara-negara yang memberlakukan syariat Islam. Salah satunya adalah Arab Saudi. Di Arab Saudi bahkan ada satu tempat khusus yang memang disediakan untuk pelaksanaan Qisas atau eksekusi mati dengan cara memenggal kepala.

Adalah Masjid Qisas. Masjid ini terletak di Balad Jeddah, berhadapan langsung dengan Departemen Luar Negeri Kerajaan Arab Saudi. Lokasinya tepat di antara Jalan Bagdadiyah, Jalan Syeikh Al Juffali dan Jalan Madinah.

Meski digunakan sebagai tempat Qisas, tempat ini sama sekali tak terkesan menyeramkan. Tak jauh berbeda dengan masjid kebanyakan, pelataran parkir masjid ini bahkan kerap digunakan anak-anak sebagai arena bermain.

Dahulu tempat ini bernama Masjid Syeikh Ibrahim Al-Juffali. Konon, nama tersebut diambil dari nama Syeikh Ibrahim, seorang warga Jeddah kaya raya yang membangun masjid itu.

Meski secara umum tak menyeramkan, ada satu sudut masjid yang menjadi lokasi eksekusi mati atau hukuman pancung. Posisinya persis di samping masjid. Luasnya tak seberapa bahkan terbilang kecil kurang lebih 25 meter persegi dan berlantai keramik.

Kabarnya, eksekusi mati di tempat tersebut biasanya dilakukan secara terbuka setelah salat Jumat. Warga sekitar bisa menyaksikan langsung seorang terpidana dipenggal hingga mati dengan leher terpisah dari tubuh.

Begitu kepala terpenggal, lantai di sana akan langsung disiram dan dibersihkan. Dalam sekejap tempat tersebut kembali bersih seperti tak terjadi apa-apa. Jenazah langsung dibersihkan dan disalatkan di Masjid Qisas sebelum akhirnya dimakamkan.