^Kembali ke Atas

foto1 foto2 foto3 foto4 foto5

Masjid Quba

Pukul 06.15, bis melaju menuju ke lokasi pertama, yaitu Masjid Quba. Masjid Quba adalah Masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah Sallalahu Alaihi Wassalam pada tahun 1 Hijriah atau 622 Masehi di Quba, sekitar 5 km di sebelah tenggara kota Madinah. Dalam Al-Quran disebutkan bahwa Masjid Quba adalah Masjid yang dibangun atas dasar takwa.

“Janganlah kamu bersembahyang dalam Masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya Masjid yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya. Di dalamnya Masjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih”. (QS. At Taubah : 108).

Mengutip dari Wikipedia berbahasa Indonesia, dijelaskan bahwa Masjid ini telah beberapa kali mengalami renovasi. Khalifah Umar bin Abdul Aziz adalah orang pertama yang membangun menara masjid ini. Sakarang renovasi masjid ini ditangani oleh keluarga Saud. Mengutip buku berjudul Sejarah Madinah Munawarah yang ditulis Dr Muhamad Ilyas Abdul Ghani, masjid Quba ini telah direnovasi dan diperluas pada masa Raja Fahd ibn Abdul Aziz pada 1986.

Meskipun sangat sederhana, masjid Quba boleh dianggap sebagai contoh bentuk daripada masjid-masjid yang didirikan orang di kemudian hari. Bangunan yang sangat bersahaja itu sudah memenuhi syarat-syarat yang perlu untuk pendirian masjid. Ia sudah mempunyai suatu ruang yang persegi empat dan berdinding di sekelilingnya.

Di sebelah utara dibuat serambi untuk tempat sembahyang yang bertiang pohon korma, beratap datar dari pelepah dan daun korma, bercampurkan tanah liat. Di tengah-tengah ruang terbuka dalam masjid yang kemudian biasa disebut sahn, terdapat sebuah sumur tempat wudhu, mengambil air sembahyang. Kebersihan terjaga, cahaya matahari dan udara dapat masuk dengan leluasa.

Saat kami tiba, kondisi masjid Quba sangat ramai dan padat. Kami memutuskan untuk melihat-lihat eksterior masjid di bagian luar saja, karena jadwal perjalanan yang sangat ketat.

Saat berada di Masjid Quba, kami sempatkan juga untuk melihat barang-barang yang dijajakan penjual kaki lima yang berada di sekitar Masjiq Quba.

Barang dagangan yang dijual tersebut antara lain adalah kacang-kacangan, siwak, kurma, pacar arab dalam bentuk bubuk, dan beberapa barang khas timur tengah lainnya.

Saat berada di salah satu pedagang Kurma, istri tertarik untuk mengetahui seperti apa rasa kurma muda yang dalam kondisi fresh. Kami memutuskan untuk membeli kurma tersebut.

Hmmm, rasanya tidak terlalu manis dan teksturnya daging buahnya agak keras. Menurut rekan jamaah yang lain, jika disimpan, nantinya kurma itu akan lunak dan makin bertambah manis.

Masjid Qiblatain

Perjalanan berlanjut ke lokasi selanjutnya, yaitu masjid Qiblatain.   Masjid Qiblatain atau Masjid dua kiblat adalah salah satu masjid terkenal di Madinah. Masjid ini mula-mula dikenal dengan nama Masjid Bani Salamah, karena Masjid ini dibangun di atas bekas rumah Bani Salamah.

Merujuk pada Wikipedia berbahasa Indonesia, pada permulaan Islam, orang melakukan Shalat dengan kiblat ke arah Baitul Maqdis (Masjidil Aqsa Palestina). Baru belakangan turun wahyu kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk memindahkan kiblat ke arah Masjidil Haram di Mekkah. Peristiwa itu terjadi pada tahun kedua Hijriah hari senin bulan rajab waktu Dzuhur di Masjid Bani Salamah ini. Ketika itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tengah shalat dengan menghadap ke arah Masjidil Aqsa. Di tengah shalat, tiba-tiba turunlah wahyu surat Al-Baqarah ayat 144 :

“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Alkitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya, dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan”. (QS. Al Baqarah : 144).

Setelah turunnya ayat tersebut di atas, berkata seseorang dari Bani Salamah :

"Ketahuilah, sesungguhnya kiblat telah diganti," maka mereka berpaling sebagaimana mereka menghadap kiblat, dan kemudian meneruskannya dengan memindahkan arah kiblat menghadap ke Masjidil Haram. Merujuk pada peristiwa tersebut, lalu masjid ini dinamakan Masjid Qiblatain, yang artinya masjid berkiblat dua.

Masjid Qiblatain telah mengalami beberapa kali pemugaran. Pada 1987 Pemerintah Kerajaan Arab Saudi di bawah Raja Fahd melakukan perluasan, renovasi dan pembangunan konstruksi baru, namun tidak menghilangkan ciri khas masjid tersebut.

Kini bangunan Masjid Qiblatain memang memiliki dua arah mihrab yang menonjol (arah Makkah dan Palestina) yang umumnya digunakan oleh Imam salat. Setelah direnovasi oleh pemerintah Arab Saudi, dengan hanya memfokuskan satu mihrab yang menghadap Ka’bah di Makkah dan meminimalisir mihrab yang menghadap ke Yerusalem, Palestina.

Ruang mihrab mengadopsi geometri ortogonal kaku dan simetri yang ditekankan dengan menggunakan menara kembar dan kubah kembar. Kubah utama yang Menunjukkan arah kiblat yang benar dan kubah kedua adalah palsu dan dijadikan sebagai pengingat sejarah saja. Ada garis silang kecil yang menunjukkan transisi perpindahan arah.

Di bawahnya terdapat replika mihrab tua yang menyerupai ruang bawah kubah batu di Yerusalem, bernuansa tradisional. Sebelumnya Sultan Sulaiman telah memugarnya pada tahun 893 H atau 1543 M. Masjid Qiblatain merupakan salah satu tempat ziarah yang biasa dikunjungi jamaah haji dan umrah dari seluruh dunia.

Jabal Uhud

Usai mengunjungi Masjid Qiblatain, kami melanjutkan perjalanan menuju ke Jabal Uhud.   Letaknya kurang lebih 5 km dari pusat kota Madinah. Di bukit inilah terjadi perang dahsyat antara kaum muslimin melawan kaum musyrikin Mekah. Dalam pertempuran tersebut gugur 70 orang syuhada di antaranya Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Nabi Muhammad. Kecintaan rasulullah pada para syuhada Uhud, membuat dia selalu menziarahinya hampir setiap tahun. Untuk itu, Jabal Uhud menjadi salah satu tempat penting untuk diziarahi.

Perjalanan menuju ke Jabal Uhud memakan waktu sekitar 30 menit perjalanan. Setiba disana, kami turun dari bis dan segera menaiki Jabal Uhud.

Informasi yang kami dapatkan melalui Situs Kementerian Agama Republik Indonesia (www.kemenag.go.id) dijelaskan bahwa Jabal Uhud, adalah gunung yang sangat mencintai dan dicintai Nabi Muhammad. Uhud, yang artinya penyendiri, setiap tahun, diziarahi Nabi. Kebiasaan ini kemudian diteruskan para khalifah setelah Nabi wafat. Dan kini Uhud menjadi salah satu tujuan utama ziarah para jamaah haji di Madinah.

Di kompleks gunung ini, aktifitas jamaah haji antara lain ziarah ke makam para syuhada yang di dalamnya ada makam Sayidina Hamzah. Ziarah di sini, jamaah akan mendapatkan kisah bahwa jasad Hamzah tetap utuh abadi dan tidak hancur dimakan tanah.

Selain makam syuhada Uhud, tempat bersejarah di kompleks ini adalah masjid al-Fash. Di masjid ini, Nabi pernah salat zuhur setelah Perang Uhud selesai.

Umat Islam selalu mengingat nama Uhud karena di lembah gunung ini pernah terjadi perang besar antara umat Islam dan tentara Quraisy. Perang yang terjadi pada 15 Syawal 3 Hijrah atau Maret 625 Masehi itu terkenal dengan nama Perang Uhud.

Perang Uhud merupakan perang balas dendam tentara Quraisy setelah kalah dalam Perang Badar. Mereka membakar ladang gandum milik umat Islam di Jabal Uhud yang memancing kemarahan penduduk Madinah.

Dalam perang ini, Nabi mengerahkan 1.000 pasukan. Namun 300 dari pasukan itu dipimpin Abdullah ibn Abi al-Munafik membelot, sehingga pasukan Rasullah tinggal 700 orang termasuk 50 pasukan berkuda. Sementara tentara Quraisy yang dipimpin Bani Abdud Dar berjumlah 3.000 dan 200 pasukan kuda.

Dengan jumlah pasukan yang hanya sepertiga dari musuh, Nabi mengatur strategi dengan menempatkan pasukan di atas Jabal Uhud, sementara regu pemanah jitu disiagakan di Gunung Rumat. Kepada 50 pemanah jitu yang dipimpin oleh Abdullah Ibn Jabir, Nabi Muhammad berkata, “lindungilah pasukan kuda. Jangan sampai mereka menerobos kita dan tetaplah di tempatmu, kalah atau menang, jangan sampai mereka masuk dari belakangmu.”

Dengan strategi tersebut, Nabi memperoleh kemenangan. Namun sayangnya setelah kemenangan itu, para pemanah jitu itu lupa pesan Nabi. Mereka tergoda untuk mengambil rampasan perang yang ada di bawah kaki jabal rumat. Maka saat pasukan muslim sibuk dengan rampasan, pasukan musyrikin pun menyerang balik mereka.

Perang berakhir dengan gugurnya 70 orang tentara muslim dan 22 orang kafir Quraisy. Salah satu yang gugur dari pasukan muslim adalah Hamzah, paman Nabi.

Sedangkan Nabi pun terluka parah, rahangnya sampai patah. Nabi kemudian memerintahkan agar para tentara yang mati sahid atau syuhada dimakamkan di lapangan tempat terjadinya perang Uhud.

Kegiatan berziarah ke Jabal Uhud salah satunya adalah untuk mengingat keperkasaan Sayidina Hamzah bin Abdul Muthalib. Hamzah merupakan paman Rasul yang paling peduli dengan dakwah Rasullah.

Saking hormatnya kepada Hamzah, Nabi menjuluki sang paman itu sebagai Sayyid Al Syuhada atau pemimpinnya para syuhada. Nabi pun sangat berduka atas kematian Hamzah. Jenazah Hamzah disalatkan sebanyak 70 kali sebelum dimakamkan. Ia dikubur menjadi satu dengan Abdullah bin Jahsyi (sepupu Nabi) di lokasi yang terpisah dengan lokasi para syuhada lainnya.

Jasad Hamzah dan para syuhada ini mendapatkan keistimewaan dibanding jenazah lainnya. Jasad mereka tetap utuh dan tidak hancur dimakan tanah meskipun telah dikuburkan

Dikisahkan, pada tahun 46 Hijriah atau 667 Masehi atau 43 tahun setelah Perang Uhud, terjadi banjir besar di sekitar Uhud. Setelah banjir itu ditemukan dua jasad yang dipercayai kuat sebagai jasad Hamzah dan Abdullah.

Meski dilimpahi mukjizat, umat Islam dilarang meminta doa kepada para syuhada Uhud termasuk Sayidina Hamzah. Di Jabal Uhud dipasang papan penggumuman dalam berbagai bahasa yang salah satunya mengingatkan peziarah agar berdoa langsung kepada Allah Subhanna Wa Ta’ala dan tidak minta safaat kepada para syuhada. Menziarahi Jabal Uhud ataupun ziarah kubur diperbolehkan untuk memperingatkan umat Islam akan kematian.

Jabal Uhud adalah lokasi kunjungan terakhir kami di hari itu. Kami harus segera kembali ke Hotel di Madinah untuk melanjutkan prosesi Sholat Arbain di Masjid Nabawi.

Jabal Magnet

Pada tanggal 31 Agustus 2015, ketua rombongan kami kembali mengkoordinir Jamaah haji regular untuk mengikuti kegiatan Ziarah dan City Tour ke beberapa lokasi lainnya. Salah satunya adalah Jabal Magnet.

Perjalanan tetap dimulai pada pagi hari pukul 06.00 untuk memastikan pada pukul 11.00 kami sudah tiba kembali di Hotel untuk bersiap melanjutkan Ibadah Sholat Arbain di Masjid Nabawi.

Merujuk kepada situs eramuslim.com, Nama Jabal Magnet (Magnetic Hill) atau Gunung Magnet semakin lama semakin populer di Arab Saudi. Tempat ini menjadi favorit bagi para jamaah haji maupun umroh—terutama dari Asia.

Jabal Magnet terletak kira-kira 60 kilometer dari Kota Madinah. Perjalanan menuju kawasan Jabal Magnet dari Madinah dipenuhi sejumlah perkebunan kurma dan hamparan bukit berbatuan. 10 kilometer menjelang Jabal Magnet, ada sebuah danau buatan yang besar. Gunung Magnet didominasi warna hitam dan merah bata.

Keanehan yang paling kentara di daerah ini adalah mobil berjalan sendiri ke arah berlawanan (mundur), bahkan sanggup mendaki tanjakan. Tidak hanya itu, jarum penunjuk kompas juga tidak bekerja sebagaimana mestinya. Arah utara-selatan menjadi kacau. Selain itu, data di telepon seluler bisa hilang di lokasi itu.

Magnetic Hill, atau warga setempat menyebutnya Manthiqa Baidha, yang berarti perkampungan putih. Namun, banyak yang menamainya Jabal Magnet. Daya dorong dan daya tarik magnet di berbagai bukit di sebelah kiri dan kanan jalan, membuat kendaraan yang melaju dengan kecepatan 120 kilo meter per jam, ketika memasuki kawasan ini, kecepatannya perlahan-lahan turun menjadi 5 kilo meter per jam.

Jabal Magnet yang menjadi kawasan wisata penduduk Madinah awalnya ditemukan oleh orang suku Baduy. Saat itu seorang Arab Baduy menghentikan mobilnya karena ingin buang air kecil. Namun karena sudah kebelet, ia mematikan mesin mobil, tapi tidak memasang rem tangan.

Ketika sedang melakukan hajatnya, ia kaget bukan kepalang, mobilnya berjalan sendiri dan makin lama makin kencang. Ia berusaha mengejar, tapi tidak berhasil. Dan menurut kisahnya, mobilnya tersebut baru berhenti setelah melenceng ke tumpukan pasir di samping jalan.

Saat musim haji, banyak jamaah haji yang datang berkunjung menyambanginya. Pemerintah Arab Saudi lalu membangun jalan menuju lokasi tersebut.

Saat kami berada di Jabal Magnet, Supir Bis yang juga bertindak sebagai Guide memberikan bukti kepada kami fenomena Magnet yang terjadi, yaitu dengan melepaskan kakinya dari pedal gas dan bis yang ukurannya besar nampak dapat berjalan kencang di jalur jalan yang terlihat dari dalam bis adalah menanjak.