^Kembali ke Atas

foto1 foto2 foto3 foto4 foto5

TETAP SEHAT SAAT BERHAJI

Petugas Manasik Haji dari unsur Petugas Kesehatan dan Tim Medis, juga memberikan beberapa Tips untuk menjaga kesehatan selama berada di Tanah Suci, mengingat kepadatan di Arab Saudi pada saat musim haji adalah sangat luar biasa, sehingga sangat memudahkan terjadi penularan penyakit antar jamaah haji.

Langkah-langkah persiapan yang perlu dilakukan untuk menjaga kesehatan selama berada di Tanah Suci diantaranya adalah :

  1. Kebersihan Makanan dan Minuman. Tidak direkomendasikan jamaah haji untuk meminum air kran, sebab air kran berbahaya untuk dikonsumsi, karena berupa air mentah yang masih banyak mengandung mikroorganisme. Perjalanan panjang selama 10 jam antara Madinah dan Mekah dalam cuaca panas terik pastilah akan membuat para jamaah haji lelah dan kehausan. Padahal di sepanjang perjalanan tidak bisa dipastikan akan menemukan makanan, air minum bersih atau toilet.
  2. Membawa Bekal Air Minum. jika ingin yang natural bisa dipilih air Zam zam. Air Zam Zam aman diminum walau mentah karena mengandung flouride tinggi yang mampu membunuh kuman. Sehingga resiko dehidrasi selama dalam perjalanan tidak akan terjadi.
  3. Kebersihan Tempat Makan. Para jamaah haji pun harus memeriksa dengan teliti kebersihan tempat makan yang akan dipilih. Misalnya di distrik Haram, sebaiknya jamaah haji menghindari untuk makan di restauran yang kelihatan kurang bersih. Mengintip kebersihan restoran sebelum memesan makanan dan mencuci tangan dengan sabun sebelum makan adalah hal yang mutlak dilakukan.
  4. Membawa Sabun Mandi Sendiri. Saat menerima jatah makanan, hendaknya juga diperiksa apakah masih hangat atau sudah basi. Sebab pengolahan makanan dalam jumlah besar sehingga kadang diolah jauh sebelum jam makan tiba. Jika sudah dalam kondisi tidak baik, sebaiknya tidak dikonsumsi.
  5. Membekali Obat Untuk Berjaga-jaga. Memerhatikan penyakit yang telah diidap sedari di tanah air. Seyogyanya sebelum keberangkatan, memeriksakan diri dan berkonsultasi pada dokter keluarga, sehingga dokter bisa memberikan saran bagaimana menjaga diri supaya kemungkinan komplikasi bisa dihindari.
  6. Memberitahu Kepala Kelompok Tentang Penyakit Anggotanya. Agar selalu tanggap dan waspada. Sebagian besar kaum lanjut usia mengalami resiko pembengkakan pembuluh darah yang mengakibatkan gagal vena atau masalah jantung. Bagi yang memiliki tekanan darah tinggi juga harus berhati-hati. Terutama pada beberapa obat yang bisa meningkatkan tekanan jantung, seperti obat flu dan pelega tenggorokan.
  7. Selalu berkonsultasi dengan dokter kloter. Bagi yang mengidap diabetes, tidak berarti harus berhenti makan karena takut gula darah naik. Sebaiknya tetap makan makanan diet seperti salad buah dan makanan kecil rendah gula, serta tidak tidur di siang hari dan lebih memperhatikan penanganan luka-luka kecil akibat terinjak atau terdorong.
  8. Cukup beristirahat. jamaah haji Butuh stamina yang baik untuk bisa mengikuti rangkaian Ibadah Haji. Untuk itu, cukup istirahat mutlak diperlukan. Jangan sampai gara-gara terlalu banyak jalan-jalan dan belanja, kondisi fisik menjadi drop dan menjadi tak cukup fit untuk mengikuti ibadah.
  9. Menyediakan krim. Bagi jamaah haji yang berkulit sensitif, ada baiknya menggunakan krim anti jamur. Krim anti nyamuk juga dianjurkan untuk melindungi diri dari gigitan serangga. Krim untuk menjaga kelembaban kulit dan melindungi kulit dari sengatan matahari juga dianjurkan.
  10. Selalu menggunakan masker saat berada di luar ruangan. Ini untuk menghindari debu udara luar, juga untuk menghindari penularan beberapa penyakit, seperti batuk yang saat musim haji banyak menjangkiti jamaah haji.

Ziarah dan Silaturahmi – Tegal

Informasi Jadwal keberangkatan kloter kami akhirnya kami dapatkan. Kami dijadwalkan untuk masuk asrama Haji pada tanggal 25 Agustus 2015. Kami segera melakukan pengaturan jadwal untuk melakukan ziarah ke makam orang tua dan leluhur kami di Tegal dan Blora. Sekaligus pamit, meminta doa restu, serta menyampaikan permohonan untuk berkenan memberikan maaf atas kesalahan yang selama ini kami perbuat kepada kerabat kami yang ada di Tegal dan Blora.

Kami memanfaatkan waktu libur Hari Kemerdekaan untuk melakukan Ziarah dan berkunjung ke kerabat di Tegal dan Blora. Jadwal perjalanan kami susun untuk memastikan waktu dapat kami manfaatkan dengan baik dan efektif.

Perjalanan kami awali dari kediaman kami di Cibubur. Jumat Malam, 14 Agustus 2016 Pukul 20.00 Wib, menggunakan Avanza Kesayangan, kami menuju ke Kota Tegal.   Jarak Cibubur – Tegal adalah sekitar 450 km dengan perkiraan waktu tempuh adalah 5 Jam perjalanan dengan memanfaatkan Jalur Tol yang baru dibuka – Tol Cipali. Kami perkirakan pukul 3 pagi kami sudah tiba di Kota Tegal.

Alhamdulillah, sesuai dengan perkiraan waktu tiba, kami tiba di Desa Jatilawang Tegal pada pukul 3 pagi.   Tiba di rumah Bude Suti – begitu kami memanggil – mata kami langsung terpejam karena lelah dan mengantuk.

Adzan subuh berkumandang, kami menyegerakan bangun dari tidur untuk menunaikan kewajiban Sholat Subuh. Kemudian kami bersiap untuk mengunjungi rumah beberapa kerabat agar mereka tidak keburu meninggalkan rumah untuk menuju ke lokasi kerja.

Kepada kerabat, kami sampaikan niat kami untuk menjalankan ibadah Haji ke tanah suci. Kami meminta doa restu untuk kelancaran ibadah kami serta meminta untuk berkenan memberikan maaf jika ada kesalahan kata dan perbuatan, demi kelancaran ibadah kami di tanah suci.

Pukul 07.00 pagi hari, dengan diantar Pakde Wartib – begitu kami memanggil – kami melakukan ziarah ke makam leluhur kami di pemakaman desa yang berada di areal hutan di pinggir desa.

Berjalan beriringan, kami beserta istri dan anak-anak menuju ke area pemakaman tersebut. Lokasi pemakaman memang unik, berada di dalam kawasan Hutan Jati Perhutani.

Saat ziarah, kami memanjatkan doa untuk Mbah Buyut, Mbah Kakung, serta Mbah Putri kami dan mohon perkenan kepada Allah Subhana Wa Ta’ala untuk melapangkan kubur mereka dan memberikan mereka tempat yang indah di surga.

 

 

Perjalanan kami berlanjut ke kota Slawi untuk menemui salah satu kerabat yang tinggal disana.   Saat masuk waktu makan siang, kami dibawa kerabat kami untuk mengunjungi salah satu tempat makan yang memiliki menu khas, ikan Gabus goreng istimewa.

Lokasi rumah makannya relatif sederhana. Berada di depan pintu masuk area Wisata Waduk Cacaban Kota Tegal. Tepat berada di sisi kali yang airnya bergemericik jernih. Kami lahap bersantap siang disana. “Nikmat luar biasa …. “ itu komentar kami ketika menyantap hidangan ikan goreng dengan sambal istimewa.

Pengalaman santap siang di kawasan waduk Cacaban ini sepertinya menjadi salah satu pengalaman kuliner yang seru dan makyus. Kami catat dalam agenda kami, bahwa saat kunjungan ke Tegal di kegiatan berikutnya, kami harus pastikan mampir ke tempat ini.

Perjalanan ke Kota Blora masih harus menempuh Jarak sekitar 450 kilometer, atau 6 jam perjalanan pada situasi lalu lintas normal. Kondisi tubuh yang lelah, membuat kami putuskan untuk beristirahat sejenak, dan perjalanan kami lanjutkan pada malam hari usai Sholat Isya.

Ziarah dan Silaturahmi – Blora

Alhamdulillah, Perjalanan malam hari antara Kota Tegal – Kota Blora berjalan dengan lancar, tidak ada halangan apapun. Kami tiba di rumah orang tua kami di Blora pada pukul 4 menjelang waktu sholat tubuh.  

Selepas sholat subuh, kami beristirahat sejenak hingga jelang matahari bersinar. Agenda kami usai istirahat nanti adalah berziarah ke makam orang tua kami yang dimakamkan di pemakaman desa.

Sore hari ba’da ashar, kami mengadakan kegiatan Walimatussafar dengan mengundang teman dan sahabat istri tercinta yang berdomisili di Blora. Kami adakan Walimatussafar karena tidak memungkinkan bagi kami untuk mendatangi rekan dan sahabat yang ada di Blora secara personal, satu per satu.

Acara walimatussafar kami jadikan sebagai media untuk meminta perkenan doa serta memberikan maaf atas segala kesalahan dan khilaf kata serta perbuatan yang mungkin saja terjadi selama bergaul dengan para sahabat kami.   Perkenan kata maaf kami butuhkan untuk menjadi pelancar jalan kami menuju ke Tanah suci untuk beribadah haji.

Kami meminta para sahabat berkenan memberikan doa kepada kami, sehingga kami dapat menjalankan seluruh prosesi ibadah haji dengan baik dan lancar, serta dapat kembali ke tanah air dengan selamat, berkumpul bersama keluarga tercinta.

Pagi Hari sesudah menikmati sarapan pagi Nasi Rawon khas Kota Blora, kami berangkat untuk kembali pulang ke Jakarta.

Ucapan syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah Subhanna Wa Ta’ala atas segala limpahan Rahmat dan karunia yang telah diberikan kepada kami sekeluarga, sehingga kami dapat menjalankan seluruh akttifitas yang telah kami rencanakan.

Kami singgah sebentar di Kota Brebes untuk mengunjungi kediaman Om dan Tante kami.   Tentu saja dengan maksud dan tujuan yang sama, yaitu meminta doa restu atas rencana perjalanan ibadah haji kami ke tanah suci, serta meminta perkenan maaf apabila ada salah kata dan perbuatan yang kami lakukan di masa yang lalu. Perkenan kata maaf kami butuhkan sebagai salah satu pelancar jalan kami menuju tanah suci untuk menjalankan ibadah Haji.

Walimatussafar

Tiba di kediaman kami di kawasan Cibubur, kami langsung melakukan persiapan untuk melaksanakan kegiatan Walimatussafar. Terkait dengan kegiatan ini, beberapa kalangan mengatakan bahwa kegiatan walimatussafar adalah kegiatan yang tidak ada tuntunannya.

Namun, setelah bertanya kepada beberapa kalangan dan juga membaca beberapa tulisan yang terkait dengan kegiatan walimatussafar, kami memutuskan untuk tetap mengadakan kegiatan walimatussafar di kediaman kami di Cibubur.

Ustazd HM Rizal Fadillah dalam kolom Tanya jawab di harian Republikas Online menjelaskan, bahwa secara harfiah Walimatussafar artinya “menjamu” atau “pesta” dalam rangka safar “perjalanan” haji. Tentu yang dimaksud dalam kaitan ini adalah calon jamaah haji mengundang sanak saudara, kerabat, dan tetangga untuk hadir dalam acara “pamitan” calon jama’ah untuk menunaikan ibadah haji. Biasanya disamping kalimat pamit, mohon maaf, juga diisi dengan ceramah atau taushiyah yang berhubungan dengan ibadah haji.

Walimatussafar tentu tidak dikenal dalam manasik haji karenanya tidak berhubungan dengan tatacara ibadah dan Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga tidak mencontohkan. Ada yang melarang kegiatan ini karena ghoir masyru’ adapula yang mengharuskan dan ada pula yang sekedar menganjurkan.

Jalan tengahnya adalah jika hendak melakukan walimatus safar, maka kegiatan itu harus diyakini bukan merupakan kegiatan ibadah haji, tidak berlebih-lebihan, tidak didasarkan atas pamer diri atau riya serta jauh dari hal-hal yang berbau kemusyrikan.

Semangat Walimatussafar adalah silaturahim, mensyukuri nikmat Allah (tasyakur bini’mah), dan berbagi kebahagiaan sebagaimana firman Allah “wa ammaa bini’matirobbika fahadits” (dan terhadap nikmat rabb mu hendaklah kamu menyebut-nyebutnya).

Menurut Ustadz HM Rizal Fadillah, Adapun hal hal yang perlu dilakukan saat mengadakan kegiatan Walimatussafar adalah:

Pertama, mengundang kedatangan sanak saudara, kerabat, ataupun tetangga adalah jalan lain sebagai pengganti kita harus mendatangi satu persatu orang yang kita semestinya bersilaturahmi kepadanya baik secara umum maupun khusus dalam rencana keberangkatan ibadah haji. Mengundang makan apalagi disertai pengajian adalah perbuatan baik yang tidak bertentangan dengan sunnah Rosulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM .

Kedua, mengumumkan rencana keberangkatan baik waktu maupun hal lain, sehingga sanak keluarga, kerabat, sahabat, maupun tetangga menjadi mengetahui serta dapat membantu memperhatikan dan menjaga keluarga yang ditinggalkan, hal kewajiban muslim terhadap muslim lainnya.

Ketiga, menjadikan Walimatussafar sebagai momentum strategis untuk berda’wah menyampaikan hal-hal yang baik dan mencegah hal yang buruk dalam berbagai bidang yang tentunya bisa dikaitkan dengan ibadah haji sebagai rukun Islam kelima.

Keempat, karena perjalanan beribadah haji merupakan perjalanan suci (rihlah muqaddasah) maka tidaklah salah jika calon jama’ah meminta maaf secara terbuka kepada seluruh handai taulan yang hadir sebagai upaya membersihkan hati sebelum berangkat. Harapannya, maaf yang diberikan itu menjadi sebab dari karunia Allah Subhanna Wa Ta’ala untuk membersihkan noda dan kotoran yang melekat pada dirinya akibat sikap buruk dalam pergaulan sesama.

Kelima, saling mendo’akan baik saat berkumpul maupun setelah berpisah. Mereka yang berangkat mendo’akan yang ditinggalkan, begitu juga sebaliknya yang ditinggalkan mendoakan yang berangkat.

Alangkah baiknya jika acara ini mengundang juga anak-anak yatim, fakir miskin, dan orang-orang yang tidak mampu agar semangat berbagi kebahagiaan itu semakin terasa. Sementara bagi yang memang berat untuk mengeluarkan biaya bagi acara Walimatussafar tidaklah perlu untuk memaksakan diri karena di samping tidak ada dalil baik Alquran maupun Sunnah yang mengharuskannya, juga wujud tasyakur dan silaturahmi dapat dilakukan dalam bentuk-bentuk yang lain.

Bagi yang ingin mendo’akan keberangkatan saudaranya yang berangkat haji dapat mengamalkan hadits dari Abu Hurairoh Ra ini yang menyatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengucapkan “astawdu’ukallaha alladzi laa tadhi’u wa daa-i’uhu” (Aku menitipkan kalian kepada Allah yang tidak mungkin menyia-nyiakan titipannya)—HR Ibnu Majjah dan Ahmad.

Acara walimatussafar di kediaman kami, digelar pada tanggal 23 Agustus 2015. Kami mengundang tetangga, saudara, serta kerabat yang tinggal di sekitar jabodetabek.

Pada kesempatan tersebut, saya beserta istri menyampaikan niat kami untuk melaksanakan ibadah haji ke tanah suci, memohon perkenan doa untuk kelancaran perjalanan dan prosesi ibadah haji kami, serta memohon perkenan maaf atas segala khilaf dan salah kata serta perbuatan yang telah kami buat di masa lalu, baik disengaja atau tidak. Perkenan memberikan permohonan maaf kami harapkan untuk menjadi pelancar jalan kami ke tanah suci dan kepulangan kami ke tanah air.

PERSIAPAN PERNIK HAJI

Satu bulan sebelum jadwal keberangkatan, kami bersama istri tercinta mulai mempersiapkan kebutuhan pernak-pernik ibadah haji. Kesibukan saya dan istri sebagai karyawan perusahaan swasta, tidak memungkinkan kami berdua untuk secara khusus mengalokasikan waktu membeli kebutuhan pernak-pernik Ibadah haji.

Situs belanja Online akhirnya menjadi pilihan kami untuk berbelanja. Tokopedia.com menjadi pilihan kami berbelanja. Bukan karena harganya murah, tetapi karena adanya system pembayaran via tokopedia.com yang memberikan jaminan barang pasti terkirim.

Untuk beberapa barang yang tidak tersedia secara online, kami menugaskan ananda dhany untuk membeli semua kebutuhan pernak-pernik ibadah haji. Dhany melakukan pembelanjaan dengan mengacu kepada list kebutuhan barang yang telah kami susun sebelumnya.

Kami memang membuat suatu list kebutuhan barang ibadah haji, yang sumbernya kami dapatkan melalui salah satu situs internet. Berdasarkan list tersebut, kami berharap tidak ada barang kebutuhan haji kami yang terlupa disiapkan dan dibawa ke tanah suci.

Selain membeli secara online, beberapa barang juga kami beli di penjual barang kebutuhan Haji yang pada saat ada kegiatan di Asrama Haji, menggelar aneka barang kebutuhan para calon Jamaah Haji.

 

Setiap jamaah haji mendapatkan 3 tas untuk membawa perlengkapan yang dibutuhkan selama di tanah suci. 3 Tas tersebut terdiri dari 1 Koper Besar yang dapat diisi dengan barang maksimal seberat 32 kg, 1 Tas tentengan yang dapat disi dengan barang maksimal seberat 5 kg, dan 1 Tas Paspor. Koper dan tas ini sajalah yang boleh dibawa jamaah haji ke Tanah Suci dan saat kembali ke tanah air.

Kami mendapatkan pesan dari beberapa kerabat yang sudah pernah berhaji, bahwa agar koper dan tas ini dapat dimanfaatkan secara maksimal dan tidak menimbulkan masalah, harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya.

Salah satu masalah yang berhubungan dengan koper adalah ketika mencarinya setelah tiba di Tanah Suci. Semua koper itu sama warna dan bentuknya. Agar lebih mudah menemukannya, kami disarankan untuk memberi tanda-tanda khusus. Kami memutuskan untuk memberikan pita berwarna biru yang kami ikat hampir disetiap bagian tali rajut tas.

Kami juga diingatkan, agar sewaktu berangkat, usahakan koper tidak penuh terisi. Sehingga ada ruang untuk oleh-oleh nanti. Koper disarankan untuk diberi Tali Jaring yang banyak dijual di penjual barang kebutuhan haji. Disamping untuk menjaga agar koper tidak mudah terbuka, juga dapat membantu untuk memaksimalkan isi koper ketika pulang.

Disamping koper dan tas, kami juga disarankan untuk membawa ransel. Ransel ini sangat berguna ketika melakukan perjalanan ke Arafah, Musdalifah dan Mina. Begitu juga ketika mengikuti ziarah. Ransel ini kami simpan didalam koper. Petugas di bandara tidak mengizinkan jamaah haji membawa tentengan selain tas resmi.

Kami mendapatkan kepastian jadwal masuk asrama pada tanggal 25 Agustus 2015 untuk kemudian diterbangkan ke Madinah pada tanggal 26 Agustus 2015. Satu hari sebelumnya, kami harus mengirimkan Koper Besar kami ke Islamic Centre Bekasi. Koper besar kami hanya diperbolehkan diisi dengan barang total seberat 32 Kilogram. Untuk memastikan koper kami tidak rusak selama dalam penanganan pihak kargo yang menangani koper Jamaah haji, Koper Besar kami lengkapi dengan Jaring Tambang yang beberapa hari lalu kami beli di salah satu penjual perlengkapan haji. Untuk memudahkan kami mencarinya, Koper besar juga kami beri tanda khusus berupa tali-tali berwarna merah di beberapa sudut tas yang mudah terlihat.

Pagi hari pukul 09.00 wib, kami membawa tas koper besar kami ke Islamic Centre. Alhamdulillah, proses pengiriman Koper besar berjalan dengan lancar.