^Kembali ke Atas

foto1 foto2 foto3 foto4 foto5

Peristiwa Jatuhnya Crane di Masjidil Haram

Hari itu, Jumat 11 September 2015, usai menunaikan ibadah sholat subuh di Masjidil Haram, kami putuskan untuk kembali ke Hotel tempat kami menginap.   Pada hari-hari selain Hari Jumat, kami biasanya akan kembali ke Hotel pada saat usai melaksanakan sholat Sunnah Dhuha.

Pada setiap hari Jumat, sebagian besar jamaah Haji Indonesia memang akan segera pulang ke Hotel usai melaksanakan sholat subuh berjamaah di Masjidil Haram, mengingat pada pukul 10.00 waktu setempat, kami harus sudah kembali menuju ke Masjidil Haram untuk melaksanakan Sholat Jumat berjamaah.

Hari itu jamaah sholat Jumat di Masjidil Haram sangat padat. Hal ini wajar saja, karena jamaah haji dari berbagai negara sudah mulai berdatangan di Kota Mekkah.   Kami harus berangkat dari Hotel pada pukul 10.00 pagi untuk memastikan mendapatkan shaf di dalam masjidil haram.

Jika kami terlambat tiba di Masjidil haram, bisa jadi gerbang masuk ke dalam masjidil haram sudah ditutup karena sudah dipadati oleh jamaah sholat jumat. Jika itu terjadi, maka kami harus melaksanakan sholat di Pelataran Masjidil Haram yang tidak beratap. Musim Haji Tahun 1436 H jatuh pada musim panas, sehingga dapat dibayangkan jika harus melaksanakan ibadah sholat ditengah terik matahari yang pada saat tengah hari dapat mencapai suhu 45 derajat celcius. Kami menghindari hal tersebut dengan meninggalkan hotel lebih awal.

Alhamdulillah, kami mendapatkan shaff di area perluasan masjidil haram. Sunggu kenikmatan yang luar biasa, mendengarkan khutbah jumat sambil memandangi arsitektur area perluasan masjidil haram yang sangat-sangat indah.

Usai sholat Jumat, perjalanan kembali ke Hotel juga menjadi perjuangan tersendiri. Cuaca Panas Terik sangat menyulitkan bagi jamaah yang tidak membawa payung atau berkacamata hitam. Cahaya Terik Matahari membuat mata kami sulit untuk terbuka karena silau yang amat sangat.

Belum lagi hawa panas yang menyengat kepala kami. Kondisi ini membuat para jamaah yang tidak membawa payung memanfaatkan sajadah untuk penutup kepala mereka.

Perjalanan kami menuju Hotel dibawah terik matahari harus dilakukan dengan berjalan kaki sejauh 2km.   Jalan Raya sekitar Masjidil Haram dipadati oleh ribuan jamaah yang akan kembali ke Hotel. Bagi kami, itu adalah pemandangan dan pengalaman yang sangat indah, berjalan bersama ribuan jamaah dari berbagai negara di dunia.

Makan siang adalah aktifitas kami selanjutnya ketika tiba di Hotel tempat kami menginap. Tentu saja kami makan dengan sangat lahap, mengingat perjalanan sejauh 2 km dibawah terik panas matahari meningkatkan nafsu makan kami. Selesai santap siang, istirahat tidur siang menjadi pilihan kami selanjutnya.

Seperti hari jumat minggu lalu, Sholat ashar kami tunaikan di musholla hotel. Pada pukul 5 sore baru kami menuju ke Masjidil Haram kembali untuk melaksanakan sholat mahgrib dan sholat Isya berjamaah.

Usai sholat ashar di Musholla Hotel dan kembali ke kamar, melalui jendela kamar kami melihat cuaca yang siang tadi panas, berubah menjadi berawan dan turun hujan yang sangat deras.  

Hujan turun disertai dengan angin yang menyerupai badai, karena kekuatan angin tersebut nampak membuat beberapa pohon meliuk, atap bangunan terlihat terangkat, dan sampah yang ada di jalan terangkat sampai ke atas.   Kami putuskan untuk menuju area loby hotel untuk melihat lebih jelas kondisi hujan yang terjadi.

Tiba di Lobby hotel, kesibukan sedang terjadi. Area lobby hotel nampak dibanjiri oleh air hujan yang masuk melalui pintu masuk hotel. Hujan memang turun sangat deras. Angin yang kencang membawa air hujan masuk melalui pintu lobby hotel.

Petugas Cleaning Service hotel nampak sibuk menyapu air di area loby dan mendorongnya ke area luar lobby hotel. Kesibukan semakin menjadi, karena disaat yang sama datang jamaah haji dari beberapa kloter ke Hotel tempat kami menginap.  

Subhanallah, kami panjatlkan puji dan syukur kepada Allah Subhanna Wa Ta’ala, karena pada musim haji ini, kami diberikan kesempatan oleh Allah Subhanna Wa Ta’ala untuk melihat kuasa Allah yang menurunkan hujan yang sangat deras di Tanah Haram Mekkah Al Mukaromah.

 

Turunnya hujan yang amat sangat deras ini tentunya tidak kami bayangkan sebelumnya, karena sejak sekolah dasar dulu, kami selalu mendapatkan pelajaran dari guru kami, bahwa Mekkah yang berada di kawasan Arab Saudi, adalah salah satu daerah yang memiliki curah hujan terkecil di dunia, sehingga turunnya hujan yang sangat deras ini, adalah sesuatu yang luar biasa bagi kami.

Sampai menjelang pukul 5 sore, hujan masih turun. Hal ini tentu saja membuat kami memutuskan untuk tidak berangkat ke Masjidil Haram menunaikan sholat mahgrib dan Isya berjamaah. Kami putuskan untuk melaksanakan sholat Mahgrib di musholla hotel. Begitu pula saat adzan Isya berkumandang, kami putuskan untuk melaksanakan sholat isya juga di Musholla Hotel.

Saat waktu menunjukkan pukul 8 malam, saat kami sedang melakukan aktivitas santap malam, beberapa rekan jamaah nampak keluar dari lift dan memberikan kabar kepada kami bahwa di Masjidil Haram terjadi musibah runtuhnya crane ketika hujan deras tadi sore. Tidak begitu jelas seperti apa kejadian yang sebenarnya terjadi, karena jamaah pembawa berita tersebut juga mendapatkan informasi dari jamaah yang lainnya.

Rekan jamaah haji kami berinisiatif untuk menghubungi keluarganya di Jakarta, untuk kemudian meminta keluarganya untuk memantau siaran televisi yang memberikan kabar soal kejadian di Masjidil Haram.   Benar saja, tak lama kemudian banyak rekan jamaah kami yang dihubungi oleh keluarga mereka di tanah air, karena televisi di tanah air baru saja menyiarkan kejadian runtuhnya crane di masjidil haram yang menelan banyak korban jiwa.   Berita via internet di detik.com juga sudah mulai memberitakan hal yang sama.  

Pengeras Suara di lorong hotel berdenting yang menandakan akan ada pengumuman dari pihak hotel atau dari pihak Pengurus Kloter.   Benar saja, melalui pengeras suara hotel, disampaikan berita tentang terjadinya musibah crane di Masjidil Haram yang menelan beberapa korban jiwa dan korban luka-luka. Ketua Kloter kami mengintruksikan seluruh Ketua Regu dan Ketua Rombongan untuk melakukan pendataan jamaah untuk memastikan keberadaan seluruh anggota kloter.

Seluruh ketua regu sigap bekerja melakukan pendataan anggotanya. Regu kami alhamdulillah lengkap berada di hotel, hanya saja keberadaan Ketua Rombongan kami pada malam itu tidak diketahui keberadaannya.

Dari 10 Rombongan yang tergabung dalam kloter kami, hanya Ketua Rombongan kami yang tidak ada di hotel.   Dari seluruh anggota Jamaah Kloter kami, selain ketua rombongan kami, juga ada 1 jamaah wanita yang belum kembali ke hotel.  

Alhamdulillah, tak lama kemudian, 1 jamaah wanita yang belum kembali ke hotel tersebut, sudah memberikan kabar kepada suaminya di hotel dan memberikan informasi bahwa dirinya selamat dari musibah, dan saat ini sedang berlindung bersama jamaah lainnya, di salah satu Toilet Pria yang ada di pelataran Masjidil haram.  

Jamaah wanita tersebut mengabarkan bahwa saat ini belum bisa kembali ke hotel karena situasi masjidil haram masih crowded pasca terjadinya musibah.

Hingga jelang tengah malam, belum ada kabar tentang keberadaan Ketua Rombongan kami. Salah satu ketua Regu mencoba menghubungi HP sang ketua rombongan, namun HP ternyata dalam kondisi tidak aktif.   Jadilah pada malam itu kami semua menunggu kabar tentang keberadaan Ketua Rombongan Kami. Kami panjatkan doa, memohon kepada Allah Subhanna Wa Ta’ala untuk keselamatan ketua rombongan kami.

Esok hari, usai sholat Subuh berjamaah, kami belum mendapatkan kabar tentang keberadaan ketua rombongan kami. Beberapa ketua Regu berinisiatif untuk melakukan pencarian dan penelusuran ke rumah sakit dimana korban musibah crane dirawat.

Sekitar pukul 1 siang, tim yang melakukan pencarian sudah kembali ke Hotel. Hasilnya tetap tidak mendapatkan titik terang keberadaan Ketua Rombongan kami. Mereka juga mengabarkan bahwa di rumah sakit mereka tidak mendapatkan akses masuk karena kondisi rumah sakit terlihat masih sangat sibuk menangangi korban musibah crane.

Ketika usai sholat ashar, rekan kami satu kamar memberikan kabar duka, Ketua Rombongan Kami sudah terindentifikasi menjadi salah satu korban tewas pada musibah crane tersebut.   Kami semua larut dalam kesedihan.

Beberapa jamaah nampak tidak mampu membendung air mata yang tumpah ketika mendapatkan berita duka tersebut.   Kabar yang kami dapatkan, almarhum tewas tertancap plat besi berukuran panjang sekitar 1 meter yang nampaknya terkena hantaman crane dan meluncur bak anak panah dan menancap di punggung almarhum menembus paru-parunya.   Innalillahi wainnailaihi rojiun. Semoga almarhumah mendapatkan surga yang Allah Subhanna Wa Ta’ala janjikan untuk mereka yang syahid ketika melaksanakan ibadah haji.

Hari itu seluruh jamaah haji kloter kami tidak menjalankan ibadah di Masjidil Haram, kami melaksanakan ibadah sholat di masjid hotel. Kengerian cerita jatuhnya crane di Masjidil Haram, masih terngiang di kepala kami.  

Ba’da Sholat Isya, dalam obrolan dengan jamaah haji lainnya, kami mendapatkan rekaman detik-detik jatuhnya crane beserta kengeriannya, mendapatkan foto-foto jamaah haji Indonesia yang terluka, dan yang paling menyedihkan hati kami, adalah foto Almarhum Ketua Rombongan kami yang dalam posisi tengkurap di atas tempat tidur dengan plat besi yang masih menancap di bagian atas punggungnya.

Banyak versi cerita yang beredar di seputar peristiwa jatuhnya crane. Salah satu versi yang saya dapatkan dari salah seorang jamaah, menyebutkan bahwa pada hari kejadian, ba’da sholat ashar secara tiba-tiba kondisi angin kencang dan terjadi badai pasir. Area seputar Ka’bah dipenuhi dengan pasir. Tak lama kemudian, suhu mendadak turun, angin bertiup kencang dan berjatuhan butir-butir es dari atas langit, dan sejurus kemudian turun hujan yang sangat lebat disertai angin yang bertiup sangat kencang.   Soal Hujan lebat dan angin kencang, saya sendiri menyaksikan hal tersebut dari kamar kami di lantai 19 dan juga melihat langsung dari Lobby Hotel.  

Pada saat kejadian, Ketika kembali ke kamar usai melihat situasi dan kondisi di area lobby hotel, Saluran TV di kamar kami nampaknya mengalami gangguan. Posisi chanel TV sedang menanyangkan Saluran Masjidil Haram. Posisi gambar terakhir adalah gambar Talang Air Ka’bah yang mengalirkan air hujan yang sangat deras. Kembali ke situasi di Masjidil Haram, ketika hujan sedang turun dengan lebat, tiba-tiba saja salah satu crane nampak rubuh. Posisi crane yang rubuh berada di area jalur menuju ke lokasi sai.  

Area di sekeliling Ka’bah memang sedang dalam proses renovasi perluasan Masjidil Haram, sehingga disekelilingnya dipenuhi dengan crane berukuran besar. Namun ternyata, crane yang jatuh dan menimbulkan banyak korban jiwa, adalah crane yang kategorinya Crane Mobile. Pada saat kejadian, nampaknya terjadai keterlambatan melakukan pemindahan Crane Mobile tersebut, sehingga akhirnya jatuh setelah terkena hembusan angin yang sangat kencang.

Malam ba’da isya, handset blackberry kami mengeluarkan bunyi notifikasi SMS dari operator lokal. Isi SMSnya adalah ucapan Turut Bersimpati atas terjadinya musibah jatuhnya crane di Masjidil Haram disertai dengan pemberian 5 menit gratis bicara untuk memberi kabar ke keluarga Jamaah haji di Tanah Air.

 

Semua sanak saudara di Tanah Air menghubungi orang tua kami untuk mencari tahu kabar kami di tanah suci. Alhamdulillah, pulsa bicara dari operator lokal sangat membantu kami memberikan kabar ke tanah air.

Tiga Hari setelah kejadian runtuhnya crane, tayangan Televisi di hampir seluruh kamar tempat kami menginap, kondisinya masih belum dapat menanyangkan gambar. Entah karena sedang dilakukan kebijakan blokir siaran dari pemerintah Arab Saudi, atau memang terjadi kerusakan sistem penerimaan sinyal televisi di Hotel kami menginap.  

Pada hari ke-empat pasca kejadian crane rubuh, barulah sistem penerimaan siaran televisi di Hotel berfungsi dengan normal. Mencoba mencari update soal perisitiwa crane, ternyata kami tidak temui satupun chanel siaran televisi yang menampilkan berita jatuhnya crane di Masjidil Haram. Update peristiwa rubuhnya crane, lebih banyak kami dapatkan dari situs berita online tanah air.

Bagi kami pribadi, kejadian rubuhnya crane yang didahului dengan hujan yang sangat lebat, adalah bukti kuasa Allah Subhanna Wa Ta’ala. Saat kami kecil dulu, pada saat pelajaran geografi, guru selalu menjelaskan bahwa negara Arab Saudi adalah negara yang berada di kawasan gurun pasir dengan curah hujan terkecil di dunia.

Namun apa yang kami lihat dan alami sendiri pada hari dimana peristiwa rubuhnya crane di Masjidil Haram, apa yang guru kami sampaikan tersebut sangat bertolak belakang dengan apa yang kami lihat dan saksikan.

Hari itu kami melihat Hujan yang menurut pandangan kami, adalah hujan yang paling lebat yang pernah kami lihat selama hidup kami. Allahu Akbar, Maha Besar Allah dengan segala kuasanya.

Kerusakan pasca Hujan Badai

Pasca kejadian Crane rubuh di Masjidil Haram, kami memutuskan untuk memulai kembali aktifitas ibadah kami di Masjidil Haram. Ini kami lakukan setelah mendapatkan kabar bahwa kondisi masjidil haram sudah normal kembali, dan seluruh area sudah dibuka dan dapat diakses kembali oleh para jamaah.

Bersama istri, kami putuskan untuk melakukan sholat tahajud di masjidil haram. Pukul 2 dini hari, kami meninggalkan pemondokan menuju ke Masjidil Haram dengan menggunakan kendaraan umum. Butuh waktu sekitar 10 menit untuk tiba di Masjidil Haram.

Jika menggunakan Angkutan Umum, biasanya kami diturunkan di terowongan area dekat pelataran masjidil haram, kemudian naik menggunakan escalator yang disediakan, lanjut berjalan melalui pelataran masjidil haram masuk ke dalam masjid melalui pintu King Abdul aziz langsung menuju ke area thawaf.

Tiba di pelataran Masjidil Haram, kami masih menyaksikan banyaknya Crane yang berada di area Masjidil Haram. Mendadak teringat kepada para jamaah yang menjadi korban jatuhnya crane tersebut.

Kami berjalan masuk ke dalam Masjidil haram dan kangsung menuju ke area tawaf. Alhamdulillah, kondisi area tawaf tidak terlalu ramai. Mungkin karena banyak jamaah yang belum mengetahui jika seluruh area masjidil haram sudah boleh dimasuki oleh jamaah pasca kejadian crane 2 hari yang lalu.

Kami bersama istri melakukan tawaf mengitari Ka’bah.   Pada putaran tawaf pertama hingga putaran ke 3, kami melakukan putaran mendekati ka’bah. Alhamdulillah, kami dimudahkan mencapai ka’bah dan menyentuhnya.

Ada rasa haru ketika kami berhasil berada dekat dengan ka’bah dan menyentuh serta mencium wangi ka’bah yang kami sendiri tidak pernah mencium aroma wangi seperti aroma wangi ka’bah.

Saat tiba di rukun yamani, kami bersama istri merapat ke ka’bah dan berdesakan bersama jamaah lain menuju ke hajar aswad.

Sungguh perjuangan luar biasa untuk dapat melangkah, bergeser secara perlahan dari titik Rukun Yaman ke Hajar Aswad. Kepadatan jamaah sangat luar biasa. Beberapa jamaah dari kawasan afrika, yang postur tubuhnya besar, menyeruak masuk ke kerumunan, sehingga membuat beberapa jamaah terdesak dan terjepit.

Saya beserta istri tinggal berjarak 2 orang jamaah lagi untuk dapat menyentuh hajar aswad, namun karena ada desakan dari area belakang, kami berdua terjepit. Sambil memegang dinding ka’bah, kami bertahan dari dorongan jamaah di belakang kami. Beberapa jamaah haji dari afrika menyarankan kami untuk mengurungkan niat bergeser ke arah Hajar Aswad karena situasinya sangat tidak memungkinkan. Istri kami nafasnya sudah terlihat tersengal karena terjepit antara dinding kabah dan jamaah. Akhirnya kami putuskan untuk mundur dan menjauh dari area hajar aswad.

Istri menyatakan ikhlas tidak dapat menyentuh dan mencium hajar aswad. Insya Allah jika diperkenankan oleh Allah Subhanna Wa Ta’ala , pasti keinginan untuk menyentuh dan mencium Hajar Aswad dapat terpenuhi.

Kami melanjutkan tawaf kami menyelesaikan putaran ke 4 hingga ke 7. Pada setiap putaran kami menjauh dari kabah untuk memudahkan kami nantinya keluar dari area kabah. USai tawaf kami lanjutkan dengan Sholat sunat Tawaf di belakang Maqom Ibrohim, dan sesudahnya kami bergeser ke depan multazam untuk melantunkan doa-doa kami.

Air mata selalu menetes ketika kami tiba pada ritual doa di depan multazam. Menangis memohonkan ampun atas segala dosa dosa yang kami lakukan, memanjatkan doa untuk diri kami, keluarga, dan orang tua, serta adik dan kakak kami.

Pada situasi kepadatan area tawaf, Ritual sholat Sunat Tawaf dan berdoa di depan multazam, tidak dapat kami lakukan dalam waktu lama, karena harus bergantian memberikan kesempatan jamaah haji lainnya.   Usai berdoa, kami bergeser menuju ke area ruang sholat masjidil haram untuk bersiap melaksanakan sholat Fajar dan Sholat Subuh.

Usai sholat subuh, kami berdiam di masjidil haram menanti waktu sholat dhuha. Waktu menunggu tersebut kami manfaatkan untuk membaca Al Quran dan menyelesaikan target khatam selama berada di tanah suci.

Waktu sholat dhuha tiba, kami bersegera melakukan sholat sunnat Dhuha. Kami Khusuk melaksanakan sholat dhuha dan sesudahnya kami panjatkan doa dan Harapan untuk kesehatan dan kesejahteraan keluarga kami, orang tua, dan adik serta kakak kami. Usai sholat dhuha kami bersiap untuk meninggalkan masjidil haram dan kembali ke pemondokan.

Setiap kali meninggalkan masjidil haram menuju ke pemondokan, kami lakukan dengan berjalan kaki. Jaraknya hanya 2 kilometer. Jika menggunakan angkutan umum, perjalanannya harus berputar-putar dan terkadang terhambat dengan banyaknya jamaah yang berjalan kaki di sepanjang jalan ke pemondokan.

Saat dalam perjalan pulang ke pemondokan, di sepanjang perjalanan, kami menyaksikan sisa-sisa kedahsyatan Hujan badai yang terjadi 2 hari lalu.

Tenda-tenda peneduh di pinggir jalan, yang notabene dibangun dengan menggunakan besi yang kokoh, ternyata tidak mampu menahan dahsyatnya kekuatan angin yang menerjang. Hampir seluruh tenda yang ada, posisinya sudah hancur luluh lantak.

Menyaksikan hal tersebut, kami panjatkan doa, memohon perlindungan Allah untuk menjaga kami selama ibadah kami di tanah suci.

GEMURUH - SAAT SUBUH

Rabu, 16 September 2015 , menjadi pengalaman haji yang tidak akan kami lupakan semur hidup kami. Pada hari itu, di Masjidil Haram, kami diingatkan untuk memilah kata dengan baik selama berada di tanah suci.   Sudah banyak kisah yang kita dengar tentang beberapa hal kejadian di tanah suci, yang jika ditelaah, adalah kejadian yang atas kuasa Allah Subhanna Wa Ta’ala diwujudkan untuk menjadikan kita ummat yang selalu menjaga lisan.

Cerita ini berawal dari rencana kami berserta istri yang merencanakan untuk melaksanakan tawaf di masjidil haram dan berharap dapat menyentuh dan mencium Hajar Aswad. Keinginan bertawaf ini tercetus setelah 3 hari sebelumnya, saat kami melaksanakan tawaf, kami gagal mencium Hajar Aswad karena kepadatan Jamaah yang luar biasa.

Pukul 2 dinihari, kami meninggalkan pemondokan menuju ke Masjidil Haram dengan menggunakan angkutan umum yang sejak dinihari sudah mangkal di depan pemondokan. Mobil angkutan umum tersebut, seperti biasa membawa kami ke Masjidil Haram melalui area terowongan yang ketika masuk ke pelataran masjidil haram, tepat searah dengan Pintu Gerbang King Abdul Aziz.   Tiba dipelataran masjidil haram, suasana dinihari itu ternyata sudah ramai oleh jamaah haji. Kami bergegas menuju area thawaf.

Hmmm … sepertinya banyak jamaah haji yang berpikiran sama dengan kami, mengharapkan waktu dinihari akan sepi dari jamaah haji. Namun ternyata kondisinya tidak demikian. Hari itu nampaknya banyak jamaah haji yang baru saja tiba di masjidil haram dan melaksanakan Umroh Wajib. Jadilah area thawaf dipadati oleh jamaah haji.   Kami putuskan untuk melakukan tawaf, dan tidak terlalu banyak berharap untuk dapat menyentuh dan mencium hajar aswad.

Kepadatan area thawaf yang luar biasa menyebabkan kami harus memulai tawaf dari sisi terluar area tawaf. Setiap 1 putaran terasa jauh, karena tawaf dilakukan dengan berjalan perlahan karena kondisinya yag sangat padat.

Pada putaran pertama hingga ke 3, Kami tetap melakukan putaran yang mengarah ke dinding kabah. Alhamdulillah, pada putaran ke 3, kami sudah dapat mencapai dinding kabah. Lagi-lagi …. Setiap kali tangan ini menyentuh dinding kabah, terasa kesejukan dinding kabah meresap ke seluruh tubuh ….. dan membuat kami menangis.  

Kami berhenti sejenak di dinding kabah sebelum Rukun Yamani, kami panjatkan doa untuk kesehatan, keselamatan, serta kesejahteraan keluarga kami, orang tua, dan adik kakak kami.

Usai berdoa, kami meneruskan tawaf dengan menyusuri dinding kabah menuju Rukun Yamani dan berlanjut ke arah Hajar Aswad. Namun kepadatan jamaah haji yang luar biasa, membuat kami memutuskan menjauh dari dinding kabah, serta melakukan putaran tawaf selanjutnya dengan cara menjauhi kabah untuk menuju ke titik terluar putaran tawaf. Putaran terakhir tawaf menjadi perjuangan tersendiri bagi kami. Saat akan keluar area tawaf, kami harus melambatkan langkah kami, untuk memberi kesempatan beberapa rombongan jamaah haji yang baru mulai memasuki area tawaf

Alhamdulillah, tepat di putaran terakhir, kami sudah berada di titik terluar tawaf. Melanjutkan ritual selanjutnya, saya beserta istri segera mencari posisi untuk melaksanakan sholat sunnat tawaf di depan maqom Ibrahim.   Kami melaksanakan sholat sunat tawaf secara bergantian. Saat istri sedang melaksanakan sholat, maka saya akan menjaga area sholatnya agar tidak ada jamaah haji lainnya yang melintas di depan istriku ketika sedang sholat. Begitu pula sebaliknya. Istriku bergantian menjaga area sholatku hingga kami selesai melaksanakan rukun tawaf.

Usai sholat, kami bergeser menghadap ke depan multazam untuk memanjatkan doa. Ketika doa dipanjatkan, air mata selalu menetes menahan haru, karena Allah telah memberikan rahmat dan karunia tiada tara, sehingga kami dapat melaksanakan ibadah haji. Kami juga tak pernah lupa memanjatkan doa untuk kesehatan dan kesejahteraan kami sekeluarga, orang tua kami, serta adik dan kakak kami.

Saat sedang melantunkan doa, askar yang bertugas Nampak mulai mengatur jamaah untuk mempersiapkan diri melaksanakan sholat Fajar. Kami berdua segera beranjak dan mencari lokasi shaff untuk melaksanakan sholat fajar dan kemudian dilanjutkan dengan sholat subuh berjamaah.

Alhamdulillah, kami mendapatkan shaff tepat di hadapan ka’bah. Begitu pula dengan istri. Mendapatkan shaff sholat agak kebelakang bercampur dengan jamaah perempuan, namun masih dapat langsung melihat ka’bah.   Tak lama Adzan berkumandang.   Usai adzan, kami semua melaksanakan sholat sunnah Fajar 2 rakaat. Usai sholat fajar, kami manfaatkan waktu menunggu masuk sholat subuh dengan membaca Al Quran.

Sesaat sebelum membuka Al Quran, sambil memandang sekeliling area tawaf yang masih dipenuhi dengan crane hampir di separuh lingkaran area tawaf, saya sempat bergumam membayangkan seperti apa kepanikan dan keriuhan jamaah haji ketika terjadi peristiwa Crane jatuh lima hari yang lalu.

Tak lama, adzan sholat subuh berkumandang. Kami semua khusuk mendengarkan dan berdoa setiap kal muadzin mengumandangkan kalimat adzan. Usai adzan, seluruh jamaah melaksanakan sholat qobliyah subuh.

Usai sholat qobliyah subuh, sesuatu yang menyebabkan kepanikan luar biasa terjadi ….. dan saya kemudian menyesali membayangkan seperti apa kepanikan dan keriuhan jamaah haji ketika terjadi peristiwa Crane jatuh lima hari yang lalu.

Ketika baru saja merubah posisi duduk usai mengucapkan salam di akhir rakaat sholat qobliyah, tiba-tiba saya mendengar suara seperti suara gemuruh, yang dalam pendengaran saya, lebih mirip seperti suara derap kuda yang berlari kencang dan datang dari arah sebelah kiri saya.   Terdengar teriakan “Allahu Akbar ….   Allahu Akbar ….. “ yang saling bersahutan. Saya menengok kea rah sebelah kiri.   Sekitar 50 meter dari saya duduk, saya melihat banyak Jamaah berdiri dan berlari menuju ke bagian dalam masjid. Suara derap kuda yang saya dengar, terdengar makin keras menuju ke arah saya duduk.

10 orang jamaah yang ada di sisi kiri saya mendadak bangun dan mengumandangkan takbir dan berlari ke arah dalam masjid. Suara derap kuda semakin terdengar kecang seperti hendak menabrak diriku …. Seketika saya bangkit dan hanya membwa tas yang saya letakkan di depan saya duduk. Sajadah tak sempat saya ambil. Saya berlari sambil mengumandangkan takbir ….. “Allahu Akbar ….. Allahu Akbar “ ….. semua jamaah nampak panik dan berlarian menuju ke bagian dalam masjid.   Jika saja saya terlambat bangun, pasti saya sudah tertabrak jamaah yang ada di depan dan sisi kanan saya ….

Satu hal yang ada dalam pikiran saya adalah ….. segera menemui istri saya di shaff belakang. Alhamdulillah, istri saya saya temukan dalam keadaan panik bersama dengan jamaah lainnya, namun tidak ikut berlari ke arah dalam masjidil haram. Saya segera gandeng istri saya dan bergeser menjauhi area tawaf. Suasana masih kacau …. Suara gemuruh yang tadi terdengar , perlahan menjauh ….. benar-benar seperti derap kuda yang sedang mengitari area tawaf.   Ditengah kepanikan. Muadzin kemudian mengumandangkan Iqomah ….. dan serta merta suara gemuruh yang terdengar tadi ….. seketika lenyap tak terdengar.   Semua jamaah kemudian mengambil posisi untuk melaksanakan sholat subuh.   Posisi shaf sudah tidak beraturan. Semua jamaah laki-laki dan perempuan bercampur.   Saya beserta istri sholat berdampingan.

Usai sholat subuh, kami berdua memanjatkan doa.   Saya panjatkan doa syukur kepada Allah atas segala lindungannya kepada kami berdua, saya juga mengucapkan istigfar dan memohonkan ampun atas kelancangan saya bergumam ingin mengetahui seperti apa kepanikan yang terjadi saat kejadian crane.

Ya ….. hari ini Allah memberikan teguran kepadaku karena telah melakukan kelancangan …. Lancang karena ingin sekali mengetahui seperti apa situasi kepanikan di area tawaf saat terjadi musibah crane rubuh. Sungguh ini adalah suatu bentuk kelancangan yang jangan pernah dilakukan oleh siapapun.

Ya Allah …. Saya mohon ampun atas kelancangan ini ….. jangan sekali-kali kau tunjukan kepanikan ini kepada hambaMU …. Sesungguhnya aku adalah hambaMu yang lemah dan tak ada kekuatan dan daya upaya untuk menyaksikan kekuasanMU ….

Saya mengajak istriku untuk keluar dari Masjidil Haram menuju ke area pelataran masjidil haram untuk menenangkan diri. Beralasan 1 sajadah yang masih ada, Kami berdua duduk di pelataran masjidil haram. Beristirahat dan menenangkan diri, sambil menatap gerbang Utama masuk ke Masjidil Haram.   Kami putuskan untuk menunggu waktu dhuha. Melanjutkannya dengan sholat dhuha, dan segera pulang ke pemondokan.

Esok harinya, berita seputar kepanikan akibat sara gemuruh tersiar hingga ke tanah air. Kami hanya bersyukur bahwa suara gemuruh yang terdengar itu hanya berlangsung singkat, sehingga kepanikan yang terjadi tidak berlangsung lama.

Saat tiba di tanah air, saya mencoba mencari tahu, apakah fenomena suara gemuruh yang terdengar di Masjidil Haram, juga pernah terjadi pada musim haji tahun sebelumnya.

Penelusuran internet, akhirnya kami dapati juga berita tentang Suara Gemuruh yang terjadi di Masjidil Haram. SItus berita online, suaramerdeka.com pada tanggal 5 Oktober 2010 menurunkan artikel tentang serba-serbi berhaji. Dimana salah satunya menurunkan cerita tentang Kepanikan Jamaah haji tahun 2005/2006.  

Isi ceritanya hampir mirip dengan yang kami alami, yaitu kepanikan Jamaah Haji di Masjidil Haram karena mendengar suara gemuruh yang terdengar seperti suara Derap Kuda, seperti suara Air Bah, seperti suara tsunami, atau gempa bumi. Suara gemuruh berlangsung singkat, namun mampu membuat panik jamaah haji yang sedang menunggu waktu sholat wajib. Jika yang saya alami adalah Suara Gemuruh menjelang sholat subuh, maka yang terjadi di musim Haji 2005/2006 adalah Suara Gemuruh menjelang Sholat Dzuhur.

Ketika bertanya kepada beberapa sahabat kami tentang suara apakah gerangan yang kami dengarkan tersebut ? Beberapa sahabat menjelaskan bahwa beberapa ulama memberikan pendapat bahwa suara gemuruh tersebut adalah suara para malaikat yang sedang melakukan tawaf di Baitul Makmur. Wallahualam ….

Hmmm …. Suara Gemuruh yang saya dengar memang datang tidak secara tiba-tiba, tetapi perlahan terdengar dari kejauhan dan makin keras dan jelas ketika mencapai diri kita. Jalur suaranya mirip seperti lingkaran tawaf, karena jamaah bangun dari duduk tidak dalam satu waktu yang sama.

Para Jamaah mendengar suara Gemuruh tidak bersamaan, sehingga bangun dari duduk karena panik, juga tidak dilakukan bersamaan. Jamaah bangun dari duduk mirip dengan efek domino, dimana setiap jamaah bangun dari duduk karena jamaah disebelahnya kaget mendengar suara, dan mereka juga kemudian ikut bangun dari duduk karena juga mendengar suara gemuruh setelah orang disebelahnya mendengar dan segera bangun dari duduk.

Saya tidak dapat membayangkan, Jika suara Gemuruh itu datang seperti suara bom, suaranya datang dalam satu waktu dan didengar jamaah dalam waktu yang sama ….. entah seperti apa kepanikan yang akan terjadi.

RAGAM KULINER -SAAT BERHAJI

Menu Kuliner di asrama Haji

Urusan makanan adalah salah satu hal yang paling banyak menjadi perhatian jamaah haji indonesia. Sejak dari tanah air, hampir sebagian besar jamaah haji mempersiapkan bekal makanan yang bernuansa indonesia. Hal ini dikarenakan banyak sekali informasi yang beredar bahwa banyak makanan di tanah suci yang tidak cocok dengan perut orang indonesia.

Banyak juga pesan yang disampaikan oleh teman, kerabat, dan kolega yang pernah berangkat haji, bahwa nanti selama di tanah suci harus siap untuk menyantap apapun makanan yang disediakan oleh petugas haji. Enak atau tidak enak harus disantap tanpa ada keluh kesah. Kata yang sering diucapkan untuk mengingatkan kita adalah “hati-hati berucap ..... kalo bilang tidak enak, bisa jadi nanti selama di tanah suci akan benar-benar tidak ada makanan yang berasa enak ....” hmmmm, serem banget.

Kami juga mempersiapkan bekal dari tanah air untuk mengantisipasi menu makanan yang tidak selera dengan lidah kami. Untuk bekal lauk, kami meminta ibunda kami untuk membuatkan menu lauk yang dapat tahan lama, dan tentunya menjadi favorit kami, yaitu Sambal kacang teri medan. Tidak lupa beberapa bekal tambahan kami siapkan dari tanah air, diantaranya adalah kecap dan sambal instant sachet.

Pengalaman pertama Kuliner haji dimulai dari Asrama Haji Kota Bekasi. Santap perdana di Asrama Haji adalah sarapan pagi. Usai mandi pagi, kami menuju ke ruang makan yang disediakan di asrama haji. System Makan yang disiapkan oleh petugas asrama haji bekasi adalah system prasmanan terbatas.

Mengapa terbatas ? karena setiap jamaah haji tidak diperbolehkan mengambil makanannya sendiri, kecuali nasi.   Sayur dan lauk akan diberikan oleh penyaji makanan. Porsinya bagaimana ?? hmm .... untuk yang suka makan dengan porsi sayur dan lauk yang banyak, jumlah porsi yang diberikan oleh penyaji adalah porsi dengan jumlah yang sedikit. “Mirip porsi orang sakit” begitu kata beberapa jamaah haji.

Usai mengambil makanan, kami kemudian membawa makanan pada tempat duduk yang telah disediakan. Tidak ada meja makan, yang tersedia hanya kursi tanpa meja. Di ujung ruangan tersedia beberapa kursi dengan tambahan meja lipat seperti kursi di ruangan kuliah. Jadilan untuk yang badannya “besar” agak repot untuk menggunakan kursi makan jenis tersebut.

Makanan siap kami santap, dan saat suapan pertama masuk mulut, komentar atas rasa makanan tersebut adalah “hambar – tak terasa bumbunya ......”   Beberapa jamaah berkomentar

“ini bener-bener menu rumah sakit baik dari sisi porsi maupun rasa ....”

 

Semua jamaah haji yang ada di asrama haji mulai berpikir bahwa memang benar adanya bahwa salah satu kesabaran yang dituntut harus dimiliki oleh seorang jamaah haji adalah kesabaran untuk menerima menu makanan apa adanya, baik dari sisi jenis sayur dan lauk, maupun dari sisi rasanya.

Untuk masalah menerima apa adanya menu yang tersedia, rupanya sudah dimulai dari asrama haji yang lokasinya masih di tanah air.   Semua jamaah sempat terpikir “ ditanah air saja menu makanannya seperti ini .... apalagi di tanah suci ......”

Saya sendiri memutuskan untuk membuka bekal teri kacang yang saya bawa di tes tentengan kami. Ini perlu saya lakukan agar memastikan saya mendapatkan asupan makanan yang cukup. Dimana untuk memastikan nasi yang ada bisa tersantap, saya membutuhkan tambahan penambah aroma, dan itu saya dapatkan dari Teri Kacang yang saya bawa. Teri kacang buatan mama tercinta memang luar biasa, bumbu dan kriuk kacang tanah serta teri medan mampu menggugah selera makan kami.

Alhamdulillah, setiap kali makan dan menambahkan teri kacang sebagai tambahan lauk, saya dapat menghabiskan porsi makanan dengan lahap dan tuntas. Ini penting untuk menjaga kesehatan saya.

Saat waktu makan siang tiba, menu yang disajikan tidak jauh berbeda. Menu makanan masih terdiri Nasi, 1 Macam Sayur, 2 jenis lauk kering, kerupuk, dan buah. Soal rasa ? hmmmm … masih tetap hambar seperti makanan rumah sakit … ha ha ha …

Jadilah pada sore hari menjelang sholat ashar, saya sempatkan untuk mencari selingan makanan di kantin asrama haji.  Menu Indomie dengan tambahan telur dan bakso, serta segelas kopi mocca kesukaan saya, habis saya santap pada sore hari itu dan langsung bergegas menuju ke masjid untuk menjalankan ibadah sholat ashar.

Menu Semangkok Indomie Baso dan segelas Kopi Mocca sepertinya menjadi menu paling nikmat yang saya santap ketika berada di Asrama Haji Kota Bekasi. Harga semangkok Indomie dan segelas kopi itu harganya hampir 2 kali lebih mahal dibandingkan harga normal di warung indomie pinggir jalan.

Sampai pada tahapan ini, hampir seluruh jamaah haji memiliki keyakinan bahwa bahwa Menu Masakan yang disajikan di Asrama Haji, adalah upaya pemerintah untuk “membiasakan makan dengan menu dan rasa seadanya “ selama jamaah berada di tanah suci.

Kami beserta istri pun mengamini dan berikrar untuk siap menyantap apapun makanan yang tersedia di tanah suci. Kami berniat berhaji ke tanah suci, bukan berniat Wisata ke tanah suci …

Menu Kuliner di pesawat

Kami melakukan boarding ke pesawat pada pukul 00.30 wib di Lapangan Udara Halim Perdana Kusumah Jakarta. Alhamdulillah, Pesawat yang dijadwalkan takeoff pada pukul 01.30 wib dapat take off sesuai dengan jadwal yang direncanakan.

Perjalanan menuju Bandara King Abdul Aziz Madinah diperkirakan memakan waktu selama 9 jam penerbangan. Setelah 2 jam penerbangan, pramugara menawarkan makan malam ..... walaupun lebih tepat disebut “makan dinihari” kepada para jamaah haji. Pilihan menu yang ditawarkan adalah Menu Nasi Ayam, Nasi Daging, dan Nasi Ikan.  

Saya memilih menu Nasi Ikan. Bukan karena saya lebih suka ikan, tetapi karena saya menggunakan gigi palsu pada bagian gigi depan saya, sehingga bermasalah jika harus menggigit makanan yang keras ... ha ha ha

Minuman yang ditawarkan adalah air putih atau Juice Buah.   Saya memilih orange juice untuk meminimalisir ras ‘neg’ selama penerbangan berlangsung.

Hmmm, ketika makanan dibagikan kepada kami, semua penumpang merasa senang karena aroma makanannya begitu menggoda.   Makanan disajikan dalam kondisi panas, karena sebelumnya sudah dipanaskan di dapur pesawat. Ketika paket makanan saya buka, isinya terdiri dari 1 kotak Nasi berikut lauk ikan, 1 roti bulat, 1 cream chesse, dan 1 slice kue bolu.   Ketika saya cicipi, rasa Menu Nasi ikannya ..... sangat luar biasa enaaaak ....

Selama di pesawat, kami mendapatkan fasilitas 2 kali makan. Pada pagi hari sekitar pukul 6 sebagai makanan sarapan, dan 1 kali lagi pada sekitar pukul 11 menjelang waktu dzhuhur. Pilihan menunya masih sama, Nasi Ayam, Nasi Ikan, atau Nasi Daging.

Semuanya tetap dengan rasa dan aroma yang menggugah. Hampir tidak ada satupun makanan yang disisakan oleh para jamaah haji. Semuanya tuntas disantap para jamaah haji.   Membandingkan rasa menu makanan di asrama haji dengan di pesawat, seperti langit dan bumi ….. beda bangeeet…

Di pesawat, kami panjatkan doa agar nantinya selama berada di tanah suci, tetap mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan makanan yang sesuai dengan lidah kami, lidah bangsa Indonesia.

Menu Kuliner di Madinah

Alhamdulillah …. Itu yang kami ucapkan ketika kami mendapatkan paket makanan jamaah haji untuk pertama kalinya.   Bayangan akan mendapatkan menu makanan yang tidak cocok di lidah, ternyata tidak terbukti. Menu makanan untuk para jamaah haji pada tahun 1436 H ternyata amat sangat menggugah selera.

Makanan untuk para jamaah haji dikemas dengan menggunakan Kotak Alumunium Foil yang ditutup karton putih bertuliskan “Makan Siang” dengan logo Kementrian Agama RI.

Setiap jamaah mendapatkan 1 Box nasi, 1 Botol Air Mineral, dan 1 Buah Pisang Cavendish. Saat Box makanan tersebut kami buka ….. Alhamdulillah, menu pertama kami adalah Nasi, Daging rendang, ikan saus, dan sayuran.

Tidak hanya menu makanan, setiap jamaah haji juga mendapatkan Paket Minuman dan Pelengkap Makanan. Isi paket minuman terdiri dari Kopi instans, Teh sachet, gula sachet, serta 1 gelas dan 1 sendok untuk pengaduk.

Paket Kopi, Teh dan Gula tersebut jumlahnya masing-masing sekitar 24 pcs, atau cukup untuk dikonsumsi menemani makan selama di Madinah. Sedangkan pelengkap makanan yang diberikan adalah sambal botol dan kecap botol.

Malam hari usai sholat isya, kami mengambil jatah makan malam kami. Lagi-lagi ucap syukur Alhamdulillah kami panjatkan, karena menu makan malam kami juga tak kalah nikmatnya ……

Kami santap malam dengan menu Kari Kambing dan Cah Sayuran. Pada saat pembagian Jatah Makan Malam, setiap jamaah mendapatkan 1 Box nasi, 1 Air Mineral, 1 buah Apel, dan 1 Roti Croisant.

Saat menjalani pagi pertama di Madinah, kami kebingungan ketika menunggu jatah makan pagi kami. Ternyata Roti Croisant yang dibagikan pada malam hari tersebut adalah jatah sarapan kami. Kondisi ini menjadi masalah bagi sebagian besar jamaah haji Indonesia, karena jika belum makan nasi maka belum bisa disebut sarapan …. Ha ha ha …

Sarapan hanya dengan menyantap 1 roti croissant dan air mineral, rupanya tidak mampu mengganjal perut kami.   Jadilah pagi itu ketika toko-toko di sekitar nabawi sudah mulai buka, kami menuju ke salah satu minimarket untuk mencari pemanas air.  

Perangkat pemanas air itu akan kami gunakan untuk memanaskan air untuk membuat teh dan kopi yang pada malam kemarin dibagikan ke jamaah. Selain untuk memanaskan air, perangkat tersebut akan kami manfaatkan untuk memasak Indomie ……

Harga pemanas air tersebut adalah sebesar 30 real, atau sekitar 100 ribu rupiah. Tidak terlalu mahal untuk situasi di negeri orang.

Ketika berbelanja perangkat pemanas air, sempat menengok ke rak mie instant. Ternyata tersedia Indomie di arab Saudi. Kemasannya mirip-mirip dengan kemasan yang ada di tanah air, hanya aksaranya saja yang menggunakan aksara arab.

Menengok harganya, hmm …. lumayan juga harganya adalah sebesar 2 real atau jika dikurskan dengan uang rupiah, harganya adalah 7 ribu rupiah. Untung saja kami membawa bekal mie instant yang cukup banyak untuk bekal selama di tanah suci.

Hal yang cukup menarik adalah ketika melihat display buah-buahan. Harga 1 tray tomat ternyata jauh lebih mahal bila dibandingkan dengan harga 1 tray anggur.

1 tray anggur jenis calmeria yang berwarna Hijau, harganya hanya 5 real. Kami putuskan untuk membeli anggur sebanyak 1 tray sebagai buah cuci mulut usai bersantap. Belakangan kami baru tahu jika harga anggur ini relatif murah karena tidak begitu laku dibeli para jamaah haji. Penyebabnya adalah karena anggur dianggap menyebabkan batuk pada tenggorokan.

Memiliki perangkat pemanas air, ternyata cukup membantu ketika ingin menikmati teh hangat dan kopi panas. Bekal Mie Instan yang kami bawa, ternyata benar-benar nikmat ketika disantap saat sarapan di madinah.

Hari ke 3 di Madinah, mulai terasa bosan juga jika harus menikmati sarapan mie instant. Jadilah mencoba mencari menu lain selain mie instan. Proses pencarian dimulai saat usai sholat menjalankan ibadah sholat shubuh. Di depan gerbang masjid nabawi, ada seorang laki-laki berwajah khas Indonesia yang membawa papan iklan yang menawarkan Bakso Karawang ! wow …. Ini dia yang kami cari.

Bersama istri, kami menuju ke lokasi toko penjual bakso Karawang. Lokasinya ada di sebuah ruangan di Hotel yang berada dekat Masjid Nabawi.

Sampai di lokasi, tempatnya sudah ramai dengan pengunjung yang hampir seluruhnya adalah jamaah haji asal Indonesia. Selain bakso, juga tersedia menu masakan padang. Istri tercinta ingin mencoba Bakso Karawang, sedangkan saya memilih bersantap dengan menu masakan padang.

Rasa lumayan nikmat, tapi harganya juga nikmat ….. 13 real atau setara dengan 50 ribu rupiah untuk semangkok kecil bakso, dan 10 real atau 36 ribu rupiah untuk menu makanan padang dengan lauk gulai telur.

Mahaal bangeet untuk ukuran di Indonesia. Tapi untuk sekedar melepas kangen dengan makanan tanah air, tidak apa-apa sekali-kali menyantap hidangan bakso ini. Jika tiap hari …. Ya bisa membuat kantong jebol …. Ha ha ha

Hari ke 4 di madinah, masih tetap tidak ingin sarapan dengan mie instan, namun juga tidak mau sarapan dengan menu bakso Karawang yang harganya maknyus …. Jadilah akhirnya mencari-cari informasi lokasi kuliner lainnya.

Kali ini mendapatkan informasi bahwa tepat dibelakang hotel kami, setiap pagi ba’da subuh, ada penjual makanan Indonesia yang menjual nasi uduk, nasi kuning, dan nasi rames yang dikemas dalam kemasan mika kecil, serta dijual dengan harga murah.

Tertarik dengan info tersebut, kami bergegas ke lokasi yang dimaksud. Ternyata benar saja, tepat di belakang hotel kami ada beberapa penjual makanan asal Indonesia yang menawarkan dagangannya.   “Menu sarapan pak haji ….” Kata mereka. “Murah mengenyangkan, hanya 2 real “ lanjut mereka menawarkan dagangannya.   Saya putuskan membeli 1 bungkus nasi rames dengan lauk oseng Sayur dan tahu pedas.

Ditemani secangkir teh hangat, sarapan pagi hari ke-4 saya nikmati dengan nasi rames yang murah meriah ini. Alhamdulillah, rasanya cukup enak, mengenyangkan, dan murah.

Kuliner Manca Negara

Masih soal cerita kuliner haji saat berada di Madinah, kali ini saya ingin berbagi cerita tentang kuliner yang rasanya luar biasa, dan dapat menjadi alternative menu sarapan selama di madinah. Menu luar biasa itu adalah Menu Afrika …..

Ya, pagi itu saya menelusuri jalan di seberang hotel kami menginap. Di seberang jalan ternyata adalah Hotel tempat menginap jamaah Haji asal Nigeria Afrika.

Di jalanan depan hotel tersebut, saya melihat banyak pedagang makanan asal afrika. Melihat jenis masakannya, ada masakan yang mirip dengan bubur dengan kuah kari, juga ada Menu Mie yang bentuknya mirip spaggety. Untuk 2 jenis masakan tersebut, setelah mendekat dan mencium aroma kuah karinya, hmmm …. Saya mundur dan tidak berminat untuk mencicipinya.

Namun, saat bergerak ke pedagang Nigeria lainnya, ada menu masakan lainnya yang menarik perhatian saya.   Menu masakan itu adalah Gulai Ikan Patin yang dari aromanya, sangat menggoda lidah untuk mencicipinya.

Saya putuskan untuk membeli sebanyak 1 porsi Gulai Ikan Patin. Harganya 5 real atau sekitar 17 ribu rupiah untuk 1 potong ikan Patin dengan kuah karinya.

Selain Gulai Ikan Patin, ada lagi masakan Nigeria yang menggoda untuk saya cicipi, yaitu Gulai Babat Kambing. Mirip dengan Gulai Ikan Patin, sepertinya bumbu dasar yang digunakan untuk masakan ini berjenis sama.

Sayangnya, ketika ingin membeli Gulai Babat seharga 2 real untuk sekedar mencicipi rasanya, sang penjual tidak memberikannya. Saya tetap harus membeli seharga 5 real untuk 1 porsi Babat Kari. Padahal ukuran porsinya cukup banyak, dan saya khawatir tidak dapat menghabiskannya. Jadilah hanya Gulai Ikan Patin yang saya beli dan akan saya nikmati di Hotel.

Tiba di kamar hotel, langsung saya santap dengan sisa nasi makanan jatah malam. Rasanya maknyuss….. nikmat luar biasa, bumbu dengan cita rasa mirip dengan bumbu gulai masakan padang, sangat terasa di lidah.   Saya sangat merekomedasikan para jamaah haji untuk mencoba menu nikmat ini.

 

 

                           

Nikmatnya Menu Berbuka Puasa

Jamaah haji gelombang pertama akan berada di Madinah selama 8 hari untuk melaksanakan sholat arbain, yaitu sholat berturut-turut sebanyak 40 waktu. Seluruh jamaah haji akan berusaha agar ibadah sholat arbain ini dapat berjalan dengan lancar. Begitu pula dengan kami. Rutinitas kami setiap hari dimulai pada pukul 2 dinihari. Kami menuju Masjid Nabawi untuk melaksanakan sholat Tahajud yang dirangkai dengan sholat Fajar dan sholat Subuh.

Beberapa jamaah usai sholat subuh akan kembali ke Hotel untuk sarapan pagi, dan kembali ke Masjid Nabawi untuk melaksanakan sholat Dhuha.

Menjelang dzhuhur, jamaah haji kembali menuju masjid Nabawi untuk menunaikan sholat Dzhuhur dan segera kembali ke Hotel untuk makan siang sesudahnya.   Menjelang ashar, jamaah kembali lagi menuju ke Masjid Nabawi untuk melaksanakan sholat ashar.

Umumnya setelah sholat ashar, jamaah akan berdiam di Masjid sampai datang waktu sholat Mahgrib. Ketika usai sholat Mahgrib, jamaah juga tetap berada di Masjid Nabawi untuk menunggu waktu sholat isya. Sesudah sholat isya, barulah para jamaah kembali ke Hotel untuk makan malan dan beristirahat.

Pada saat menunggu masuk waktu sholat mahgrib di masjid nabawi, saya mendapatkan pengalaman kuliner yang tidak akan saya lupakan, yaitu pengalaman menikmati sajian berbuka puasa ala kota madinah.

Awalnya saya tidak mengetahui jika sebelum waktu mahgrib tiba, akan ada beberapa titik di masjid Nabawi yang biasanya akan digelar plastik transparan panjang sebagai tempat makanan berbuka puasa. Pada satu kesempatan, ternyata saya berada pada area yang akan digelar makanan berbuka puasa. Alhamdulillah, Jadilah saya dapat menikmati pengalaman yang unik ini.

Menu makanan yang disediakan bukanlah menu makanan berat. Sesuai sunnah nabi, menu berbuka yang wajib ada adalah kurma. Kurma yang tersedia adalah kurma muda yang disebut Ruthob. Hidangan lainnya adalah Roti khas Arab, satu cup kecil Kopi arab Qohwah, dan satu gelas air zam-zam.

Merasakan Kopi arab, buat saya minuman itu lebih tepat disebut jamu ketimbang disebut kopi ….. ha ha ha … karena rasanya yang mirip jamu.

Untuk Roti arab tersebut, walaupun tanpa isi atau topping apapun, ketika disantap, rasanya cukup gurih dan enak disantap tanpa isi atau topping apapun.

Ada rasa luar biasa ketika berkesempatan untuk menikmati hidangan berbuka puasa di Masjid Nabawi. Rasa Luar Biasa itu timbul karena kami berbuka puasa bersama dengan saudara muslim dari Negara lain.

 

Menu Jamuan Selamat Jalan

Pada hari ke 8 di Madinah, usai sudah kami menjalankan ibadah Sholat Arbain, , kami bersiap untuk melanjutkan perjalanan ke Mekkah dengan menggunakan bus. Perjalanan kami ke mekkah dilakukan dalam posisi berihram, karena kami akan melaksanakan umrah wajib setiba di kota mekkah.

Jarak antara Kota Madinah dan Kota Mekkah adalah sejauh 490 km. Lama perjalanan dari Madinah ke Mekkah dengan menggunakan bis bila ditempuh secara non stop, akan memakan waktu antara 6-7 jam perjalanan. Kami berangkat pada pukul 07.00, dengan perkiraan istirahat dilakukan sebanyak 2 kali istirahat, yaitu saat mengambil miqot di Bir Ali, dan saat makan siang di lokasi peristirahatan. Menurut petugas, kita akan tiba di Kota Mekkah pada Pukul 5 sore.

Menu makan siang pada saat dalam perjalanan dari Madinah menuju Mekkah, kami rasakan sangat istimewa. Paket makanannya diberi judul “Jamuan Makan Selamat Jalan”. Hmmm, menu makanannya adalah Nasi Kare Ayam. Menu ini adalah menu khas arab saudi. Rasanya nikmat, walaupun nasinya gurih rempah-rempah khas timur tengah. Kami nikmati Jamuan Makan Selamat Jalan ini dengan lahap.

Kisah kuliner kala berhaji ini masih berlanjut dengan kisah saat kami berada di Mekkah. Sambil menunggu jadwal armina, kami harus bermukim selama 22 hari di mekkah.

Menu Makanan di Mekkah - Juara

Alhamdulillah, selama di Mekkah kami kembali mendapatkan pemondokan haji yang ternyata adalah gedung baru, sehingga fasilitas yang ada masih berupa barang-barang baru. Lokasinya juga tidak terlalu jauh, hanya berjarak 2 kilometer ke Masjidil Haram.

Selama di Mekkah, kami mendapatkan jatah makan sebanyak 15 kali dan diberikan hanya pada saat makan siang. Ini berarti untuk makan pagi dan makan malam, kami harus menyediakan sendiri kebutuhan makan kami.

Jatah makan yang diberikan masih dalam bentuk kotak. Alhamdulillah, menu makanan yang diberikan masih sama nikmatnya dengan menu saat kami berada di Madinah. Sampai kami tiba di Mekkah, tidak ada kendala dan hambatan apapun soal makanan.

Selain nasi box, setiap jamaah juga mendapatkan Buah dan Air Mineral.   Buah yang diberikan antara lain adalah Apel, Jeruk, Pisang, dan Pear.

Menu masakan dalam box terdiri dari Nasi, 2 macam lauk, dan 1 macam Sayur. Rasanya pas dan cocok di lidah kami.   Jika dibandingkan dengan menu saat berada di asrama haji ….. hmmm …. Nasi jatah selama di Mekkah ini juara banget …..

Melongok aplikasi Haji Pintar yang dikeluarkan oleh Kemenag RI, inilah daftar menu makan siang kami selama di Mekkah :

Untuk kebutuhan makan pagi, Regu kami memutuskan untuk memasak nasi sendiri. Setiap anggota regu menyerahkan beras yang dibawa dari tanah air. Kami masing-masing membawa 10 kg beras.

Untuk memasak beras tersebut, kami masing-masing iuran uang sebesar 10 real untuk membeli penanak nasi elektrik (rice Cooker) yang harganya adalah 100 real. Kami juga bersepakat mengenai lauk-pauk yang diserahkan ke masing-masing anggota regu untuk membelinya di luar.  

Elektrik Jar yang kami beli saat di Madinah, kami manfaatkan untuk merebus mie instan yang kami bawa dari tanah air. Kecuali ketua regu kami, seluruh anggota regu kami membawa mie instan dari tanah air. Selain mie instans, masing-masing dari kami juga membawa lauk pauk tahan lama dari tanah air.

Setiap pagi dan ba’da mahgrib, di depan pemondokan kami banyak mukimin asal Indonesia yang berjualan aneka ragam lauk pauk khas Indonesia.

Hampir dipastikan Sayur dan lauk yang biasa kita santap di tanah air, dapat kami jumpai dijual oleh para pedagang asal Indonesia tersebut.   Sayur bayam, Sayur Sop, Oseng-oseng Sayur, Tahu, tempe, telur balado, ikan asin, ayam goreng, hingga sate ayam tersedia disana. Harganya antara 1 – 5 real.

Saat membeli di pasar kagetan tersebut, harus dilakukan dengan cepat. Jika tidak, bisa jadi kita tidak akan mendapatkan stok karena sudah habis terbeli oleh orang lain. Maklum saja, dalam 1 pemondokan terdapat lebih dari 20 kloter. Setiap kloter terdiri dari 450 orang jamaah haji. Bisa dibayangkan seperti apa keramaian pasar makanan dadakan tersebut.

Menu Rumahan

Untuk melepaskan kebosanan dengan menu yang dijual di pasar makanan dadakan tersebut, kami juga memutuskan untuk memasak Sayur dan lauk yang mudah dimasak.

Untuk memasaknya, kami memanfaatkan rice cooker dan Elektrik Jar yang kami miliki. Beberapa menu yang kami masak sendiri antara lain adalah Sayur bayam, mie goreng instan, telur dadar, serta telur rebus.

Kadang kami juga membeli ikan kaleng atau sarden untuk kami masak dan disantap bersama.

Bahan-bahan untuk dimasak tersebut kami beli di salah satu toko yang lokasinya tepat berada di seberang pemondokan kami.

Harga sayur-mayur di mekkah tentu saja jauh lebih mahal daripada di tanah air. Harganya bisa 3 kali lipat harga di tanah air.

Namun untuk dapat menebus rasa kangen masakan rumahan, serta menghilangkan kebosanan menyantap masakan dengan bekal lauk yang kami bawa dari tanah air, tetap kami lakukan juga aktivitas memasak kami.

 

Ketika selera makan hilang

Pada satu saat tertentu, kadang selera makan kita menjadi hilang. Sementara tubuh harus tetap diberikan asupan makanan untuk menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh.

Kesehatan menjadi fokus Utama kami, mengingat Ritual Haji yang menjadi pokok ibadah, masih beberapa hari ke depan. Pada kondisi ini, menu makanan yang dirasakan istimewa harus kita dapatkan.

Salah satu yang menjadi favorit jamaah haji adalah Ayam Bakar Pakistan. Harganya untuk porsi ½ ekor ayam adalah 10 real atau sekitar 35 ribu rupiah. Rasanya …… maknyuss ….. nikmat sekali …

Berbelanja di Supermarket

Saat usai melaksanakan ibadah di Masjidil Haram, terkadang ketika berjalan pulang menuju pemondokan, pandangan mata tidak akan terlewatkan bangunan tower tinggi yang terkenal dengan nama Zam-zam Tower.

Di dalam bangunan Zam-zam tower terdapat supermarket yang terkenal di Arab Saudi, yaitu Supermarket Bin Dawood yang menjual aneka barang groceries dan fresh. Pada satu kesempatan, kami berbelanja buah dan juice di supermarket tersebut. Harganya relatif sama dengan toko yang ada di dekat pemondokan kami.

 

Kuliner Halalan

Bercerita soal kuliner saat berhaji, tidak lengkap jika tidak bercerita soal Kuliner Halalan. Apakah itu ?

Kuliner Halalan adalah makanan yang diperoleh jamaah haji dari para dermawan Saudi yang membagikan makanan gratis kepada siapa saja yang menginginkannya.

Bentuknya beraneka ragam. Dari yang hanya sebotol air mineral, sejumput cokelat, sebungkus korma, 1 bungkus roti, 2 butir buah apel atau pear, 1 pack minuman kotak, sampai dengan paket yang berisi aneka snack, buah dan minuman kotak. Pada beberapa lokasi tertentu, pemberian halalan tersebut dapat berupa paket makanan berat berupa Nasi Kebuli dengan Potongan besar Daging Ayam atau Daging Kambing.

Kenapa disebut Halalan ? karena pada saat memberikan paket makanan atau snack tersebut, biasanya pihak pemberi akan menyerukan kepada jamaah kata-kata .. “”Halal …. Halal …” yang artinya makanan tersebut dibagikan gratis untuk siapa saja yang menginginkannya.

Sejatinya makanan tersebut adalah salah satu bentuk sedekah dari orang dermawan untuk mereka yang membutuhkannya. Namun pada setiap kali ada kegiatan halalan, banyak sekali jamaah haji yang ikut antri untuk mendapatkan makanan sedekah tersebut.

Kami yang beberapa kali melihat kerumunan pembagian halalan tersebut, memutuskan untuk ikut dalam antrian. Bukan menyatakan diri tidak mampu dan mengharapkan sedekah, tetapi hanya sekedar ingin mengetahui apa saja jenis makanan dan minuman yang dibagikan oleh para dermawan Saudi.

Mengikuti antrian untuk mendapatkan halalan menjadi pengalaman berhaji yang menarik, unik dan tentu menyenangkan.   Dari aktivitas tersebut, juga menjadi agak miris , ketika melihat jamaah haji yang saling berebut, mengambil langsung produk halalan tanpa izin pemilik, serta tidak mau patuh mengikuti antrian.

 

Kuliner saat Prosesi Armina

Ketika waktunya tiba untuk melaksanakan ritual pokok haji, yaitu Armina (Arafah- Muzdalifah-Mina), kami bersiap untuk menjalankan ritual pokok haji tersebut. Alhamdulillah, ketika saatnya tiba, kami berada dalam kondisi yang fit dan sehat. Nafsu makan serta asupan makanan juga tetap terjaga dengan baik.

Sejak pagi hari pukul 6 pagi, kami sudah bersiap untuk diberangkatkan ke Arafah dengan menggunakan bis. Menu sarapan kami pagi itu adalah Ayam Bakar Pakistan yang kami beli pada malam harinya, dan kami sengaja simpan untuk sarapan kami sebelum berangkat ke Arafah.

Waktu tunggu untuk diberangkatkan ke Arafah cukup lama. Ini disebabkan oleh kondisi lalu lintas yang sudah mulai padat, sehingga kedatangan bis datang agak terlambat.

Alhamdulillah, akhirnya bis yang akan membawa kami ke Arafah akhirnya tiba. Perjalanan ke Arafah memakan waktu sekitar 2 jam perjalanan. Setiba di Arafah, kami langsung di arahkan ke tenda yang sudah dikhususkan untuk jamaah haji Kloter 12 JKS Kota Bekasi.

Cuaca hari itu panas menyengat. Untuk mengantisipasi dehidrasi karena cuaca panas, setiap jamaah diberikan air mineral sebanyak 9 botol per hari. Setiap jamaah haji mendapatkan Paket Kelengkapan makanan dan minuman yang terdiri dari Teh 10 sachet, Gelas Melamin 1 buah, Creamer 15 sachet, Kecap Botol 140ml, Sambal saus 15 sachet, Gula Pasir 36 sachet.

Paket tersebut sangat membantu kami. Terkadang pada saat selera makan hilang, minuman hangat seperti teh dan kopi dapat menjadi andalan untuk mengembalikan selera makan.

Terlebih lagi prosesi Armina adalah prosesi yang panjang dan membutuhkan stamina yang luar biasa, sehingga seluruh Jamaah haji harus menjaga asupan makanan dan minuman untuk menjaga tubuh tetap sehat dan bugar.

Selama di Arafah, kami mendapatkan jatah makan sebanyak 3 kali dalam sehari. Menu yang disediakan cukup menggugah selera. Kecuali menu makanan pagi yang terdiri dari nasi, Balado Kacang, dan Kentang Goreng.  

Makan Pagi dengan kacang Balado lebih tepat dikatakan makan dengan kacang goreng gosong …. Tak terasa sama sekali bumbunya. Untuk kentang gorengnya, itu adalah kentang goreng teralot yang pernah saya makan.

Tapi ….. tetap tidak boleh mengeluh, tetap disantap dengan semangat untuk menjaga stamina. Masih ada ritual ibadah haji yang harus dilakukan.

Selain nasi box, setiap jamaah juga mendapatkan masing-masing 1 cup Mie Instant serta 1 buah apel. Bersantap dengan Mie Instan Cup rasanya sangat nikmat sekali …. Jauh lebih nikmat jika dibandingkan dengan santapan nasi box.

“Haji adalah Arafah …” itu kata-kata yang selalu diingatkan oleh pembimbing haji. Berkali-kali pula diingatkan bahwa selama berada di Arafah, seluruh jamaah haji harus memfokuskan diri untuk selalu berdoa dan berdzikir kepada Allah Subhanna Wa’ Taala.

Walaupun kondisi cuaca yang sangat luar biasa panas, kami tetap harus menjaga kondisi stamina tubuh, karena usai di Arafah, masih banyak ritual haji yang harus dilakukan.

Semuanya membutuhkan stamina tubuh yang luar biasa. Hal inilah yang membuat seluruh jamaah selalu menyantap apapun jatah makanan yang tersedia. Semuanya dilakukan hanya untuk memastikan kondisi dan stamina tubuh tetap terjaga.

Saat berada di Arafah, kami sempat melongok dapur yang digunakan untuk mempersiapkan makanan jamaah haji Indonesia. Lokasi dapur berada di Blok paling belakang.   Menempati ruangan yang sangat besar. Pekerjanya sebagian besar berasal dari india dan Pakistan.

Makanan yang sudah matang kemudian dikemas dalam Box dan didistribusikan ke seluruh jamaah dengan mekanisme Ketua Kloter mengambil untuk Kloter, dan kemudian didistribusikan ke Jamaah haji melalui ketua Rombongan.

Usai wukuf di Arafah Pada tanggal 23 september 2015, jamaah haji bersiap untuk diberangkatkan ke muzdalifah untuk melakukan mabit.

Sebelum berangkat ke muszdalifah, setiap jamaah haji mendapatkan jatah konsumsi yaitu 1 bungkus Roti, Kurma, dan Juice buah.

Kami Tiba di Muzdalifah pada sekitar jam 8 malam. Kami melakukan mabit atau bermalam di muzdalifah. Kami juga mengumpulkan batu kerikil untuk digunakan melontar saat berada di mina

 

Kuliner di Perkemahan Mina

Pemondokan selama berada di mina adalah berupa tenda. Namun tenda yang berada di Mina berbeda dengan yang ada di Arafah. Tenda di mina adalah tenda permanen, sedangkan tenda arafah adalah tenda temporer yang segera dibongkar ketika jamaah sudah meninggalkan area arafah.

Terkait dengan kuliner selama di Mina, Alhamdulillah kebutuhan makanan kami tidak mengalami kendala berarti. Selama berada di Mina, kami mendapatkan jatah makanan yang sangat baik dan dalam jumlah cukup.

 

Melongok aplikasi Haji pintar yang dikeluarkan oleh Kemenag RI, menu makan kami selama berada di Mina adalah sebagai berikut :

Makanan untuk para jamaah haji dimasak di dapur yang berada di lantai dasar. Makanan diangkat ke atas dengan menggunakan katrol bermesin. Sungguh proses yang luar biasa, mempersiapkan makanan untuk sekitar 2.000 jamaah haji.

Tidak Ingin Jajan di Mina

Aktivitas kami selama berada di mina selain melaksanakan sholat 5 waktu, yang utamanya adalah melakukan Lontar jumrah. Jarak dari pemondokan kami ke area Lontar adalah sejauh 3 kilometer, jadi perjalanan pulang pergi saat melakukan aktivitas melontar adalah 6 kilometer.

Butuh ekstra tenaga untuk melakukan aktivitas melontar jumlah. Alhamdulillah, kami selalu diberikan nikmat sehat saat melakukan aktivitas Lontar jumrah.

Dalam perjalanan pulang ke pemondokan usai melakukan aktivitas Lontar jumrah, kami melewati beberapa kios pedagang makanan. Tidak banyak ragam makanan yang dijual.

Sebagian besar menjual mie instan cup, buah, dan minuman ringan. Pada beberapa titik terdapat penjual martabak india. Harga makanan yang dijual di kawasan Mina, harganya bisa 2 kali lipat dibandingkan harga di pemondokan di Mekkah dan madinah. Hanya minuman juice dalam botol yang harganya relatif murah, hanya 2 real per botol.

Musibah yang terjadi dimina pada saat hari pertama melontar, membuat seluruh jamaah haji Indonesia berduka. Begitu juga dengan kami. Setiap kali melakukan ritual Lontar Jumrah, selalu berdoa panjang semoga tidak ada halangan dan kendala apapun. Selama berada di Mina, saat selesai melakukan Lontar jumrah, kami selalu ingin segera tiba di pemondokan kami di Mina.

kami tidak menyempatkan diri dan tidak berminat untuk membeli makanan yang dijual di pinggir jalan di depan area pemondokan kami.

Usai ritual ibadah haji di Mina, kami kembali ke pemondokan kami di Mekkah. Bersegera melakukan thawaf dan sai. Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar.

Hanya beberapa hari kami berada di Mekkah, untuk selanjutnya bersiap untuk kembali ke Tanah Air. Alhamdulillah ya Allah …. Atas berkat Rahmat dan karunia-Mu, kami semua mendapatkan kesempatan berhaji di tanah suci.

Kuliner saat di Jeddah

Beberapa hari sebelum meninggalkan tanah suci untuk kembali ke tanah air, kami berkesempatan untuk melakukan city tour ke Laut Merah di kawasan Jeddah.

Salah satu lokasi yanga dikunjungi adalah Pusat Perbelanjaan Qurnis yang sangat terkenal dan menjadi salah satu destinasi jamaah haji untuk berbelanja.

Di jalan depan toko-toko di qurnis kami menjumpai banyak pedagang aneka kacang-kacangan yang digoreng sangrai. Cukup unik, karena kondisi cuaca di Arab Saudi yang memiliki kelembaban tinggi, kacang-kacang itu dijual dengan cara digelar tanpa takut melempem.

Jika ditanah air, sudah dipastikan kacang yang dijual tersebut pasti dalam keadaan melempem dan alot.

Kami berkesempatan untuk mengambil fotonya, namun tidak tertarik untuk membeli. Bukan karena rasanya yanga tidak enak, tetapi karena harganya yang mahal, yaitu 10 real atau 35 ribu rupiah untuk secungkup kacang sangrai.

Saat di qurnis kami lebih memilih menikmati makanan khas arab lainnya, yaitu Kebab. Harganya murah dan dapat dijadikan sebagai pengganjal perut yang lapar.

Berbeda dengan kebab yang ada di tanah air, di Arab Saudi selain dengan potongan daging dan sayuran, di dalam gulungan kebab juga terdapat potongan kentang goreng. Ini yang menyebabkan rasa kenyang ketika menyantap 1 paket kebab.

Sebelumnya, saat berada di Masjid Terapung di Laut Merah, kami menjumpai banyak pedagang makanan asal Indonesia. Banyak makanan sebagai pengobat kangen tanah air. Diantaraya adalah Gado-gado, pecel pincuk, Bakso Sapi, dan es campur.

Kami memilih menyantap Bakso kuah yang aromanya sangat menggoda dan harganya juga tidak terlalu mahal untuk ukuran di tanah suci, yaitu hanya 10 real per porsi.

Kuliner Selamat Jalan

Nasi Box jatah terakhir sebagai jamaah haji, kami terima saat kami berada di Bandar Udara King Abdul Aziz Jeddah. Makanan jatah terakhir tersebut diberikan di area transit menunggu jadwal pemeriksaan imigrasi dan proses boarding ke pesawat.

Menu Kuliner selamat Jalan tersebut terdiri dari Nasi, Ayaam Goreng, Ikan fillet goreng tepung, Sayur buncis dan wortel. Sebotol air mineral dan Buah Apel, menjadi pelengkap Menu Makan Selamat jalan.

Alhamdulillah, menu sajian selamat jalan ke tanah air menjadi menu yang kam isantap dengan nikmat di bandara King Abdul Aziz Jeddah.

Kuliner saat tiba di Tanah Air

Salah satu kerinduan yang amat sangat saat tiba di tanah air, adalah rindu makanan indonesia. Pilihan menu yang kami ingin keluarga kami di tanah air menyediakannya untuk kami di Hari Pertama tiba di Tanah Air, adalah Sayur Asem – Tempe Goreng – dan Sambal terasi . Wooow ..... rasanya mantap

Catatan Kuliner - untuk yang akan berhaji

Terkait dengan masalah kebutuhan makanan selama berhaji, beberapa tips yang dapat kami berikan kepada mereka yang hendak berhaji, adalah sebagai berikut :

  1. Saat berada di Madinah, jatah makan yang diberikan adalah makan siang dan makan malam. Untuk sarapan, alternative yang dapat dilakukan adalah :

  1. Membeli makanan yang dijual para mukimin di sekitar hotel, harga 1 paket kecil antara 2-3 real. Cukup untuk sarapan 1 orang
  2. Membeli di Restauran Indonesia, dengan rata-rata per sekali makan adalah 15 real.
  3. Membeli di restaurant fast food international seperti KFC, dengan harga hampir 2 kali lipat harga KFC di Indonesia

  1. Saat berada di Mekkah, jatah makanan untuk jamaah haji adalah 1 kali sehari yang diberikan pada siang hari. Alternatif kebutuhan untuk makan pagi dan makan malam adalah :

  1. Jika tidak ingin direpotkan dengan memasak, dapat membeli makanan cita rasa Indonesia yang dijual para mukimin di sekitar pemondokan. Harga makanan untuk ukuran 1 kali makan adalah 5 real.

  1. Jika memutuskan tidak memasak selama berada di Mekkah, pastikan kita memiliki stock makanan siap santap, berupa roti, biscuit, atau seral, untuk mengantisipasi jika tiba-tiba tidak ada pedagang yang berjualan di sekitar pemondokan karena adanya razia dari pihak kepolisian Arab Saudi.

  1. Jika ingin masak makanan sendiri, sebaiknya dilakukan patungan dalam 1 regu.   Yang Utama adalah memasak Nasi. Untuk lauk, masing-masing anggota regu dapat membeli sendiri, atau menyantap lauk yang dibawa dari tanah air. Jika lauknya ingin memasak sendiri, pilihan masakan yang dapat dilakukan adalah memasak Sayur bayam, Sayur sop, telur dadar, ikan sarden kalengan, mie goreng instan.

  1. Keputusan untuk memasak harus diputuskan sejak dari tanah air. Sehingga semua anggota regu dapat dipastikan membawa beras, bumbu instan sachet, dan mie instan dari tanah air. Di arab Saudi semuanya memang tersedia, tetapi harganya hampir 2 kali lipat harga di tanah air. Untuk beras jenis yang ada adalah beras india atau Pakistan yang ukurannya besar-besar, sedangkan mie instan rasanya sudah disesuaikan dengan rasa timur tengah.

  1. Sangat direkomendasikan membawa Roti, biscuit atau camilan lainnya saat akan berangkat ke muzdalifah untuk melakukan mabit. Mengingat situasi di muzdalifah nantinya sangat padat, dan antrian panjang akan terjadi pada saat menunggu bus yang akan membawa ke Perkemahan Mina.