^Kembali ke Atas

foto1 foto2 foto3 foto4 foto5

Umrah Sunnah - saat Menanti Waktu Pulang

Ketua kloter memberikan informasi kepada seluruh jamaah haji kloter 12 JKS bahwa kami dijadwalkan untuk diberangkatkan ke Bandara King Abdul Azis Jeddah pada tanggal 2 Oktober 2015 malam hari usai sholat isya.

Selanjutnya juga disampaikan bahwa Koper Besar kami harus sudah selesai dipacking pada tanggal 28 September 2015, karena akan dibawa oleh petugas pengiriman bagasi ke Bandara untuk proses Bagasi ke Tanah Air.   Seluruh jamaah haji diingatkan untuk tidak memasukkan air zam-zam ke dalam Koper Besar. Jika pada saat proses x-Ray diketahui ada air zam-zam di dalam koper besar, maka koper besar tersebut akan ditinggal di Bandara agar tidak mengganggu proses bagasi koper besar lainnya.

Atas informasi yang disampaikan oleh ketua kloter, kami beserta istri segera melakukan pengaturan jadwal selama menunggu waktu pemberangkatan ke Tanah air. Sesuai jadwal, kami masih memiliki sisa waktu 5 hari di Kota Mekkah dengan jumlah hari efektif sebanyak 4 hari.

Sisa waktu 4 hari efektif, kami manfaatkan untuk melaksanakan Umrah Sunnah pada tanggal 1 Oktober 2015

Alhamdulillah, rencana kegiatan umrah sunnah juga dapat terlaksana dengan baik dan lancar. Kami melaksanakan umrah sunnah dengan cara berombongan. Dipimpin oleh salah satu rekan jamaah haji yang selama ini membantu kami dalam setiap tahapan prosesi ibadah haji dan umrah.

Umrah Sunnah kami dilakukan dengan mengambil miqot di Tan’im. Berbeda dengan kegiatan umrah sunnah pertama kami, kali ini perjalanan kami dari Hotel Pemondokan ke Tan’im akan menggunakan Bis yang tersedia di terminal bis jarwal.   Lokasi terminal bis Jarwal jaraknya tidak terlalu jauh. Setiap pulang dan pergi ke masjidil haram, kami selalu melewati terminal bis Jarwal.

Ongkos bis dari Jarwal ke Tan’im hanya 2 real per penumpang. Bis yang digunakan adalah bis SAPTCO yang mirip dengan bis PPD-nya Jakarta.   Setiap penumpang membeli tiket bis di petugas yang ada di area pintu masuk terminal. Saat naik ke bis, tiket kemudian diserahkan ke supir bis sebelum kita duduk di bangku penumpang.

Menjadi pengalaman tersendiri bagi kami dapat mencoba seperti apa transportasi bis umum di kota Mekkah. Alhamdulillah, terima kasih untuk rekan jamaah haji kami yang memberikan kesempatan kami mendapatkan pengalaman seperti ini.

Bila menggunakan Taksi atau angkutan umum sewaan kita diturunkan tak jauh dari pintu masuk masjid Tan’im, maka dengan menggunakan bis, kita akan diturunkan di area keluar masuk bis yang jaraknya cukup lumayan ke pintu masuk masjid Tan’im.

Tiba di Tan’im, kami bersegera masuk ke dalam masjid untuk melaksanakan sholat Sunnah Ihram. Sesudahnya kami mengucapkan niat umrah dan melanjutkan perjalanan ke Masjidil Haram.

Sepanjang perjalanan dari Tan’im ke Masjidil Haram, kami masing-masing bertalbiyah, bersalawat dan berdoa.

Tiba di Masjidil Haram, kami bersegera menuju ke area tawaf untuk melaksanakan tawaf.

Area tawaf nampak masih dipadati oleh jamaah haji yang sedang melaksanakan tawah sunnah, tawaf umrah, dan tawaf wada. Alhamdulillah, prosesi tawaf dapat berjalan dengan lancar. Lelah usai tawaf sudah pasti.   Kami lanjutkan dengan melaksanakan sholat sunnah tawaf dibelakang maqom Ibrahim, dan sesudahnya berdoa di depan multazam.

Saat berjalan menuju ke area sai, kami sempatkan untuk menghilangkan lelah dengan minum air zam-zam. Tak lupa berdoa saat minum air zam-zam :

“Ya Allah, aku mohon pada-Mu ilmu pengetahuan yang bermanfaat, rizki yang luas dan kesembuhan dari segala penyakit dan kepedihan dengan rahmat-Mu ya Allah Tuhan Yang maha pengasih dari segenap yang pengasih.”

Dari Ibnu Abbas RA, bahwasanya Nabi Muhammad Sallalahu Alaihi Wassalam, bersabda tentang air zam zam yang artinya sebagai berikut “ Sebaik-baiknya air dipermukaan bumi ialah air zam zam, padanya terdapat makanan yang menyegarkan dan padanya terdapat penawar bagi penyakit”.

Zam-Zam berawal dari kisah perjuangan Siti Hajar mencari air untuk minum bayinya Ismail di padang antara bukit Shafa dan Marwah. Setelah bolak-balik tujuh kali antara Shafa dan Marwah ternyata air ditemukan di bawah tendangan tumit Ismail.

Nama Zam-Zam berasal dari teriakan Siti Hajar yang kaget dan berseru “zummi, zummi” (berkumpullah, berkumpullah). Selama lebih dari 4.000 tahun, sumur Zam-Zam telah diminum sekian ratus juta manusia dan ribuan hewan, namun tak pernah kering. Padahal air Zam-Zam gratis dapat diminum sepuasnya dengan sarana dan instalasi air Zam-Zam yang menyebar ke seluruh penjuru Mekah, tetap mengucur deras tak berhenti. Suatu keajaiban dan berkah bagi para jamaah haji yang berkunjung ke rumah Allah.

Berlanjut ke prosesi Sai. Saat tiba di area Sai, ternyata kondisinya juga sudah dipadati oleh jamaah haji. Kami memulai Sai dari Bukit Safa, berjalan menuju Bukit Marwah dan dilakukan sebanyak 7 putaran, dengan akhir sai di Bukit Marwah.

Keharuan menyeruak di hati kami saat kami melafalkan doa di Bukit Marwah sebagai lokasi akhir kami melakukan Sai.

Usai bersai, kami melakukan Tahallul yang menjadi pertanda kami sudah diperbolehkan lagi melakukan hal-hal yang sebelumnya dilarang karena sedang berihram.

BERSIAP KEMBALI KE TANAH AIR

Satu hari menjelang jadwal kepulangan kami ke tanah air. Kami bersama istri memutuskan untuk melaksanakan Tawaf Wada pada pagi hari usai sholat subuh.

Thawaf wada’ adalah sebagai penghormatan terakhir pada Masjidil Haram. Jadinya thawaf ini adalah amalan terakhir bagi orang yang menjalankan haji sebelum ia meninggalkan Mekkah, tidak ada lagi amalan setelah itu.

Thawaf wada’ ini wajib menjadi akhir amalan orang yang berhaji di Baitullah dan ia tidak boleh lagi tinggal lama setelah itu. Jika ia tinggal lama setelah itu, thowaf wada’nya wajib diulangi. Adapun jika diamnya sebentar seperti karena menunggu rombongan, membeli makanan atau ada kebutuhan lainnya, maka itu tidaklah masalah. Begitu pula jika ada yang belum menunaikan sa’i hajinya, maka ia boleh menjadikan sa’inya setelah thowaf wada’. Karena melakukan sa’i hanyalah sebentar saja tidak membutuhkan waktu lama. Sedangkan Sholat sunnah 2 rokaat di Multazam adalah bagian dari sunnahnya Thawaf.

Prosesi Tawaf Wada kami lakukan sesudah kami melaksanakan Sholat Subuh di Masjidil Haram. Kami putuskan untuk melakukan Tawaf Wada dengan mengambil area tawaf di lantai 2. Keputusan ini kami ambil setelah melihat kenyataan bahwa kepadatan di area tawaf lantai dasar terlihat sangat tinggi.

Mengambil lokasi Tawaf di lantai 2 membuat prosesi tawaf kami berjalan dengan lancar karena memang lebih banyak jamaah yang memilih tawaf di lantai dasar ketimbang di lantai atas.

Konsekuensi memilih lokasi tawaf di lantai atas adalah jarak putaran tawaf mengelilingi Ka’bah menjadi lebih jauh dibandingkan dengan melakukan tawaf di lantai dasar. Namun karena tingkat kepadatannya yang rendah, pada saat melakukan tawaf kami tidak khawatir terdorong oleh jamaah yang berada di belakang kami.

Saat melakukan Tawaf di lantai atas, kami juga dapat memandang Ka’bah dengan persfektif yang berbeda dibanding memandang Kabah dari posisi lantai bawah.

Kami dan Istri tercinta merasa bahwa melakukan 7 putaran tawaf di lantai atas ternyata tidak membuat kami kelelahan. Mungkin karena dampak situasi kepadatan yang rendah, sehingga kami dapat berjalan normal seperti layaknya berjalan kaki biasa.

Usai bertawaf, kami juga tidak kesulitan mencari area untuk sholat sunnah Tawaf. Begitu pula saat hendak berdoa di depan Multazam. Terasa dimudahkan.

Saat berdoa di depan multazam, air mata kami mengucur deras, karena membayangkan bahwa ini adalah tawaf perpisahan kami sebelum kami kembali ke Tanah Air.   Kami panjatkan doa, semoga Allah Subhana Wa Ta’ala memberikan kami kesempatan untuk berkunjung kembali ke Baitullah.

Kembali ke Tanah Air

Usai Tawaf Wada, kami kembali ke Hotel Pemondokan di Mekkah untuk mempersiapkan keberangkatan ke Bandara King Abdul Aziz Mekkah dan selanjutnya diterbangkan ke Tanah Air.

Petugas kesehatan haji nampak berkeliling ke kamar-kamar jamaah haji. Mereka meminta seluruh jamaah haji memastikan kesehatan diri masing-masing.   Bagi jamaah haji yang merasa mengalami demam, untuk segera meminum obat penurun panas. Hal ini penting, karena pihak imigrasi Bandara King Abdul Azis tidak akan mengizinkan jamaah haji keluar dari Arab Saudi jika pada saat dilakukan pemindaian suhu tubuh didapati suhu tubuhnya tidak normal.

Kami yang merasa agak sedikit demam, segera bergegas menemui petugas medis kloter untuk meminta obat. Namun ternyata stock obat penurun panas sudah habis. Petugas medis kloter meminta kami meminum obat apa saja yang didalamnya terkandung parasetamol. Jadilah akhirnya kami meminum Paramex yang di dalamnya terdapat kandungan Parasetamol.

Petugas kloter juga mengingatkan seluruh jamaah haji untuk melaksanakan sholat Isya yang di Jama’ dengan sholat Mahgrib. Mengingat pada pukul 8 malam, bis yang membawa kami sudah harus berangkat ke Bandara.

Berada di atas bis, sebelum diberangkatkan, petugas perwakilan Maktab memberikan kata sambutan perpisahan kepada seluruh jamaah haji. Petugas perwakilan Maktab menyampaikan permohonan maaf jika selama berada di Hotel Pemondokan di Mekkah, tidak dapat memberikan pelayanan yang memuaskan untuk seluruh Jamaah Haji.

Petugas Perwakilan Maktab juga menyampaikan selamat kepada seluruh jamaah haji yang telah menyelesaikan seluruh prosesi ibadah haji, seraya mendoakan semoga menjadi haji yang Mabrur.   “ aminnnn ….” Begitu jawab rekan jamaah haji yang ada di dalam bis.

Terlambat dari waktu yang dijadwalkan, bis mulai berjalan meninggalkan hotel pada pukul 9 malam. Perjalanan menuju ke Bandara King Abdul Azis memakan waktu selama 2 jam perjalanan. Seluruh jamaah haji nampak duduk diam di atas bis. Sepertinya seluruh jamaah haji sudah membayangkan tiba di tanah air, berjumpa dengan anak-anak, keluarga, adik, kakak dan kerabat, melepas kerinduan setelah selama 40 hari tidak berjumpa.

Akhirnya kami tiba di kawasan Bandara King Abdul Aziz Jeddah.   Kami diturunkan di area khusus jamaah haji. Petugas Haji Indonesia yang bertugas di Bandara melakukan penyambutan kepada kami yang baru saja tiba. Kami diarahkan untuk menuju ke area transit jamaah haji yang telah disediakan khusus untuk jamaah haji Indonesia. Bendera Merah putih nampak berkibar di tengah ruangan sebagai penanda bahwa area tersebut adalah area berkumpul jamaah haji Indonesia.

Kami semua beristirahat sejenak di area transit. Melalui ketua Rombongan, Petugas kemudian membagikan makan malam untuk seluruh jamaah haji. Lesehan di area transit, kami nikmati makan malam kami dengan lahap.

Sambil kami menyantap hidangan, petugas airline di bandara kemudian mendatangi kami di area istirahat, dan memberikan beberapa pengumuman kepada jamaah haji terkait dengan kebijakan barang bawaan. Disampaikan oleh petugas Saudia Airline yang berkewarganegaraan Indonesia, bahwa seluruh jamaah haji hanya diperkenankan membawa 1 tas tentengan saja. Pada saat boarding tidak diperkenankan membawa tas lain selain 1 tas tentengan yang berkapasitas 7 kilogram.

Selain itu, petugas airline juga menginfomasikan bahwa beberapa barang tidak boleh ada di tas bagasi, antara lain :

  1. Pisau, gunting, dan logam sejenisnya
  2. Tali, Kabel listrik, dan alat elektronik
  3. Korek Api Gas, dan barang berbentuk cairan.

Ketentuan tidak boleh membawa tas selain 1 tas tentangan kontan membuat seluruh jamaah haji menjadi kelimpungan. Hampir sebagian besar jamaah haji membawa tas tentengan berisi oleh-oleh untuk sanak kerabat di tanah air. Jadilah akhirnya seluruh jamaah haji melakukan aktivitas sortir tas untuk memastikan barang bawaan yang tidak perlu dan dilarang dibawa, berada di luar tas tentengan.

Untuk mengurangi isi tas tentengan dan menambah ruang untuk oleh-oleh kerabat, beberapa jamaah nampak menggunakan baju berlapis-lapis agar isi tas dapat dikurangi.

Kami sendiri terpaksa meninggalkan beberapa barang yang dilarang masuk ke bagasi, antara lain kabel listrik cabang, gunting, pisau, serta gelas mug almunium yang niatnya akan kami bawa sebagai kenang-kenangan.

Mainan Onta Padang pasir untuk oleh-oleh Andra juga terpaksa kami keluarkan dari kardus, karena petugas airline meminta kami melepaskan kardusnya dan memasukkannya pada 1 kantong plastic kecil biasa.

Banyak jamaah haji yang terpaksa harus ikhlas meninggalkan barang-barang yang mereka beli untuk oleh-oleh kerabat di tanah air, karena kapasitas tas mereka sudah penuh.

Urusan pengepakan ulang tas akhirnya selesai. Ketua Rombongan melalui Ketua regu kemudian membagikan paspor dan tiket kami masing-masing. Sempat terjadi kericuhan, karena nama tiket yang diterima jamaah ternyata berbeda-beda dan tidak sesuai dengan nama kami masing-masing.

Sempat ricuh beberapa saat, sampai akhirnya ada informasi bahwa perbedaan nama pada tiket tidak menjadi masalah, karena saat boarding tidak dilakukan pengecekan nama, hanya diminta untuk menyerahkan tiket saja. Jamaah haji yang namanya tertukar akhirnya menjadi tenang.

Setelah berada di area transit sekitar 3 jam lamanya, kami kemudian diminta petugas untuk berbaris dan masuk ke area pemeriksaan Bagasi. Proses pemeriksaan bagasi di area X-Ray serasa berjalan sangat lambat. Pihak petugas Bandara Arab Saudi melakukan pemeriksaan dengan seksama.

Alhamdulillah, pada saat giliran kami, tidak ada hambatan apapun, proses scanning dengan pemindai tubuh berjalan lancar. Tidak ada bunyi yang keluar dari alat pemindai dan kami diminta segera masuk ke ruangan tunggu bandara.

Proses pemeriksaan jamaah dibedakan antara Jamaah Haji Pria dan Jamaah Haji wanita. Jadilah selama proses antrian pemeriksaan bagasi, kami dan istri harus terpisah cukup lama.

Waktu yang dibutuhkan untuk antri proses pemeriksaan bagasi hingga masuk ke dalam ruang tunggu, nyaris hingga 2 jam lamanya. Saat ini pukul 4 pagi dan kami semua sama sekali belum tidur …

Memasuki area ruang tunggu bandara, seluruh jamaah haji mendapatkan masing-masing 1 kitab Al Quran sebagai cinderamata dari Kerajaan Arab Saudi.

Untung saja ada bangku yang tersedia di ruang tunggu bandara. Kami sempatkan untuk “tidur-tidur ayam” sambil menunggu waktu boarding.   Ketika adzan sholat subuh berkumandang, kami melakukan sholat bergantian.

Akhirnya pada pukul 04.30 kami diminta untuk naik ke atas bis bandara untuk proses boarding.   Dari kejauhan kami melihat pesawat yang akan membawa kami ke tanah air.

Tiba di landasan, kami harus menunggu sejenak di landasan karena pintu pesawat masih tertutup. Petugas di landasan meminta kami meletakkan tas tentengan kami di sisi sebelah kanan tangga naik pesawat. Tas tentengan kami ternyata akan dimuat kedalam kargo pesawat.

Saat pintu pesawat dibuka, saya bersama istri menjadi jamaah haji pertama yang menaiki pesawat. Saat berada di depan pintu pesawat, kami disambut pramugari berkebangsaan Indonesia, mengucapkan selamat datang, dan mempersilahkan kami untuk mencari tempat duduk yang kosong. Tidak ingin direpotkan dengan urusan mencari tempat duduk, kami putuskan duduk di bangku pertama dekat dengan pintu pesawat.

Alhamdulillah ….. ucap kami ketika kami sudah duduk di bangku kami. Bila saat berangkat ke tanah suci kami tidak dapat duduk berdampingan di pesawat. Maka saat kembali ke tanah air, kami dapat duduk berdampingan.

Penerbangan Jeddah ke bandara Halim Perdana Kusumah Jakarta akan memakan waktu 9 jam penerbangan. Pesawat Saudia Airline akhirnya take off tepat pukul 05.20 waktu KSA dan dijadwalkan mendarat di Halim Perdana Kusumah Jakarta pada pukul 23.00 Wib.

Sepanjang penerbangan, di luar waktu makan dan sholat fardhu. Sebagian besar jamaah menghabiskan waktu untuk tidur. Hari-hari terakhir di Tanah Suci memang banyak menguras energi kami.   Kami yakin, saat ini seluruh jamaah haji sudah mulai membayangkan bertemu dengan keluarga dan kerabat mereka di rumah.

Pukul 21.00 WIB, pesawat kami sudah berada di atas kota Jakarta. Pilot memberikan pengumuman bahwa beberapa saat lagi kami akan mendarat di Bandara Halim Perdana Kusuma. Seluruh jamaah haji diminta untuk memasang sabuk pengaman.

Usai pengumumamn dari pilot, lampu tanda sabuk pengaman menyala. Kami yakinkan sabuk pengaman kami terpasang dengan baik. Pramugari berkelling memastikan seluruh penumpang menggunakan sabuk pengaman mereka.

Pramugari kemudian duduk di bangku mereka yang tepat berada di depan tempat duduk kami.   Pramugari memberikan kode informasi melalui intercom kepada pilot. Lampu kabin kemudian padam.

Pesawat kami rasakan mulai menurunkan ketinggian. Namun setelah beberapa saat, kami merasakan bahwa pesawat hanya berputar-putar di udara. Dari kaca kabin pesawat, kami dapat melihat keramaian jalanan Jakarta dan lampu-lampu gedung tinggi yang terang-benderang. Beberapa gedung yang begitu iconic adalah Gedung Menara 165 yang di puncak gedungnya tertulis lafad ALLAH besar berwarna kuning. Nampak agung lafadz ALLAH terbaca jelas dari atas pesawat udara.

Pramugari yang duduk di depan kami nampaknya mengetahui kegelisahan kami, karena sudah lebih dari 15 menit pesawat terus berputar-putar di udara. “Ada kepadatan pesawat di landasan pak haji …. Jadi harus antri untuk mendarat ..” ucap pramugari kepada kami.

“oo .. gitu ya mbak … “ jawab kami.

Tak lama kami menyadari bahwa hari ini adalah tanggal 4 Oktober 2015 atau 1 hari menjelang hari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Pantas saja ada kepadatan di landasan Bandara Halim Perdana Kusuma, karena pasti ada banyak pergerakan pesawat dalam rangka perayaan HUT ABRI tersebut.

Sekitar 1 jam lamanya pesawat kami berputar-putar di atas udara Jakarta.   Tak lama ada kode dari pilot kepada pramugari melalui pengeras suara. Sepertinya kode untuk mendarat.

Benar saja, tak lama pesawat nampak terbang berputar, kemudian seprti terbang lurus, dan tiba-tiba kami menyadari jika pesawat ternyata sudah berada di landasan.

Alhamdulillah ….. kami telah mendarat dengan selamat di Tanah Air.

Saat pintu pesawat terbuka, kami bersama istri menjadi jamaah haji pertama yang turun dan menjejakkan kaki di landasan Bandar udara.   Kami lakukan sujud syukur, mengucapkan doa syukur kepada Allah Subhana Wa Ta’ala atas Rahmat dan karuniaNya, sehingga kami bersama istri dapat menunaikan ibadah haji dan kembali ke tanah air dengan selamat.

Kami kemudian berjalan menuju ke layanan imigrasi bandara. Semua jamaah haji diberikan Air Zam Zam kapasitas 5 liter dan kartu kontrol kesehatan yang harus diserahkan ke Puskesmas kecamatan pada 7 hari setelah tiba di tanah air.

Proses imigrasi dan kesehatan selesai, kami diarahkan untuk naik ke atas bis yang akan membawa kami ke Asrama haji Kota Bekasi.

Saat berada di atas bis, kebiasaan menarik 1 real untuk tips supir rupanya terbawa …. Salah seorang rekan jamaah haji menarik uang 1 real per jamaah dan ketika terkumpul langsung diserahkan ke supir bis.

Sang supir yang kelihatannya baru pertama kali mendapatkan tips dari jamaah haji, nampak berseri-seri dan melalui pengeras suara menyampaikan ungkapan terima kasihnya kepada para jamaah. “Terima kasih bapak dan ibu Haji …. Semoga Bapak dan Ibu menjadi Haji yang Mabrur …” begitu kata sang sopir. Kami semua hanya menjawab “ Amiiin … “

Perjalanan dari Bandara Halim Perdana Kusumah ke Asrama Haji Kota Bekasi ditempuh dalam waktu 1 jam. Pengawalan polisi cukup membantu melancarkan laju bis yang kami tumpangi.

Menjelang masuk ke Asrama Haji, di sepanjang jalan menuju gerbang asrama haji, para penjemput nampak berdiri berjejer hingga ke gerbang masuk asrama haji. Ada keharuan saat melihat para penjemput yang nampak melambai-lambaikan tangan penuh antusias ke orang tua dan kerabat jamaah haji yang ada di dalam bis.

Turun dari bis, petugas asrama haji mengarahkan kami untuk masuk ke Aula Kedatangan Jamaah Haji. Sebelum meninggalkan asrama haji, kami masih harus mengikuti acara ceremony serah terima dari Asrama Haji Kita Bekasi kepada Pemerintah Daerah Kota Bekasi.

Usai acara ceremony, kami kemudian mencari Koper Besar dan Tas Tentengan Kami di ruangan bagasi yang ada di sebelah ruangan kedatangan asrama haji.

Kami kemudian menghubungi ananda Dhany yang berada di depan Gerbang Asrama Haji, mengabarkan bahwa ayah dan bunda sedang menuju ke Gerbang asrama Haji.

Tiba di depan gerbang, kami tak mampu menahan haru bertemu dengan anak-anak kami, orang tua dan kerabat kami. Peluk cium kami berikan ke anak-anak kami … “Ya Allah … terima kasih kami haturkan padaMu …. Telah menjaga anak-anak kami saat kami berkunjung ke rumahMU ….”

Kami kemudian naik ke mobil Avanza kesayangan kami, meluncur ke kediaman kami di kawasan Cibubur. Kami singgah di Masjid At-Taqwa, masjid terdekat dari kediaman kami, untuk melaksanakan Sholat Sunnah 2 rakaat. Sesudahnya kami berdoa :

“Segala puji bagi Allah yang telah memberikan pertolongan kepadaku dengan melaksanakan ibadah haji dan telah menjaga diriku dari kesulitan bepergian sehingga aku dapat kembali lagi kepada keluargaku”. Ya Allah berkatilah dalam hidupku setelah melaksanakan haji dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang shaleh.”

“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tidak ada Tuhan selain Allah yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kerajaan dan milik-Nya semua pujian dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Semoga kami termasuk orang-orang yang kembali, orang ahli taubat, orang ahli ibadah, ahli sujud dan kepada Allah kami semua memuji. Allah maha menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya dan menghancurkan sendiri musuh musuh-Nya.

Kala berdoa saat sujud, Air mata kami kembali menetes, mengucap syukur kepada Allah Subhanna Wa Ta’ala, atas karunia, pertolongan, perlindungan, serta kuasaNya, sehingga kami dapat kembali ke rumah kami dan berkumpul bersama keluarga kami.

Usai sholat dan berdoa, kami melanjutkan perjalanan ke rumah kami yang jaraknya hanya sekitar 500 meter dari Masjid tempat kami sholat.

Tiba di rumah, orang tua menyambut kami dengan haru. Begitu pula sanak saudara kami yang telah berkumpul di rumah kami.

Semua sanak saudara yang menyambut kami di rumah, tak sabar ingin mendengarkan kisah selama kami berhaji. Mereka ingin mendengar tentang Musibah Crane Rubuh, dan juga tentang Musibah Mina. Dua berita besar yang membuat seluruh keluarga jamaah haji yang ada di tanah air menjadi was-was menanti keluarga mereka yang sedang melaksanakan ibadah haji.

Tentu saja, mereka juga tak sabar memperoleh oleh-oleh utama haji, yaitu Air Zam-zam dan Kurma Ajwa.

Bertemu Iran Syiah, aku bertak’kiyah

Hari itu adalah hari Ke-empat saya berada di Madinah. Ketika baru saja usai menjalankan ibadah sholat ashar di Masjid Nabawi, sudah menjadi kebiasaan bagi saya untuk tetap berada di masjid menunggu datangnya waktu sholat Mahgrib. Selama menunggu waktu Mahgrib tiba, seperti hari-hari sebelumnya, saya akan membuka Al-quran dan membacanya secara perlahan untuk mencapai target khatam quran selama berada di Tanah Suci.

Baru saja hendak membuka Al-quran, seorang jamaah yang sedari tadi berada di samping saya, menyapa saya dengan sapaan “Assalamu’alaikum ...” suaranya khas suara timur tengah, dan ketika saya menoleh dan menjawab salamnya, ternyata sosok yang berada di samping saya tersebut, adalah jamaah haji asal Iran.

“Are you from Indonesia ? “ tanyanya, ketika saya menjawab salamnya dengan ucapan “waalaikumsalam”. Dan dengan senyum di bibir, Saya menjawab “yes, I’m from Indonesia”.

Percakapan kemudian berlanjut menjadi percakapan yang saling memuji presiden masing-masing. “Your President, Mr.Jokowi, very famous in Iran “ ungkap jamaah Iran tersebut. Saya tentunya juga membalasnya dengan pujian yang sama terhadap presiden Iran periode yang lalu, Mahmod Achmaddinejad, yang memang terkenal di Indonesia dan dijadikan presiden teladan karena kesederhanaannya. “Your previous presiden, Mr. Ahmadinejad was populer too in Indonesia ..” yang disambut dengan senyum dan ucapan “thanks you”

Tidak berhenti sampai disitu, pembicaraan kemudian berlanjut dengan saling bertanya profil kami masing-masing. Jamaah Iran tersebut memperkenalkan dirinya bernama Achmad, seorang pengajar Bahasa Asing di Iran. Ia menguasai 4 bahasa, antara lain Bahasa Inggris, Bahasa Arab, Bahasa Parsi, dan Bahasa Jerman. Jamaah iran tersebut bertanya kepada saya apakah saya pekerja wiraswasta, karyawan, atau seorang pegawai pemerintah. Saya jelaskan bahwa saya adalah pekerja swasta di salah satu perusahaan retail di Indonesia.

Jamaah Iran tersebut juga bertanya apakah saya lulusan dari Universitas ? yang saya jawab dengan anggukan kepala dan menjelaskan bahwa secara aspek pendidikan, saya adalah Lulusan Sarjana Pertanian dengan spesialisasi Sosial Ekonomi, yang usai wisuda, bekerja di bidang yang tidak sejalan dengan ilmu pada saat kuliah.   Ketika jamaah iran tersebut menanyakan apakah saya berminat untuk melanjutkan ke jenjang Master ? saya memberikan jawaban bahwa saya kebetulan sudah mengambil jenjang S2 dengan spesialisasi Managemen Pemasaran.   Tak dinyana, jamaah Iran tersebut menawarkan kepada saya apakah saya berminat untuk mengambil Phd ? lagi-lagi saya jawab bahwa saya memang berencana untuk kembali ke bangku kuliah, tapi bukan untuk mengambil Phd, melainkan mengambil program Sarjana dari bidang ilmu berbeda dengan yang saya miliki saat ini.

Untuk sesaat kami menjadi semakin akrab, dan saya secara terus terang menanyakan kepada jamaah Iran tersebut, apakah ia seorang Syiah. “Are You Syiah “ tanya saya. yang dijawab dengan pelan namun dengan intinasi jelas, “Yes .. I’m syiah ...” yang dilanjutkan dengan pernyataan “ 90% population in Iran is Syiah”. Saya hanya mengangguk-anggukkan kepala mendengarkan penjelasannya.

Kami berdua terdiam sesaat, dan jamaah Iran tadi kemudian bertanya apakah saya mengenal Jallaluddin Rahmat ?, saya jawab dengan “Yes, i know Jalllaludin Rahmat. He is populer in Indonesia as Kang Jalal. He is known as Syiah Leader in Indonesia”. Tentu saja saya mengetahui tentang sosok yang namanya Kang Jalan ini dari laman internet, bukan mengenalnya secara pribadi.

Selanjutnya jamaah Iran tadi kembali bertanya “Do You know Mr. Alwi Shihab ? “ saya jawab lagi dengan cepat “Yes .. of course I know. He is very populer in Indonesia. He’s brother quraish sihab known in Indonesia as Writer of Tafsir Al-Misbah, and alsa he have cousin Najwa Sihab which populer in Indonesia as a presenter in Tv station in Indonesia

Ketika mendengar bahwa saya menyatakan diri mengenal sosok Jallaludin Rahmat, Alwi Shihab, dan Quraish Sihab, jamaah Iran tersebut terlihat matanya berbinar, seolah baru saja mendapatkan kawan yang ia cari sejak lama. “Last month, i just meet him in Indonesia” kata jamaah Iran tersebut. “I Regurally arange meeting with them in Indonesia” lanjutnya. Saya yang mendengar penjelasannya hanya tersenyum dan mulai mencoba memahami siapa sebenarnya sosok jamaah Iran tersebut. Saya pribadi meyakini bahwa sosok Jamaah Iran tersebut pasti sosok penting di negara Iran, karena kedekatannya dengan tokoh syiah Indonesia. Jallaludin Rahmat dan Alwi Shihab diyakini adalah sosok yang mengembangkan ajaran Syiah di Indonesia.

Pembicaraan kami masih berlanjut. Jamaah Iran tersebut menanyakan apakah saya mengenal dengan baik organisasi Nahdathul Ulama.   Tentu saja saya jawab “Of course, i know well about NU” seraya menjelaskan bahwa saya berasal dari keluarga jawa yang secara turun-temurun merupakan muslim yang mengikuti ajaran kiai NU.

Secara tak terduga, jamaah Iran tersebut menyampaikan bahwa Gus Dur, mantan Presiden RI dan juga tokoh NU, semasa hidupnya pernah mengeluarkan statemen bahwa NU adalah sama dengan Syiah.   “Gus Dur said that NU is same with Syiah” begitu ucapannya kepada saya. Tentu saja saya hanya tersenyum dan tidak memberikan tanggapan apapun tentang statement tersebut.

Melihat saya hanya diam dan tersenyum, Jamaah Iran tersebut kemudian melanjutkan bahwa ada beberapa hal yang mendasari statement bahwa NU sama dengan Syiah. Hal Pertama yang mendasari statement tersebut adalah bahwa Islam Syiah tidak mengakui keberadaaan Khalifah, namun mengakui adanya Imam. Menurut jamaah Iran tersebut, Islam NU juga sama dengan Islam Syiah, yaitu mengakui adanya Imam yang di Muslim NU dikenal dengan istilah Kiai.   Menurut Jamaah Iran tersebut, keyakinan dan penghormatan penganut islam syiah kepada Imam mereka adalah sama dengan yang dilakukan oleh Muslim NU yang sangat menghormati Kiai-Kiai NU.

Hal Kedua yang mendasari pernyataan bahwa NU sama dengan Syiah adalah dari sisi ritual ibadah yang hampir mirip. Diantaranya adalah Doa Qunut yang dilakukan oleh Muslim NU juga dilakukan oleh Muslim Syiah dan Pembacaan Yasin setiap Malam Jumat yang dilakukan kebanyakan muslim NU juga dilakukan oleh Muslim Syiah.

Saya hanya menggangguk-anggukkan kepala dan masih tetap memberikan senyum terbaik saya ketika mendapatkan penjelasan panjang lebar tentang pernyataan Jamaah Iran tersebut terkait dengan statement yang disampaikannya bahwa NU sama dengan Syiah. Di dalam hati saya tentu saja saya membantah statement tersebut, karena satu hal yang membedakan NU dan Syiah adalah kenyataan bahwa Muslim NU tidak pernah menghujat Sahabat Nabi selain Ali bin Abi Tholib seperti yang sering dilakukan oleh Muslim Syiah.

Melihat saya hanya menggangguk dan tersenyum, mungkin Jamaah Iran tersebut merasa bahwa saya melakukan pembenaran atas penjelasan yang ia sampaikan.   Kemudian Jamaah Iran tersebut bertanya kepada saya “ if you growth in javaness family, i’am sure you are NU “ begitu katanya. Saya hanya menjawab bahwa saat ini saya sedang dalam tahapan mempelajari semua mahzab yang ada di Islam, dan nantinya kelak akan memutuskan mahzab mana yang saya yakini untuk saya ikuti sebagai seorang muslim. Sang Jamaah iran balik yang tersenyum dan mengangguk-anggukan kepalanya.

“Brother, can you explained to me, why syiah always do taqiyah ?” balik tanyaku kepada Jamaah Iran tersebut. Agak tercengang mendapatkan pertanyaan seperti itu, Jamaah Iran tersebut menjawab bahwa inti ajaran syiah adalah Taqiyah, yaitu menyembunyikan identitas diri ketika kondisi membahayakan dirinya jika menunjukkan jati diri sebagai seorang syiah.

Saat sang Jamaah Iran hendak berbicara sesuatu, kumandang azdan mahgrib terdengar. Akibatnya sang jamaah Iran tidak jadi melanjutkan pembicaraan. Kami pun menyiapkan diri untuk melaksanakan sholat Mahgrib berjamaah.

Usai sholat Mahgrib, saya segera menyiapkan diri untuk mengikuti Ceramah dalam Bahasa Indonesia yang disampaikan oleh Ustadz Firanda di area Pilar Gerbang 19C Masjid Madinah.   Sejak pagi saya memang merencanakan untuk mengikuti kajian Ustadz Firanda, sehingga sudah mengambil shaff di sekitar area ceramah tersebut.

Sang Jamaah iran saat mengetahui akan ada kajian ustadz Firanda, menyalami saya untuk pamit karena harus bertemu dengan koleganya di Hotel. Ia kemudian meminta nomor kontak saya di WhattApp dan menyampaikan bahwa ia akan mengontak saya untuk mengajak berdiskusi lebih lanjut soal segal hal terkait dunia Islam.

Ia juga mengundang saya malam ini ba’da sholat Isya untuk makan malam bersamanya di Hotel.   Saya menolak dengan halus ajakannya dengan alasan sudah ada janji dengan Rombongan Haji membahas masalah city tour yang akan kami lakukan esok hari.

Sang Jamaah iran dapat memakluminya dan kemudian berpamitan kepada saya. “Assalamualaikum ....brother” pamitnya, yang saya jawab dengan ucapan “wa’alaikumsalam .... see you brother ”.   Sang Jamaah Iran bergeser dari tempat duduknya, dan saya segera bersiap mengikuti Kajian Ustadz Firanda sampai menjelang sholat Isya.

Esok hari, kegiatan di Madinah berjalan seperti hari-hari sebelumnya.   Bangun dari tidur malam pada pukul 2 dinihari dan bersiap melaksanakan Sholat Tahajud di Masjid Nabawi. Usai sholat shubuh kembali ke Hotel untuk mempersiapkan Sarapan Pagi, mengingat sarapan yang disediakan di Hotel hanya Roti Kroisan yang untuk ukuran saya masih “tidak nendang” jika dijadikan sebagai menu sarapan.

Usai sarapan, perangkat Blackbery yang saya miliki berdering. Nomor kontak pada layar menerangkan bahwa yang melakukan panggilan adalah Sang Jamaah Iran yang kemarin berbincang dengan saya membahas tentang Muslim Syiah. Agak ragu untuk menerima panggilan telephone tersebut, akhirnya saya putuskan mendiamkan panggilan tersebut.   Ketika perangkat Blackberry tak lagi berdering, tak lama terdengar nada notifikasi masuknya pesan melalui aplikasi whatsApp.

Pesan pada WhatsApp berbunyi : “brother Didi, i just call you but didn’t answer, I wanna invite you to my hotel for dinner tonigh. Hope we can discuss together. Achmad” .

Jreng-jreng .... semakin yakin jika jamaah Iran ini pasti bukan orang sembarangan di komunitas Syiah Iran, karena menunjukkan keseriuasan luar biasa untuk mengajak saya berdiskusi. Mungkin antusiasmenya didorong oleh statemen saya bahwa saya mengenal dengan baik Tokoh Syiah Indonesia yang bernama Jallaludin Rahmat dan Alwi Shihab. Padahal statement “mengenal dengan baik” maksudnya adalah mengenalnya sebagai orang yang terkenal di Indonesia karena statusnya sebagai Pembela Syiah di Indonesia. Untuk bersimpati pada Kaum Syiah .... tentu saja jawabnya TIDAK !.

Saya putuskan untuk mengabaikan pesan di WhatsApp. Awalnya terbersit niat untuk bertaqiyah, berpura-pura bersimpati dengan Muslim Syiah untuk mengetahui lebih jelas seperti apa sebenarnya Syiah merencanakan sesuatu untuk kalangan di luar syiah. Namun niat tersebut saya batalkan karena membayangkan kengerian tentang apa yang terjadi jika mereka tahu bahwa saya hanya berpura-pura bersimpati pada syiah.

Hari ini akhirnya berjalan seperti biasanya saat kami pertama datang di Madinah. Fokus pada ibadah Sholat Arbain. Namun esok paginya, pesan yang sama datang lagi . Masih dengan isi pesan yang pada intinya mengajak untuk bertemu makan malam di Hotek tempat di Jamaah Iran menginap. Hmmm, makin menambah keyakinan tentang status sang Jamaah Iran. Keputusan sudah bulat, jangan bermain dengan api ..... saya putuskan untuk mengabaikan pesan tersebut.

Dibalik pertemuan dengan sang Jamaah Syiah ketika saya berada di Madinah saat musim Haji 1436 H, beberapa hal yang menjadi bahan pelajaran bagi saya pribadi, adalah sebagai berikut :

  1. Adalah keniscayaan bahwa penganut Syiah di Indonesia hampir dipastikan sebelumnya adalah mereka yang menganut faham NU.   Syiah memanfaatkan klaim “kesamaan” ritual antara NU dan Syiah untuk mempengaruhi muslim di Indonesia untuk mau menganut faham syiah.
  2. Harus berhati-hati jika mendapatkan tawaran atau Iming-iming mendapatkan fasilitas pendidikan di universitas di kawasan Timur Tengah, dikhawatirkan tawaran tersebut datang dari Tim perekrut dari Kaum Syiah
  3. Bahwa orang yang bernama Jallaludin Rahmat dan Alwi Shihab sudah terkonfirmasi langsung dari sumber yang sahih bahwa mereka adalah penganut Syiah, atau setidaknya bersimpati pada Kaum Syiah.

Rahmat Allah di Raudhah

Saat santap malam, usai sholat Isya di Masjid Nabawi, kami sempat mendengar ucapan salah seorang jamaah haji yang berasal dari regu yang sama dengan kami, yaitu Bapak Aziz, yang menyatakan ingin sekali mengetahui keberadaan Makam rasullulha dan berdoa di Raudhah yang merupakan salah satu tempat yang Insya Allah segala doa diijabah oleh Allah Subhanna Wa Ta’ala.  

Teman sekamar beliau nampaknya tidak dapat membantu Pak Aziz untuk memenuhi harapannya tersebut, karena mereka usia mereka sudah sama-sama tidak muda lagi, dan tidak sanggup ketika harus berdesakan masuk ke Raudoh.

Saya yang siang tadi baru saja berhasil masuk ke raudoh, berdoa dan sholat ashar di area Raudhah persis pada shaff di depan mimbar nabi, serta melihat dengan jelas pintu makam rasulullah, tergerak untuk membantu Pak Aziz mewujudkan keinginan dan harapannya.

“Pak Aziz .... kalo bapak berkenan, besok bisa saya temani ke Raudhah” ucap saya ke Pak Aziz. “Mau mas ... saya mau mas .... besok jam berapa mas ?? “ jawabnya penuh antusias.

Saya tersenyum melihat antusiasme Pak Aziz. “besok kita ke raudhoh jam 2 siang pak ... , selesai sholat dhzuhur nanti, Pak Aziz langsung kembali ke Hotel dan langsung santap siang, selesai makan, kita langsung ke Raudhah” jelasku. “Baik mas, besok saya stanby di depan kamar jam 2 siang” jawab pak Aziz.

Esok hari, seperti janji saya ke beliau, usai sholat dzuhur, saya segera kembali ke Hotel. Ketika keluar dari Lift, Pak Aziz yang kamarnya persis di dekat lift menyambut saya dan berkata “kita berangkat sekarang mas ? “ tanya beliau.

Kontan saja saya jawab “ tiga puluh menit lagi ya pak, saya belum makan siang ....”.   “oooo baik-baik mas, saya tunggu disini ya mas” jawab Pak Aziz seraya duduk di kursi di samping meja tempat ketua rombongan biasa menempatkan konsumsi jatah jamaah haji.

Tak enak hati membuat Pak Aziz menunggu lama, saya putuskan untuk makan siang dengan cepat. 10 menit jatah makan siang tuntas saya lahap. Saya bersiap menjemput Pak Aziz.

Saya putuskan tidak membawa tas yang biasa saya bawa ke Masjid Nabawi, karena pengalaman hari kemarin, agak sulit berdesakan masuk ke raudhoh jika diri kita juga sibuk menenteng tas. Saya putuskan siang ini ke raudhoh hanya membawa perangkat blackberry saya saja.

“Ayo pak kita berangkat ... ” ucapku ketika tiba di depan kamar pak Aziz. Kami berdua berjalan ke depan lift, turun ke lobby hotel, dan keluar hotel menuju ke Masjid Nabawi.

Kami masuk dari gerbang Masjid Nabawi Nomor 19C karena itulah gerbang terdekat dari Hotel kami. Setiba disana, saya baru tersadar bahwa saya ternyata tetap harus membawa tas untuk tempat menyimpan sandal kami. Saya putuskan untuk menyimpan sandal kami di loker penyimpanan sandal di gerbang 19. Ketika meminta Pak Aziz untuk menyimpan sandalnya, saya baru teringat bahwa untuk menuju ke Gerbang 02-Abu Bakar, yaitu gerbang menuju ke Raudhoh, saya harus melewati area terbuka yang lantainya pasti panas jika tidak menggunakan alas kaki.

“Bapak kuat gak kalo nanti jalan tidak pake sandal ? “ tanya saya ke Pak Aziz. Pertanyaan saya dijawab dengan pernyataan pak Aziz bahwa dirinya tidak kuat kalo tidak pake sandal. “Gak kuat mas kalo nggak pake sandal”, jawan pak Aziz. Jadilah akhirnya Pak Aziz tetap membawa sandalnya sampai ke area menuju gerbang Abu Bakar.

Ketika sudah masuk ke gerbang Abu Bakar, antrian masuk ke Raudhoh sudah lumayan padat. Melihat kondisi pak Aziz yang menenteng sandal, sudah terbayang dalam pikiran saya bahwa hal itu akan menyulitkan Pak Aziz saat masuk di tengah padatnya antrian masuk.

“Pak Aziz, sandal pak aziz kita taruh disini aja ya pak ...” pintaku sambil menunjuk area tempat penyimpanan barang jamaah yang tersedia di pilar masjid nabawi. “Kalo sudah keluar dari Raudhoh nanti kita ambil lagi, Insya Allah tidak hilang, soalnya agak ribet kalo Pak Aziz harus nenteng sendal seperti itu ...” demikian terangku ke Pak Aziz.  

“Ya sudah mas, saya taruh aja sandal saya di situ ....” jawab pak Aziz dengan ikhlasnya.

Kami mendekat ke antrian masuk. Petugas askar Masjid Nabawi melakukan pengaturan masuk ke roudhoh dengan melakukan penyekatan antar bidang yang dibatasi oleh Pilar. Untuk masuk ke area roudhoh, ada 3 bidang tahapan yang harus dilalui oleh jamaah haji.   Pengaturan per bidang tahapan ini ditujukan untuk memastikan area raudhoh dimasuki oleh jamaah seusai dengan daya tampungnya. Disamping untuk memastikan tidak terjadi kekacauan saat antrian masuk ke raudhoh.

Pada bidang tahap pertama, saat memasuki barisan antrian kami ada di sekitar baris ke 5 dari depan bidang antrian pertama. Jamaah terus masuk memenuhi ruang antrian di Bidang Pertama ini. Sampai pada posisi jelang akan dibukanya pembatas bidang pertama, posisi saya dan pak Aziz berada di tengah-tengah antrian.

Di depan Pak Aziz adalah jamaah haji asal Nigeria yang posturnya tinggi besar. Posisi di depan Jamaah Haji Nigeria memberi keuntungan tersendiri bagi kami, karena dengan begitu Pak Aziz akan terhindar dari terjatuh karena dorongan antrian dari belakang karena ada jamaah haji tinggi besar yang menahannya di depan.

Alhamdulillah, setelah berjuang selama hampir 1 jam, akhirnya kami berada di area Raudhoh. Sholat sunat mutlak kami tunaikan di raudhoh. Kemudian doa-doa kami panjatkan.

Tak terasa air mata bercucuran tatkala doa-doa kami panjatkan. Semua jamaah dari berbagai negara sepertinya merasakan hal yang sama dengan kami. Larut dalam keharuan memuji asma Allah dan melantunkan doa-doa kepada yang sang khalik.

Karena sesaat lagi masuk waktu sholat ashar, petugas askar melakukan pengaturan semua jamaah yang ada di raudhoh untuk memastikan jamaah berada di jalur shaff yang sudah ditentukan. Jamaah yang berada di luar jalur shaff, oleh askar diarahkan untuk keluar area raudhoh. Alhamdulillah, saya dan pak aziz masuk ke dalam jalur shaff yang ditentukan, sehingga tidak harus keluar dari area Raudhoh.

Ketika sholat ashar usai dan doa ba’da sholat fardhu usai dipanjatkan, para askar meminta semua jamaah untuk bangun dan bergerak meninggalkan area raudhoh untuk memberikan kesempatan jamaah lain yang akan memasuki raudhoh.

Saya dan Pak Aziz bangun dari duduk dan bersama jamaah haji lainnya bergerak menuju ke pintu keluar raodhoh yang nantinya akan melewati makan rasullullah. Ketika melewati depan makanm rasullullah, solawat serta salam untuk baginda besar nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam diucapkan oleh para jamaah, dan lagi-lagi tak terasa air mata menetes sebagai rasa syukur diberikan kesempatan oleh Allah Subhanna Wa Ta’ala untuk berkunjung ke makam rasullullah, manusia terbaik pilihan Allah yang telah membawa kami dari zaman zahiliiah ke zaman islam yang penuh rahmat dan barokah.

Kami berjalan pelan meninggalkan raudhoh. Sampai akhirnya tiba di pintu keluar nomor 25. Cuaca di luar masjid sangat panas. Suhu mendekati 42 derajat celcius. Hmmm .... tak terbayang panasnya lantai area luar masjid nabawi. Sempat bingung bagaimana ini ..... sandal saya ada di loker gerbang nomor 19 dan sandal Pak Azis ditinggalkan di loker gerbang no.2 .

“Pak Aziz kita jalan lewat pinggir menyusuri bangunan itu ya pak ,“ ucapku kepada pak Aziz sambil menunjuk bangunan putih yang nampaknya adalah dinding area raudhoh. “nanti kita berjalan di pinggir sampai ke gerbang nomor 2 tempat awal kita masuk tadi “, lanjutku.

“Iya ... iya mas .... tapi saya pengin pipis mas ...” ujar pak Aziz yang tentu saja membuat saya mengeryitkan dahi saya. Bagaimana tidak, lokasi toilet ada di tengah-tengah area terbuka masjid nabawi. Jaraknya sekitar 100 meter. Sudah terbayang betapa panasnya lantai menuju ke toilet. Sementara kami berdua tidak membawa sandal. Kondisi kesehatan Pak Aziz memang membuat beliau harus sering buang air kecil ke toilet.

“iya pak, kita jalan agak cepat ya pak .... supaya kaki kita nggak kepanasan, mudah-mudahan lantai tidak terlalu panas .. Bapak bisa khan ??? “ tanyaku ke Pak Aziz.

“Bisa Mas .... Insya Allah bisa ... mudah-mudahan gak panas lantainya “ Jawab Pak Aziz.   Kami kemudian mulai berjalan cepat menuju ke toilet, baru sekitar 6 langkah kaki menapak lantai, pak Aziz berteriak kepanasan ... “panas mas ... lantainya panas mas .... kaki saya gak kuat ...”

Bingung dengan kondisi yang dihadapi, saya hanya bisa meminta Pak Azis untuk berlari menuju ke toilet. “Ayo pak kita lari saja .... mudah-mudahan kaki kita bisa menahan panas ....” kami berdua kemudian berlari agak cepat menuju ke Pintu masuk toilet.

Alhamdulillah, kami tiba di pintu toilet. Kaki kami berdua masih merasakan panas yang agak lumayan. Area pintu toilet yang agak basah, menjadi penyejuk kaki kami.

“Mudah-mudahan gak melepuh pak .... “ ujarku ke Pak Aziz.   “Iya mas ... Insya Allah kaki kita gak melepuh”. Kami beristirahat sejenak di pintu masuk toilet. Nafas kami masih agak ngos-ngos’an karena harus berlari menghindari lantai yang panas. Sambil beristirahat, saya memikirkan bagaimana cara untuk kembali ke gerbang pintu Abu Bakar tanpa kaki kami harus kepanasan. Hmmmm, terpikir untuk menggunakan Masker yang saya gunakan untuk dijadikan sebagai alas kaki. “Ayo pak aziz, kita masuk ke dalam toilet”.

Lokasi toilet adalah di lantai basement, sehingga kami harus menuruni tangga yang tersedia. Ada 2 tangga yang disediakan, tangga eskalator untuk naik dan tangga manual yang dapat digunakan untuk naik dan turun. Kami menuruni tangga manual dengan perlahan.

Untuk sampai ke lantai basement, tangga manual yang tersedia dibuat menjadi 2 tahapan tangga menurun. Separuh perjalanan sampai ke dasar, tangga dibuat mendatar sehingga tangga tidak turun terlalu curam.

Saya harus menuntun Pak Aziz menuruni tangga. Ketika sampai di area lantai toilet, kami harus berbelok ke kanan menuju area Toilet.   Saat berbelok ke kanan, tak disangka-sangka ada hal yang membuat kami berdua mengucap syukur alhamdulillah.

Saat kami berjalan menuju area toilet, sekonyong-koyong ada seorang tua, jamaah haji asal indonesia yang kami kenali dari seragam batiknya, menyodorkan sepasang sandal ke kami.

“Ini saya ada 2 sandal, saya pakai satu, kamu pakai satu “ ujar orang tua itu sambil menyorongkan sandal ke arah saya. Subhanallah .....Alhamdulillah .....

ini adalah hal yang tak disangka-sangka. Ketika sedang bingung bagaimana cara kembali ke Gerbang Abu Bakar tanpa menggunakan sandal, tiba-tiba ada orang tua yang memberikan sandal ke kami, seolah-olah orang tua itu tahu bahwa kami berdua membutuhkan sandal.

Sepasang sandal jepit warna hijau tersebut saya ambil seraya mengucapkan terima kasih kepada orang tua tersebut. Dari logat bicaranya, saya bisa pastikan orang tersebut berasal dari kawasan timur indonesia.

“ Alhamdulillah pak Aziz .... saat kita butuh sandal, ada orang yang menyorongkan sandal ke kita, ini benar-benar pertolongan Allah .... “ ujarku ke Pak Aziz. “ iya mas, alhamdulillah ...” jawab pak Azis.

“Nanti pak azis yang pake sandal ini supaya kaki pak Azis tidak kepanasan, kalo saya khan masih muda, Insya Allah bisa agak kuat melewati lantai yang panas “ jelasku ke Pak Aziz.

Usai melepaskan hajat buang air kecil, saya mengajak pak Azis untuk menuju ruang wudhu untuk mengambil wudhu. Saat di Ruang Wudhu, saya tersadar dengan kesombongan yang saya tunjukan dengan kata-kata “ kalo saya khan masih muda, Insya Allah bisa agak kuat melewati lantai yang panas ... “

Astagfirullah .... saya segera beristigfar. “ Ya Allah ... maafkan hambaMu yang telah berkata sombong ...” Kalimat istigfar saya ucapkan karena saya menyadari bahwa perjalanan menuju gerbang 02 adalah cukup jauh. Jika untuk jarak 50 meter saja saya sudah amat merasakan panas, apalagi jika harus berjalan sekitar 300 meter menuju ke gerbang nomor 02.

Saya kembali berniat menggunakan masker sebagai alas kaki untuk dapat mengurangi rasa panas ketika melewai lantai area luar masjid nabawi.

Usai berwudhu, saya dan pak Azis berjalan menuju ke tangga naik untu keluar dari area Toilet. Sampai di area tangga, banyak jamaah yang akan keluar area Toilet. Tangga eskalator yang biasanya difungsikan sebagai tangga naik, ternyata mengalami kerusakan.

Namun saya melihat hampir sebagian besar jamaah lebih memilih menggunakan eskalator tersebut dibandingkan menggunakan tangga manual. Saya mengajak pak Aziz untuk naik menggunakan tangga manual.

“Kita lewat tangga biasa saja pak, itu tangga lebih sepi dibandingkan tangga eskalator ..” ajakku ke Pak Azis. “iya mas ... lewat tangga biasa saja ....” jawab Pak Azis

Kami menapaki perlahan area tangga naik. Saat itu, dari sekian banyak jamaah yang akan naik ke area halaman masjid nabawi, hampir semua orang menggunakan tangga eskalator, nyaris kami berdua saja yang menggunakan tangga manual.

Saya masih dalam keadaan tidak beralas kaki, sedangkan pak Aziz menggunakan sandal jepit pemberian orang tua di area toilet. Ketika akan tiba di area tangga yang landai, ada hal yang mengejutkan kami.

Saat tinggal satu anak tangga menjelang ke area datar tangga, saya melihat 1 pasang sandal jepit yang seolah-olah diletakkan secara sengaja dan diletakkan seperti menyambut kedatangan saya.

“Subhanallah ..... Alhamdulillah Pak Azis .... ada sandal tergeletak pak ... “ kataku ke Pak Azis.   “Bismillahirahmanirrohim ..... mohon izin menggunakan sandal ini “ ucapku seraya menggunakan sandal tersebut.

Kalimat Tasbih dan kalimat .............. “Subhanallah .... Alhamdulillah .... “ tak putus-putus kami ucapkan sepanjang perjalanan kami ke gerbang abu bakar.   “Alhamdulillah Pak Azis .... pertolongan Allah sangat luar biasa ..... kita terhindar dari kepanasan karena sandal ini pak azis ,“ ujarku kepada pak Azis. “iya mas ..... alhamdulillah koq tiba-tiba ada sandal yang bisa kita pake ...” jawab pak Azis.

Kami tiba di Gerbang Abu Bakar. Aku dan Pak Aziz memiliki pemikiran yang sama untuk meninggalkan sandal jepit itu di area gerbang abu bakar.

“Kita tinggalkan sendal ini disini ya pak ...... mudah-mudahan ada orang yang memerlukan sandal ini untuk mengurangi rasa panas lantai.

Saat akan masuk menuju ke area dalam masjid nabawi, saya sempatkan untuk masuk ke gerbang abu bakar untuk mengambil sandal Pak Azis yang ditinggalkan di loker gerbang abu bakar. Alhamdulillah, sandal pak Azis bisa saya temukan kembali.

“Ini sendal pak Azis ... alhamdulillah tidak hilang pak” .... kataku sambil menyerahkan sandal kulit milik pak Azis.   “wah ... alhamdulillah mas .... padahal saya sudah ikhlasin nih sandalnya .... eh alhamdulillah gak jadi hilang .....” jawab pak Azis.

Kami kemudian masuk ke ruangan dalam masjid nabawi. Sambil menunggu datangnya waktu mahgrib, saya dan pak azis merebahkan badan di area masjid, dengan mengambil tempat yang tidak mengganggu jamaah lain.

Saat berbaring, aku panjatkan doa syukur “Alhamdulillah ya Allah ... telah memnberikan hambaMu ini kesempatan untuk berbagi kebahagiaan dengan Pak Azis yang ingin sekali berkunjung ke Raudhoh, tempat yang Kau janjikan dimakbulkan segala doa, dan berkunjung ke makan RasulMu Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ....

“terima kasih atas segala yang engkau berikan kepada hamba, sehingga memudahkan langkah kami membantu mewujudkan harapan dan keinginan pak Azis”

 

Cerita ini sebenarnya belum selesai. Usai “berhasil” masuk ke raudhoh dengan segala perjuangannya, pada malam harinya, saat makan malam bersama dengan beberapa jamaah haji, Pak Aziz selalu menceritakan apa yang kami alami tadi siang. Khusus soal sandalnya yang akhirnya ditemukan, pak Azis selalu berkali-kali bilang “Padahal sendal itu sudah saya ikhlaskan ..... eh koq ketemu lagi .... “ begitu katanya.

Besok malamnya, saya bertemu kembali dengan Pak Aziz. Beliau menyempatkan diri menemui saya, untuk sekedar bilang .... “mas sendal saya, tadi siang hilang ....”

Hmmmm, rasanya ingin tertawa atau bagaimana ..... saya hanya tersenyum simpul saja dan berkata   “Makanya pak ... jangan salah bicara ..... saat kemarin sandal bapak saya temukan, bapak berkali-kali bilang sudah ikhlas kalo sandalnya hilang ...... nah sekarang jadinya hilang beneran dech ......”

Pak Aziz hanya berkata pendek ..” iya mas, saya ikhlas ...”