^Kembali ke Atas

foto1 foto2 foto3 foto4 foto5

Perjalanan ke Muzdalifa

Kami melakukan wukuf hingga menjelang sore hari.   Ketua Kloter menyampaikan informasi bahwa bis akan menjemput jamaah pada pukul 08.00 malam untuk mengantarkan jamaah menuju ke muzdalifah untuk mabit dan mengambil kerikil untuk Lontar jumrah.   Diingatkan pula kepada seluruh jamaah untuk memastikan sudah melakukan santap malam sebelum berangkat, dan membawa bekal snack dan air minum secukupnya untuk mabit di muzdalifah. Pembimbing Haji meminta jamaah untuk melakukan sholat isya dijama’ dengan sholat mahgrib.

Kami diminta untuk tetap berada di tenda hingga ada informasi bahwa bis penjemput sudah tiba di gerbang Padang Arafah. Sambil menunggu, kami sempatkan untuk mempersiapkan segala sesuatu dan memastikan tidak ada barang yang tertinggal di tenda arafah.

Bis yang menjemput kami menuju ke muzdalifah akhirnya tiba. Bis tersebut ternyata bis yang sama yang mengantarkan kami dari Hotel pemodokan ke Arafah. Satu per satu jamaah naik ke dalam bis. Perjalanan ke muzdalifah ternyata tidak terlalu lama, hanya sekitar 1 jam perjalanan dengan kondisi lalu lintas yang padat.  

Ketika tiba di muzdalifah, kondisi masih tidak terlalu ramai dengan jamaah. Ucapan syukur Alhamdulillah kami ucapkan ketika kami menjejakkan kaki di muzdalifah.   Kami putuskan untuk menggelar karpet wukuf plastik yang kami bawa dari tanah air.

Muzdalifah ternyata kondisinya seperti padang gurun dengan pasir lembut cenderung berdebu.   Kami letakkan tas kami di atas karpet yang kami gelar.   Selanjutnya bergabung dengan jamaah lain mencari kerikil untuk melontar jumrah.

Pada beberapa titik di muzdalifah, sepertinya sudah disediakan kerikil yang disebarkan berkelompok, sehingga secara teknis tidaklah sulit bagi jamaah untuk mencari kerikil yang akan digunakan untuk melontar.

Saat tiba di muzdalifah kami membaca doa sesuai dengan buku tuntunan doa :

“Ya Allah, sesungguhnya ini Muzdalifah tempat dikumpulkan bermacam-macam bahasa yang memohon kepada-Mu hajat/keperluan yang beraneka ragam. Maka masukkanlah aku ke dalam golongan orang yang memohon kepada-Mu, lalu Engkau penuhi permintaannya, yang berserah diri padaMu lalu Engkau lindungi dia, wahai Tuhan Yang Maha Pengasih dari segala yang pengasih.”

Setelah mendapatkan kerikil untuk melontar jumrah, kami putuskan untuk beristirahat dan menyiapkan tenaga untuk melakukan Lontar jumrah esok hari.  

 

Subhanallah … kepadatannya sangat luar biasa. Hampir tidak ada ruang tersisa untuk para jamaah untuk beristirahat dan merebahkan diri.

Pada kondisi kepadatan yang luar biasa, beberapa rombongan jamaah haji yang baru saja datang, dan belum melakukan sholat isya, nampak berupaya menjalankan ibadah sholat isya ditengah kepadatan jamaah. Sungguh suatu pemandangan yang luar biasa, khusuk sholat ditengah keramaian dan kerumunan jamaah.

Kekacauan terjadi karena ada miskomunikasi antara petugas maktab dengan petugas kloter. Pada saat briefing sebelum proses armina, disampaikan bahwa semua jamaah haji masuk ke dalam bis berkelompok sesuai dengan kloter masing-masing. Dalam 1 Maktab ada sekitar 10 kloter.   Transportasi dari muzdalifah ke Mina dilakukan secara urutan berdasarkan hasil undian.

Nah, yang terjadi di lapangan ternyata berbeda. Beberapa ketua kloter menerapkan aturan naik ke bis berdasarkan kloter, sementara ketua kloter yang lain menginformasikan kepada jamaah bahwa mereka boleh naik ke bis bersama kloter lainnya asalkan sama-sama berasal dari maktab yang sama. Akhirnya terjadi kekacauan.

Jalur antrian diisi oleh jamaah yang berasal dari berbagai kloter. Ketika satu kloter dipanggil untuk naik ke atas bus, mereka kesulitan menuju bis karena jalur antrian sudah disesaki dengan jamaah dari kloter lain.   Ketika ada jamaah naik ke atas bis yang mayoritas diisi oleh jamaah dari kloter tertentu, jamaah tersebut akan ditolak naik ke bis tersebut. Jika memaksa naik, ketika disampaikan bahwa nanti bisa salah tenda saat tiba di mina, jamaah tersebut jadi bimbang dan akhirnya batal naik ke bis. Saat batal naik ke bis, akhirnya menumpuk di pintu antrian dan mengganggu akses jamaah lain yang akan naik ke bis.

Pada kondisi tersebut di atas, akhirnya pantangan berbantah-bantahan saat berhaji jadi terlupakan. Kondisi semakin diperparah dengan oknum petugas haji yang bukannya membantu para jamaah, malah meninggalkan para jamaahnya.

Beberapa jamaah haji mengambil jalan pintas dengan menerobos jalur antrian. “ Kapan kita diangkut kalo tetep menunggu …. ? “ itu alasan mereka sehingga nekat menerobos antrian untuk masuk ke dalam bis.

Kami mengganggap bahwa ini adalah salah satu ujian kesabaran bagi kami. Setelah berdiri dan menanti hingga hampir 3 jam, akhirnya kami mendapatkan kesempatan untuk diangkut menggunakan bis ke perkemahan di Mina.

Bis yang sejatinya hanya menampung 40 orang jamaah, terpaksa kami penuhi hingga 60 orang jamaah. Ini terpaksa kami lakukan agar dapat segera tiba di perkemahan mina.

Alhamdulillah, akhirnya kami tiba di lokasi perkemahan kami selama berada di Mina. Kelelahan yang luar biasa, dan melihat kondisi tenda yang sudah dipenuhi oleh jamaah yang tiba lebih dahulu, membuat saya memutuskan untuk menggelar selimut tebal di luar area tenda, dan segera tidur.

Waktu menunjukkan pukul 02.00, artinya saya hanya memiliki waktu 2 jam untuk memejamkan mata dan harus bangun saat adzan subuh berkumandang.

Kisah Musibah Mina

Kondisi kelelahan karena lama menunggu bis pada saat berada di Muzdalifah, membuat saya terlambat bangun sholat subuh dan tidak dapat sholat berjamaah dengan jamaah haji lainnya.

Hari pertama berada di Mina, saya terpaksa harus tidur menggelar selimut kecil di luar tenda. Selain karena kondisi tenda yang sudah terlalu penuh, juga karena satu-satunya tempat yang ada, posisinya persis di depan blower tenda. Hembusan angin blower yang cukup kencang, membuat saya memutuskan untuk tidur di luar tenda.

Usai sholat subuh, saya masuk ke dalam tenda untuk melihat kondisi istri. Alhamdulillah, kondisinya baik. Saya memutuskan untuk turun ke area bawah menuju ke kran air panas untuk membuat teh hangat.

Saat hendak naik kembali ke lokasi tenda kami, kami menyaksikan seorang jamaah haji perempuan yang sedang mengipas-ngipas salah satu kakinya. Saya lihat kakinya sudah dalam kondisi dilaburi kecap.   “Kenapa bu kakinya ? “ tanyaku …. “ sambil melihat ke arah kaki si Ibu

Sang ibu menjawab, “ tersiram air panas pak … waktu membawa air panas ke atas, tiba-tiba cangkir yang saya pegang terlepas dan air panasnya menyiram kaki saya … “ .  

Hmmm …. Agak sedih mendengarnya. “cepet pulih kakinya ya bu …. “ . ucap saya seraya menarik nafas panjang, karena tak bisa memberikan banyak bantuan kepada sang ibu.

Lokasi geografis perkemahan kloter kami memang sepertinya adalah perbukitan. Tenda perkemahan dibuat di atas bukit, sedangkan untuk fasilitas dapur dan kebutuhan air panas untuk jamaah haji berada di area yang lokasinya jauh lebih rendah daripada lokasi tenda.

Walhasil, untuk masuk dan keluar wilayah perkemahan, harus melakukan aktivitas naik dan turun tangga yang lumayan melelahkan.

Untuk mengambil air panas, jamaah haji harus ekstra hati-hati ketika akan kembali ke perkemahan. Jika tidak berhati-hati saat menapaki anak tangga saat kembali ke tenda, bisa terjadi musibah jatuh dan tersiram air panas yang kita bawa.

Saat kami berada di tenda, terdengar pengumuman dari ketua rombongan kami, jika ada jamaah yang ingin melakukan Lontar Jumroh, dipersilahkan untuk bersiap.   “kita akan ikut dengan rombongan ustadz Haikal” ucap ketua rombongan kami.

Ustadz Haikal adalah ustadz yang menjadi pemimpin rombongan Haji dari salah satu KBIH yang berasal dari kloter yang sama dengan kami. Kami berdiskusi dengan rekan jamaah satu regu kami, dan kami sepakat untuk ikut dengan rombongan ustadz Haikal.  

Khusus untuk Lontar Jumrah pertama, banyak jamaah yang ingin melaksanakannya dengan segera, sehingga dapat melaksanakan tahallul awal dan dapat mengganti kain ihram yang kami kenakan dengan pakaian biasa.

Segera kami koordinasikan dengan istri untuk segera bersiap. Istri mengingatkan kami untuk tidak lupa membawa batu. Saya siapkan 2 kantong plastik kecil yang kami bawa dari tanah air untuk menyimpan batu kerikil yang akan kami Lontar di lokasi Lontar. Alat semprotan air kami siapkan. Air minum dalam botol juga kami siapkan.

Tepat pukul 7 pagi, rombongan bersiap berangkat. Namun, saat berada di tangga turun, rombongan kami ditahan oleh ketua kloter untuk menunda kegiatan melontar. “ada informasi area melontar saat ini sedang dalam kondisi padat” itu penjelasan dari ketua kloter kami.

Petugas Maktab lokal juga memberikan informasi bahwa di area melontar saat ini sangat padat dan melalui HT dikabarkan sudah ada 2 jamaah haji yang wafat karena berdesak-desakan. Dalam hati saya sempat terpikir … “jika padat, sepertinya wajar karena jumlah jamaah haji itu jutaan orang ….. jika ada 2 orang yang wafat, dibanding dengan jumlah jamaah yang jutaan, sepertinya tidak menjadi kondisi yang istimewa sama sekali “

Usatdz Haikal terlihat berbicara dengan ketua Kloter dan tak berapa lama kemudian menyampaikan kepada rombongan yang akan berangkat melakukan proses Lontar jumrah pertama …. “Bismillahi tawakaltu …. kita tetap berangkat melontar …. Kita serahkan semuanya kepada Allah ….. “

Kami kemudian turun menuju ke jalan raya dan berjalan beriringan menuju ke lokasi Lontar. Jarak antara perkemahan kami dengan area melontar sekitar 3 kilometer.  

Saya berjalan bergandeng tangan dengan istri, memastikan tetap dalam satu rangkaian rombongan agar tidak tersesat jalan. Sesaat sebelum berangkat, kami panjatkan doa memohon perlindungan Allah agar diberikan kelancaran dalam prosesi Lontar jumrah yang akan kami laksanakan.

Saat tiba di gerbang menuju ke terowongan Mina, kami mendengarkan pengumuman melalui pengeras suara yang terdengar sangat jelas. Pengumuman disampaikan oleh petugas haji Indonesia. Pengumuman disampaikan berulang dengan nada yang sangat keras.

Perhatian !!! Seluruh jamaah haji Indonesia, Malaysia, Filiphina, diharapkan untuk kembali ke tenda, kondisi area melontar sangat padat   !! “ suara keras pengumuman melalui pengeras suara besar di area depan pintu masuk terowongan mina.

Kembali kami sampaikan …. Seluruh jamaah haji Indonesia, Malaysia, Filiphina, diharapkan untuk kembali ke tenda, kondisi area melontar sangat padat   !! … Pagi ini adalah waktu terlarang untuk melontar !!!! “ . terdengar Kembali pengumuman yang disampaikan melalui pengeras suara.  

Rombongan kami menjadi bimbang. Ustadz Haikal dengan rombongannya tetap memutuskan untuk melanjutkan prosesi Lontar. Kami tertinggal dengan rombongan Ustadz Haikal. Rombongan kami berdiskusi sejenak untuk memutuskan apakah akan melanjutkan prosesi melontar, atau kembali ke tenda. Rombongan kami terpecah dua. Sebagian memilih kembali ke tenda, sebagian memutuskan melanjutkan prosesi melontar.

Saya mencoba melakukan analisis.   Wilayah tenda penginapan kami selama di Mina adalah wilayah yang diperuntukkan untuk jamaah asal asia tenggara.   Diantaranya adalah Jamaah dari Negara Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Thailand.

Postur tubuh mereka hampir mirip dengan kami.   Kondisi kepadatan area Lontar juga kami yakini adalah hal yang wajar, karena jumlah jamaah haji itu jutaan orang.   Jika harus berdesakan dengan jamaah yang sama-sama berasal dari kawasan asia tenggara, kami merasa masih mampu, karena postur tubuh mereka masih sama dengan kami yang berasal dari Indonesia.

Atas analisis sederhana ini, saya bersama istri memutuskan untuk ikut dalam rombongan yang meneruskan prosesi melontar.

“Utamakan keselamatan, selalu berhati-hati dan pastikan selalu bersama…” ujar rombongan yang memutuskan untuk kembali ke perkemahan kepada kami yang memutuskan untuk meneruskan prosesi melontar.

Kami panjatkan doa “Bismillahi tawakaltu …. Walahaula walakuwata illabillah ….” Lalu bersama rombongan kecil kami, mulai berjalan perlahan memasuki terowongan mina.

Gerbang masuk terowongan memang padat. Tapi arus jamaah masih mengalir. Kami berjalan mengikuti arus perjalanan jamaah lainnya. Jika terlalu cepat kami akan menabrak jamaah didepan kami, jika terlalu lambat kami akan ditabrak oleh jamaah di belakang kami.

Pemerintah Arab Saudi selaku otoritas yang menyelenggarakan Haji, sudah sangat luar biasa melakukan pengaturan area Mina. Perkemahan jamaah haji asia tenggara diposisikan berbeda dengan jamaah haji afrika yang postur tubuhnya jauh lebih besar.

Pada saat menuju ke area Lontar, kami secara otomatis diarahkan untuk masuk ke lantai 3 yang mengarah ke jalur menuju ke area Lontar, tanpa merasakan jalanan yang naik menanjak. Kondisi wilayah mina yang perbukitan, dimanfaatkan sedemikian rupa sehingga pengaturan jalan dari perkemahan ke terowongan dibuat sedemikian rupa sehingga sejajar dari sisi ketinggiannya.

Terowongan mina menurut kami sangatlah besar. Jalur jalan di terowongan mina diberlakukan satu arah. Di dalam terowongan terdapat blower besar untuk meminimalkan hawa panas yang ada, disamping untuk memastikan ketersediaan oksigen.

Di tengah terowongan disediakan travelator untuk jamaah yang tidak kuat berjalan. Pada setiap titik memasuki travelator terdapat petugas askar yang melakukan pengaturan jamaah. Sesekali petugas askar tersebut menyemprotkan air ke jamaah.

Kami sendiri sepanjang perjalanan selalu menyemprotkan wajah kami dengan semprotan air mini yang selalu kami bawa. Semprotan air itu sangat membantu kami mengurangi kelelahan dan dehidrasi karena keringat dan hawa panas.

Hingga ke lokasi Lontar, terowongan mina seolah-olah terbagi menjadi 3 bagian terowongan. Pada setiap potongan, jamaah akan melewati area terbuka sepanjang sekitar 200 meter dan selanjutnya akan masuk lagi kedalam terowongan.

Pada area terbuka tersebut kita dapat melongok ke area yang ada di bawah. Pada saat berada di area terbuka, kami mendengar suara sirine ambulance yang terdengar berasal dari banyak ambulance.

Ketika ingin bergeser ke sisi jalan dan melongok ke bawah untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi, tentara yang bertugas di sepanjang jalur terowongan mina, menghalangi kami mendekati area pinggir dan memerintahkan kami untuk terus berjalan menuju ke area Lontar. Jadilah kami bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi di bawah.

Kami terus berjalan menuju ke Area Lontar. Alhamdulillah, setelah berjalan sepanjang 3 kilometer, kami mencapai jamarat dan segera melakukan prosesi Lontar.

Kami melontar seraya mengucapkan doa :

“Dengan nama Allah, Allah Maha Besar,

Usai melontar, kami memanjatkan doa sesuai dengan yang tertulis di buku panduan haji yang kami miliki.

“Segala puji bagi Allah, pujian yang banyak lagi baik dan membawa berkat di dalamnya. Ya Allah, sekali-kali ka mi tidak mampu mencakup(segala macam) pujian untuk-Mu, sesuai puji an Mu atas diri-Mu. Ya Allah, hanya kepada-Mu aku berserah, dari siksa-Mu aku mohon belas kasihan, dan kepada -Mulah aku berharap dan aku ta kut, maka terimalah ibadahku, perbesarlah pahalaku, kasihanilah kerendahan hatiku, teri malah taubatku, per kecil lah kekeliruanku perkenankanlah

permohonanku dan berikanlah permintaanku. Ya Allah kabulkanlah, terimalah persembahan kami ini dan janganlah kami di jadi kan orang-orang yang berdosa, tetapi masukkanlah kami dalam hamba -Mu yang saleh wahai Tuhan Yang Paling Pengasih.

Sesudahnya, kami menepi mencari area yang agak sedikit memiliki ruang untuk kami melakukan tahallul awal.

Kami bersama dengan rekan jamaah haji kami lainnya, saling mencukur rambut kami untuk bertahalul. Setelah mencukur rambut, kami berdoa :

“Segala puji bagi Allah yang telah menyelesaikan manasik kami, Ya Allah tambahkanlah kepada kami iman, keya kinan dan pertolongan dan ampunilah kami, kedua orang tua kami dan seluruh kaum muslimin

dan muslimat.”

Rasa haru usai melaksanakan Lontar Jumrah pertama kami. Doa syukur kami panjatkan. Prosesi Lontar jumrah pertama ini sudah berjalan sesuai dengan yang kami harapkan. Tidak ada halangan apapun selama dalam perjalanan ke lokasi jamarat.

Sesudah melakukan Tahallul awal, kami kemudian kembali ke perkemahan kami. Kami berdoa agar diberikan kemudahan yang sama saat dalam perjalanan kami kembali ke Perkemahan kami.

Merujuk kepada peta yang tersedia di perkemahan kami, jarak dari perkemahan ke Area Lontar adalah 2.5 kilometer, sedangkan jalur kembali ke perkemahan berjarak 3,2 kilometer. Jadi untuk satu kali prosesi melontar, kami harus memastikan fisik yang kuat untuk berjalan sejauh 5.7 kilometer.

Menjelang tiba di pintu akhir keluar terowongan, kami sempatkan untuk mengambil dokumentasi pribadi kami.   Terima kasih ya Allah ….. atas karunia yang Engkau berikan kepada kami, sehingga kami dapat menjalankan Ibadah Haji di tanah suciMU.

Pada saat sudah keluar dari terowongan terakhir, sempat terpikir bahwa Petugas yang memberikan informasi tentang kepadatan dan status Waktu Terlarang untuk Melontar, saat kami berada di pintu masuk terowongan, telah melakukan kebohongan.

Hal ini karena kami merasa kepadatan di dalam terowongan tidaklah sepadat yang diinformasikan oleh si petugas. Kepadatan yang terjadi masih memungkinkan kami berjalan dengan ritme yang teratur.

Namun pikiran itu kami hilangkan segera, dengan berpikir bahwa kepadatan tidak terjadi justru karena petugas telah memberikan informasi tentang kepadatan, sehingga hampir separuh jamaah memutuskan untuk kembali ke perkemahan, dan kami yang memutuskan untuk meneruskan prosesi Lontar, mendapatkan dampaknya dengan kepadatan yang jauh berkurang.

Disambut Suka Cita

Kami akhirnya tiba di perkemahan kami. Saat kami memasuki tenda, rekan-rekan jamaah haji yang ada di dalam tenda menyambut kami dengan antusias dan menyampaikan ucapan selamat kepada kami, serta memanjatkan syukur kehadirat Allah Subhanna Wa Ta’ala karena tidak ada halangan apapun, dan semua jamaah yang berangkat melontar, semua kembali dengan selamat.

Kami sempat berpikir ada apakah gerangan ?   Ternyata sesaat sebelum kami tiba, ada berita yang sampai ke tenda kami, bahwa di area lontar terjadi musibah desak-desakan di area lontar yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa.  

“Astagfirullah …   “ ucap kami.   “tidak ada kejadian apa-apa saat kami melontar” ujar kami.   Kami kemudian membuka situs detik.com melalui perangkat smartphone milik salah seorang rekan jamaah.

Usai membaca berita di situs internet detik.com menjadi jelas bagi kami bahwa suara raungan sirine ambulance pada saat kami melakukan prosesi Lontar, kami yakini adalah mobil ambulance yang sedang menangani dan membawa korban musibah mina tersebut.

Berita tersebut pasti sudah menyebar cepat di tanah air. Kami memohon izin kepada salah seorang rekan jamaah untuk meminjam thetering Wifi perangkat smartphonenya untuk kami gunakan mengaktifkan aplikasi facebook.

Yup, kami terpaksa melakukan update status kami di facebook untuk memberikan kabar kepada keluarga besar kami bahwa kami terhindar dari musibah mina.

Tak putus-putusnya doa syukur kami panjatkan kehadirat Allah Subhanna Wa Ta’ala. Kami bersyukur bahwa musibah mina yang terjadi bersamaan waktunya dengan saat kami melakukan Lontar jumrah, ternyata terjadi di lantai dasar, sedangkan kami melontar di lantai 3. Sungguh suatu karunia yang tiada terkira, kami dihindarkan dari musibah Mina.

Terlepas dari apapun alasan yang menyebabkan jamaah haji asal Indonesia menjadi korban musibah mina, kami semua sangat berduka. Semoga semua korban musibah mina mendapatkan jannah, mendapatkan surgaNya Allah Subhanna Wa Ta’ala .

Siang hingga sore hari, kami terus berbincang soal musibah yang terjadi. Pada saat pertama kali berita musibah mina kami dengar, kami berkeyakinan bahwa tidak aka nada jamaah asal Indonesia yang menjadi korban, karena musibah terjadi di lantai 1 tempat perkemahan jamaah haji Iran dan jamaah haji asal afrika. Sedangkan perkemahan Haji Indonesia akan mengarah ke area melontar di lantai 3.

Kabar pertama tentang Korban Musibah Mina dari Indonesia, kami dapatkan melalui situs internet. Saat kami baca, ternyata korban tersebut adalah Mukimin Indonesia yang sedang melaksanakan ibadah haji. Sehingga perkemahan mereka berbeda dengan perkemahan Indonesia.

Namun, keesokan harinya, kabar duka soal korban Musibah Mina yang berasal dari Indonesia kami dapatkan. Hampir 40 orang jamaah dari 1 kloter dikabarkan hilang dan menjadi korban. Kami sempat terheran-heran kenapa bisa ada korban dari Indonesia.

Perbincangan dan analis berlanjut. Beberapa hal yang menyebabkan jamaah Indonesia menjadi korban musibah mina adalah masalah ketaatan terhadap aturan yang telah ditetapkan oleh kerajaan Saudi.

Aturan tersebut diantaranya mengatur tentang jadwal melontar.   Jamaah haji asal Indonesia sudah diatur untuk melaksanakan Lontar jumrah pada pukul 8 malam dan pukul 10 malam , serta area melontar ada di area lantai 3.

Namun aturan ini banyak dilanggar oleh jamaah haji.   Mengejar Afdol adalah salah satu alasan melanggar jadwal melontar. Selain jadwal waktu, banyak jamaah yang ingin melakukan prosesi Lontar di lantai dasar.

Mengapa harus di lantai dasar ? karena beranggapan itulah afdolnya, mengingat di zaman nabi tidak ada proses Lontar di lantai 3.

Tertib Melontar Pada Hari Tasrik

Pasca musibah mina pada tanggal 10 Dzulhijjah, pihak maktab mulai tegas mewajibkan jamaah haji untuk melakukan prosesi melontar jumrah sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Saudi Arabia.

Pintu gerbang maktab selalu dijaga oleh petugas dan setiap jamaah haji yang terlihat keluar secara berombongan dan diketahui akan melakukan prosesi Lontar Jumrah, akan segera dihalau masuk kembali ke perkemahan jika ternyata masih berada di luar waktu melontar yang telah ditetapkan.

Perdebatan antar jamaah haji soal waktu melontar menghiasi perbincangan di dalam tenda kami di Mina.   Beberapa rekan jamaah menyatakan bahwa sunnahnya waktu melontar adalah pada waktu sesudah dhuhur. Hampir seluruh jamaah haji ingin sekali melakukan Lontar jumrah sesuai dengan sunnah, namun jika semua jamaah haji melakukan Lontar jumrah di waktu yang sama, tidak terbayang seperti apa kepadatan yang terjadi.

Itu mengapa pihak Kerajaan Arab Saudi melakukan penyusunan Jadwal untuk melakukan Lontar jumrah, dengan tujuan agar tidak terjadi kepadatan jamaah haji yang berpotensi membahayakan para jamaah.

Menurut beberapa rekan jamaah, penanggalan hijriah adalah penanggalan dengan system peredaran bulan. Pergantian hari menurut mereka terjadi pada sekitar pukul 6 sore. Jadi jika ada jamaah yang melontar jumrah di atas jam 6 sore, artinya jamaah itu melontar jumrah bukan untuk hari tersebut, tetapi untuk hari sesudah hari tersebut.

Ketika dimintakan pendapat, saya hanya menyampaikan beberapa hal, yang pertama adalah adanya perintah bahwa kita harus taat kepada ulil amri, taat kepada pemerintah, Nah dalam hal ini kita harus taat kepada pemerintah Arab Saudi yang telah melakukan pengaturan waktu Lontar jumrah.

Hal Kedua yang saya sampaikan adalah bahwa fakta agama islam lahir di arab Saudi, tentu yang paling faham soal aturan fiqih ritual haji adalah pemerintah Arab Saudi. Pastilah Pemerintah Arab Saudi pada saat menyusun jadwal melontar sudah memperhatikan aspek fiqih yang terkait dengan melontar jumrah.

Diskusi tidak menemui kesepahaman. Akhirnya semua dipersilahkan melakukan prosesi lontar jumrah sesuai dengan keyakinan masing-masing.

Saya beserta istri tercinta dan beberapa rekan jamaah haji memutuskan untuk melakukan prosesi Lontar jumrah usai sholat subuh dengan pertimbangan cuaca di sepanjang perjalanan menuju area lontar tidak terlalu panas dan tingkat kepadatan tidak terlalu tinggi.

Selama kami berhaji, praktis kami tidak mendapatkan bimbingan haji yang optimal dari Petugas Pembimbing Ibadah Haji yang ditugaskan oleh Pemerintah untuk mendampingi kami. Sepertinya Petugas PPIH kloter kami tidak memiliki kemampuan manajemen yang baik, sehingga tidak mampu melakukan pengaturan waktu untuk membimbing para jamaah haji regular.   Entah rombongan mana yang selalu mendapat pembimbingan dari petugas PPIH tersebut. Faktanya selain kegiatan Manasik di Madinah dan Mekkah, saya dan seluruh anggota regu saya tidak sama sekali mendapatkan pembimbingan dan pendampingan selama proses ritual ibadah haji.

Kami lebih memilih salah satu rekan jamaah kami untuk menjadi pembimbing kami dalam melaksanakan ritual ibadah haji. Kebetulan beliau adalah lulusan pesantren yang memahami tata cara ritual ibadah haji.

Kegiatan prosesi Lontar kami pada tanggal 11,12, dan 13 Dzulhijah, selalu kami lakukan waktunya bersamaan dengan kegiatan Lontar yang dilakukan oleh rekan jamaah haji yang kami mintakan sebagai pembimbing kami.

Alhamdulillah, seluruh prosesi melontar kami pada tanggal 11,12, dan 13 Dzulhijah berjalan dengan baik dan lancar. Kami panjatkan puji syukur kepada Allah Subhana Wa Ta’ala yang telah melimpahkan Rahmat dan hidayahnya kepada kami beserta istri, hingga kami dapat melaksanakan rangkaian ritual haji sejak wukuf di arafah hingga Lontar jumrah terakhir di Mina dengan lancar dan aman.

Bersiap Tahallul Akhir

Prosesi Lontar Jumrah pada tanggal 13 Dzulhijah adalah prosesi Lontar Jumrah yang terakhir, sekaligus menandai hari terakhir menginap di Tenda Mina.   Kami akan dibawa oleh bis kembali ke Hotel Pemondokan di Mekkah dan selanjutnya melaksanakan proses Tawaf Ifadah dan Sai sebelum akhirnya melakukan Tahallul Akhir.

Berdasarkan jadwal, kami akan dijemput oleh bis pada pukul 7 malam. Ketua kloter menyarankan kami untuk melaksanakan sholat isya di jama’ dengan sholat mahgrib.

Saat bis tiba di depan gerbang masuk perkemahan kami, satu per satu jamaah haji rombongan kami naik ke atas bis untuk kembali ke Hotel Pemondokan kami di Mekkah.

Situasi lalu lintas dalam perjalanan antara Mina dan hotel kami di mekkah masih padat karena sejak mahgrib seluruh jamaah haji di perkemahan mina akan dibawa kembali ke Hotel mereka masing-masing. Jadi dapat dibayangkan seperti apa kepadatannya.

Pukul 8 malam, kami tiba di Hotel pemondokan kami. “Alhamdulillah ….. akhirnya bisa kembali menikmati kasur empuk dan ruangan ber-AC ….” gurau teman-teman jamaah haji kami.

Masuk ke dalam kamar, kami segera merebahkan diri ke kasur empuk kami . “Subhanallah … Alhamdulillah …. nikmat dariMu ya Allah tidak ada putus-putusnya ….” Ucapku ketika akhirnya dapat beristirahat dengan nyaman.   Rekan jamaah haji kami bersepakat dengan kami untuk melakukan ritual Tawaf Ifadah dan Sai pada pukul 10 malam, sehingga ada waktu 2 jam untuk beristirahat.

Seputar Melontar Jumrah

Jumrah adalah tempat dalam lingkaran menyerupai sumur, atau separoh lingkaran yang terdapat bangunan tiang sebagai tanda, bukan tiang yang berdiri sebagaimana anggapan banyak orang. Oleh karenanya, yang wajib di lempar adalah lingkaran menyerupai sumur yang ditandai dengan berdirinya tiang, bukan tiang yang berdiri. Namun menurut imam Al-Romli, jika lemparannya mengenai tiang yang berdiri kemudian batunya jatuh dilingkaran yang menyerupai sumur, maka dianggap sudah mencukupi .

Jumrah ada tiga macam :

  1. Jumrah Aqobah. Yakni melempar pada tempat yang bentuknya kira-kira separuh lingkaran. Dalam melemparnya lebih utama dari muka, namun boleh dari samping atau belakang asalkan batu lemparannya mengenai pada tempat yang semestinya, yaitu separuh lingkaran yang menyerupai sumur .
  2. Jumrah Wustho. Yakni melempar pada tempat yang bentuknya lingkaran menyerupai sumur dan ditandai dengan tiang yang berdiri.
  3. Jumrah Shughro/Ula. Yakni melempar pada tempat yang bentuknya lingkaran menyerupai sumur dan ditandai dengan tiang yang berdiri.

Melempar jumrah adalah salah satu kewajiban haji, apabila tidak melaksanakannya, hukum hajinya tetap sah, namun wajib membayar denda (dam), yaitu menyembelih satu ekor kambing, sebagaimana dendanya haji tamattu'.

Melempar jumrah ada dua macam :

  1. Melempar satu jumrah Aqobah, pada hari Nahar. Yakni tanggal 10 Dzul Hijjah. Adapun waktunya, mulai lewat tengah malam Idul Adha setelah selesai dari mabit di Muzdalifah. Yang lebih utama dilaksanakan pagi hari saat matahari sudah tinggi. Dan berakhir sampai akhir hari Tasyriq.
  2. Melempar jumrah Shughro/Ula, Wustho dan Aqobah, pada hari-hari Tasyriq tanggal 11, 12 atau sampai 13 Dzul Hijjah bagi yang memilih nafar tsani. Adapun waktunya, setelah tergelincirnya matahari (dhuhur), Namun menurut imam Al-Haromain dan imam Al-Rofi’i yang di ikuti oleh mam Al-Isnawi, boleh dilakukan mulai setelah terbit fajar (shubuh), dan berakhir sampai akhir hari Tasyriq.

Syarat-syarat melempar jumrah:

  1. Menggunakan batu-batu kecil/kerikil.
  2. Lemparan dilakukan tujuh kali dengan tujuh batu krikil. Apabila ragu-ragu dalam hitungan lemparan, maka harus mengambil yang diyakini, yaitu bilangan yang terkecil. Jika tujuh batu krikil dilemparkan satu kali secara bersamaan, maka terhitung satu lemparan.
  3. Lemparan dilakukan dengan menggunakan tangan, bukan dengan kaki atau alat-alat pelontar, kecuali bagi yang tidak mampu melempar dengan tangan .
  4. Lemparannya diyakini atau diduga kuat mengenai pada tempatnya. Jika ragu-ragu tentang sampainya batu lemparan, maka harus diulangi lagi .
  5. Lemparan yang dilakukan, bertujuan untuk melempar sasaran jumrah, bukan yang lainnya.
  6. Melempar jumrah dilakukan sendiri, tidak boleh diwakilkan, kecuali bagi yang udzur karena sakit, serta diduga tidak akan sembuh sampai habis waktunya.
  7. Dilakukan pada waktunya.
  8. Melempar jumrah pada hari-hari Tasyriq, dilakukan secara berurutan. Yakni dimulai dari jumrah Shughro/Ula, Wustho dan berakhir pada jumrah Aqobah .

Sunnah-sunnah melempar jumrah

Diantara yang disunnahkan dalam melempar jumrah adalah:

  1. Lemparan dilakukan dengan tangan kanan.
  2. Setiap melempar, membaca takbir .
  3. Batu yang digunakan suci dari najis.
  4. Husus bagi laki-laki, melempar dengan mengangkat tangan tinggi-tinggi, sampai kelihatan ketiaknya.
  5. Mandi terlebih dahulu setiap akan melempar jumrah pada hari-hari Tasyriq.

Diantara yang dimakruhkan dalam melempar jumrah adalah:

  1. Menggunakan batu yang terkena najis.
  2. Menggunakan batu yang sudah pernah digunakan untuk melempar jumrah.
  3. Menggunakan batu besar.

Pelaksanaan melempar jumrah sebagaimana diatas, dapat dilakukan dengan cara Tadaruk. Yang dimaksud dengan Tadaruk adalah: Melempar jumrah dilakukan bukan pada hari-hari yang semestinya, namun masih dalam hari-hari Tasyriq, seperti melempar jumrah yang semestinya dilakukan pada tannggal 11 Dzul Hijjah, dilaksanakan pada tanggal 12 Dzul Hijjah atau tanggal 13 Dzul Hijjah bagi yang nafar tsani, atau melempar jumrah Aqobah yang semestinya dilakukan pada tanggal 10 Dzul Hijjah seusai dari mabit di Muzdalifah, dilaksanakan pada hari-hari Tasyriq tanggal 11, 12, Dzul Hijjah atau tanggal 13 Dzul Hijjah bagi yang nafar tsani.

Dengan kata lain, Tadaruk adalah, menunda pelaksanaan melempar jumrah pada hari-hari Tasyriq berikutnya. Hukum Tadaruk yang demikian ini di perbolehkan .

Apabila melempar jumrah dilakukan dengan cara Tadaruk, dilaksanakan pada tanggal 12 Dzul Hijjah, maka harus dilakukan secara berurutan/tartib, yakni mendahulukan melempar jumrah Aqobah untuk tanggal 10 Dzul Hijjah, jika belum melaksanakannya, kemudian beralih ketempat jumrah Shughro/Ula untuk melempar jumrah Shughro/Ula, lalu melempar jumrah Wustho, dan selanjutnya melempar jumrah Aqobah, untuk hari tasyriq 11 Dzul hijjah, kemudian dilanjutkan dengan kembali melempar jumrah Shughro/Ula, lalu Wustho, dan Aqobah untuk tanggal 12 Dzul Hijjah.

Tidak boleh dilakukan dengan cara melempar jumrah Aqobah tiga kali untuk tanggal 10, 11, dan 12 Dzul Hijjah, lalu melempar jumrah Shughro/Ula dua kali untuk tanggal 11 dan 12 Dzul Hujjah, dan melempar jumrah Wustho dua kali untuk tanggal 11 dan 12 Dzul Hijjah . Demikian juga harus dilakukan secara berurutan/tartib sebagaimana diatas, apabila Tadaruk di laksanakan pada tanggal 13 Dzul Hijjah bagi yang nafar tsani.

Seputar Tahallul

Tahallul adalah melepaskan diri dari hal-hal yang di haramkan sewaktu sedang melaksanakan ihram. Untuk ihram haji, ada dua macam Tahallul. Tahallul awal dan Tahallul tsani.

Apabila orang yang sedang ihram telah Tahallul awal, maka semua yang diharamkan sebab ihram menjadi halal kembali, kecuali larangan melakukan hubungan badan dengan istrinya dan bersentuhan kulit yang disertai syahwat.

Apabila telah Tahallul tsani, maka seluruhnya menjadi halal kembali, termasuk melakukan hubungan badan dengan istrinya. Bagi orang yang ihram haji, setelah lewat tengah malam hari Nahar atau Idul Adha, yakni saat mulai masuk waktu pelaksanaan melempar jumrah Aqobah, sudah dapat memulai melakukan proses Tahallul.

Ada tiga kewajiban yang harus dilalui dalam proses Tahallul.

  1. Melempar jumrah Aqobah.
  2. Cukur atau memotong rambut.
  3. Thawaf ifadloh.

Apabila dua dari tiga kewajiban tersebut dikerjakan, yakni, melempar jumrah Aqobah dan cukur/memotong rambut, atau thawaf ifadloh dan melempar jumrah Aqobah, atau thawaf ifadloh dan cukur/memotong rambut, maka telah Tahallul awal.

Oleh karenanya semua yang diharamkan sebab ihram, kecuali berhubungan badan dengan istri dan bersentuhan kulit yang disertai syahwat, menjadi halal kembali.

Apabila tiga kewajiban tersebut diatas telah di kerjakan semuanya, maka berarti telah Tahallul tsani, dan seluruh yang diharamkan sebab ihram menjadi halal kembali.

Tiga kewajiban tersebut diatas, disunnahkan di kerjakan secara berurutan/tartib, yakni dimulai dari melempar jumrah Aqobah, kemudian cukur/memotong rambut, dan terakhir thawaf ifadloh.

Mencukur atau memotong rambut kepala menurut sebagian ulama', adalah termasuk rukun Haji, sedikitnya yang dipotong tidak kurang dari tiga helai rambut, dan sunnah di lakukan setelah melempar jumrah Aqobah sebelum melakukan thawaf Ifadloh .

Perlu di ketahui, dalam pelaksanaan mencukur atau memotong rambut, tidak harus dilakukan oleh tukang cukur, bahkan boleh di lakukan sendiri atau orang lain dengan seizinnya.

Seputar Nafar

Yang dimaksud dengan nafar adalah, meninggalkan kawasan Mina setelah melaksanakan mabit di Mina. Nafar ada dua macam :

Nafar Awal. Yaitu berangkat meninggalkan kawasan Mina pada hari Tasyriq kedua, tanggal12 Dzul Hijjah. Hukumnya diperbolehkan dengan syarat :

  1. Telah menyelesaikan seluruh lemparan jumrah tanggal 12 Dzul Hijjah.
  2. Berangkat meninggalkan kawasan Mina disertai tujuan nafar awal, saat setelah dhuhur, dan sebelum masuk waktu maghrib . Jika telah keluar dari Mina sebelum maghrib, namun karena ada keperluan misalnya, kemudian kembali lagi ke kawasan Mina, maka hukumnya tetap diperbolehkan nafar awal. Menurut sebagai ulama’ dari madzhab Hanafi dan Hanbali, nafar Awal sudah bisa di lakukan sejak terbitnya fajar (shubuh) tanggal 12 Dzul Hijjah setelah menyelesaikan lemparan jumrah, Bahkan menurut madzhab Hanafi, boleh meninggalkan Mina setelah Maghrib, sebelum subuh tanggal 13 Dzul Hijjah, namun hukumnya makruh .

Nafar Tsani. Yaitu berangkat meninggalkan kawasan Mina pada hari Tasyriq ke tiga tanggal 13 Dzul Hijjah, dan ini lebih utama.

Tahallul Akhir

Setelah dirasakan cukup beristirahat, kami bersama rombongan memutuskan untuk segera menuju ke Masjidil Haram untuk melaksanakan Tawaf Haji dan Sai, serta akhirnya melaksanakan Tahallul Akhir.

Kami berjalan kaki ke masjidil haram, belum tersedia angkutan umum yang biasa kami tumpangi untuk menuju ke masjidil haram.   Jalur jalan di seputar Mekkah belum dibuka sepenuhnya oleh pihak otoritas Saudi Arabia.

Jalan raya menuju ke Masjidil Haram ternyata masih dipenuhi oleh jamaah haji yang hendak melaksanakan prosesi Tawaf dan Sai.

Setiba di masjidil haram, kami segera masuk menuju area kabah melalui jalur yang baru saja dibuka di area antara bangunan masjidil haram lama dengan masjidil haram perluasan. Sejak dibukanya jalur tersebut, kabah dapat kami lihat sejak kami masih berada di pelataran masjidil haram.

Setibanya di area tawaf kami segera mendekat ke area rukun yamani, sehingga saat tiba di rukun hajar aswad dapat memulai prosesi tawaf kami.

Saat tiba di Rukun Hajar aswad, kami membaca :

“Dengan nama Allah, Allah Maha Besar.”

Sambil mengangkat tangan, kemudian mengecupnya dan dimulailah putaran pertama tawaf kami.

Alhamdulillah, prosesi tawaf sebanyak 7 putaran dengan tuntunan doa sesuai buku panduan doa, dapat kami selesaikan dengan baik. Walaupun melelahkan, namun semangat untuk menyempurnakan seluruh rukun haji mengalahkan rasa lelah yang menghampiri kami.

Usai tawaf kami bergeser ke dekat Maqom Ibrahim untuk melaksanakan sholat sunat tawaf. Kepadatan jamaah haji yang sedang melakukan tawaf tidak memungkinkan kami untuk melaksanakan sholat tepat di depan maqom Ibrahim. Kami melaksanakan sholat sunnah Tawaf 2 rakaat di area yang sejajar dengan area maqom Ibrahim.

Kami tidak dapat melaksanakan sholat bersama-sama, namun harus bergantian. Istri tercinta melaksanakan sholat terlebih dahulu, sementara kami menjaga area sholat istri, utamanya area rukuk dan sujud, agar tidak dilalui oleh jamaah haji lainnya. Usai istri tercinta melaksanakan sholat sunnah tawaf, ganti kami yang melakukan sholat dan istri menjaga area rukuk dan sujud kami.

Pada shalat sunnah tawaf tersebut setelah membaca Fatihah pada rakaat pertama dianjurkan membaca Surat al-Kafirun, dan pada rakaat kedua setelah membaca Fatihah dianjurkan membaca Surat al-Ikhlas. Sesudah shalat kami dianjurkan berdo’a:

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau maha Mengetahui rahasiaku yang tersembunyi dan amal perbuatanku yang nyata, maka terimalah ratapanku. Engkau Maha Mengetahui keperluanku, kabulkanlah permohonanku. Engkau Maha mengetahui apapun yang terkandung dalam hatiku, maka ampunilah dosaku. Ya Allah, aku ini mohon pada-Mu iman yang tetap yang melekat terus di hati, keyakinan yang sungguh-sungguh saku dapat mengetahui bahwa tiada suatu yang menimpa daku selain dari yang Engkau tetapkan bagiku. Jadikanlah aku relah terhadap apapun yang Engkau bagikan padaku. Wahai Tuhan yang Maha pengasih dari segala yang pengasih. Engkau adalah pelindungku di dunia dan di akhirat. Wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah kami ke dalam orang-orang yang saleh. Ya Allah, janganlah Engkau biarkan di tempat kami ini suatu dosa pun kecuali Engkau ampunkan, tiada suatu kesusahan hati, kecuali Engkau lapangkan, tiada suatu hajat keperluan kecuali Engkau penuhi dan mudahkan, maka mudahkanlah segenar urusan kami dan lapangkanlah dada kami, terangilah hati kami dan sudahilah semua amal perbuatan kami dengan amal yang shaleh. Ya Allah, matikanlah kami dalam keadaan muslim, hidupkanlah kami dalam keadaan muslim, dan masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang shaleh tanpa kenistaan dan fitnah.”

Kami bergeser ke area depan multazam dan berdoa memohon ampun, memohon ridho, keselamatan, kesehatan, rezeki, serta memohon untuk dapat dipenuhi segala hajat kami, keluarga, orang tua, adik-adik dan kakak-kakak kami. Diakhir doa kami, selalu kami panjatkan doa :

Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan hidup di dunia dan kebaikan hidup di akhirat, dan jagalah kami dari siksa api neraka.

Prosesi selanjutnya adalah sai, perjalanan antara bukit safa dan bukit marwah.   Kami bersama rombongan berjalan beriringan menuju ke area sai. Sama halnya dengan area tawaf, area sai juga dipadati oleh jamaah haji yang akan melaksanakan sai.

Prosesi sai kami laksanakan tetap dalam formasi rombongan.   Dibandingkan dengan ritual tawaf, agak mudah menjaga keutuhan rombongan kami.

Perjalanan sai dimulai dari bukit Shafa menuju bukit Marwah dan saat berada di bukit shafa menghadap Ka’bah berdo’a :

“Allah maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Segala puji bagi Allah, Allah Maha Besar, atas petunjuk yang diberikan-Nya kepada kami, segala puji bagi Allah atas karunia yang telah dianugerahkan-Nya kepada kami, tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujian. Dialah yang menghidupkan dan mematikan, pada kekuasaan-Nya lah segala kebaikan dan Dia berkuasa atas segala sesuatu. Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, yang telah menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan menghancurkan sendiri musuh-musuh-Nya. Tidak ada Tuhan selain Allah dan kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya dengan memurnikan (ikhlas) kepatuhan semata kepada-Nya walaupun orang-orang kafir membenci.”

Kami melakukan prosesi sai dengan khidmat. Pembacaan doa selama ritual sai dipandu oleh salah satu rekan jamaah haji yang memimpin di depan rombongan kami. Perjalanan sai sebanyak 7 putaran, yang dilakukan usai melaksanakan tawaf mengitari kabah 7 putaran, tentunya sangat melelahkan. Namun, lelah kami tersebut dapat dikalahkan dengan semangat untuk menyelesaikan rukun haji kami.

Alhamdulillah, 7 putaran sai dapat kami laksanakan dengan baik dan lancar. Seluruh anggota rombongan jamaah haji kami juga tidak mendapatkan masalah yang berarti saat melakukan prosesi sai. Rona ceria mewarnai wajah rekan-rekan jamaah haji saat akhirnya tiba di bukit Marwah.

Tiba di bukit marwah pada putaran terakhir sai, kami semua berdoa :

“Ya Allah ya Tuhan kami, terimalah amalan kami, berilah perlindungan kepada kami, maafkanlah kesalahan kami dan berilah pertolongan kepada kami untuk taat dan bersyukur kepada-Mu. Janganlah Engkau jadikan kami bergantung selain kepada-Mu. Matikanlah kami dalam iman dan Islam secara sempurna dalam keridhaan-Mu. Ya Allah rahmatilah kami sehingga mampu meninggalkan segala kejahatan selama hidup kami, dan rahmatilah kami sehingga tidak berbuat hal yang tidak berguna. Karuniakanlah kepada kami sikap pandang yang baik terhadap apa-apa yang membuat-Mu ridha terhadap kami. Wahai Tuhan Yang Maha Pengasih dari segala yang pengasih.”

Kami kemudian melaksanakan prosesi potong rambut untuk menandai tahallul akhir. Kami bergantian melaksanakan prosesi gunting rambut. Usai menggunting rambut, kami masing-masing berdoa :

“Segala puji bagi Allah yang telah menyelesaikan manasik kami. Ya Allah tambahkanlah kepada kami iman, keyakinan dan pertolongan dan ampunilah kami, kedua orang tua kami dan seluruh kaum muslimin dan muslimat.”

Alhamdulillah ….. selesai sudah seluruh rukun haji kami tunaikan. “ Ya Allah …… terima kasih atas Rahmat dan karuniaMu yang tiada terkira ini ….. “ doaku mengucap syukur sebelum meninggalkan area sai, keluar masjidil haram, dan kembali ke Hotel Pemondokan kami.