^Kembali ke Atas

foto1 foto2 foto3 foto4 foto5

Bersemangat Saat Sai

Kami kemudian bersiap untuk melakukan sai. Mengingat apa yang disampaikan oleh Petugas Pembimbing Haji saat manasik di Tanah Air dan di Madinah, Setelah selesai melakukan shalat 2 rakaat di Maqam Ibrahim, Jamaah haji akan menuju ke bukit Shafa untuk melaksanakan sai.

Secara makna Sai adalah sebuah pencarian, jadi merupakan gerakan yang memiliki tujuan dan digambarkan dengan gerak bergegas-gegas. Dalam melaksanakan sai segala bentuk, pola, warna, derajat, kepribadian, batas, perbedaan dan jarak dihancurkan. Yang disaksikan adalah manusia yang polos, penuh keyakinan, kepercayaan dan aksi untuk melakukan gerak abadi menuju ke suatu arah tertentu. Tidak ada sesuatupun yang menonjol. Gerakan tersebut seperti gerakan seluruh alam semesta ini.

Ketika sai, kita berperan sebagai Hajar, hamba sahaya yang mempunyai hubungan akrab dengan Allah. Dialah ibu dari nabi-nabi yang besar dan merupakan pribadi terpenting dalam sai. Allah menyuruh Hajar untuk patuh kepada-Nya dan Dia akan memelihara Hajar beserta putranya, menjaga mereka, memenuhi kebutuhan mereka, menjamin masa depan mereka. Hajar merupakan teladan kepasrahan dan kepatuhan yang sangat teguh dalam keyakinan dan bersandar kepada cinta, menyerah pada kehendak Allah ditinggalkan pada lembah yang gersang.

Namun Hajar dalam kepasrahannya itu tidak duduk berdiam diri. Ia bangkit sendirian berlari-lari antara bukit Shafa dan Marwa untuk mencari air. Ia terus mencari, bergerak dan berjuang dengan tekad bersandar pada dirinya sendiri, kepada kakinya, kepada kemauannya dan kepada pikirannya. Ia seorang wanita yang bertanggung jawab. Ia seorang ibu yang mencinta, sendirian, mengelana, mencari, dan menanggungkan penderitaan serta kekuatiran. Tanpa pembela, tanpa tempat teduh, terlunta-lunta, terasing, tidak mempunyai kelas, tidak mempunyai ras dan tidak berdaya. Namun ia mempunyai harapan

Sai adalah perjuangan fisik untuk mencari air. Hanya seorang diri, Hajar berlari ke puncak-puncak bukit (tidak duduk termangu dan menangis putus asa) untuk mencari air. Yang diharapkannya adalah air, bukan hal-hal yang gaib, hal-hal metafisis, cinta kepasrahan, kepatuhan, jiwa, pandangan filosofis, surga dan akherat. Hajar sangat membutuhkan air untuk diubah menjadi darah dan susu demi memuaskan dahaga seorang bayi. Pencarian air ini melambangkan pencarian materi kehidupan di dunia ini, demikian cara mendapatkan sorga di atas dunia dan menikmatinya dalam kehidupan ini.

Sai adalah ritual ibadah Haji and Umrah yang dilakukan dengan cara berjalan dari Shofa ke Marwah dan sebaliknya sebanyak 7 kali dengan tata cara yang khusus.

Beberapa hal yang menjadi syarat syah Sa’I adalah sebagai berikut :

  1. Dilaksanakan setelah Thawwaf.
  2. Harus terdiri dari 7 kali perjalanan dari Shofa ke Marwah dan sebaliknya.
  3. Perjalanan ganjil (ke- 1,3,5,7) di mulai dari Shofa, sedangkan perjalanan genap (ke- 2,4,6) dimulai dari Marwah.
  4. Awal Sa’I dimulai dari Shofa dan akhir Sa’I ditamatkan di Marwah.
  5. Dilaksanakan di Mas’a (yaitu tempat Sa’I antara Shofa dan Marwah).
  6. Harus mencakup seluruh ruang melintang antara Shofa dan Marwah, karenanya saat di Shofa maupun Marwah harus menyentuh / meletakkan jari jemari dan telapak kaki di batu bukit Shofa maupun Marwah.
  7. Tujuh Perjalanan Shofa – Marwah harus berkesinambungan.
  8. Tujuh perjalanan Shofa – Marwah harus yakin.

Barangsiapa ragu terhadap jumlah perjalanan Sa’Inya maka diambil hitungan yang lebih sedikit.

Sedangkan Sunnah Sa’I antara lain adalah :

  1. Suci dari hadats besar dan kecil
  2. Bersih dari Najis baik di badan maupun di pakaian.
  3. Menutup Aurat.

Kami melakukan sai dengan posisi saya berada disisi kiri istri tercinta. Selama prosesi sai, istri memandu bacaan doa selama sai berlangsung.

Ketika Hendak Mendaki Bukit Safa sebelum Memulai Sa’I, kami membacakan doa sesuai yang terdapat dalam buku panduan doa yang kami miliki :

Bismillaahirrahmaanirrahiim, Abda'u bimaa bada Allaahu bihi warasuuluh. Innas safa walmarwata min sya'airillah Faman hajjal baita awi'tamara fala junaha 'alaihi ayyatawwafa bihima waman tatawwa'a khairan fa innallaha syakirun 'alim

“Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Aku mulai dengan apa yang telah dimulai oleh Allah dan RasulNya. Sesungguhnya Safa dan Marwah sebagian dari Syi'ar-Syi'ar (tanda kebesaran) Allah. Maka barang siapa yang beribadah Haji ke baitullah ataupun berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i antara keduanya. Dan barang siapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Penerima Kebaikan lagi maha Mengetahui “

Saat tiba di atas bukit Safa, kami kemudian berdoa sambil menghadap ka’bah

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamdu. Allahu Akbar 'alama hadana walhamdulillahi 'alama aulana la ilaha illalahu wahdahu la syarika lahu, lahul mulku walahul hamdu yuhyi wayumitu biyadihil khairu wahuwa 'ala kulli syai inqadir. La ilaha illallahu wahdahu lasyarika lah, anjaza wa'dahu wanasara 'abdahu wahazamal ahzaba wahdah, la ilaha illallahu wala na' buduilla iyyahu mukhilisina lahuddina walau karihal kafirun

“Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar. Segala puji bagi Allah, Allah Mahabesar, atas petunjuk yang diberikan-Nya kepada kami, segala puji bagi Alloh atas karunia yang telah dianugerahkan-Nya kepada kami, tidak ada Tuhan selain Alloh Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujian. Dialah yang menghidupkan dan mematikan, pada kekuasaan-Nya lah segala kebaikan dan Dia berkuasa atas segala sesuatu, Tiada Tuhan Selain Alloh Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, yang telah menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya dan menghancurkan sendiri musuh-musuh-Nya, Tidak ada Tuhan selain Alloh dan kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya dengan memurnikan (ikhlas) kepatuhan semata kepada-Nya, walaupun orang- orang kafir membenci.

Perjalanan Sai – Keteladanan Bunda Hajar

Perjalanan Sai Pertama dari Safa ke Marwah

Kami kemudian memulai perjalan pertama sai, yaitu perjalanan antara Safa menuju Marwah. Sepanjang perjalanan dari Safa hingga ke tanda Pilar berwarna Hijau, kami membaca doa sebagai berikut :

"Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar kabira, walhamdu lillahi kasira. Wasubhaanallahil'azimi wabiham dihil karimi bukratawwa asila. Waminal laili fasyjud lahu wasabbih-hu lailan tawila. La ilaha illallahu wahdah anjaza wa'dah. Wanasara 'abdah wahazamal ahzaba wahdah. La syai a qablahu wala ba'dahu Yuhyii wayumiitu wahuwa hayyun daa imun layamutu walayafutu abada. Biyadihil khairu wailaihil masiir. Wahuwa'ala kulli syai in qadir"

"Allah Maha Besar Allah Maha Besar Allah Maha Besar, Allah Maha Besar dengan segala kebesaraNya. Segala puji bagi Allah Yang Maha Agung dengan segala pujianNya yang tidak terhingga. Maha Suci Allah dengan pujian Yang Maha Mulia diwaktu pagi dan petang. Bersujud dan bertasbihlah padaNya sepanjang malam. Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa yang menepati janjiNya membela hamba-hmbaNya yang menghancurkan musuh-musuhNya dengan keEsaanNya tidak ada sesuatu sebelumNya dengan keEsaanNya, tidak ada sesuatu sebelumNya atau sesudahNya. Dialah yang menghidupkan dan mematikandan Dia adalah Maha Hidup kekal tiada mati dan tiada musnah (hilang) untuk selama-lamanya. Hanya ditanganNyalah terletak kebajikan dan kepadaNyalah tempat kembali dan hanya Dialah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu."

Pada saat berada di area Pilar Lampu Hijau, kami berlari kecil sambil berdoa :

"Rabbighfir warham wa'fu watakarram watajaawaz 'ammaa ta'lamu, innaka ta'lamu, mala na'lamu, Innaka antallahul a'azzul akram."

Ya Allah, ampunilah, sayangilah, maafkanlah, bermurah hatilah dan hapuskanlah apa-apa yang Engkau ketahui dari dosakami. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui apa-apa yang kami sendiri tidak tahu. Sesungguhnya Engkau ya Allah Maha Tinggi dan Maha Pemurah.

Kemudian kami melanjutkan perjalanan hingga ke Bukit Marwah. Saat akan mendekati Bukti Marwah kami membaca doa :

"Inna Safa walMarwata min sya'airillah. Faman hajjal bita awi'tamara fala junaha 'alaihi ayyatawwafa bihima. Waman tatawwa'a khairan fainnallaha syakirun 'alim."

"Sesungguhnya safa dan marwah sebagian dari syi'ar-syi'ar (tanda kebesaran) Allah. Maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah ataupun berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i antara keduanya. dan barang siapa mengerjakan sesuatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha menerima kebaikan dan Maha Mengetahui."

Perjalanan Sai Kedua dari Marwah ke Safa

Ketika tiba di Marwah, kami sudah selesai melakukan perjalanan Pertama Sai. Kami melanjutkan Perjalanan Kedua dari Marwah ke Safa dengan membaca doa hingga ke Pilar Lampu Warna Hijau sebagai berikut :

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar walillahil hamdu. Laa ilaaha illallaahul waahidul fardus shamad. Allazi lam yattakhiz shaahibatan walaa waladan walam yakun lahu syarikun fil mulki walam ya kun lahu waliyyun minazzulli wakabbirhu takbira. Allahumma innaka kulta fi kitabikal munazali ud'uni astajib lakum da'aunaka rabbana `fagfir lana kama amartana innaka latukhliful mi'ad. Rabbana innana sami'na munadiyan yunadi lil imani anaminu birabbikum fa'amanna. Rabana fagfirlana zunubana wa kaffir 'anna sayyiatina watawaffana ma'al abrar. rabbana wa atina mawa'ad tana ala rusulika wala tukhzina yaumal qiyamati innaka latukhliful mi'ad. Rabbana 'alaika tawakkalna wailaika anabna wailaikal masir. Rabbanagfirlana zunuwali ikhwaninal lazina sabaquna bil imani wala taj'al fi qulubina gillal lillazina amanu rabbana innaka ra ufurrahim."

Allah Maha Besar, Allah maha Besar, Allah Maha Besar, hanya bagi Allahlah segala pujian. Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa. Tumpuan segala maksud dan hajat. Tidak beristri dan tidak beranak, tidak bersekutu dalam kekuasaan. Tidak menjadi pelindung kehinaan. Agungkanlah Dia dengan segenap kebesaran.

Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah berfirman dalam Qur'anMu :"Berdo'alah kepadaKu niscaya akan Kuperkenankan bagimu". Sekarang kami telah memohon kepadaMu wahai Tuhan kami. Ampunilah kami seperti halnya Engkau telah perintahkan kepada kami., sesungguhnya Engkau tidak akan memungkiri janji.

Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman (yaitu)"berimanlah kamu kepada Tuhanmu", maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti. Ya Tuhan kami berilah kami apa yang Engkau telah janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kmi di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji. Ya Allah, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal, dan hanya kepada Engkaulah tumpuan segala sesuatu dan kepada Engkaulah tempat kembali.

Ya Allah, ampunilh kami serta semua saudara kami yang telah mendahului kami beriman kepada Engkau dan jangan menjadikn kedengkian dalam kalbu kami terhadap mereka yang telah beriman. Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengasih dan Maha Penyayang."

Saat tiba kembali di Pilar warna Hijau, kami membaca doa :

"Rabbigfir warham wa'fu watakarram watajawaz'amma ta'lam, innaka ta'lamu mala na'lam. Innaka antallahul a'azzul akram." 

"Ya Allah, ampunilah, sayangilah, maafkanlah, bermurah hatilah dan hapuskanlah apa-apa yang Engkau ketahui dari dosa kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui apa-apa yang kami sendiri tidak tahu. Sesungguhnya Engkau ya Allah Maha Tinggi dan Maha Pemurah."

Kami melanjutkan perjalanan, dan ketika mendekati Bukit Safa, kami membaca doa :

إ

"Inna Safa walMarwata min sya'airillah. Faman hajjal bita awi'tamara fala junaha 'alaihi ayyatawwafa bihima. Waman tatawwa'a khairan fainnallaha syakirun 'alim." 

"Sesungguhnya safa dan marwah sebagian dari syi'ar-syi'ar (tanda kebesaran) Allah. Maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah ataupun berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i antara keduanya. dan barang siapa mengerjakan sesuatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha menerima kebaikan dan Maha Mengetahui."  

Perjalanan Sai Ketiga dari Safa ke Marwah

Saat tiba di Bukit Safa, kami sudah tuntas melaksanakan Perjalanan kedua. Kami melanjutkan perjalanan sai ketiga dari Bukit Safa ke Bukit Marwah, dengan membaca doa :

Allahu akbar Allahu Akbar Allahu Akbar walillahil hamdu Rabbana atmim lana nurana waghfirlana innaka 'ala kulli syai in qadir. Allahumma inni as alukal khaira kullahu ajilahu wa ajilahu wa astagfiruka lizanbi waasaluka rahmataka ya arhamar rahimin

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Hanya bagi Allah semua pujian. Ya Allah sempurnakanlah cahaya terang bagi kami, ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa Atas segala sesuatu. Ya Allah, sesungguhnya aku mohon padaMu segala kebaikan yang cepat atau lambat dan aku mohon ampunan padaMU akan dosaku serta aku mohon padaMu rahmatMu wahai Tuhan yang Maha Pengasih dari segenap yang pengasih

Saat kami tiba diantara Dua Pilar Hijau, kami membaca do’a :

"Rabbigfir warham wa'fu watakarram watajawaz'amma ta'lam, innaka ta'lamu mala na'lam. Innaka antallahul a'azzul akram." 

"Ya Allah, ampunilah, sayangilah, maafkanlah, bermurah hatilah dan hapuskanlah apa-apa yang Engkau ketahui dari dosakami. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui apa-apa yang kami sendiri tidak tahu. Sesungguhnya Engkau ya Allah Maha Tinggi dan Maha Pemurah."

Selanjutnya saat mendekati bukit Marwah, kami membaca :

"Inna Safa walMarwata min sya'airillah. Faman hajjal bita awi'tamara fala junaha 'alaihi ayyatawwafa bihima. Waman tatawwa'a khairan fainnallaha syakirun 'alim." 

"Sesungguhnya safa dan marwah sebagian dari syi'ar-syi'ar (tanda kebesaran) Allah. Maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah ataupun berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i antara keduanya. dan barang siapa mengerjakan sesuatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha menerima kebaikan dan Maha Mengetahui." 

Perjalanan Sai Keempat dari Marwah ke Safa

Alhamdulillah, kami sudah memasuki perjalanan sai ke 4 dari Bukit Marwah ke Bukit Safa. Kami kembali membaca doa mulai dari bukit Marwah sampai pilar hijau


Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar walillahil hamdu. Allahumma inni as aluka min khairi ma ta'lamu wa a'uzubika min syarri mata'lamu wa astagfiruka min kulli mata'lamu innaka anta 'allamul guyub. La ilaha illallahul malikul haqqul mubin. Muhammadur rasulullah sadiqul wa'dil amin. Allahumma inni as aluka kama haditani lil islami an la tanzi 'ahu minni hatta tatawaffani wa ana muslimun. Allahummaj'al fi qalbi nura. Allahummasyroh li sadri wayassirli amri wa a'uzubika min waShallallahu ‘Alaihi Wasallam isis sadri wasyatatil amri wafit natil qabri. Allahumma inni a'uzubika min syarri ma yaliju fillaili wa syarri ma yaliju finnahari wamin syarri matahubbu bihir riyahu ya arhamar rahimin. Subhanaka ma 'abadnaka haqqa ibadatika ya Allahu Subhanaka ma zakarnaka haqqa zikrika ya Allahu."

 “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Segala puji bagi Allah. Ya Allah Tuhanku, aku mohon padaMu dari kebaikan yang Engkau tahu dan berlindung padaMu dari kejahatan yang Engkau tahu, dan aku mohon ampun padaMu dri segala kesalahan yang Engkau ketahui, sesungguhnya Engkau Maha mengetahui yang gaib. Tidak ada Tuhan selain Allah Maha Raja yang sebenar-benarnya. Muhammad utusan Allah yang selalu menepati janji lagi terpercaya. Ya Allah sebagaimana Engkau telah menunjuki aku memilih Islam, maka aku mohon kepadaMu untuk tidak mencabutnya sehingga aku meninggal dalam keadaan Muslim. Ya Allah berilah cahay terang dalam hati, telinga dan penglihatanku. Ya Allah lapangkanlah dadaku dan mudahkan bagiku segala urusan. Dan aku berlindung padaMu dari keraguan, simpang-siur urusan dan fitnah kubur. Ya Allah aku berlindung padaMu dari kejahatan yang tersembunyi diwaktu malam dan siang hari, serta kejahatn yang dibawa angin lalu, wahai Tuhan Yang Maha Pengasih dari segenap yang pengasih. Ya Allah, Maha Suci Engkau kami tidak menyembahMu dengan pengabdian yang semestinya ya Allah. 

Saat mencapai area diantara Dua Pilar Hijau, kami membaca do’a :

"Rabbigfir warham wa'fu watakarram watajawaz'amma ta'lam, innaka ta'lamu mala na'lam. Innaka antallahul a'azzul akram." 

"Ya Allah, ampunilah, sayangilah, maafkanlah, bermurah hatilah dan hapuskanlah apa-apa yang Engkau ketahui dari dosakami. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui apa-apa yang kami sendiri tidak tahu. Sesungguhnya Engkau ya Allah Maha Tinggi dan Maha Pemurah."

Do’a Ketika mendekati bukit Safa, membaca :

"Inna Safa walMarwata min sya'airillah. Faman hajjal bita awi'tamara fala junaha 'alaihi ayyatawwafa bihima. Waman tatawwa'a khairan fainnallaha syakirun 'alim." 

"Sesungguhnya safa dan marwah sebagian dari syi'ar-syi'ar (tanda kebesaran) Allah. Maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah ataupun berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i antara keduanya. dan barang siapa mengerjakan sesuatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha menerima kebaikan dan Maha Mengetahui."

Perjalanan Sai kelima dari safa ke Marwah

Alhamdulillah, hanya bersisa 3 perjalanan sai. ami lanjutkan perjalanan sai kelima dengan membaca doa sepanjang bukit safa sampai dengan ke Tanda Pilar Hijau :

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar walillahil hamdu. Subhanaka ma syakarnaaka haqqa syukrika ya Allahu subhanaka ma a'la sya'naka ya Allahu. Allahumma habbib ilainal imana wa zayyinhu fi qulubina wakarrih ilainal kufra walfu suqa wal'isyana waj'alna minar rasyidin.

Allah Maha Besar Allah Maha Besar Allah Maha Besar. Hanya untuk Allah segala puji. Maha Suci Engkau seperti kami bersyukur pada-Mu sebenar-benar syukur wahai Allah. Maha Suci Engkau sepadan ketinggian-Mu wahai Allah. Ya Allah cintakanlah kami kepada iman dan hiaskanlah di hati kami, bencikanlah kami pada perbuatan kufur, fasiq dan durhaka. Masukanlah kami kedalam golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.

Diantara dua pilar hijau membaca do’a : 

"Rabbigfir warham wa'fu watakarram watajawaz'amma ta'lam, innaka ta'lamu mala na'lam. Innaka antallahul a'azzul akram." 

"Ya Allah, ampunilah, sayangilah, maafkanlah, bermurah hatilah dan hapuskanlah apa-apa yang Engkau ketahui dari dosakami. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui apa-apa yang kami sendiri tidak tahu. Sesungguhnya Engkau ya Allah Maha Tinggi dan Maha Pemurah. 

Saat mendekati bukit Marwah, kami membaca doa :

"Inna Safa walMarwata min sya'airillah. Faman hajjal bita awi'tamara fala junaha 'alaihi ayyatawwafa bihima. Waman tatawwa'a khairan fainnallaha syakirun 'alim." 

"Sesungguhnya safa dan marwah sebagian dari syi'ar-syi'ar (tanda kebesaran) Allah. Maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah ataupun berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i antara keduanya. dan barang siapa mengerjakan sesuatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha menerima kebaikan dan Maha Mengetahui."

Perjalanan Sai Keenam dari Marwah ke Saf

Walaupun sudah sedemikian lelah, kami tetap bersemangat untuk menuntaskan prosesi sai. Alhamdulillah kami sudah menyelesaikan 5 perjalanan dan akan kami lanjutkan dengan Perjalanan Sai keenam dengan membaca doa sepanjang perjalan dari Marwah hingga ke Batas pilar hijau :

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar walillahil hamdu. La ilaha illallahu wahdah, sadaqa wa'dah, wanasara 'abdah wahazamal ahzaba wahdah. La ilaha illallahu wala na'budu illa iyyahu mukhlisina lahuddina walau karihal kafirun. Allahumma inni 'as'alukal huda wattuqa wal 'afafa walghina. Allahumma lakal hamdu kallazi naqulu wakhairan mimma naqulu. Allahumma inni as'aluka ridaka waljannata wa a'uzubika min sakhatika wannari wama yuqarribuni ilaiha min qaulin aufi'lin au'a malin. Allahumma binurikah tadaina wabifadlika istagnaina wa fi kanafika wa in amika wa'ata ika wa ihsanika asbahna wa amsaina antal awwalu fala qablaka syai'un wal akhiru fala ba'daka syai'un wazzahiru fala syai'a dunaka na'uzubika minal falasi wal kasali wa'azabil qabri wafitnatil gina wa nas'alukal fauza biljannah.

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar Segala puji hanya untuk Allah. Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, yang menepati janjiNya, menolong hambaNya dan menghancurkan musuh dengan ke-Esaan-Nya. Tiada Tuhan yang disembah selain Allah. Dan kami tidak menyembah selain dari Dia dengan ikhlas tunduk dan patuh pada agama sekalipun orang-orang kafir benci. Ya Allah aku mohon padaMu petunjuk, pemeliharaan, penjagaan dan kekayaan. Ya Allah, padaMu lah segala puji seperti yang kami ucapkan bahkan lebih baik dari yang kami sendiri ucapkan. Ya Allah, kami mohon padaMu ridho dan surga dan aku berlindung padaMu dari murkaMu dan neraka, dan apapun yang kekal yang mendekatkan daku kepadanya, baik ucapan, perbuatan maupun pekerjaan. Ya Allah, hanya dengan nur cahayaMu kami ini mendapat petunjuk, dengan pemberianMu kami merasa cukup, dalam naunganMu, nikmatMu, anugerahMu dan kebajikannMu jualah kami ini berada diwaktu pagi dan petang. Engkaulah yang mula pertama, tidak ada suatupun yang ada sebelumMu dan Engkau pulalah yang paling akhir dan tidak ada sesuatupun yang ada sebelumMu dan Engkau pulalah yang paling akhir dan tidak ada sesuatupun yang ada dibelakangMu. Engkaulah yang dzahir, maka tidak ada sesuatupun yang mengatasi Engkau. Engkau pulalah yang batin, maka tidak ada sesuatupun menghalangi Engkau. Kami berlindung padaMu dari pailit, malas,siksa kubur dan fitnah kekayaan serta kami mohon padaMu kemenangan memperoleh surga.

Saat Diantara Dua Pilar Hijau, kami membaca do’a :

"Rabbigfir warham wa'fu watakarram watajawaz'amma ta'lam, innaka ta'lamu mala na'lam. Innaka antallahul a'azzul akram." 


"Ya Allah, ampunilah, sayangilah, maafkanlah, bermurah hatilah dan hapuskanlah apa-apa yang Engkau ketahui dari dosakami. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui apa-apa yang kami sendiri tidak tahu. Sesungguhnya Engkau ya Allah Maha Tinggi dan Maha Pemurah."

Ketika mendekati bukit Safa, kami membaca doa :

Inna Safa walMarwata min sya'airillah. Faman hajjal bita awi'tamara fala junaha 'alaihi ayyatawwafa bihima. Waman tatawwa'a khairan fainnallaha syakirun 'alim." 

"Sesungguhnya safa dan marwah sebagian dari syi'ar-syi'ar (tanda kebesaran) Allah. Maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah ataupun berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i antara keduanya. dan barang siapa mengerjakan sesuatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha menerima kebaikan dan Maha Mengetahui."

Perjalanan Sai Ketujuh dari Safa ke Marwah

Alhamdulillah, akhirnya kami hanya menyisakan 1 kali perjalanan sai dari Safa ke Marwah. Sesuai dengan buku panduan, Kami tetap berdoa disepanjang perjalanan dari Safa hingga ke tanda pilar Hijau :

"Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar kabira walhamdu lillahi kasira. Allahumma habbib ilayyal imana wazayyinhu fi qalbi wakarrih ilayyal kufra wal fusuqa wal 'isyana waj'alni minar rasyidin".

Allah Maha Besar Allah Maha Besar Allah Maha Besar. Segala puji kembali kepada Allah. Ya Allah cintakanlah aku kepada iman, hiaskanlah ia dikalbuku. Bencikanlah padaku perbuatan kufur, fasiq dan durhaka. Dan masukkanlah pula aku dalam golongan orang yang mendapat petunjuk.

Saat mencapai daerah Diantara dua pilar Hijau, kami membaca do’a :

"Rabbigfir warham wa'fu watakarram watajawaz'amma ta'lam, innaka ta'lamu mala na'lam. Innaka antallahul a'azzul akram." 

"Ya Allah, ampunilah, sayangilah, maafkanlah, bermurah hatilah dan hapuskanlah apa-apa yang Engkau ketahui dari dosakami. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui apa-apa yang kami sendiri tidak tahu. Sesungguhnya Engkau ya Allah Maha Tinggi dan Maha Pemurah."

Ketika mendekati bukit Marwah, kami membaca doa :

Inna Safa walMarwata min sya'airillah. Faman hajjal bita awi'tamara fala junaha 'alaihi ayyatawwafa bihima. Waman tatawwa'a khairan fainnallaha syakirun 'alim." 

"Sesungguhnya safa dan marwah sebagian dari syi'ar-syi'ar (tanda kebesaran) Allah. Maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah ataupun berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i antara keduanya. dan barang siapa mengerjakan sesuatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha menerima kebaikan dan Maha Mengetahui."

Alhamdulillah, saat tiba di Bukit Marwah, adalah pertanda bahwa pada akhirnya kami menyelesaikan seluruh prosesi perjalanan Sai. Setiba di Bukit Marwah, kami membaca doa

"Allahumma rabbana taqabbal minna wa'afina wa,fu 'anna wa'ala tha atika wasyukrika a'inna wa'ala ghairika latakilna wa alal imani wal islamil kamili jami'an, tawaffana wa anta radin anna. Allahummar hamni bitarkil ma'asi abadan ma abqaitani warhamni an atakalaffa ma la ya'nini warzugni husnan nazari fima yurdika anni ya arhamar rahimin".

Ya Allah kami mohon diterima do'a kami, afiatkan dan ampunilah kami, berilah pertolongan kepada kami untuk taat dan bersyukur kepadaMu. Janganlah Engkau jadikan kami bergantung selain kepadaMu. Matikanlah kami dalam Islam yang sempurna dalam keridhaanMu. Ya Allah rahmatilah diri kami sehingga mampu meninggalkan segala kejahatan selama hidup kami, dan rahmatilah diri kami sehingga tidak berbuat hal yang tidak berguna. Karuniakanlah kepada kami keridhaanMu. Wahai Tuhan yang bersifat Maha Pengasih lagi Penyayang. 

Sesudahnya, kami kemudian meminta tolong salah satu jamaah haji yang ada di dekat saya untuk berkenan menggunting rambut saya sebagai tanda kami telah selesai melaksanakan Tahalul. Pada tahap ini, selesai sudah proses Sa'I kami.

Saat memotong rambut, kami berdoa :

“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Segala puji bagi Allah yang telahmemberi petunjuk kepada kita dan segala pu ji Bagi Allah tentang apa-apa yang telah Allah karuniakan kepada kami. Ya Allah ini ubun -ubunku, maka terimalah dariku (amal perbuatanku) dan ampunilah dosa-dosaku.Ya Allah ampunilah orang-orang yang mencukur dan memendekkan rambutnya wahaiTu han yang Maha Luas ampunan Nya. Ya Allah te tapkanlah untuk diriku setiap helai ram but kebajikan dan hapuskanlah untukku dengan setiap helai rambut ke jelekan. Dan angkatlah derajatku di sisimu.”

Setelah selesai menggunting rambut, kami berdoa :

“Segala puji bagi Allah yang telah menyele saikan manasik kami, Ya Allah tambahkanlah kepada kami iman, k yakinan dan pertolongan dan ampunilah kami, keduaorang tua kami dan seluruh kaum muslimindan musli mat.”

Tahap Awal Prosesi Haji - Terselesaikan

Bersama istri tercinta kami putuskan untuk beristirahat sejenak di luar area sai, karena kepadatan yang ada di area sai ternyata terus bertambah. Kami menyempatkan diri untuk mengisi air zam-zam yang tersedia di salah satu sudut di area sai. Kemudian Kami turun kearah bukit safa dan menuju ke pintu keluar area sai.

Saat berjalan menuju ke area keluar sai, kami sempat bertemu dengan ketua regu dan anggota regu kami yang lain. “kurang 2 putaran lagi pak …” kata mereka ketika kami sapa sambil terus berjalan menyelesaikan prosesi sai mereka. Belakangan ada kisah lucu terkait prosesi sai yang mereka lakukan.

Di area luar sai, kami mencari sudut yang agak kosong untuk tempat kami beristirahat menyelonjorkan kaki kami yang “kemeng-kemeng”.

Banyak juga jamaah haji yang beristirahat bersama kami. Sebagian besar adalah jamaah haji asal Indonesia. Secara khusus Kami mengenali mereka dari seragam ihram jamaah haji yang pada bagian bawah tercetak tulisan “Jamaah Haji Indonesia “ yang tercetak dengan warna Hijau terang.

“Alhamdulillah bun …. Itu rekan jamaah kita yang berangkat bareng dari hotel “ kataku sambil menunjuk beberapa jamaah haji dengan slayer penanda regu mereka yang berwarna cerah dan bercorak khas.   Kami segera menuju ke lokasi mereka istirahat untuk memastikan kami kembali ke hotel bersama-sama mereka. Maklum saja, ini adalah hari pertama kami di Mekkah, dan perlu rekan seperjalanan saat kembali ke Hotel untuk menghindari tersasar arah jalan kembali ke Hotel.

Setelah kami rasakan cukup beristirahat, bersama rekan jamaah haji lainnya, kami putuskan untuk kembali ke Hotel pemondokan kami. Selain karena hari sudah dini hari, kami merasa harus segera beristirahat agar fisik kami dapat terus terjaga. Proses Tawaf dan Sai adalah prosesi yang sangat menguras tenaga. Namun rasa lelah yang kami rasakan, terbayar dengan suasana khusuk dan haru saat kami dapat memandang Kabah dari dekat, dapat sholat menghadap langsung kabah, dan dapat melafalkan bacaan niat sholat       “ mustaqbilal kiblati …” menjadi “ mustaqbilal ka’bahii …”.

Untuk memastikan tidak tersasar, serta mengingat pesan dari petugas kloter untuk selalu masuk dan keluar dari pintu yang sama, maka kami segera menuju Gerbang King Abdul Aizs untuk keluar dari kawasan masjidil haram untuk kembali ke Hotel.

Saat perjalanan pulang, di pertigaan jalan, sempat agak bingung karena ada rekan jamaah haji yang pulang bersama kami menyatakan bahwa jalur jalan ke hotel adalah dengan mengambil jalan di sisi kanan ….. “patokannya lampu merah itu “ kata rekan jamaah haji kami. Tentu saja itu membuat kami bingung, karena pada saat berangkat, jalan raya yang ada di sisi trotoar tempat kami berjalan arahnya searah dengan perjalanan menuju ke Masjidil Haram, artinya pada saat pulang ke hotel seharusnya kami berjalan berlawanan dengan arah jalan kendaraan yang melaju di jalan raya samping trotoar kami berjalan kaki.

“Sepertinya kita harus ambil kiri pak ….karena waktu berangkat kita searah jalan raya, berarti saat pulang kita harus berlawanan arah dengan jalan raya ….” Ucapku kepada rekan jamaah haji tersebut.

“Patokannya khan lampu merah yang diujung jalan itu ….. hotel kita ada di sebelah kiri lampu merah itu … “ jawab rekan jamaah haji tersebut.   Tanpa mau berdebat, kami putuskan mengambil arah kanan mengikuti keyakinan arah jalan rekan jamaah haji kami tersebut.   Banyak jamaah haji lain yang mengikuti arah jalan kami.

Sampai diujung jalan, ternyata terbukti, kami salah mengambil jalan, dan lampu merah yang dijadikan patokan adalah lampu merah yang berbeda denngan lampu merah yang ada di dekat hotel kami.

“ wah …. Sepertinya bener kata bapak, kita harusnya ambil jalan kiri, karena saya baru ingat bahwa saat berangkat kita searah jalur mobil, maka pulangnya kita harus berlawanan dengan jalur mobil … “ kata rekan jamaah haji itu kepada kami.   “Ayo kita balik kanan saja pak “ ajakku kepada rekan jamaah haji lainnya. Walhasil, ratusan orang jamaah haji yang mengikuti kami juga harus berbalik arah kembali ke pertigaan sebelumnya dan mengambil arah jalan ke kiri.

Alhamdulillah, akhirnya kami tiba di hotel kami menginap selama berada di Mekkah. Hal pertama yang ingin kami lakukan adalah mandi dan menggunakan baju biasa, setelah selama sehari semalam harus menggunakan ihram. Usai mandi, kami bersegera merebahkan diri untuk tidur dan menyegarkan diri.

Kami Tidur hanya 3 jam, karena harus melaksanakan sholat subuh. Hari pertama ini kami melaksanakan sholat subuh di musholla hotel. Tiba di musholla, sudah banyak jamaah haji yang berada di sana.   Kami sholat subuh berjamaah bersama dengan jamaah haji yang berasal dari banyak daerah di Indonesia. Walau di musholla hotel, kami tetap khusuk melaksanakan sholat.   Kondisi fisik yang lelah usai melaksanakan perjalanan Madinah – Mekkah, serta melakukan Tawaf dan Sai, menyebabkan kami tidak ingin memaksakan diri untuk sholat di masjidil haram. Ini karena jaraknya yang mencapai 2.5km dari hotel pemondokan kami.

Menanti saatnya Tiba - Prosesi Armina

Prosesi Armina diperkirakan akan mulai dilaksanakan pada tanggal 22 September 2015. Sampai dengan tanggal tersebut tiba, kami harus menunggu di Hotel Pemondokan di Mekkah selama hampir 20 hari waktu tunggu.

Tentu saja selama masa tunggu lebih dari 20 hari tersebut, saya beserta istri memanfaatkannya dengan memperbanyak ibadah di Masjidil Haram, karena banyak keutamaan saat melaksanakan ibadah di masjidil haram.

Pada hari kedua kami di mekkah, kami mulai melakukan pengaturan waktu ibadah di masjidil haram. Petugas Kesehatan Haji berulang kali mengingatkan jamaah haji, agar selama berada di Mekkah tidak melakukan aktivitas fisik yang terlalu berlebihan, sehingga hingga saatnya waktu prosesi Armina, kondisi tubuh tetap dalam keadaan sehat.

Sholat Fardhu Perdana di Masjidil Haram

Pukul 5 sore, kami bersama dengan beberapa rekan jamaah sekamar kami, bersama dengan istri masing-masing, bersepakat untuk melaksanakan sholat mahgrib di Masjidil Haram.

Ternyata kami berangkat terlalu sore, sehingga area sholat di masjidil haram sudah dipenuhi oleh jamaah haji yang juga akan melaksanakan sholat mahgrib berjamaah. Kami masuk ke Masjidil haram melalui pintu King Abdul Azis yang mengarah langsung ke Area Tawaf di sekitar Kabah. Saat kami masuk, jalan yang menuju ke area tawaf sudah ditutup untuk persiapan sholat mahgrib. Jadilah akhirnya kami mendapatkan shaff sholat di pinggir jalur masuk dan keluar jamaah haji. Kami menunggu waktu sholat dengan membaca Al Quran yang kami bawa dari tanah air. Secara personal, kami memang memiliki target untuk mengkhatamkan Al quran minimal 1 kali khatam selama di tanah suci.

Berbeda dengan saat sholat di Madinah yang memaksa saya dan istri untuk berbeda lokasi sholat, maka di Masjidil Haram ketentuan tersebut tidak diberlakukan. Pintu masuk untuk wanita dan Pria adalah sama. Saat waktu sholat tiba, jamaah haji perempuan akan membentuk kelompok sholat sendiri dan melaksanakan sholat di dibelakang jamaah laki-laki.

Dari satu hal ini, saya mengucap syukur kepada Allah Subhanna Wa Ta’ala. Mengapa ?? yaitu karena saat di Madinah kami tidak dapat melaksanakan Sholat bersama dengan istri di Masjid Nabawi, namun kami mendapatkan berkah dengan kesempatan untuk berada dalam kamar yang sama dengan istri tercinta. Kebalikannya selama di Mekkah, kami berada di kamar yang berbeda selama di Hotel Pemondokan kami, namun selalu dapat bersama saat melaksanakan ibadah di Masjidil Haram.

Usai sholat mahgrib, kami putuskan untuk tetap di tempat kami duduk menunggu datangnya waktu sholat isya. Waktu tunggu tersebut kami manfaatkan untuk membaca Al Quran kecil yang kami bawa dari tanah air. Al quran tersebut adalah pemberian dari salah seorang rekan kerja istri tercinta.

Salah satu rekan jamaah haji kami, yaitu Bapak Azis, yang usianya sudah agak sepuh dan dari sisi fisik sudah terlihat agak lemah, meminta izin untuk pindah menemui istrinya yang shaffnya tidak jauh dari kami. Sepertinya ada yang dibutuhkan oleh pak Azis sehingga harus menemui istrinya yang berada di shaff perempuan.

Tak lama Adzan sholat isya berkumandang. Kami menata shaff untuk kerapihan sholat berjamaah.   Jeda antara Adzan dan Iqomah sholat isya tidak terlalu lama. Kami menjalankan ibadah sholat isya dengan khusuk.

Usai mengucapkan salam di rakaat terakhir, kami lanjutkan dengan melantunkan dzikir dan doa usai sholat fardhu. Dalam doa, kami sampaikan permohonan kepada Allah Subhana Wa Ta’ala untuk menjaga kami selama di tanah suci, menjaga anak-anak kami selama kami tinggalkan ke tanah suci, serta memohonkan keselamatan, kesejahteraan, dan kesehatan untuk kami, keluarga kami, orang tua, kakak dan adik kami.

Jamaah sholat isya di masjidil haram sudah mulai menuju ke gerbang pintu keluar. Posisi kami yang berada di samping jalur jalan memaksa kami untuk segera beranjak dari duduk dan bersiap pulang.

Kami semua bersiap jalan menuju ke Gerbang Keluar. Sementara Pak Azis dan istrinya Nampak sibuk mencari tas yang berisi sandal mereka. “tadi taruh dimana pak ? … “ tanya kami meminta Pak Azis mengingat dimana menaruh tas plastik yang berisi sandal mereka berdua.

“Ya sudah pak … ikhlaskan saja, kita pulang sekarang ya ….” Kata kami ke Pak Azis sambil mengajaknya berjalan menuju ke gerbang keluar masjidil haram.

Perjalanan kami ke hotel menempuh jarak sekitar 2.5 kilometer. Saat masih berada dipelataran masjidil haram, Pak Azis dan Ibu Azis terlihat masih bisa berjalan tanpa menggunakan alas kaki. Namun ketika mulai berjalan di jalanan aspal, terlihat pak Azis berjalan sedikit berjinjit.   Saya dan istri kemudian memutuskan untuk meminjamkan sandal kami berdua untuk digunakan oleh pak Azis dan istri.

“Pak Azis … Bu Azis … pake sandal saya aja ya …. Insya Allah saya sama istri bisa jalan tanpa sandal ….” Ujarku ke Pak Azis dan istrinya sambil menyerahkan sandal yang sebelumnya sedang saya dan istri pakai.   “terima kasih ya mas …. Jadi ngerepotin ….” Jawab ibu azis.

Keharuan – Menatap Kabah

Malam sebelum tidur, istri tercinta mengingatkan untuk bangun lebih awal.   Kami berencana melaksanakan sholat subuh di Masjidil Haram, namun sebelumnya kami ingin melaksanakan tawaf sunnah di area kabah.

Pukul 2 pagi kami bangun dan bersiap berangkat menuju ke Masjidil haram.   Saat berada di depan hotel, kami melihat banyak jamaah haji yang menuju ke Masjidil haram dengan menumpang angkutan umum.

“Kalo naik angkutan umum bayar berapa pak ? “ Tanya saya kepada salah seorang jamaah yang nampak sedang menunggu angkutan umum.   “kalo angkutan umum biasa, cuma 2 real pak :” jawabnya kemudian.

Kami putuskan untuk menggunakan angkutan umum ke Masjidil Haram. Saat datang angkutan umum kosong, kami bergegas masuk ke dalam angkutan umum tersebut.   Sang supir terlihat turun dari mobil dan berteriak …. “haram .. haraam …. Dua real dua real …” begitu si supir memberitahukan kepada jamaah haji yang baru keluar dari hotel, menawarkan angkutan umumnya yang akan membawa jamaah ke Masjidil Haram dengan tarif 2 real per orang.

Tak menunggu lama, angkutan umum yang kami tumpangi penuh dan supir segera menjalankan angkutan umumnya. Agak kaget juga, ketika mengetahui bahwa Supir Angkutan umum di Arab Saudi ternyata lebih ugal-ugalan dibandingkan Supir Angkutan umum Indonesia. Supir menjalankan angkutan umum dengan kecepatan tinggi, dan ugal-ugalan. Saat berbelok, sepertinya tidak mengurangi kecepatan laju kendaraannya. Jadilah kami yang ada di dalam angkutan umum yang harus iklhas merasakan goncangan kendaraan.

Jalur angkutan umum menuju ke Masjidil Haram dari Hotel pemondokan kami terlihat melalui jalan yang memutar.   Jika menggunakan angkutan umum, kami diturunkan di halte masjidil haram yang letaknya dibawah terowongan jalan dekat masjidil haram. Di Halte tersebut sudah disediakan eskalator yang dapat digunakan oleh Jamaah Haji untuk naik menuju ke pelataran Masjidil Haram yang lokasinya tak jauh dari pintu King Abdul Azis.

Kami bersegera masuk ke dalam masjidil haram dan langsung menuju ke area tawaf. Setibanya disana ….. subhanallah …. Pada pukul 3 pagi, ternyata sangat banyak jamaah haji dari berbagai negara yang melakukan tawaf.

Tak lupa membaca doa saat melihat kabah …. Saya beserta istri tercinta segera mendekati area tawaf. Saya langsung memposisikan istri berada di depan saya agar saya bisa menjaganya dari belakang saat prosesi tawaf berlangsung.

Saat berjalan mendekati area yang sejajar dengan hajar aswad, ditandai dengan lampu Hijau yang terpasang di pilar di sebelah kanan area tawaf, saya berucap kencang “Bismillahi Allahu Akbar …” sambil mengecup jari …

Istri kemudian mengikuti apa yang saya ucapkan, sebagai tanda putaran awal tawaf telah kami mulai. Sepanjang putaran dari Rukun Hajar Aswad sampai dengan Rukun Yamani, istri memandu kami berdoa sesuai dengan panduan buku doa manasik haji.  

Saat sampai di rukun Yamani, saya kembali mengucapkan dengan suara agak keras “Bismillahi Allahu Akbar …” yang kemudian diikuti oleh istri tercinta sebagai tanda kami telah tiba di rukun yamani dan akan berputar menuju Rukun Hajar Aswad.

Demikian kami lakukan ritual tawaf dengan berputar sebanyak 7 putaran, dimulai dari Rukun Hajar Aswad dan berakhir di Rukun Hajar Aswad kembali.

Pada putaran pertama hingga putaran ketiga, kami melakukan putaran tawaf mendekat ke Kabah.   Ketika akhirnya berada di dekat kabah, lagi-lagi air mata tak mampu kami bendung. Air Mata haru tumpah kala kami beserta istri, yang nyata-nyata adalah mahluknya yang lemah, dapat diberikan kesempatan untuk hadir di Baitullah ….

Saat tiba di rukun yamani, dan dalam posisi dekat dengan Kabah, istri tercinta berjalan perlahan di sisi kabah. Berhenti sejenak dan memanjatkan doa-doa, mengucap syukur atas limpahan Rahmat yang diberikan Allah Subhana Wa Ta’ala kepada kami. Saat kondisi kepadatan tiba-tiba memuncak di area dinding kabah, saya segera menarik istri menjauhi dinding kabah untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Tujuh Putaran akhirnya kami lalui. Segera kami menuju ke area depan makam Ibrahim untuk menunaikan sholat sunnah Tawaf. Usai sholat sunnah tawaf kami bergeser kembali ke arah depan multazam. Di depan multazam kami panjatkan kembali doa-doa.   Air mata terus jatuh di pipi kami, ketika memanjatkan doa di depan multazam.

Tak lama, adzan pertama subuh berkumandang. Seluruh jamaah haji mulai diatur oleh askar untuk bersiap sholat subuh. Kami putuskan untuk tetap berada di area depan multazam tersebut menunggu waktu sholat subuh. Sedangkan istri harus berpindah tidak jauh ke belakang bergabung dengan kelompok jamaah wanita.

Saat Iqomah subuh berkumandang, saya melaksanakan sholat dengan kebahagiaan yang amat sangat. Sholat dengan menghadap langsung ke Kabah. Sholat dengan merubah lafal Mustakbillal Kiblati menjadi Mustakbillal Ka’bahi …

Saat salam diucapkan di akhir sholat, kedua tangan saya tengadahkan memanjatkan doa kehadirat Allah Subhana Wa Ta’ala, mengucapkan syukur atas Rahmat yang tiada habis kami terima …. Atas kesempatan hadir di Baitullah …. Serta memanjatkan doa untuk keselamatan, kesejahteraan, dan kebahagiaan keluarga kami, orang tua kami, serta kakak dan adik kami.

Menanti Armina Tiba

Kami berada di kota suci mekkah selama hampir 20 hari hingga tiba waktunya Prosesi Armina (Arafah – Musdalifah – Mina). Waktu tunggu selama 20 hari tersebut tentunya kami manfaatkan dengan baik untuk melakukan ibadah di Masjidil Haram.

Aktivitas harian kami selama di Masjidil Haram antara lain adalah sebagai berikut :

  1. Jika memutuskan untuk melaksanakan sholat tahajjud di masjidil haram, kami akan berangkat dari Hotel pada pukul 2 pagi menuju ke masjidil haram dengan menumpang mobil angkutan umum.

Jika tidak berencana untuk melakukan tawaf sunnah, maka kami akan menuju ke area perluasan Masjidil Haram. Setibanya disana, kami melaksanakan sholat Tahiyatul Masjid dan langsung dilanjutkan dengan sholat tahajjud sebanyak 8 rakaat dan ditutup dengan sholat witir sebanyak 3 rakaat.

Usai sholat tahajjud, kami akan lanjutkan dengan membaca Al Quran hingga berkumandang adzan pertama sholat subuh. Kami melaksanakan sholat sunnah fajar dan dilanjutkan dengan sholat subuh ketika iqomah tanda sholat subuh sudah dikumandangkan.

Usai sholat subuh, kami akan tetap berada di Masjidil Haram untuk menunggu waktu sholat dhuha. Usai sholat dhuha baru kami kembali ke Hotel Pemondokan kami.

Sholat Dzuhur biasanya kami laksanakan di musholla hotel. 1 jam sebelum sholat ashar, barulah kami berangkat kembali ke Masjidil Haram untuk melaksanakan sholat ashar.

Usai sholat ashar, biasanya kami akan berpindah dari dalam masjdiil haram menuju ke area pelataran masjidil haram. Kami menunggu waktu sholat mahgrib dan Isya dengan duduk dan beristirahat di area pelataran masjidil haram. Alasannya adalah untuk memudahkan kami kembali ke Hotel usai sholat isya nanti.  

Pada setiap usai sholat isya, biasanya seluruh jamaah haji akan kembali ke Hotel mereka menginap. Kondisi ini bisa menyebabkan kepadatan di sepanjang jalur keluar masjidil haram. Jika start dari dalam area masjidil haram, bisa butuh waktu 1 jam untuk dapat keluar dari dalam masjidil haram hingga ke area jalan raya yang menuju ke hotel pemondokan kami. Jadi untuk memangkas waktu antrian keluar dari dalam masjidil haram, kami putuskan untuk berpindah ke pelataran masjidil haram saat menunggu sholat mahgrib dan Isya.

  1. Jika memutuskan untuk melaksanakan tawaf di masjidil haram, kami akan berangkat dari Hotel pada pukul 2 pagi menuju ke masjidil haram dengan menumpang mobil angkutan umum.   Setibanya disana, kami akan masuk melalui pintu King Abdul Azis yang merupakan akses terdekat ke area kabah untuk melaksanakan tawaf.

Usai tawaf dan sholat sunnah tawaf, kami akan mengambil posisi yang memungkinkan kami tetap dapat memandang ka’bah untuk selanjutnya menunggu waktu sholat subuh. Aktivitas selanjutnya sama dengan apa yang dijabarkan selanjutnya pada point A.

  1. Khusus hari jumat, biasanya usai sholat subuh kami langsung kembali ke Hotel pemondokan kami. Ini kami lakukan untuk menjaga stamina dan fisik kami, karena pada pukul 10 pagi, kami harus kembali ke Masjidil Haram untuk melaksanakan sholat Jumat. Jika terlambat tiba di masjidil haram, bisa jadi kami tidak akan mendapatkan tempat di area dalam masjidil haram.

Jika itu terjadi, kami harus melaksanakan sholat jumat di pelataran masjidil haram. Kondisi suhu udara di mekkah pada siang hari dapat mencapai 45 derajat celcius.   Sebagian besar jamaah haji asal asia tenggara seperti Indonesia, banyak sekali yang tidak mampu jika harus melaksanakan sholat jumat di pelataran masjidil haram dan melawan hawa panas yang amat menyengat.

Masjidil Haram Menyejukkan

Setiap kali menunggu waktu sholat di pelataran masjidil haram, tidak prenah lupa kami mengabadikan foto diri kami bersama istri tercinta dengan latar belakang Masjidil haram yang memiliki arsitektur yang sangat indah mempesona.

Situs masjidilharam.weebly.com menuliskan bahwa Masjidil Haram merupakan masjid paling suci bagi umat islam dimana masjid ini terletak di Makkah Saudi Arabia. Mengapa masjidil haram menjadi masjid ersuci bagi umat islam? Dikarenakan masjid ini di bangun mengelilingi ka’bah yang merupakan kiblat bagi umat islam untuk menunaikan shalat lima waktu, sehingga banyak hadish shahih mengatakan jika shalat di masjid tersebut akan mendapatkan pahala dalam jumlah yang sangat besar.

Jika kita sedang menunaikan ibadah Umroh dan rukun islam yang ke lima yaitu menunaikan ibadah haji, maka masjidil haram ini menjadi tujuan utama selama berada di Makkah dan sebaiknya untuk tidak melewatkan shalat lima waktu dan sunnah di dalamnya, karena merupakan salah satu tempat mustajab (paling cepat di kabulkan doanya) untuk memanjatkan doa terbaik agar lebih cepat di kabulkan oleh Allah Subhanahu wata'ala. Tidak ada yang bisa menerjemahkan apa arti dari nama masjid ini dan sepertinya hanya Sang Maha Kuasa saja yang Maha Mengetahuinya..

Sejarah masjidil haram

Masjid yang mempunyai kapasitas hingga empat juta orang ini memang sengaja di bangun mengelilingi ka’bah, pada awal mula dari Nabi Ibrahim AS bersama dengan putranya Nabi Ismail AS membangun ka’bah sebagai arah kiblat untuk shalat bagi umat islam di seluruh dunia, kemudian Allah Subhanna Wa Ta’ala memerintahkan untuk membangun masjid yaitu masjidil haram untuk mengelilinginya. Dimana masjid ini adalah masjid pertama umat islam maka sangat disucikan, dimana akan diganjar dengan pahala yang sangat besar jika melakukan shalat disini dan akan lebih cepat di dengar doa serta di kabulkan oleh-Nya.

Masjid ini mengalami banyak renovasi serta perluasan, jika pada pembangunan pertamanya hanya sebatas kecil saja, kini masjid ini bisa menampung hingga 900 ribu jamaah di hari biasanya saja namun akan jauh lebih banyak saat musim haji tiba. Perluangan masjidil haram di mulai dari jaman khalifah Umar bin Khattab yang merupakan salah satu Khulafatur Roshidi pada tahun 638 Masehi. Beliau membeli rumah-rumah dan tanah disekitarnya sehingga bisa menjadi perluasan dan mulai di tambahkannya tiang menara yang tingginya mencapai 89 meter atau 292 kaki.

Perluasan dari masjid ini kembali dilakukan pada jaman Usman bin Affan pada tahun 647 Masehi, bahkan hingga sekarang, Ka’bah dan Masjidil haram bisa menjadi magnet besar dunia dan sudah di akui sebuah tempat yang ajaib karena tetap bersinar meskipun saat pagi, siang, sore dan malam hari, tempat ini tidak pernah sepi dari jamaah yang shalat, tawaf dan melakukan kegiatan keagamaan.

Keutamaan masjidil haram

Rasanya tidak akan ada habisnya membicarakan masjid pertama di muka bumi ini, pasalnya selain bisa memberikan rasa tenang, nyaman dan bisa beribadah dengan khusuk. Bagi anda yang shalat lima waktu, berjamaah atau itikaf akan di ganjar dengan pahala yang sangat besar. Bahkan di riwayatkan oleh Ahmad, Rasullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Satu kali shalat di masjidil haram lebih utama dari seratus ribu kali shalat di masjid lainnya”.

Keutamaan lain dari masjidil haram adalah jika kita melakukan shalat berjamaah 40 hari tanpa putus, maka akan terhindar dari api neraka. Tentu saja ini akan membuat kita semakin memperkuat iman dan tajin berjamaah di masjid sehingga tidak ada alasan untuk shalat sendiri di penginapan selama di Saudi Arabia.

Jadi sangatlah tepat jika dikatakan bahwa masjidil haram menjadi lokasi beribadah paling istimewa yang ada di muka bumi ini, rasanya kurang pas jika kita belum bisa menunaikan ibadah disana karena selain di ganjar dengan pahala besar, kita juga akan merasakan betapa Allah Subhanna Wa Ta’ala akan mengangkat tinggi derajat anda sebagai khalifah di dunia.

Melaksanakan Umrah Sunnah

Setiap jamaah haji yang menunggu Prosesi Armina di Kota Mekkah, pasti akan memanfaatkan waktu tunggu untuk melaksanakan umrah sunnah.

Ustadz Achmad Zuhdi Dh dalam situs pribadinya menjelaskan Umrah berasal dari kata al-i’timar yang berarti al-ziarah. Yang dimaksud dengan Umrah di sini adalah ibadah dengan cara mengunjungi ka’bah dan thawaf di sekitarnya, kemudian melakukan sa’i  di antara shafa dan marwa dan diakhiri dengan mencukur rambut.

Ulama pada umumnya sepakat bahwa umrah termasuk ibadah yang disyariatkan. Sebagian ulama ada yang memandangnya fardlu ‘ain bagi setiap muslim seumur hidup sekali sebagaimana haji, sementara yang lain berpendapat bahwa umrah itu hukumnya sunnah muakkadah.

Selain mempersoalkan status hukum ibadah umrah bagi setiap muslim, ulama juga memperdebatkan masalah boleh dan tidaknya melakukan umrah secara berulang-ulang dalam satu tahun, terutama pada musim haji atau di bulan Ramadlan.

Jumhur ulama berpendapat bahwa tidak mengapa melakukan umrah berulang-ulang sepanjang memungkinkan, baik di musim haji atau di bulan Ramadlan. Alasan yang dijadikan dasar oleh ulama yang membolehkan umrah berulang-ulang ini adalah karena bagi orang-orang yang jarak tempat tinggalnya amat jauh dari tanah suci (Makkah al-Mukarramah) dan biayanya terbatas, mereka mungkin hanya bisa sekali dapat melakukan haji dan umrah seumur hidupnya. Sedangkan waktu senggang menunggu pelaksanaan ibadah haji masih lama, sehingga sayang kalau tidak dimanfaatkan untuk melakukan umrah sunnah.

Ustadz Achmad Zuhdi Dh juga menjelaskan, Abd al-Rahman al-Jaziri, dalam bukunya al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah mengemukakan yang Artinya:

“Dianjurkan memperbanyak atau mengulang-ulang ibadah umrah, terutama di bulan Ramadlan sesuai dengan kesepakatan tiga imam madzhab (Hanafi, Syafi’i dan Hanbali), kecuali Imam Maliki yang tidak sependapat”. Sesuai hadits riwayat  Ibn Abbas ra bahwasanya umrah di bulan Ramadlan itu pahalanya sama dengan ibadah haji”

Ustadz Achmad Zuhdi Dh juga menjelaskan bahwa Jabir ra meriwayatkan bahwa suatu ketika ‘Aisyah ra meminta izin kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk melakukan umrah setelah hajinya, karena pada saat umrah sebelumnya ia batal karena kedatangan haid sebelum melakukan thawaf. Walaupun ia ditanggung dapat dua pahala juga karena telah melakukan haji dan umrah sekaligus   sesuai saran Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam , tetapi ia belum puas sebelum melakukan ibadah umrah tersendiri. Karena itu setelah ia suci dan selesai thawaf haji, ia berkata kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam yang artinya :

“Wahai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam , apakah mereka pergi menunaikan ibadah haji dan umrah sedangkan aku hanya dapat ibadah haji saja? Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kemudian memerintahkan Abd al-Rahman bin Abu Bakar untuk keluar menemani Aisyah pergi ke Tan’im, kemudian Aisyah pun melakukan ibadah umrah setelah haji di musim haji itu”( HR. Al-Bukhari)

Berdasarkan hadits riwayat Aisyah tersebut sebagian ulama memahaminya bahwa sesungguhnya ibadah umrah itu boleh dilakukan dua kali dalam satu tahun bahkan dua kali dalam satu bulan. Hal ini memperkuat pendapat bolehnya melakukan umrah berulang-ulang pada musim haji atau pada bulan suci Ramadhan.

           

Adapun ulama yang tidak membolehkan umrah berulang-ulang dalam satu tahun adalah Imam Maliki. Dalam bukunya Fiqh al-Sunnah, Sabiq menulis:

“Imam Malik memandang makruh mengulang-ulang umrah dalam satu tahun lebih dari satu kali”.

           

Ibn Taimiyah termasuk ulama yang memandang umrah sunnah berkali-kali adalah makruh. Ia mengatakan bahwa ulama salaf telah sepakat tentang makruhnya mengulang-ulang umrah dan memperbanyaknya. Pendapat ini dipertegas oleh Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin (ulama kontemporer dari Saudi Arabia) bahwa keluarnya seseorang dari Makkah ke Tan’im atau miqat lain untuk melakukan umrah kedua, ketiga pada bulan Ramadlan atau yang lainnya, adalah termasuk perbuatan bid’ah yang tidak dikenal pada masa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam . Sebab pada masa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam hanya dikenal satu masalah yaitu masalah “khusus” Aisyah ra ketika ihram haji tamattu’  lalu haid. Ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menemuinya, didapatkannya ia sedang menangis dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menanyakan sebabnya ia menangis, lalu Aisyah memberitahukannya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bahwa ia sedang haid. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menenteramkan hatinya bahwa haid adalah sesuatu yang telah ditetapkan Allah kepada anak-anak perempuan Bani Adam. Kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkannya untuk ihram haji. Maka Aisyah ihram haji dan menjadi haji qiran. Tetapi ketika Aisyah selesai melaksanakan haji, dia mendesak Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam agar mengizinkannya umrah sendiri, maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun mengizinkannya dan memerintahkan saudaranya (Abd al-Rahman bin Abu Bakar) untuk menyertainya ke Tan’im. Maka Abd al-Rahman bin Abu Bakar keluar bersama Aisyah ke Tan’im dan dari sana Aisyah melakukan Umrah.

Ustadz Achmad Zuhdi Dh selanjutnya juga menjelaskan bahwa Al-Utasimin menambahkan bahwa seandainya peristiwa yang terjadi pada Aisyah itu termasuk sesuatu yang disyariatkan pada semua orang, niscaya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam akan mengerahkan para sahabat bahkan menganjurkan Abd al-Rahman bin Abu Bakar yang keluar bersama saudarinya untuk melaksanakan umrah, karena akan mendapatkan pahala. Dan telah maklum bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bermukim di Makkah pada tahun pembebasan kota Makkah selama sembilan belas (19) hari tetapi beliau tidak melaksanakan umrah, padahal bila mau beliau dengan mudah dapat melakukannya. Ini menunjukkan bahwa umrah berulang-ulang itu tidak disyariatkan, karena di samping hal ini tidak pernah dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam , para Khulafaur Rasyidin pun tidak pernah melakukannya.

Begitulah Ustadz Achmad Zuhdi Dh menyampaikan fakta adanya pro dan kontra mengenai hukum umrah berulang-ulang dalam bulan Ramadhan atau di musim haji. Ulama yang mengatakan boleh atau sunnah dan ulama yang mengatakan tidak boleh, makruh atau bahkan bid’ah, masing-masing memiliki dasar hukum yang jelas.

Saya dan istri memiliki keyakinan atas bolehnya melakukan umrah berkali-kali berdasarkan keterangan ulama yang mengatakan boleh dengan penjelasan dan dalil-dalilnya.

Bersama dengan rekan jamaah lain yang sudah terlebih dahulu melaksanakan umrah sunnah, saya merencanakan untuk melakukan umrah sunnah pertama kami. Sayangnya ketika hari pelaksanaan, istri tercinta tidak dapat menemani kami melaksanakan umrah karena tiba-tiba mendapatkan haid bulanan.

Tanggal 9 September 2015, saya bersama beberapa rekan jamaah bersiap untuk melaksanakan umrah sunnah. Kami melaksanakan umrah sunnah ba’da sholat Dzuhur, sehingga diharapkan dapat tiba di masjidil haram sebelum ashar, melaksanakan prosesi tawaf sesudah ashar, selesai tawaf dan sai sebelum mahgrib, dan beristirahat usai umrah sambil menunggu waktu sholat isya, dan kembali ke Hotel pemondokan usai sholat isya.

Rombongan umrah sunnah berangkat dari Hotel menuju ke Tan’im dengan menggunakan angkutan umum yang kami carter untuk mengantarkan kami dari Hotel ke lokaqi Miqot Tan’im, menunggu kami saat sholat sunnah ihram, dan mengantar kami kembali dari Tan’im ke Masjidil Haram.

Tan’im adalah salah satu tempat miqat umrah bagi penduduk Makkah dan para mukimin (orang-orang yang bermukim di Makkah). Mengambil miqot dari Ta’im setiap hendak umrah , ini berlaku bagi setiap orang yang tinggal di Makkah, baik untuk sementara ataupun menetap. Letaknya di sebelah utara Masjidil Haram dengan jarak kira-kira 7.5 km di pinggir jalan raya menuju kota suci Madinah, sekaligus menjadi pembatas utara Tanah Haram.

Terdapat sebuah masjid di Tan’im, yang terkenal dengan nama Masjid Siti Aisyah. Sebab dinamakan Masjid Aisyah adalah pada tahun ke-9 Hijriyah –bertepatan dengan Haji Wada’-, Sayyidah Aisyah binti Abi Bakar ash-Shiddiq sedang udzur (haid) sehingga tidak bisa melaksanakan umrah bersama-sama.

Dalam suatu riwayat diceritakan bahwa ketika sedang datang bulan, Sayyidah Aisyah diperbolehkan melaksanakan semua rangkaian manasiknya, kecuali melakukan thawaf (ifadhah). Jabir mengatakan, “Begitu suci, Aisyah melaporkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. hendak mengerjakan thawaf.” Kata Aisyah, “Anda semua telah mengerjakan umrah dan haji, sedangkan aku baru mengerjakan hajinya saja.” Lalu Rasulullah memerintahkan Abdurrahman bin Abi Bakar (saudara laki-laki Siti Aisyah) untuk mengantarkan ke Tan’im guna melaksanakan umrah, yakni setelah mengerjakan haji pada bulan Dzul Hijjah.”

Di dalam masjid juga dilengkapi dengan fasilitas yang cukup, seperti AC, kipas angin, mushaf al-Qur’an, sertai lantai beralaskan permadani yang sangat indah. Di samping itu, di masjid Siti Aisyah ini juga ada jadwal pengajian rutin yang diisi oleh ulama-ulama dalam negeri.

Masjid ini buka 24 jam, karena setiap waktu banyak dari para pemukim dari luar atau dalam yang senang mengerjakan umrah di tengah malam. Dari masjid ini juga disediakan transportasi bus sebagai angkutan umum yang khusus menuju Masjidil Haram setiap waktu dengan membayar SR 2 saja.

Proses negosiasi harga dengan supir angkutan umum itu berlangsung alot. Si supir minta pembayaran 10 real per orang. Ketua rombongan umrah kami menawar 5 real per orang. Setelah bernegosiasi alot, akhirnya supir angkutan umum itu bersedia mengantar, walaupun sepanjang perjalanan mengoceh-ngoceh tak karuan. Kami tak ambil peduli ..... toh kami tidak mengerti bahasanya ... ha ha ha

Perjalanan menggunakan angkutan umum ke Tan’im untuk mengambil miqot sebagai titik awal berumrah tidaklah terlalu lama. Jaraknya hanya 6 km dari Masjidil Haram, sehingga hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit perjalanan. Setiba disana kami segera melaksanakan sholat Sunnah Ihram dan sesudahnya membaca niat umrah.

 

Alhamdulillah, seluruh prosesi umrah dapat kami laksanakan dengan baik sesuai tuntunan sunnah. Lelah sudah pasti, tapi kesejukan hati usai melaksanakan umrah sunnah saat menunggu waktu berhaji, mengalahkan kelelahan tersebut.

Lantunan doa syukur kami panjatkan kehadirat Allah Subhana Wa Ta’ala, atas segala rahmat dan karunia yang telah dilimpahkan kepada kami, sehingga saat kami di tanah suci, kami masih diberikan nikmat sehat untuk dapat melaksanakan umrah sunnah bersama rekan-rekan jamaah haji kami yang ikhlas membantu terlaksananya umrah haji ini. Kami panjatkan doa kepada Allah Subhana Wa Ta’ala untuk memberikan rezeki dan kemudahan untuk keluarga besar kami di tanah air, sehingga mereka juga dapat melaksanakan haji dan umrah ke tanah suci.

Setibanya kembali ke Hotel, istri tercinta menyambut haru kami dan mengucapkan syukur dan selamat atas kelancaran prosesi ibadah umrah sunnah kami.