^Kembali ke Atas

foto1 foto2 foto3 foto4 foto5

Manasik di Madinah

Jamaah haji Indonesia akan berada di Madinah selama 9 hari, dimana di hari ke 9 pagi, sudah harus bersiap untuk menuju ke Mekkah menjalankan Umrah Wajib dan sesudahnya menunggu waktu menjelang wukuf di arafah.

Menjelang keberangkatan ke Mekkah, Petugas Pembimbing Haji Indonesia (PPHI) yang ditugaskan di Kloter 12 JKS, mengumpulkan seluruh jamaah untuk mengikuti kegiatan Manasik.

Kegiatan Manasik selain menjadi hak dari jamaah haji untuk mendapatkan pembimbingan, juga dimaksudkan untuk memastikan seluruh jamaah haji menjalankan rukun umrah dan Haji dengan sempurna saat berada di Tanah Suci.

Keterbatasan ruangan yang ada di Hotel Madinah, memaksa kegiatan manasik dilakukan di depan area lift hotel. Ada sedikit aspek kurang persiapan dari pihak Ketua Kloter dan Pembimbing Ibadah Haji terkait dengan kegiatan Manasik. Sistem distribusi infomasi kegiatan tidak berjalan dengan baik. Pihak Kloter merasa sudah memberikan informasi kegiatan kepada seluruh ketua Rombongan. Selanjutnya Ketua Rombongan sudah merasa memberikan informasi kegiatan kepada Ketua Regu. Problemnya ternyata dari pihak ketua Regu tidak mendistribusikan informasi kegiatan tersebut ke Jamaah Haji anggota regunya. Alasannya adalah “tidak tahu nomor telephone dan lokasi kamarnya ……”

Hmmm … pemilihan ketua Regu yang kompeten harus menjadi perhatian jamaah sebelum berangkat ke tanah suci.

Berangkat ke Mekkah

Waktunya tiba, hari pemberangkatan ke Mekkah akhirnya tiba. Usai menjalankan ibadah sholat subuh di Masjid Nabawi, kami bersegera kembali ke Hotel untuk bersiap menuju ke Mekkah.

Jamaah haji Indonesia setiap tahunnya selalu dibagi menjadi 2 gelombang pemberangkatan. Gelombang pertama akan berangkat ke kota Madinah terlebih dahulu, dan setelah tinggal beberapa hari di sana, barulah berangkat ke kota suci Makkah. Sehingga untuk jamaah haji kelompok pertama ini, start ibadah hajinya dari kota Madinah dan miqatnya adalah Dzul Hulaifah. Adapun kelompok kedua, mereka akan langsung menuju kota Makkah, dan miqatnya adalah Yalamlam yang jarak tempuhnya sekitar 10 menit sebelum mendarat di Bandara King Abdul Aziz Jeddah. Sehingga start ibadah hajinya (niat ihramnya) sejak berada di atas pesawat terbang.

Kami adalah Jamaah Haji yang berangkat di Gelombang Pertama, sehingga kedatangan Pertama Kami adalah di Kota Madinah, dan saat ini akan berangkat ke Kota Mekkah.

Sejak pagi hari, kami sudah melakukan Mandi Besar dan berniat Ihram. Pakaian Ihram kami gunakan sejak di Hotel, dan sebelum ke kota Mekkah kami akan menuju ke Bir Ali untuk mengambil miqat.

Sempat terjadi kepanikan kecil, terkait dengan Koper besar kami.   Seluruh jamaah haji yang akan berangkat ke Mekkah, pada pagi hari sebelum jam 7 harus memastikan koper besar masing-masing jamaah sudah berada di depan lift untuk dibawa petugas porter dan dimuat ke bagasi bis yang akan membawa kami ke Mekkah.

Saat menjelang penurunan Koper, saya membawa koper ke area depan lift. Beberapa rekan jamaah haji mengingatkan untuk mengawal Koper besar kami untuk memastikan Koper tidak masuk ke Bis yang salah. Sesaat setelah Koper besar saya letakkan di depan lift, mendadak ada yang harus saya ambil di dalam kamar. Segera saya ke kamar dan meminta istri segera ke area depan lift untuk menjaga koper kami. Istri tercinta rupanya sedang dalam posisi membereskan hijabnya, dan permintaan saya untuk segera ke area depan lift tidak direspon dengan segera.

Ketika menyadari istri tidak bersegera ke area depan lift, saya pun bergegas ke area tersebut, dan saat disana ternyata Koper Besar kami sudah tidak berada di depan lift !

Sempat sedikit memberikan teguran keras ke istri, akhirnya kami berdua pasrah dengan kondisi yang terjadi. Kami segera menuju ke Lobby Hotel untuk naik ke atas bis yang akan membawa kami ke mekkah.

Sampai di area parkir bis, semua tas koper sudah dalam kondisi berada di Bagasi atas bis. Saya sendiri tidak dapat meyakini apakah Koper saya ada di bis yang saya naiki atau tidak. Beberapa teman jamaah menghibur kami dengan mengatakan bahwa seluruh bis yang berjumlah 10 bis ini akan menuju ke tujuan yang sama di Mekkah, jadi walaupun Koper besar kami berada di Bis lain, Insya Allah tidak akan hilang, karena semua bis menuju lokasi tujuan yang sama. Saya dan istri hanya dapat tersenyum dan menjawab “ Amiiin …. Insya Allah …”

Tepat pukul 08.00 waktu KSA, Bis yang membawa kami bersiap untuk berangkat.   Salah satu ketua regu memimpin kami untuk berdoa. Bis kemudian bergerak perlahan.

Salah satu dari jamaah haji kemudian mengumpulkan dana 1 Real-an dari tiap jamaah untuk tips supir yang membawa kami ke mekkah. Ini sepertinya menjadi aturan tak tertulis di saat musim haji. Setiap kali akan bepergian secara berombongan dengan menggunakan bis, setiap jamaah akan ditarik dana 1 real untuk tips supir dan kondektur bis.

Tujuan pertama kami adalah ke Bir Ali sebagai lokasi miqat umrah peduduk madinah.

Bir Ali terletak di perbatasan Tanah Haram, tepatnya 11 kilometer dari Masjid Nabawi, Kota Madinah, Arab Saudi. Di sinilah tempat miqat (berpakaian ihram) bagi jamaah calon haji Indonesia yang ingin memasuki Masjidil Haram, Mekah.

Saat tiba di Bir ali, sudah ada banyak petugas Indonesia yang memandu jamaah haji yang baru saja turun dari bis. Petugas Haji Indonesia terlihat melakukan pengawasan di kamar mandi, di pintu masuk masjid, dan di area parkir bis.

Petugas terlihat akan fokus mengawasi di sekitar kamar mandi untuk memastikan tidak ada jamaah laki-laki maupun perempuan yang tersesat.  Lokasi kamar mandi memang area yang sangat crowded karena jamaah dari seluruh Negara berada di area tersebut.

Informasi yang kami dapatkan dari sitis liputanenam.com, disebutkan bahwa dahulu di zaman Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, lembah itu disebut Lembah Aqiq. Lokasi masjid tempat mengambil miqat ini agak turun ke bawah, menuju lembah yang menghijau. Di belakangnya sebuah bukit berbatu cadas menjadi pemandangan lain yang juga menakjubkan mata.

Masjid Bir Ali dikenal dengan banyak nama. Disebut Bir Ali (bir berarti kata jamak untuk sumur). Sebab, pada zaman dahulu Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA menggali banyak sumur di tempat ini. Sekarang, bekas sumur-sumur buatan Sayyidina Ali bin Abi Thalib tidak tampak lagi.

Masjid ini juga dikenal dengan sebutan Masjid Syajarah (yang berarti pohon), karena sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya masjid yang cantik ini dibangun di tempat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah berteduh di bawah sebuah pohon (sejenis akasia). Kemudian, beberapa orang mungkin juga menyebut masjid ini dengan sebutan Masjid Dzul Hulaifah, karena letaknya berada di Distrik Dzul Hulaifah.

Jarak dari Masjid Bir Ali ke Kota Mekah sebenarnya masih cukup jauh. Perlu waktu 4 sampai 6 jam naik bus untuk tiba di Mekah karena jaraknya masih lebih kurang 450 km.

Sebagaimana disyariatkan, ada 3 hal yang harus diamalkan saat mengambil miqat, termasuk miqat di Bir Ali ini, yaitu: Pertama, mandi sunnah ihram dan memakai pakaian ihram. Kedua, salat sunnah ihram 2 rakaat. Ketiga, berniat ihram serta bertalbiyah.

Karena banyaknya anggota jamaah haji yang mandi di Bir Ali sebelum memakai pakaian ihram, maka masjid cantik ini dilengkapi dengan 512 toilet dan 566 kamar mandi. Beberapa di antaranya dikhususkan untuk peziarah yang memiliki kekurangan fisik (cacat tubuh). Seluruh bagian masjid mulai dari daun pintu, karpet, hingga toilet dan kamar mandi berbau wangi. Ada banyak petugas kebersihan di sini.

Menurut sejarahnya, Masjid Bir Ali mengalami beberapa kali renovasi. Dimulai pada masa pemerintahan Gubernur Madinah Umar bin Abdul Aziz (87-93 Hijriyah), kemudian oleh Zaini Zainuddin Al Istidar pada tahun 861 Hijriyah (1456 Masehi), lalu pada zaman Dinasti Usmaniah dari Turki dengan dibantu seorang muslim dari India pada tahun 1090 Hijriyah (1679 Masehi), hingga terakhir oleh Raja Abdul Aziz yang memerintah Kerajaan Saudi Arabia dari tahun 1781 sampai 2005.

Masjid yang semula kecil dan sederhana kini menjelma menjadi bangunan indah. Keseluruhan areal Masjid Bir Ali luasnya sekitar 9.000 meter persegi yang terdiri dari 26.000 meter persegi bangunan masjid, dan 34.000 taman, lapangan parkir, dan paviliun.

Turun dari bis kami menuju ke area wudhu untuk mengambil wudhu. Selanjutnya kami masuk ke dalam masjid untuk melakukan sholat sunnah Ihram 2 rakaat. Usai sholat sunnah ihram, kemudian kami lanjutkan dengan berniat ihram untuk melakukan umrah dengan mengatakan:

“Kusambut panggilan-Mu untuk melakukan umrah.”

Kemudian dilanjutkan dengan ucapan talbiyah:

“Kusambut panggilan-Mu Ya Allah, kusambut panggilan-Mu tiada sekutu bagi-Mu, kusambut panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, nikmat dan kerajaan hanyalah milik-Mu tiada sekutu bagi-Mu.”

Sesudahnya kami naik kembali ke dalam bis, melanjutkan perjalanan ke Kota Mekkah, dan selama dalam perjalanan kami kembali membaca talbiyah, salawat dan doa bersama-sama.

Bacaan Talbiyah

“Kusambut panggilan-Mu Ya Allah, kusambut panggilan-Mu tiada sekutu bagi-Mu, kusambut panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, nikmat dan kerajaan hanyalah milik-Mu tiada sekutu bagi-Mu.”

Bacaan Salawat

“Ya Allah limpahkan rahmat dan keselamatan kepada Nabi Muhammad dan keluarganya.”

Bacaan Doa usai salawat

“Ya Allah, sesungguhnya kami memohonke ridhaan-Mu dan surga, kami berlindung pada Mu dari kemurkaan-Mu dan siksa neraka. Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan hindarkanlah kami dari siksa neraka.”

Larangan saat Ihram

Pada saat manasik 2 hari sebelum kami berangkat, Petugas Pembimbing Haji mengingatkan kami hal-hal yang harus diperhatikan ketika berihram, yaitu sebagai berikut:

  1. Menjalankan segala apa yang telah diwajibkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti shalat lima waktu dan kewajiban-kewajiban yang lainnya.
  2. Meninggalkan segala apa yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di antaranya; kesyirikan, perkataan kotor, kefasikan, berdebat dengan kebatilan, dan kemaksiatan lainnya.
  3. Tidak boleh mencabut rambut atau pun kuku, namun tidak mengapa bila rontok atau terkelupas tanpa sengaja.
  4. Tidak boleh mengenakan wewangian baik pada tubuh ataupun kain ihram. Dan tidak mengapa adanya bekas wewangian yang dikenakan sebelum melafazhkan niat ihram.
  5. Tidak boleh berburu atau pun membantu orang yang berburu.
  6. Tidak boleh mencabut tanaman yang ada di tanah suci, tidak boleh meminang wanita, menikah, atau pun menikahkan.
  7. Tidak boleh menutup kepala dengan sesuatu yang menyentuh (kepala tersebut) dan tidak mengapa untuk memakai payung, berada di bawah pohon, ataupun atap kendaraan.
  8. Tidak boleh memakai pakaian yang sisi-sisinya melingkupi tubuh (baju, kaos), imamah (sorban), celana, dan lain sebagainya.
  9. Diperbolehkan untuk memakai sandal, cincin, kacamata, walkman, jam tangan, sabuk, dan tas yang digunakan untuk menyimpan uang, data penting dan yang lainnya.
  10. Diperbolehkan juga untuk mengganti kain yang dipakai atau mencucinya, sebagaimana pula diperbolehkan membasuh kepala dan anggota tubuh lainnya.
  11. Tidak boleh (bagi yang sudah berniat haji) melewati miqatnya dalam keadaan tidak mengenakan pakaian ihram.
  12. Apabila larangan-larangan ihram tersebut dilanggar, maka dikenakan dam (denda) dengan menyembelih hewan kurban (seekor kambing/sepertujuh unta/sepertujuh sapi).

Perjalanan ke Mekkah

Entah sudah berapa kali kami bertalbiyah selama 2 jam pertama perjalanan kami. Perlahan suara talbiyah semakin pelan. Sebagian jamaah sudah ada yang tertidur. Jarak Madinah – Mekkah adalah sekitar 450 km, jika tidak ada hambatan dalam perjalanan, jarak tersebut dapat ditempuh selama 6 jam perjalanan.

Jalanan antar kota di Arab Saudi kondisinya seperti Jalan Tol di Indonesia, bedanya di Arab Saudi tidak dipungut bayaran.   saat menjelang dzhuhur, bis memasuki area yang mirip dengan rest area di jalan tol Indonesia. Rupanya supir bis ingin mengisi bahan bakar yang terlihat sudah hampir menipis.

 

Usai mengisi bahan bakar, supir bis memarkirkan bis di depan bangunan yang mirip dengan restaurant. Supir bis kemudian berkata kepada seluruh jamaah yang ada di bis “shalat …. Shalat …. “ itu katanya.

Kami kemudian turun dari bis dan mencari lokasi tempat untuk kami melaksanakan sholat dzuhur.   Kami melaksanakan sholat Dzhuhur dengan di Jama' Taqdim dengan sholat ashar.

Sholat Jama’ Taqdim adalah salah satu bentuk sholat Jama’. Pengertian Sholat Jama’ adalah Shalat yang digabungkan, yaitu mengumpulkan dua shalat fardhu yang dilaksanakan dalam satu waktu. Misalnya, shalat Dzuhur dan Ashar dikerjakan pada waktu Dzuhur atau pada waktu Ashar. Shalat Maghrib dan Isya’ dilaksanakan pada waktu Maghrib atau pada waktu Isya’.   Sedangkan Subuh tetap pada waktunya dan tidak boleh digabungkan dengan shalat lain. Shalat Jama' ini boleh dilaksankan karena bebrrapa alasan (halangan) berikut ini :

  1. Dalam perjalanan yang bukan untuk maksiat
  2. Apabila turun hujan lebat
  3. Karena sakit dan takut
  4. Jarak yang ditempuh cukup jauh, yakni kurang lebihnya 81 km

Sholat Jama' Taqdim (Jama' yang didahulukan) yaitu menjama' 2 (dua) shalat dan melaksanakannya pada waktu shalat yang pertama. Misalnya shalat Dzuhur dan Ashar dilaksanakan pada waktu Dzuhur atau shalat Maghrib dan Isya’ dilaksanakan pada waktu Maghrib.

Syarat Sah Jama' Taqdim :

  1. Berniat menjama' shalat kedua pada shalat pertama
  2. Mendahulukan shalat pertama, baru disusul shalat kedua
  3. Berurutan, artinya tidak diselingi dengan perbuatan atau perkataan lain, kecuali duduk, iqomat atau sesuatu keperluan yang sangat penting
  4. Niat jama' yang dibarengkan dengan Takbiratul Ihram shalat yang pertama, misalnya Dhuhur.

Usai sholat, kami sempatkan untuk makan siang dengan menu nasi box yang dibagikan di bis saat sebelum kami berangkat dari Madinah.   Menu makan siang yang dibagikan tersebut adalah Menu selamat jalan ke Mekkah dengan sajian istimewa khas Arab Saudi, yaitu Nasi Mindi – mirip dengan nasi kebuli dengan lauk potongan ayam besar.

 

Perjalanan ke Mekkah kemudian dilanjutkan setelah seluruh jamaah merasa sudah cukup beristirahat dan makan siang. Kami semua masuk ke dalam bis dan duduk di tempat masing-masing. Salah satu Ketua Regu kembali memimpin kami untuk sama-sama bertalbiyah, bersalawat, dan berdoa.

Sekitar waktu mendekati mahgrib, bis kami tiba di Kota Mekkah. Kami buka buku panduan doa dan memanjatkan doa saat memasuki kota mekkah

Allahumma haadza haramuka wa amnuka faharrimlahmi wadamii wabasyarii ‘alannar, wa aminnii min ‘adzabika yauma tab’atsu ‘ibaadaka waj’alnii min auliyaa ika wa ahli thoo’atik.

“Ya Allah kota ini adalah tanah Haram-Mu dan tempat yang aman, maka hindarkanlah daging, darah, rambut, bulu dan kulitku dari neraka. Amankanlah aku dari siksaMu pada hari Engkau membangkitkan aku ke dalam golongan auliaMu dan ahli ta’at pada Mu.”

Bis Nampak memasuki areal gedung yang bertugas mengelola haji di Arab Saudi. Supir turun dari bis sambil membawa satu kantong yang berisi Paspor kami menuju ke satu bangunan yang dari jauh nampak seperti loket penerimaan dokumen.

Tak lama, supir bis kembali ke atas bis bersama 1 orang yang fisik dan postur terlihat seperti orang yaman.   Kantong dokumen yang sebelumnya dipegang oleh supir bis, terlihat telah berpindah ke tangan orang tersebut. Ternyata orang tersebut adalah petugas yang ditunjuk untuk mengantarkan bis menuju ke Hotel yang menjadi tujuan akhir pengantaran Jamaah dari Madinah ke Jeddah.

Persoalan timbul, karena ternyata si petugas yang seharusnya bertindak sebagai penunjuk jalan, ternyata tidak mengetahui dengan persis dimana lokasi Hotel tempat kami menginap selama di Mekkah. Bis tersasar hingga ke gang sempit yang membuat supir bis harus ekstra keras bermanuver saat mengemudikan bis.   Supir bis akhirnya memarkirkan kendaraan di pinggir jalan, sementara si petugas afrika tadi turun dari bis dan mencari tahu arah jalan yang benar.

Sejak di Madinah, supir dan kondektur bis yang kami tumpangi memang sepertinya tidak memahami jalur jalan saat berada di kota, baik saat di Madinah dan terbukti saat kami sudah berada di mekkah. Saat di Madinah, supir bis sempat beberapa kali bertanya kepada pengemudi kendaraan lain, menanyakan jalur jalan yang menuju ke mekkah.

Pada kondisi sedang mencari informasi kejelasan arah jalan menuju hotel. Ada jamaah yang dengan membawa handphone android berisi aplikasi Haji Pintar, mencoba memberikan infornasi lokasi hotel berdasarkan informasi yang terdapat pada aplikasi haji pintar.

Menyaksikan hal tersebut, dalam hati saya hanya berguman dalam hati, “ini seperti orang buta memberitahukan orang buta …”   Faktanya rekan-rekan jamaah haji yang baru pertama kali ke Mekkah, tidak bisa bahasa arab, berusaha memberitahukan lokasi hotel lengkap dengan petanya, ke supir bis yang aslinya adalah orang arab. Si orang Arab tidak menangkap maksud dari si rekan jamaah, sementara si rekan jamaah hanya bisa menyorong-nyorongkan smartphonenya ke si supir tanpa bisa bicara apapun dalam bahasa arab. Akhirnya yang terjadi adalah si supir hanya manggut-manggut saja …..

Hotel Pemondokan Mekkah

Setelah menunggu selama hampir 1 jam, akhirnya supir sudah mendapat kepastian lokasi hotel tempat kami harus diantarkan.   Perjalanan berlanjut dan akhirnya kami tiba di Hotel Pemondokan kami, Al-Jawharah Tower yang memiliki daya tampung sebanyak 21.566 orang jamaah haji.

Saat tiba di Hotel, petugas penyambutan hotel naik ke atas bis dan memberikan sambutan selamat datang kepada para jamaah haji. Sambutan diberikan dalam bahasa Indonesia dengan logat arab Saudi. Cukup lucu terdengar, tapi masih dapat kami pahami dengan baik maksud dari perkataannya.

Selain petugas yang memberikan sambutan, ke atas bis juga naik 2 orang petugas lainnya. 1 orang memberikan permen sebagai ungkapan selamat datang, sedangkan 1 orang lainnya memberikan gelang indentitas Hotel yang harus kami kenakan selama kami berada di Mekkah, serta Kartu yang berisi informasi Hotel dan Maktab selama berada di mekkah.

Ada beberapa pesan yang disampaikan untuk para jamaah haji yang baru tiba di mekkah, yaitu :

  1. Setiap jamaah haji harus mengatur jadwal keberangkatan ke Masjidil Haram baik dalam melaksanakan umrah atau thawaf sunnah, mengingat terbatasnya area Masjidil Haram dan dikhawatirkan kondisi di dalam masjid yang berdesak-desakan.
  2. Apabila jamaah haji melaksanakan umrah, untuk menghindari desak-desakan maka berhati-hati pada saat melintasi lorong yang menuju sai dan diupayakan apabila selesai sai untuk keluar dari masjid melalui pintu Marwah dan tidak kembali ke dalam masjid.
  3. Tidak membawa uang dan barang berharga berlebihan untuk menghindari kejahatan dan kehilangan.
  4. Jamaah haji juga diminta tidak mudah diajak pergi oleh orang yang belum dikenal meskipun dia orang Indonesia. Apabila jamaah haji membutuhkan bantuan mintalah kepada petugas haji Indonesia yang memakai tanda pengenal resmi.
  5. Jamaah haji diimbau menjaga stamina dan kesehatan serta fokus untuk kegiatan pokok ibadah haji, yaitu wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah dan Mina.
  6. Jamaah haji diminta tidak memaksakan diri melakukan ibadah-ibadah sunnah yang menguras ketahanan fisik seperti melakukan thawaf sunnah, umrah sunnah berulang kali dan lain-lain.
  7. Jamaah haji dianjurkan memperbanyak minum air putih, mengkonsumsi makanan dan buah-buahan, istirahat yang cukup serta menghindari kontak langsung dengan matahari dan selalu menggunakan masker agar mencegah penyebaran virus korona.

Kami akhirnya turun dari bis dan langsung menuju ke Lobby Hotel. Kami menunggu pembagian kamar dan menanti Koper besar kami diturunkan dari bagasi bis.

Terkait dengan koper besar, kami harap-harap cemas menunggu kepastian apakah koper besar kami ada bersama bis yang membawa kami atau terbawa oleh bis lainnya. Setelah seluruh koper diturunkan dari bagasi bis, kami terdiam lemas, karena dipastikan tas kami tidak ada di bagasi bis yang membawa kami ke mekkah.

Berdoa ….. itu yang kami lakukan ketika menyadari tidak ada kepastian di bis mana koper kami berada. Istri tercinta juga nampak diam dan berdoa. Kemudian istri tercinta mengajak kami ke sofa yang ada di satu sudut hotel yang sepi dari jamaah haji. Saat berjalan kesana ….. Subhanallah …. Tiba-tiba didepan kami terlihat 2 tas yang tersimpan dipojokan yang indentitasnya jelas menunjukkan itu koper besar kami.

“Subhanallah ….. Alhamdulillah …. “ berkali-kali kami ucapkan ketika menyadari koper besar kami ternyata tersimpan aman di pojokan hotel.

Tak lama, Ketua kloter memberikan pengumuman bahwa seluruh jamaah kloter 12 JKS diminta untuk menuju Tower 2 lantai 12 . Kami bergegas menuju ke lantai yang dimaksud. Rekan jamaah haji kami dalam satu regu kemudian menyampaikan bahwa dirinya sudah memegang 2 kunci kamar berkapasitas 4 orang. Kami segera membuat 1 kelompok dalam 1 kamar berisi 4 orang jamaah pria dan dalam kamar lainnya 4 orang jamaah wanita.   Kondisinya pas, kami kelompok laki-laki sebanyak 4 orang berada dalam 1 kamar, dan istri-istri kami juga berada dalam kelompok 1 kamar. Alhamdulillah …. Kami dimudahkan kembali dalam hal kamar pemondokan saat berada di tanah suci.

Fasilitas yang tersedia di setiap kamar adalah kamar mandi dengan shower dan air panas, meja dengan 2 buah kursi, 4 tempat tidur dengan 4 laci pribadi, 1 lemari pakaian dengan 4 rak terbuka, pesawat televisi dengan beberapa chanel TV, serta 1 lemari pendingin.

Saat Pertama Memandang

Pada saat itu kami semua masih dalam kondisi berihram. Saat sudah dipastikan mendapatkan kamar, kami bergegas masuk ke kamar dan menjalankan ibadah sholat mahgrib yang dijama’ bersama sholat isya. Usai sholat kami putuskan untuk segera menuju ke masjidil haram untuk melaksanakan prosesi selanjutnya, yaitu Tawaf Qudum, Sai, dan Tahallul.

Kami memutuskan berangkat ke Masjidil haram bersama-sama dengan regu lain. Regu kami sendiri sejak di Madinah sudah terasa tidak berjalan sesuai yang seharusnya. Kami merasa ketua regu kami tidak dapat kami andalkan untuk memimpin kegiatan ibadah haji kami selama di Mekkah.

Kami memaklumi kondisi tersebut, karena baik kami maupun ketua regu kami, adalah jamaah haji yang baru pertama kali berhaji.

“Pak …. Kami boleh khan ikut dalam rombongan regu Bapak ? “ tanya kami kepada salah satu Ketua Regu yang masih dalam 1 rombongan dengan kami. “silahkan …. Silahkan …. “ jawab sang ketua regu tersebut.

Kami akhirnya bersiap menuju ke Masjidil Haram. Saya dan istri sangat mengandalkan rekan jamaah haji lain yang juga sama-sama akan menuju ke Masjidil Haram.

Saat berada di jalan di depan hotel, ternyata banyak jamaah haji yang juga akan menuju ke Masjidil Haram. Sebagian besar mereka berangkat dalam 1 kelompok rombongan yang sama.

Kami berjalan mengikuti arus jamaah haji yang kami pastikan akan menuju ke masjidil haram. Kondisi kami sebenarnya lelah setelah menempuh perjalanan selama 8 jam. Namun karena ingin segera bertahallul, yang salah satunya adalah sarat untuk melepas ihram dan berganti dengan baju biasa, jadilah akhirnya kami putuskan untuk menuntaskan prosesi umrah wajib kami.

Kondisi jalan menuju Masjidil Haram yang dipenuhi oleh jamaah haji, membuat perjalanan kami tidak terasa melelahkan. Jika melihat dari aplikasi Haji Pintar, jarak dari pemondokan kami ke Masjidil haram adalah 1 kilometer. Namun itu adalah jarak dengan system tarik garis lurus di peta. Pada kenyataannya, jika diukur secara jalur jalan real, jaraknya bisa mencapai 2,5 kilometer.

Waktu menunjukkan pukul 23.00 waktu KSA saat kami menuju ke Masjidil Haram.

Subhanallah ….. dari kejauhan menara Masjidil Haram dengan lampu warna Hijau terangnya sudah mulai terlihat ….. langkah kaki kami terasa lebih ringan …

Saat memasuki pelataran, kami singgah sebentar ke area wudhu untuk berwudhu sebelum tawaf.

Usai berwudhu kami masuk ke dalam masjidil haram melalui gerbang King Abdul Aziz, sebelumnya kami berdoa sesuai dengan buku panduan doa

Allaahumma antas salaamu waminas salaamu wailaika ya’uudus salaamu fahayyinaa rabbanaa bis-salaami wa-adkhilnal jannata daaras salaami tabaarakta rabbanaa wata’aalaita yaa dzal jalaali wal-ikraami. Allaahummaftah lii abwaaba rahmatika. Bismillaahi walhamdu lillaahi wash-shalaatu was-salaamu ‘alaa rasuulillaahi.

Artinya: “Ya Allah, Engkau sumber keselamatan dan daripada-Mulah datangnya keselamatan dan kepada-Mu kembalinya keselamatan. Maka hidupkanlah kami wahai Tuhan, dengan selamat sejahtera dan masukkanlah kami ke dalam surga negeri keselamatan. Maha banyak anugerah-Mu dan Maha Tinggi Engkau wahai Tuhan yang memiliki keagungan dan kehormatan. Ya Allah, bukakanlah untukku pintu-pintu rahmat-Mu (aku masuk masjid ini) dengan nama Allah disertai dengan segala puji bagi Allah serta shalawat dan salam untuk Rasulullah.”

Masuk ke masjidil haram, kami langsung menuju ke lokasi Ka’bah untuk memulai prosesi Tawaf. Melihat untuk pertama kalinya Ka’bah secara langsung, saya dan istri tercinta tak mampu membendung air mata. Jika selama ini kami hanya melihat gambarnya di sajadah yang menjadi alas sholat kami, saat diberi kesempatan untuk melihatnya secara langsung, sungguh kami merasakan berkah dan karunia luar biasa yang diberikan oleh Allah kepada kami berdua.

Kami membaca doa saat melihat kabah sesuai dengan buku panduan doa.

Allahumma zid haadzal baita tasyriifan wata’zhiiman wamahaabatan. Wazid man syarrafahu wa’azhzhamahu wakarramahu mimman hajjahu ami’tamarahu tasyriifan wata’zhiiman watakriiman wabirran.

Artinya: “Ya Allah, tambahkanlah kemuliaan, keagungan, kehormatan dan wibawa pada Bait (Ka’bah) ini. Dan tambahkan pula pada orang-orang yang memuliakan, mengagungkan dan menghormatinya di antara mereka yang berhaji atau yang berumrah dengan kemuliaan, keagungan, kehormatan dan kebaikan.”

Walaupun kondisi sudah hampir tengah malam, namun situasi area tawaf sangat ramai dan dipenuhi oleh jamaah haji dari berbagai negara yang sedang melakukan tawaf, baik tawaf qudum maupun tawaf sunnah.

Perlahan kami memasuki area tawaf menuju ke arah Rukun Yamani, sehingga kami dapat memulai putaran pertama tawaf saat berada di Rukun Hajar Aswad.

Ibadah Thawaf adalah ibadah mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh kali. Dimana tiga putaran pertama , jika memungkinkan dengan lari- lari kecil , dan putaran selanjutnya berjalan biasa. Thawaf dimulai dan berakhir di Hajar Aswad (tempat batu hitam) dengan menjadikan Baitullah disebelah kiri. Selain Hajar Aswad sebagai tanda awal dan akhir thawaf, jamaah umroh dan haji juga bisa melihat di dinding Masjidil Haram, sebelah kanan jamaah umroh dan haji ada lampu hijau sebagai tanda awal dan akhir tawaf.

Saat memulai tawaf, kami berupaya untuk saling menjaga keutuhan rombongan. Namun memasuki putaran kedua, keutuhan rombongan sulit kami jaga. Akhirnya rombongan kami terpecah.

Saya bersama istri melakukan tawaf bersama dengan posisi istri berada di depan saya. Saya berada di belakang istri sambil memegang pundak istri, mengarahkan jalannya tawaf dengan mencari area yang tidak terlalu padat.

Istri berjalan didepan sambil membaca Buku Panduan Doa saat tawaf, dimana didalamnya dijelaskan doa-doa yang dibaca pada saat melakukan Putaran tawaf pertama, putaran tawaf kedua, hingga putaran tawaf ke 7. Saya sendiri selama melakukan tawaf dari Rukun Hajar Aswad hingga ke Rukun Yamani, membaca tasbih

Maha suci Allah, segala puji bagi Allah dan tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar. Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah yang Maha Tinggi dan Maha Agung. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ampunan, kesehatan dan kesejahteraan yang langgeng, baik dalam urusan agama, dunia maupun akhirat.

Pada setiap mencapai Rukun Yamani, saya memberikan isyarat kepada istri dengan mengeraskan bacaan pada saat mencapai rukun Yamani, dimana setiap kali sampai di rukun Yamani, sambil mengusap nya atau bila tidak mungkin maka mengangkat tangan tanpa di kecup sambil mengucap

Dengan menyebut nama Allah dan Allah Mahabesar

Selanjutnya saat berjalan antara Rukun Yamani hingga menuju ke Hajar Aswad, kami membaca :

“Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan hindarkanlah kami dari siksa neraka.”

“Dan masukkanlah kami ke dalam surga bersama orang-orang yang berbuat baik, wahai Tuhan Yang Maha Per kasa, Maha Pengampun dan Tuhan yang menguasai seluruh alam.”

Saat sudah tiba di Hajar aswad, saya memberikan isyarat kepada istri dengan mengeraskan bacaan pada saat mencapai hajar aswad, dimana setiap kali sampai di hajar aswad, sambil mengusapnya atau bila tidak mungkin maka mengangkat tangan kemudian mengecup tangan sesudah mengucapkan :

Dengan menyebut nama Allah dan Allah Mahabesar

Setiap kali putaran yang berawal dari Hajar aswad, dan tiba kembali ke hajar aswad, kami sudah menuntaskan 1 putaran dari 7 putaran yang disyariatkan.

Pada putaran pertama sampai dengan putaran ke 3, kami melakukan putaran mendekati Kabah. Harapannya saat berada di Rukun Hajar aswad, kami berharap dapat mendekat dan mencium hajar aswad.

Saat untuk pertama kalinya dapat mendekati kabah, kami dan istri tercinta mendekat ke kabah, menyentuh kabah, mencium bau harum kabah yang tidak pernah kami dapat gambarkan seprti apa bau harum kabah tersebut.

Kami berdua menangis, meneteskan air mata bahagia karena hanya atas izin dan perkenan dari Allah Subhanna Wa Ta’ala jualah kami dapat berkunjung ke Baitullah.

Saat berada di rukun yamani, kami berjalan perlahan disisi kabah menuju ke hajar aswad. Namun, kepadatan yang luar biasa saat mendekati hajar aswad, membuat saya mengarahkan istri tercinta menjauh dari hajar aswad. “Insya Allah kita bisa mencium hajar aswad bun … “ ucapku kepada istri tercinta.   “keselamatan diri harus kita utamakan, ritual haji kita masih panjang …. “ lanjutku kepada istri tercinta.

Kami terus berputar menyelesaikan tawaf kami. Pada putaran ke 4 sampai dengan putaran terakhir, arah putaran yang kami lakukan adalah arah putaran yang menjauhi Ka’bah dan mendekatai area terluar tawaf. Ini kami lakukan untuk memudahkan kami saat sudah menyelesaikan tawaf. Mengingat kepadatan area tawaf pada malam itu relatife sangat padat.

Kami sudah terpisah dengan rombongan kami. Berbekal buku panduan yang kami bawa, serta membaca arah petunjuk yang disediakan di masjidil haram, kami memiliki keyakinan bahwa kami dapat melaksanakan prosesi umrah wajib kami.

Usai melakukan tawaf, kami kemudian bergeser ke arah maqom ibrohim untuk melaksanakan sholat sunat tawaf.

Shalat tawaf adalah slalat sunnat yang dikerjakan setelah mengerjakan Tawaf. Hukum mengerjakan shalat sunnat thawaf ini adalah sunnat muakkad , yaitu sunnat yang sangat diutamakan untuk dikerjakan.   Bilangan rakaat shalat thawaf adalah sebanyak dua rakaat. Pada shalat tersebut setelah membaca Fatihah pada rakaat pertama sebaiknya membaca Surat al-Kafirun, dan pada rakaat kedua setelah membaca Fatihah sebaiknya membaca Surat al-Ikhlas.

Selesai melaksanakan sholat sunnah Tawaf, kami kemudian bergeser ke arah multazam dengan berdoa. Alhamdulilah, Sholat Sunat Tawaf walaupun jauh dari makan Ibrahim, namun saya beserta istri melakukannya persis sejajar dengan makam Ibrahim. Begitu pula saat berdoa di depan multazam. Walaupun tidak berdekatan langsung dengan multazam, namun kami diberikan kesempatan untuk berdoa di lokasi yang sejajar di depan multazam.

Saat berdoa di depan multazam, kami tak kuasa menahan air mata yang jatuh tatkala kami mengucap syukur yang tiada terkira kepada Allah Subhanna Wa Ta’ala yang tiada habisnya memberikan cucuran Rahmat dan karunia kepada kami. Kami berdoa untuk kesehatan, kesejahteraan, kelancaran rezeki kami dan keluarga, orang tua, adik dan kakak kami.