^Kembali ke Atas

foto1 foto2 foto3 foto4 foto5

Khusuk dan Sahdu di Nabawi

Masuk ke dalam masjid Nabawi , kami segera tunaikan sholat Tahiyatul Masjid. Sesudahnya kami menunggu masuk waktu sholat Dzhuhur. “Subhanallah …. Indah sekali ornament masjid Nabawi …” gumamku dalam hati sambil mengamati sekeliling masjid nabawi.

Usai sholat dzuhur, kami lanjutkan dengan berdzikir dan selanjutnya berdo’a. Dalam do’a tak lepas-lepasnya kami panjatkan puji syukur kami atas nikmat yang telah diberikan Allah Subhanna Wa Ta’ala, sehingga kami menjadi salah satu hambaNya yang dapat berkunjung ke tanah suci Madinah.

Saat doa usai dipanjatkan, kami tunaikan sholat sunnah ba’diyah, dan sesudahnya segera bangun dari duduk dan bersiap keluar Masjid Nabawi untuk kembali ke Hotel.

Janji bertemu istri di depan gerbang masuk Masjid Nabawi no.17 nampaknya sulit direalisasikan. Hal ini karena jamaah yang keluar dari masjid Nabawi menuju ke gerbang No.17 jumlahnya sangat banyak, dan agak kesulitan bagi kami untuk melihat keberadaan istri tercinta. Jadilah akhirnya kami putuskan untuk segera kembali Ke Hotel dan menunggu istri di Lobby Hotel.

Kami akhirnya bertemu dengan istri, juga dengan rekan kami satu kamar. Sesuai dengan kesepakatan pada saat sebelum berangkat sholat Dzuhur, kami akhirnya memutuskan untuk “pindahan kamar”.   Alhamdulillah … selama di Madinah kami bisa satu kamar dengan istri tercinta.

Khusuk dan Sahdu di Nabawi

Masuk ke dalam masjid Nabawi , kami segera tunaikan sholat Tahiyatul Masjid. Sesudahnya kami menunggu masuk waktu sholat Dzhuhur. “Subhanallah …. Indah sekali ornament masjid Nabawi …” gumamku dalam hati sambil mengamati sekeliling masjid nabawi.

Usai sholat dzuhur, kami lanjutkan dengan berdzikir dan selanjutnya berdo’a. Dalam do’a tak lepas-lepasnya kami panjatkan puji syukur kami atas nikmat yang telah diberikan Allah Subhanna Wa Ta’ala, sehingga kami menjadi salah satu hambaNya yang dapat berkunjung ke tanah suci Madinah.

Saat doa usai dipanjatkan, kami tunaikan sholat sunnah ba’diyah, dan sesudahnya segera bangun dari duduk dan bersiap keluar Masjid Nabawi untuk kembali ke Hotel.

Janji bertemu istri di depan gerbang masuk Masjid Nabawi no.17 nampaknya sulit direalisasikan. Hal ini karena jamaah yang keluar dari masjid Nabawi menuju ke gerbang No.17 jumlahnya sangat banyak, dan agak kesulitan bagi kami untuk melihat keberadaan istri tercinta. Jadilah akhirnya kami putuskan untuk segera kembali Ke Hotel dan menunggu istri di Lobby Hotel.

Kami akhirnya bertemu dengan istri, juga dengan rekan kami satu kamar. Sesuai dengan kesepakatan pada saat sebelum berangkat sholat Dzuhur, kami akhirnya memutuskan untuk “pindahan kamar”.   Alhamdulillah … selama di Madinah kami bisa satu kamar dengan istri tercinta.

Sejarah Masjid Nabawi

Merujuk kepada wikipedia, Masjid Nabawi adalah masjid kedua yang dibangun oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, setelah Masjid Quba yang didirikan dalam perjalanan hijrah dia dari Mekkah ke Madinah. Masjid Nabawi dibangun sejak saat-saat pertama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tiba di Madinah, yaitu di tempat unta tunggangan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menghentikan perjalanannya. Lokasi itu semula adalah tempat penjemuran buah kurma milik anak yatim dua bersaudara Sahl dan Suhail bin ‘Amr, yang kemudian dibeli oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, untuk dibangunkan masjid dan tempat kediaman dia.

Awalnya, masjid ini berukuran sekitar 50 m × 50 m, dengan tinggi atap sekitar 3,5m. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. turut membangunnya dengan tangannya sendiri, bersama-sama dengan para shahabat dan kaum muslimin. Tembok di keempat sisi masjid ini terbuat dari batu bata dan tanah, sedangkan atapnya dari daun kurma dengan tiang-tiang penopangnya dari batang kurma. Sebagian atapnya dibiarkan terbuka begitu saja. Selama sembilan tahun pertama, masjid ini tanpa penerangan di malam hari. Hanya di waktu Isya, diadakan sedikit penerangan dengan membakar jerami.

Kemudian melekat pada salah satu sisi masjid, dibangun kediaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Kediaman Nabi ini tidak seberapa besar dan tidak lebih mewah dari keadaan masjidnya, hanya tentu saja lebih tertutup. Selain itu ada pula bagian yang digunakan sebagai tempat orang-orang fakir-miskin yang tidak memiliki rumah. Belakangan, orang-orang ini dikenal sebagai ahlussufah atau para penghuni teras masjid.

Setelah itu berkali-kali masjid ini direnovasi dan diperluas. Renovasi yang pertama dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab pada tahun 17 H, dan yang kedua oleh Khalifah Utsman bin Affan pada tahun 29 H. Di zaman modern, Raja Abdul Aziz dari Kerajaan Saudi Arabia meluaskan masjid ini menjadi 6.024 m² pada tahun 1372 H.

Perluasan ini kemudian dilanjutkan oleh penerusnya, Raja Fahd pada tahun 1414 H, sehingga luas bangunan masjidnya hampir mencapai 100.000 m², ditambah dengan lantai atas yang mencapai luas 67.000 m² dan pelataran masjid yang dapat digunakan untuk salat seluas 135.000 m². Masjid Nabawi kini dapat menampung kira-kira 535.000 jamaah.

Keutamaan Masjid Nabawi dinyatakan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagaimana diterima dari Jabir ra. (yang artinya):

"Satu kali salat di masjidku ini, lebih besar pahalanya dari seribu kali salat di masjid yang lain, kecuali di Masjidil Haram. Dan satu kali salat di Masjidil Haram lebih utama dari seratus ribu kali salat di masjid lainnya." (Riwayat Ahmad, dengan sanad yang sah)

Diterima dari Anas bin Malik bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda (yang artinya):

"Barangsiapa melakukan salat di mesjidku sebanyak empat puluh kali tanpa luput satu kali salat pun juga, maka akan dicatat kebebasannya dari neraka, kebebasan dari siksa dan terhindarlah ia dari kemunafikan." (Riwayat Ahmad dan Thabrani dengan sanad yang sah)

Dari Sa’id bin Musaiyab, yang diterimanya dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda (yang artinya):

"Tidak perlu disiapkan kendaraan, kecuali buat mengunjungi tiga buah masjid: Masjidil Haram, masjidku ini, dan Masjidil Aqsa." (Riwayat Bukhari, Muslim dan Abu Dawud)

Berdasarkan hadis-hadis ini maka Kota Medinah dan terutama Masjid Nabawi selalu ramai dikunjungi umat Muslim yang tengah melaksanakan ibadah haji atau umrah sebagai amal sunnah.

Salah satu bagian Masjid Nabawi terkenal dengan sebutan Raudlah (taman surga). Doa-doa yang dipanjatkan dari Raudlah ini diyakini akan dikabulkan oleh Allah Subhanna Wa Ta’ala. Raudlah terletak di antara mimbar dengan makam (dahulu rumah) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Diterima dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda (yang artinya):

"Tempat yang terletak di antara rumahku dengan mimbarku merupakan suatu taman di antara taman-taman surga, sedang mimbarku itu terletak di atas kolamku." (Riwayat Bukhari)

Raudhah adalah tempat yang memiliki keutamaan lebih. Tempat yang sangat mulia itu merupakan tempat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam beribadah, memimpin sholat, menerima wahyu, teriring pula tentunya ibadah para sahabat nan sholeh.

Kini Raudhah berada didalam Masjid Nabawi, namun dahulu 'Raudhah' yang dalam bahasa Indonesia berarti taman, taman yang dimaksud adalah Taman Syurga atau Taman Nabi. Dahulu 'Raudhah Nabi' ini adalah ruang diantara mimbar dan kamar Rasulullah di dalam masjid Nabawi.

Lokasi Raudhah merupakan bagian dari shaf laki-laki, dan hanya terbuka untuk perempuan di jam jam tertentu. Saat Dhuha dan setelah sholat dzuhur.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dimakamkan di tempat meninggalnya, yakni di tempat yang dahulunya adalah kamar Ummul Mukminin Aisyah ra., isteri Nabi. Kemudian berturut-turut dimakamkan pula dua shahabat terdekatnya di tempat yang sama, yakni Abu Bakar Al-Shiddiq dan Umar bin Khattab. Karena perluasan Masjid Nabawi, ketiga makam itu kini berada di dalam masjid, yakni di sudut tenggara (kiri depan) masjid. Sedangkan Aisyah dan kebanyakan shahabat yang lain, dimakamkan di pemakaman umum Baqi. Dahulu terpisah cukup jauh, kini dengan perluasan masjid, Baqi letaknya menjadi bersebelahan dengan halaman Masjid Nabawi.

Setibanya di pelataran Masjid Nabawi, kami sempatkan mengabadikan keindahan Masjid Nabawi. Hal yang kami anggap sangat mengagumkan saat berada di pelataran Masjid Nabawi adalah keberadaan Payung Raksana yang melindungi jamaah haji dari cuaca panas selama berada di Masjid Nabawi

Payung-payung ini terpasang di Pelataran Masjid Nabawi sejak Bulan agustus 2001.   Keberadaan payung di Masjid Nabawi sangat membantu jamaah haji asal Indonesia, karena suhu udara panas di pelataran Masjid Nabawi menjadi sedikit berkurang.  

Sesuai dengan arahan dari Petugas Pembimbing Haji, seluruh jamaah haji diminta untuk memastikan sholat Arbain dapat berjalan tanpa terputus, memperbanyak dzikir dan doa selama di masjid Nabawi, serta mengunjungi beberapa tempat bersejarah di sekitar Masjid Nabawi.

Selama berada di Madinah, pola ibadah kami di Masjid Nabawi adalah sebagai berikut :

  • Pukul 02.00 pagi ke Masjid Nabawi untuk melaksanakan sholat Tahajud, Sholat Witir, Sholat Fajar, Sholat Subuh, dan Sholat Dhuha.
  • Waktu jeda antara sholat subuh dan sholat dhuha digunakan untuk membaca Al Quran
  • Usai sholat dhuha kembali ke Hotel untuk sarapan pagi
  • Pukul 11.00 kembali ke Masjid Nabawi untuk menunaikan sholat Dzuhur, dan sesudahnya segera kembali ke Hotel untuk Makan siang
  • Pukul 14.00 siang, kembali ke Masjid Nabawi untuk melaksanakan Sholat Ashar
  • Usai sholat ashar berdiam di Masjid Nabawi sambil membaca Al Quran hingga masuk waktu sholat mahgrib.
  • Usai sholat mahgrib tetap berada di masjid dan mendengarkan kajian islam berbahasa Indonesia
  • Saat masuk waktu sholat Isya, melakukan sholat isya dan sesudahnya baru kembali ke Hotel untuk makan malam dan beristirahat.

Sungguh suatu kenikmatan tersendiri dapat melaksanakan ibadah sholat di Masjid Nabawi bersama jutaan jamaah haji dari seluruh penjuru dunia. Setiap kali duduk bersebelahan di samping jamaah haji yang berasal dari Negara lain, saya biasanya menebak-nebak asal Negara mereka dari pakaian dan atribut yang mereka gunakan. Jika sulit untuk mengenali asal Negara dari atributnya, maka hanya dengan sapaan “assalamualaikum” dan mengulurkan tangan mengajak bersalaman sambil menyebutkan “Indonesia”, maka mereka akan menjawab salam kita dengan “Wa’alaikumsalam” … sambil menerima uluran jabat tangan kita, serta menyebutkan asal negara mereka.

Rindu Kami Padamu Rasul – Raudhah

Hari kedua di Madinah, kami sudah mendengar beragam cerita bahagia para jamaah haji yang sudah mengunjungi raudhah dan Makam Nabi. Semua yang berhasil masuk ke Raudhah selalu bercerita dengan mata yang berbinar-binar bahagia.

Kami yang mendengar cerita tentang Raudhah dan Makan Nabi, tentu juga ingin sekali berkunjung ke sana. Satu waktu usai sholat ashar , bersama beberapa rekan jamaah haji, kami berencana untuk memasuki Raudhah.   Saat masuk melalui Gerbang Abu Bakar Siddiq, kami dapati kenyataan bahwa kondisi jamaah yang akan masuk ke raudhah sudah demikian padat. Kepadatan jamaah yang akan memasuki area raudhah jauh diluar perkiraan kami.

Dominasi jamaah haji asal afrika yang berpostur tinggi besar, membuat kami ciut nyali ….. “ bagaimana jika kami tergencet oleh mereka ? “ itu yang ada dalam pikiran kami.

Saat berada di Hotel, kami kembali dihinggapi rasa yang amat sangat untuk dapat mengunjungi raudhah dan makam nabi. “Jamaah haji dari berbagai Negara akan makin memadati masjid Nabawi ….” Pikirku dalam hati.   “Jika, tidak sekarang, maka kemungkinan di hari lusa, tingkat kepadatannya pasti akan menjadi sangat luar biasa”

Esok harinya, ba’da sholat Dzuhur kami putuskan untuk memasuki area raudhah. Namun untuk memastikan kami dalam kondisi yang fit, usai sholat dzuhur kami segera kembali ke Hotel untuk makan siang dan minum secukupnya, dan sesudahnya segera kembali ke Masjid Nabawi untuk mencoba masuk ke area Raudhah.

Pemikiran kami sederhana ….. pada saat jam makan siang, pasti banyak jamaah haji yang sedang makan siang ketimbang masih berada di Masjid Nabawi. Kondisi tersebut membuka peluang bahwa area masuk raudhah pasti lebih sepi ketimbang ba’da sholat ashar, dimana tipikal jamaah haji saat usai sholat ashar biasanya tetap berada di masjid sampai tiba waktu sholat Mahgrib.

“Bismillahirrahmanirrahim …..” ucapku saat keluar dari lobby hotel menuju ke Masjid Nabawi untuk satu tujuan, mengunjungi Raudhah dan makan nabi.

Seperti biasa, kami masuk dari Gerbang Madinah No.17 dan langsung menuju ke bagian ujung lain dari gerbang tersebut yang nantinya akan mengarah ke area pelataran masjid Nabawi di sisi yang lainnya. Sekitar 10 meter keluar dari Gerbang No.17, terdapat Gerbang No.2 yang dikenal sebagai Gerbang Abu Bakar Siddiq, yang merupakan salah satu pintu masuk menuju ke area raudhah. Masuk melalui gerbang tersebut, benar saja …. Kondisi kepadatannya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan kemarin saat ba’da sholat Ashar.

Sistem masuk ke area raudhah ternyata di atur sedemikian rupa, yaitu dengan cara membagi area masuk per kotak dengan area kotak adalah batas antara pilar ke pilar. Setiap area kotak ditutup dengan partisi penutup. Kami antri mulai dari kotak terluar.

Sistem masuk ke area raudhah ternyata di atur sedemikian rupa, yaitu dengan cara membagi area masuk per kotak dengan area kotak adalah batas antara pilar ke pilar. Setiap area kotak ditutup dengan partisi penutup. Kami antri mulai dari kotak terluar.

Saat waktunya tiba, petugas askar membuka penutup kotak masuk pertama, dan seluruh jamaah yang sudah antri segera merengsek maju masuk ke dalam kotak pertama. Perjuangan yang luar biasa untuk bisa masuk ke kotak pertama. Saat kotak pertama terlihat penuh, maka partisi penutup dipasang kembali, sehingga kotak pertama tidak akan kelebihan daya tampung.

Petugas Askar kemudian bersiap untuk membuka partisi penutup untuk masuk ke area kotak kedua. Petugas askar sepertinya memberikan kesempatan para jamaah haji untuk beristirahat sejenak dan mengambil nafas untuk ke tahap selanjutnya.

Ketika akhirnya partisi penutup area kotak kedua dibuka, jamaah haji yang ada di kotak pertama langsung berebut masuk ke kotak kedua. Saat kotak kedua sudah terlihat penuh, maka partisi penutup kotak kedua ditutup. Pada saat itu, kotak pertama tempat kami sebelumnya berada sudah dalam kondisi kosong. Tak lama, saat kami di kotak kedua beristirahat, partisi Kotak pertama dibuka, dan jamaah langsung berebut masuk memenuhi area kotak pertama.

Sesudahnya, partisi kotak kedua kemudian dibuka dan jamaah segera berebut masuk mencari saff kosong di area yang sudah masuk dalam kategori area raudhah.

Ucapan syukur Alhamdulillah tak putus-putus saya ucapkan ketika menyadari bahwa hari itu saya sudah berhasil untuk memasuki area raudhah.

Saat di raudhah saya mendapatkan shaff di belakang tempat muadzin mengumandangkan adzan, sejajar dengan makam Baginda Rasul Nabi Muhammad Salllallahu alaihi wassalam.

Saya segera melakukan sholat sunnah tahiyatul masjid 2 rakaat dan sesudahnya menengadahkan tangan berdoa kepada Allah Subhanna Wa Ta’ala. Dalam doa, puja puji kepada Allah aku sanjungkan, ucapan syukur terima kasih saya sampaikan kepada Allah atas nikmatnya yang terus menerus kepada kami, sehingga dimudahkan untuk memasuki area raudhah.

Doa untuk kesehatan orang tua kami juga kami panjatkan, meminta yang terbaik untuk kesehatan orang tua kami, meminta kesehatan untuk keluarga kami, anak-anak kami, keluarga adik dan kakak kami. Kami panjatkan pula doa untuk kelancaran rezeki kami sekeluarga, juga kelancaran rezeki adik dan kakak kami. Selama memanjatkan doa, air mata tak mampu kami tahan untuk tidak menetes. Air mata jatuh deras tak tertahankan karena merasakan Berkah Karunia Allah yang tiada tara.

Tak lama, Muadzin mengumandangkan adzan sholat ashar. Alhamdulillah ….. kami masih bisa menunaikan sholat wajib di area raudhah. Sungguh karunia yang luar biasa yang Allah limpahkan kepada kami hari ini.

Saat menunggu iqomah dikumandangkan, tak mau menyia-nyiakan waktu saat berada di raudhah, doa-doa kembali kami panjatkan. Lagi-lagi, air mata tak mampu kami bendung kala kami melantunkan doa kami kepada Allah Subhanna Wa Ta’ala.

Iqomah untuk sholat ashar dikumandangkan, kami melaksanakan sholat bersama jamaah dari berbagai Negara di raudhah. Kekhusuk’an luar biasa kami alami saat melaksanakan sholat ashar di lokasi yang dijanjikan mustajab seluruh doa. Bacaan sholat sejatinya adalah lantunan doa-doa kepada Allah Subhanna Wa Ta’ala.

Usai sholat kami kembali khusuk berzikir dan berdoa. Air mata kembali menetes setiap kali kami panjatkan doa. “Ya Allah …. Hanya padamu Hamba meminta dan memohon Pertolongan …… “ menjadi bagian dari doa yang kami panjatkan.

Petugas askar kemudian meminta seluruh jamaah sholat ashar untuk bangun dan keluar dari area raudhah. Memberikan kesempatan bagi jamaah haji lainnya yang ingin juga memasuki area raudhah.   Saya bangun dari duduk dan mengikuti arus jamaah haji lainnya, keluar area raudhah dan berjalan mendekati Makam Nabi yang mengarah ke area pintu keluar.

Foto     Gerbang Abu Bakar – akses masuk ke Raudhah di Masjid Nabawi - Madinah
Foto     lokasi kami saat berkesempatan masuk ke dalam raudhah

Saat melintas di depan makam Nabi, Kami sampaikan salam dan doa kepada rasulullah seperti yang ada dalam Buku Petunjuk Doa Jamaah Haji :

“Selamat sejahtera atasmu wahai Rasulullah, rahmat Allah dan berkah-Nya untukmu. Selamat sejahtera atas mu wahai Nabiullah. Selamat se jah tera atasmu wahai makhluk pilihan Allah. Selamat sejahtera atasmu wahai kekasih Allah. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah satu-satunya. Tiada sekutu bagi-Nya dan sesungguhnya engkau telah benar -benar me nyampaikan risalah, engkau te lah menunaikan amanat, engkau telah memberi nasihat ke pada umat, engkau telah berjihad di jalan Allah, maka salawat yang abadi dan salam yang sempurna untukmu sampai hari kiamat. Ya Allah berikanlah pada beliau kemuliaan dan martabat yang tinggi serta bangkitkan dia di tempat yang terpuji yang telah Engkau janjikan padanya, sesungguhnya Engkau tidak akan mengingkari janji.

Saat melintas di depan makam Sahabat Nabi, Abu Bakar Sidiq, Kami sampaikan salam dan doa kepada rasulullah seperti yang ada dalam Buku Petunjuk Doa Jamaah Haji :

“Selamat sejahtera padamu wahai khalifah Rasulullah, selamat sejahtera padamu wahai teman Rasulullah dalam gua, selamat se jahtera padamu wahai orang yang mendermakan

semua hartanya karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Semoga Allah membalas de ngan sebaik-baiknya balasan dari umat Ra sulullah dan sung guh eng kau telah menggantikan Rasulullah sebagai khalifah yang baik, dan engkau telah menempuh jalan dan jejak nya dengan sebaik-baiknya, engkau telah membela Islam, engkau telah menghubungkan

silaturahmi dan engkau senantiasa menegakkan kebenaran sampai akhir hayat. Maka selamat sejahtera padamu dan

rahmat serta berkat Allah juga untukmu.”

Saat melintas di depan makam Sahabat Nabi, Umar bin Khattab , Kami sampaikan salam dan doa kepada rasulullah seperti yang ada dalam Buku Petunjuk Doa Jamaah Haji :

“Selamat sejahtera padamu wahai penyebar Islam. Selamat sejahtera padamu wahai orang yang tegas me misahkan yang benar dengan yang salah. Selamat se jahtera wahai orang yang senantiasa berkata dengan benar, engkau telah menjamin anak yatim, engkau telah menghubungkan silaturahmi dan dengan mulah Islam telah teguh dan kuat. Selamat sejahtera dan rahmat Allah jua padamu”

Pintu keluar Raudhah langsung mengarah ke pelataran masjid Nabawi di area sekitar pintu 36. Suka cita karena telah diberikan kesempatan untuk mengunjungi Raudhah, cuaca dan hawa panas seperti tidak aku rasakan. Aku bersegera untuk masuk kembali ke dalam Masjid Nabawi, beristirahat sejenak sambil menunggu waktu masuk sholat mahgrib.

Saat kembali ke Hotel saat ba’da sholat isya, saya ceritakan pengalaman berkunjung ke raudhah ke istri tercinta. Cerita ini ternyata juga membuat istri tercinta bersemangat untuk segera mengunjungi raudhah esok hari.

Ternyata benar adanya …. Saat makan siang di keesokan hari, istri tercinta bercerita dengan semangat bahwa ba’da sholat dhuha, dirinya berkesempatan untuk mengunjungi raudhah. Kesempatan berada diraudhah dimanfaatkan untuk melaksanakan sholat hajat, sholat mutlak, berdzikir, serta berdoa memohonkan ampun, memohonkan keselamatan keluarga, orang tua, serta adik dan kakak, memohonkan rezeki yang halal dan berkah untuk keluarga kami, orang tua adik dan kakak kami, serta memohonkan untuk diberikan kekuatan agar dapat selalu istiqomah menjalankan segala perintah dan larangan dari Allah Subhanna Wa Ta’ala.

Foto     area masuk Raudhah untuk jamaah haji wanita

Berbagi pengalaman saat masuk ke area raudhah, beberapa hal yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut :

  • Raudhah memiliki karpet yang berbeda dengan yang lain. Warna karpetnya adalah hijau muda. Sedangkan wilayah non raudhah berwarna merah.
  • Saat yang paling sepi di Raudhah adalah jam 1 hingga jam 2 malam.
  • Wanita memiliki jam-jam tertentu untuk ke raudhah. Yaitu setelah shalat subuh hingga jam 10.00. setelah shalat dhuhur hingga jam 14.30. dan setelah shalat isya hingga jam 23.00.
  • Karena sempitnya wilayah Raudhah, maka pengurus Masjid Nabawi membagi kelompok-kelompok wanita yang akan masuk Raudhah. Biasanya sesama wanita asia (Indonesia, Malaysia, Brunei) dijadikan satu kelompok. Sedangkan wanita arab dan afrika (yang fisiknya lebih besar) biasanya dibarengkan satu kelompok. Selain itu rentang waktu di raudhah pun dibatasi bagi wanita. Rata-rata 15 menit.
  • Walaupun berdesakan usahakan untuk tidak melangkahi di depan orang yang sedang shalat. Karena Rasulullah bersabda : "Janganlah kalian shalat, kecuali menghadap sutrah (pembatas) dan janganlah kalian membiarkan seorangpun lewat di hadapanmu, jika dia menolak hendaklah kamu bunuh dia, karena sesungguhnya ada syetan yang bersamanya." (HR. Muslim)
  • Selain shalat sunnah, dapat pula beribadah dalam bentuk yang lain, misalnya membaca Al Qur'an, berdzikir, dan berdoa.
  • Jangan mendzalimi orang lain dengan mendorong, menyikut, merebut tempat shalat, menginjak bahkan berkelahi. Ingatlah, beribadah di Raudhah adalah ibadah sunnah, sedangkan mendzalimi orang lain adalah wajib untuk dihindari. Maka secara hukum fikih, sunnah dikalahkan oleh yang wajib.
  • Jangan terlalu lama di Raudhah, berikan kesempatan bagi saudara kita untuk beribadah disana, semoga Allah membalas kebaikan anda tersebut.
  • Bantulah orang lain yang kesulitan. Misalnya ada orang tua yang sulit untuk berdiri, atau kesulitan berjalan karena berdesak-desakan. Karena bentuk ibadah sangat luas. Menolong orang lain juga termasuk ibadah yang utama.

Point terakhir di atas, memang benar adanya. Berbekal niat tulus untuk membantu 2 rekan jamaah haji dalam rombongan yang sama dengan kami, raudhah dapat kami kunjungi dengan lancar selama 2 kali kunjungan.

Dua hari Berturut-turut, saya berkesempatan membantu 2 jamaah haji rekan kami untuk mengunjungi raudhah. Bantuan yang saya berikan hanya sekedar menemani dan membantu menjaga dari belakang saat berdesakan-desakan memasuki raudhah.

Rekan jamaah haji pertama yang saya temani adalah Bp. Azis yang usianya sekitar 65 tahun yang jika boleh dibilang, lebih mirip orang tua saya ketimbang teman saat ibadah haji. Beliau Pensiunan tentara yang tinggal di kawasan lubang buaya.

Rekan jamaah haji kedua yang saya temani adalah Bp. Arman yang usianya sekitar 55 tahun. Pegawai swasta yang karena kondisinya merasa tidak sanggup untuk masuk ke raudhah tanpa ada yang menemani dan mengawal di belakang untuk menghindari tergencet saat harus berdesakan masuk ke raudhah.

Alhamdulillah, proses perjalanan menuju ke raudhah berjalan dengan lancar. Kami turut tersenyum berbahagia ketika dapat menyaksikan 2 rekan jamaah haji tersebut merasakan kebahagiaan yang amat sangat karena dapat mengunjungi raudhah dan berkunjung ke Makam Rasul serta 2 sahabat utama Nabi Muhammad Sallalahu Alaihi Wassalam.

Pada kunjungan terakhir ke raudhah, bersama dengan Pak Arman, sesudahnya keluar dari area raudhah, saya meminta izin kepada Pak Arman untuk tidak menemani Pak Arman kembali ke dalam area Masjid Nabawi. Saya ingin langsung berkunjung ke Makam Baqi. Situs penting yang masih berada di sekitar Masjid Nabawi itu masih belum sempat kami kunjungi.

Ziarah ke Makam Baqi

Baqi al Ghorqod terletak di sebelah timur Masjid Nabawi. Ia adalah pemakaman penduduk Madinah mulai dari zaman Rasulullah hingga saat ini, lebih dari 10.000 sahabat, ahli bait, keturunan, paman dan istri Rasulullah (Selain Siti Khodijah dan Siti Maimunah) serta para tabiin dimakamkan disana.

Menurut bahasa, Baqi berarti tempat dimana terdapat tunggul berbagai jenis pohon, dari itulah dinamakan "Baqi al Ghorqod". Al-Gharqad adalah pohon berduri yang sangat besar.

Berbagai sumber sejarah menunjukan bahwa yang dikubur pertama kali di tempat suci itu adalah "Utsman bin Mazh'un". Kemudian disampingnya dimakamkan Ibrahim, putra Rasulullah.

Rasulullah sendiri sering pulang pergi ke makam baqi. Biasanya beliau pergi ke Baqi pada malam hari, lalu berdoa dan memohonkan ampunan bagi penghuninya. Diriwayatkan dari Ibnu Umar, Nabi Muhammad bersabda, "Siapa yang mau meninggal di Madinah, hendaklah dia meninggal di Madinah. Sesungguhnya aku akan memberi syafaat bagi siapa saja yang meninggal disana," (HR. Ahmad)

Pemakaman baqi seluas 174.962 meter persegi tersebut buka setiap selesai sholat subuh setiap harinya sampai dengan jam 09.00 pagi waktu Madinah, dan untuk sore harinya adalah setelah selesai sholat Ashar sampai dengan Jam 17.00 waktu Madinah.

Saat ini Baqi hanya terdiri dari hamparan tanah merah dan batu tanpa ada penanda siapa yang dikuburkan. Menurut cerita, sebetulnya Baqi sempat dipenuhi dengan bangunan-bangunan yang sekaligus menjadi penanda siapa yang dikuburkan di situ. Sayangnya pada masa awal pemerintahan Saudi, bangunan-bangunan indah ini dihancurkan. Saat ini sangat sulit mengetahui siapa saja yang dikuburkan di situ.

Saat berziarah ke makam baqi, doa yang biasa diucapkan Rasulullah ketika beliau medatangi makam baqi:

"Assalamu'alaikum daari qoumim mu'minin, wa ataakum maa tuu'aduuna godam muajjaluuna, wa inna insha allahu bikum laahikuun, Allahummagfirli liahli baqiil qhorkodi"(HR. Muslim)

"Semoga keselamatan tercurah pada kalian wahai penghuni rumah kaum mukminin, akan segera datang pada kalian apa yang dijanjikan Allah kelak, Insya Allah kami akan menyusul kalian. Ya Allah, ampunilah penghuni pemakaman Baqi al Gharqad" (HR. Muslim)