^Kembali ke Atas

foto1 foto2 foto3 foto4 foto5

PERJALANAN RELIGIUS INI, DIMULAI

Jadwal keberangkatan akhirnya tiba. Surat Panggilan Masuk Asrama telah kami terima. Kami dijadwalkan masuk asrama haji Kota Bekasi pada pukul 02.00 Wib. Khusus calon jamaah haji Kota Bekasi, kami diminta untuk berkumpul terlebih dahulu di Islamic Centre Bekasi pada pukul 24.00 Wib.

Sejak pagi, kerabat kami sudah tiba di rumah untuk mengantarkan kami ke asrama haji. Orang tua dan Mertua kami juga sudah berada di rumah kami di Cibubur.

Saya dan Istri tercinta mengurangi aktivitas fisik yang membutuhkan tenaga, mengingat jadwal masuk asrama ditentukan pada tengah malam, yang artinya pada malam itu kami dipastikan akan “begadang”.

Rencana untuk berangkat dari rumah menuju ke Islamic Centre pada pukul 23.00 wib, terpaksa kami batalkan. Kami putuskan untuk berangkat lebih awal pada pukul 22.00 Wib. Keputusan berangkat lebih awal kami lakukan untuk menghindari kemacetan di jalan sekitar Islamic Centre, mengingat pada malam itu akan ada 450 jamaah haji yang akan masuk asrama dengan jadwal yang sama.

“Doa’in Didi sama Iir selama di tanah suci ya ma … “ isakku saat berpamitan dengan mamaku tercinta.

“Mama pasti selalu berdoa untuk keselamatan dan kelancaran ibadah haji kalian berdua …..” jawab mamaku tercinta, juga dengan isak tangis haru melepas keberangkatan kami.

Hal yang sama terjadi ketika kami berpamitan ke Bapak, dan ibu mertua kami. Semua larut dalam keharuan.

Satu per satu adik, kakak, dan kerabat kami salami dan kami minta perkenan doa untuk keselamatan dan kelancaran ibadah haji kami. Beberapa tetangga dan sahabat juga hadir pada malam itu, melepas keberangkatan kami berdua ke tanah suci. “Mohon doanya ya …. “ pintaku kepada mereka saat aku salami mereka untuk berpamitan.

Sesaat sebelum kami meninggalkan rumah, ustadz Sudirman membacakan doa untuk kami agar senantiasa diberikan kemudahan dan kelancaran saat menjalankan ibadah haji.   Kemudian Ustadz Sudirman mengumandangkan adzan sebelum kami akhirnya memasuki mobil yang akan membawa kami ke Islamic Centre.

Seluruh prosesi di rumah kami tersebut, penuh keharuan. Saya dan istri tercinta tidak mampu untuk menahan air mata yang menetes membasahi wajah kami.

Kami membaca doa keluar rumah untuk menjalankan ibadah haji sesuai dengan tuntunan saat manasik haji,

“Segala puji bagi Allah yang telah memberi petunjuuk kepadaku dengan Islam dan memberi bimbingan kepadaku untuk menunaikan manasik hajiku di rumah-Nya, dan mengerjakan umrah di tempat lambang-lambang keagungan-Nya (Masya’ir).

Ya Allah, berilah shalawat atas Nabi yang tidak bisa baca dan tulis (ummi) dan atas keluarga dan para sahabatnya sekalian. Dengan nama Allah aku beriman kepada Allah. Dengan nama Allah aku berlindung kepada Allah. Dengan nama Allah aku berserah diri kepada Allah tiada daya upaya dan tiada kekuatan melainkan atas izin Allah Yang Maha Luhur lagi Maha Agung. “

Usai berdoa, kami memasuki mobil yang akan membawa kami ke asrama haji. Anak-anak kami, Dhany, Izan, dan Andra menemani kami di dalam mobil. “ Ya … Allah … berikan selalu perlindunganMu untuk anak-anak hamba … “ doa kami di dalam hati saat memandang wajah mereka.

Alhamdulillah, situasi jalan menuju ke asrama haji tidak ada hambatan apapun. Hanya butuh waktu sekitar 45 menit untuk membawa kami dari Cibubur ke Islamic Centre Kota Bekasi.

Turun dari mobil, dengan diiringi anak kami tercinta, serta kerabat yang mengantar, kami memasuki area pelataran Islamic Centre. Situasi belum terlalu ramai. Belum banyak jamaah haji yang tiba di Islamic Centre. Namun dalam hitungan menit selanjutnya, satu per satu jamaah haji dengan diantar keluarganya, mulai memenuhi pelataran Islamic Centre.

Setelah 1 jam menemani kami di pelataran Islamic Centre, petugas penyambutan jamaah haji mempersilahkan seluruh jamaah haji untuk masuk ke dalam area Masjid Islamic Centre. Inilah saatnya untuk berpisah dengan anak-anak dan kerabat yang mengantar kami.

“Kakak jaga adik-adik ya …. Izan – Andra nurut dengan kakak, jangan pada berantem … doakan ayah dan bunda supaya lancar proses ibadah hajinya ..” begitu pesan kami ke anak-anak sebelum kami masuk ke dalam area Masjid Islamic Centre.

“Jangan lupa doa’in ayah sama bunda tiap selesai sholat ya nak ….” Begitu kata istri tercinta ketika anak-anak berpamitan meninggalkan kami di Islamic Centre.

Kami berdua memasuki masjid Islamic Centre, bergabung dengan jamaah haji lainnya. Pandangan mata kami menyisir ruangan Masjid Islamic Centre untuk mencari jamaah haji yang tergabung dalam regu kami. Alhamdulillah, kami melihat beberapa rekan jamaah haji yang tergabung dalam satu regu dengan kami. Segera kami bergabung dengan mereka.

Petugas penerima jamaah haji di Masjid Islamic Centre, yang diwakili oleh Kepala Seksi Haji Kementerian Agama Kota Bekasi, memberikan sambutan selamat datang kepada para jamaah haji. Menjelang jadwal masuk asrama, yaitu pukul 01.00 wib, seluruh jamaah haji bersama-sama berjalan kaki menuju ke Asrama haji yang lokasi tidak terlalu jauh dari Islamic Centre Kota Bekasi.

Asrama Haji Kota Bekasi

Sesampainya di Gerbang Asrama Haji, akses masuk hanya diberikan hanya untuk calon jamaah Haji dengan menyerahkan Surat Panggilan Masuk Asrama yang kami peroleh saat penyerahan Koper Besar di hari kemarin.

Petugas kemudian mengarahkan kami untuk masuk ke Aula Asrama Haji dan mempersilahkan kami duduk dibangku yang telah disediakan dan duduk di area yang telah disesuaikan dengan rombongan masing-masing.

Acara pertama saat berada di Asrama Haji adalah Acara Penyerahan Jamaah Haji Kota Bekasi dari Pemerintah Kota Bekasi yang diwakili oleh Wakil Walikota Kota Bekasi kepada Petugas Haji Embarkasi Bekasi.

Dalam sambutannya Wakil Walikota Bekasi berharap seluruh jamaah haji dapat melaksanakan seluruh rangkaian kegiatan Ibadah haji dengan baik dan lancar, serta kembali ke tanah air dengan Gelar Haji yang Mabrur.

Usai acara serah terima, para jamaah haji kemudian diberikan arahan mengenai hal-hal yang harus diperhatikan pada saat berada di Asrama Haji.  

Setiap jamaah haji mendapatkan Kartu Akomodasi yang menjelaskan di kamar berapa jamaah haji menginap selama di Asrama Haji, serta digunakan untuk akses mendapatkan konsumsi selama berada di Asrama Haji. Pada kesempatan itu pula, setiap jamaah diberikan 1 paket Masker dan tabung Penyemprot air mini.

Kegiatan terakhir adalah pengambilan Kartu Kesehatan yang sering disebut sebagai Kartu Hijau dan Gelang Indentifikasi status kesehatan jamaah haji. Gelang status Kesehatan jamaah haji terdiri dari 3 kode warna, yaitu :

  1. Gelang warna merah dipakai oleh jamaah risti yang memang punya penyakit serius dan segera ditangani;
  2. Gelang berwarna kuning dipakai oleh jamaah haji risti yang mempunyai riwayat penyakit gampang jatuh;
  3. Gelang warna hijau digunakan untuk jamaah haji risti yang mempunyai penyakit ringan.

Jamaah yang sudah menerima Kartu Hijau, segera menuju ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Istri tercinta ternyata tidak dapat langsung masuk ke kamar, karena untuk Jamaah haji wanita ada tambahan prosedur pemeriksaan, yaitu Pemeriksaan kehamilan. Alhamdulillah, hasil test urine menunjukkan hasil Negatif.

Pembagian kamar selama berada di Asrama Haji, diatur berdasarkan usia jamaah haji. Prinsip dasar Pengaturannya adalah Jamaah yang usianya lebih tua akan berada di lantai yang lebih rendah dibandingkan dengan jamaah yang usianya masih muda. Jamaah haji Suami dan Istri ditempatkan dalam kamar yang berbeda, namun masih berada di lantai dan gedung yang sama. Kami mendapatkan kamar di Gedung D Lantai 4

Pada setiap gedung, tersedia lift untuk jamaah yang ditempatkan di lantai atas. Setiap 1 kamar terdapat 3 tempat tidur tingkat yang dapat digunakan oleh 6 orang jamaah haji.

Tempat tidur model tingkat menjadi keluhan utama bagi sebagian besar jamaah haji. Hal ini karena sulit untuk melakukan aktivitas naik dan turun tempat tidur tingkat. Dalam 1 kamar, biasanya mereka yang lebih muda atau postur tubuhnya lebih langsing, akan diminta untuk menempati tempat tidur atas. Saya sendiri saat masuk ke dalam kamar hanya mendapatkan sisa tempat tidur kosong yang berada di bagian atas. Jadilah kegiatan naik turun tempat tidur menjadi kegiatan yang melelahkan bagi saya yang memiliki bobot tubuh di atas 65 kilogram. Namun secara keseluruhan, tidak ada kendala dan hambatan berarti selama menggunakan kamar yang disediakan di Asrama Haji.

Selama berada di Asrama Haji, seluruh jamaah haji dihimbau untuk tidak melakukan aktivitas fisik yang terlampau berat. Jamaah haji dihimbau untuk memanfaatkan waktu di Asrama Haji untuk beristirahat. Aktivitas keluar kamar diharapkan hanya dilakukan pada saat waktu makan dan waktu sholat tiba.

Usai sarapan pagi di ruang makan yang disediakan oleh pihak Asrama Haji, saya menyempatkan diri untuk berjalan disekitar asrama haji. Utamanya untuk melihat stand beberapa produk yang terkait kebutuhan jamaah haji, yang tersedia di asrama haji.

Beberapa stand menempati area selasar yang terdapat di dalam gedung Asrama Haji. Beberapa stand lainnya terdapat di pojokan area luar asrama haji.

Saat masih berada di asrama haji, mendadak tas selempang kecil tempat dokumen selama berada di Tanah Suci mendadak putus. Untung saja di asrama haji ada beberapa stand yang menerima perbaikan dan penguatan tali tas selempang sekaligus ditambahkan dengan tempat botol air minum. Biaya untuk penambahan kekuatan tali selempang dan tempat botol air itu adalah sebesar 50 ribu rupiah. Banyak terdapat kios yang memberikan jasa perbaikan dan perkuatan tas selempang jamaah haji. Hmmm … nampaknya pihak kementerian Agama yang melakukan pengelolaan haji memang sengaja memberikan tas yang kualitas tali selempangnya cepat rusak, sehingga mau tidak mau jamaah haji harus menambah perkuatan sendiri dengan menggunakan jasa yang ditawarkan oleh banyak kios di Asrama Haji.   Mungkin ini upaya untuk bagi-bagi rezeki ……

Ba’da sholat isya, seluruh jamaah haji sudah harus berada di Ruangan Aula Kedatangan untuk bersiap diberangkatkan ke Madinah melalui Bandar Udara Halim Perdanakusumah dengan menggunakan Pesawat Saudi Arabian Airlines.

Jamaah Haji berkumpul tetap harus sesuai dengan pembagian Rombongan. Ini Untuk memastikan seluruh anggota jamaah haji dalam satu regu dan satu Rombongan dapat saling mengenal dan lebih akrab, sehingga akan memudahkan segala aktivitas yang akan dilaksanakan selama di tanah suci.

Sesuai jadwal keberangkatan, Jamaah haji Kloter 12 JKS Kota Bekasi akan lepas landas dari Bandara Halim Perdana Kusumah pada Pukul 01.30 Wib dengan menggunakan Penerbangan SV 5311 dan diharapkan mendarat Bandar Udara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA) Madinah pada pukul 06.50 waktu setempat. Malam itu, kami semua mendapatkan Dokumen Paspor dan Beberapa Kartu ID Jamaah Haji. Selain Paspor, setiap jamaah haji mendapatkan Gelang Indentitas yang dibuat dari Stainlesssteel tebal yang dipermukaannya tertera beberapa informasi terkait Jamaah Haji pemakai gelang indentitas. Informasi yang tertera di Gelang tersebut antara lain adalah nama jamaah, kloter jamaah, embarkasi jamaah, negara jamaah, dan nomor paspor jamaah.

Seluruh jamaah haji Indonesia diwajibkan selalu menggunakan gelang indentitas ini selama berada di tanah suci. Kami sendiri merasa penggunaan gelang indentitas jamaah haji ini menambah kenyamanan jamaah haji saat melaksanakan rangkaian ibadah haji di tanah suci.

Setiap jamaah juga mendapatkan uang Living Cost sebesar 1.500 real atau jika dirupiahkan adalah sekitar 4.5juta rupiah.

“Ayah yang simpen uangnya …. “ kata istriku sambil menyerahkan uang living cost yang baru saja diterimanya dari petugas

Petugas pemberangkatan haji kemudian memberikan pengumuman kepada seluruh jamaah haji bahwa beberapa saat lagi seluruh jamaah haji akan diberangkatkan menuju ke Bandara Halim Perdana Kusumah.

“Pastikan tidak ada barang-barang terlarang dalam penerbangan yang berada di tas tentengan bapak ibu jamaah haji ……” kata si petugas haji sambil menunjukkan contoh barang-barang yang tidak boleh ada di dalam bagasi pesawat.

Bagi jamaah haji reguler yang telah melunasi BPIH akan mendapatkan 3 buah tas dari pihak penerbangan yaitu koper besar, tas tentengan dan tas paspor. Ketiga tas ini yang nantinya hanya boleh di bawa calon jamaah haji ketika berangkat ke Tanah Suci dan tidak diperbolehkan membawa tas tambahan lainnya.

Berat maksimum untuk koper besar adalah 32 kg, koper ini nantinya akan masuk ke bagasi pesawat sedangkan tas tentengan dapat dibawa ke dalam kabin pesawat dengan berat maksimum 5 kg.

Apa yang disampaikan petugas pemberangkatan haji terkait barang terlarang dalam penerbangan adalah standard keamanan penerbangan. Beberapa barang yang tidak boleh dimasukkan ke dalam bagasi adalah sebagai berikut :

  • Senjata tajam (golok, clurit, parang, pisau tajam, silet, gunting, pisau cutter, peniti, alat cukur, gunting kuku, dll)
  • Perhiasaan dan uang tunai dalam jumlah yang sangat besar   Minyak tanah, minyak goreng, korek api gas
  • Kompor, lampu gas, tabung oksigen
  • Benda mudah meledak (bahan peledak, bom, senjata api dan amunisinya, kembang api, botol parfum, dll)
  • Cairan yang bersifat korosif dan beracun (accu, air raksa, cuka, dll)
  • Minuman / obat / cairan dalam kemasan botol plastik atau logam dengan volume lebih dari 1.000 mililiter (kecap, madu, anggur, sirup, obat cair, air zam zam, minuman ringan, cairan kental (gel), krim dan produk-produk kosmetik lainnya).
  • Benda yang mengandung magnit
  • Buah yang berbau menyengat (durian)
  • Makanan kemasan kaleng (selai, sarden, dll)
  • Bumbu dapur atau rempah-rempah

Cutter, pisau dapur dan gunting kecil, dan obat-obatan untuk keperluan sendiri yang sudah didaftarkan via petugas kesehatan saat di asrama haji dapat dibawa tetapi dimasukkan ke dalam koper besar.

Saatnya tiba, petugas mengarahkan kami untuk memasuki ruangan pemeriksaan imigrasi yang ada disamping ruangan keberangkatan.

Alhamdulillah, tas kami lolos dalam pemeriksaan X-Ray dan selanjutnya kami diarahkan masuk ke dalam bis yang telah disediakan untuk bersiap diberangkatkan ke Bandara Halim Perdanakusumah.

 

Menuju Bandara Halim

Jamaah haji masuk ke dalam bis sesuai rombongannya masing-masing. Kami masuk ke bis rombongan kami, yaitu bis no.9

Saat duduk di dalam bis, istri tercinta mengingatkan kami untuk berdoa sesuai dengan apa yang terdapat di Buku Panduan Doa yang diberikan oleh Kantor Kementerian Agama Kota Bekasi. Kami segera mengambil buku tersebut yang kami simpan di Tas Paspor kami. Kami buka dan mulai membaca doa tersebut :

Bismillahi majreha wa mursaahaa innaa rabbii lagafurur-rahiim. Wa maa qadarullaha haqqa qadrihi wal-ardhu jami'an qabdatuhu yaumal qiyamati was-samaawatu mathwiyyatum biyamiinihi subhanahu wa ta'alaa 'amma yusyrikuun.

“ Dengan nama Allah di waktu berangkat dan berlabuh, sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat, dan langit digulung dengan kekuasan-Nya. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan “

Tak lama, Bis yang membawa kami mulai bergerak meninggalkan Asrama Haji menuju ke Bandara Halim Perdana Kusumah. Petugas Asrama Haji berjejer di sepanjang jalur bis melambaikan tangan kepada kami para jamaah haji yang ada di dalam bis. “Selamat Jalan …. Selamat menjalankan Ibadah Haji ….. semoga menjadi haji yang mabrur … “ itu yang mereka ucapkan sambil melambaikan tangan melepas keberangkatan kami ke tanah suci. Doa sesaat setelah bis bergerak kami panjatkan, sesuai buku panduan doa yang kami pegang :

Bismillahirrahmaniirrahiim. Allahu akbar Allahu akbar Allahu akbar. Subhanal-ladzi sakhara lanaa hadzaa wa maa kunna lahu muqriniin. Wa Inna Ilaa rabbinaa lamunqalibuun. Allahumma innaa nas'aluka fii safarinaa hadzaal-birra wa taqwaa wa minal 'amali maa tardhaa. Allahumma hawwin 'alaina safarana hadzaa wa athwi 'anna bu'dahu. Allahumma antas-sahibu fis-safari wal-khalifatu fil-ahli. Allahumma inni a'udzu bika min wa'as'is-safari wa ka'abatil-mandzari wa su'il-munqolabi fil maali wal ahli wal-walad.

“Dengan menyebut asma Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Maha suci Allah yang telah menggerakkan untuk mami kendaraan ini padahal kami tiada kuasa menggerakkannya. Dan sesungguhnya kami pasti kepada Tuhan kami, kami pasti akan kembali. Ya Allah kami memohon kepada-Mu dalam perjalanan kami ini kebaikan dan taqwa serta amal perbuatan yang Engkau ridhai. Ya Allah, mudahkanlah perjalanan kami ini dan dekatkan jauhnya. Ya Allah, Engkau adalah yang menyertai dalam bepergian dan pelindung terhadap keluarga yang ditinggalkan. Ya Allah kami berlindung kepada-Mu dari kesukaran dalam bepergian, penampilan yang buruk, kepulangan yang menyusahkan dalam hubungan dengan harta benda, keluarga dan anak “

Tiba di Bandara Halim

Petugas Kepolisian memberikan pengawalan untuk bis yang membawa kami ke bandara. Pengawalan ini untuk memastikan kami tiba sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan.

Alhamdulillah, perjalanan menuju Bandara pada malam hari membuat situasi lalu lintas tidak terlalu padat. Kami tiba di Bandara lebih awal dari waktu yang ditetapkan. Kondisi AC Bis yang sangat dingin, membuat aktivitas pertama saat tiba di bandara adalah “Antri di Toilet”.

Saat tiba di Bandara, Bis yang membawa kami langsung menuju ke area tak jauh dari lokasi Parkir Pesawat Saudi Airlines yang akan membawa kami ke Bandar Udara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA) Madinah.

Prosedur berbeda di Bandar Udara memang diberlakukan untuk jamaah haji. Kami tidak melalui proses imigrasi bandara, karena proses imigrasi sudah dilakukan saat kami berada di Asrama Haji.

Toilet khusus untuk Jamaah haji sudah disediakan oleh Otoritas Bandara. Lokasinya persis di belakang tempat parkir bis yang membawa kami. Terdapat 10 unit Toilet Portable untuk 450 jamaah haji dalam satu kloter. Akibatnya tentu saja antrian yang panjang untuk dapat menggunakan Toilet.

“Ini adalah training ujian kesabaran antri Toilet …. “ kata beberapa jamaah haji. Saya mengiyakan, karena sejak manasik pertama, pembimbing manasik sudah memberikan gambaran seperti apa antrian toilet saat jamaah haji berada di tanah suci.

Sekitar pukul 00.30 kami dipersilahkan untuk Boarding, memasuki pesawat Saudi Airlines yang akan membawa kami ke Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA) Madinah. Bersama istri tercinta, Kami menapaki tangga pesawat dengan perlahan. Di pintu pesawat, Pramugari yang sepertinya berasal dari kawasan Timur Tengah melihat tanda sticker di tas Paspor kami dan mengarahkan kami melewati lorong pesawat menuju lokasi tempat duduk sesuai dengan nomor yang kami miliki.

Walaupun Nomor tempat duduk kami urut dengan nomor tempat duduk istri, ternyata lokasinya tidak berderetan, namun berbeda lantai. Istri tercinta diarahkan naik ke tempat duduk di lantai atas pesawat, sedangkan saya diarahkan ke tempat duduk bagian paling akhir di lantas dasar.

Ternyata secara Layout tempat duduk, nomor bangku saya adalah nomor paling akhir di lantai dasar, sedangkan nomor bangku istri adalah nomor paling awal di lantai atas.

“ Hmmm …. Ini adalah ujian pertama, terpisah dengan istri, bahkan ketika masih di pesawat …” gumamku ketika menyadari kami – suami istri – ternyata harus terpisah tempat duduk.

Penerbangan dari Halim Perdana Kusumah menuju ke Kota Madinah Arab Saudi, memakan waktu selama 9 jam penerbangan. Take off dari Bandara Halim Perdana Kusumah (HLP) pada tanggal 27 Agustus 2015 pukul 01.30 dan dijadwalkan Landing pada Pukul 06.50 di Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (MED). Terdapat perbedaan waktu selama 4 jam antara Indonesia dan Arab Saudi.

Saat menjelang subuh, Pilot pesawat memberitahukan kepada seluruh penumpang bahwa waktu sholat subuh sudah tiba. Petugas Pembimbing Ibadah Haji kemudian memberikan informasi yang sama kepada para Jamaah haji, sambil mengingatkan bahwa sebelum sholat dipersilahkan untuk melakukan tayamum sebagai pengganti wudhu.

Tata cara Tayamum seperti yang dijelaskan pada buku Panduan haji adalah sebagai berikut :

  1. Dengan sekali tepuk di dinding atau kursi pesawat untuk mengusap wajah dan langsung ke pergelangan tangan sampai ujung jari secara merata.
  2. Dengan 2 kali tepukan di dua tempat yang berbeda (contoh dinding dan jok kursi). Satu tepukan untuk mengusap lagi untuk mengusap tangan sampai siku secara merata

Selanjutnya Sholat dapat dilakukan sambil duduk di bangku pesawat dengan tata cara sebagai berikut :

  1. Tetap duduk di kursi pesawat dengan posisi biasa atau dengan melipat kedua kaki dalam posisi miring atau tawaruk (tahiyat).
  2. Qiblatnya mengikuti arah terbangnya pesawat.
  3. Melaksanakan seluruh gerakan rukun shalat semampunya dengan ima’ah (isyarat).

Kami Tiba di Madinah

Alhamdulillah, tepat pukul 7 pagi waktu setempat, pesawat kami mendarat dengan sempurna di Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA) Madinah.

Saat tiba di pintu keluar pesawat, istri tercinta sudah menunggu, dan kami beriringan turun menapaki tangga pesawat.

Hal pertama saat menjejakkan kaki di Bumi Tanah Suci Madinah, kami berdua melakukan sujud syukur. Memanjatkan doa syukur Alhamdulillah atas segala limpahan Rahmat yang telah diberikan Allah Subhana Wa Ta’ala kepada kami berdua, sehingga apa yang kami impikan untuk menjalankan ibadah haji ke tanah suci, dapat terwujud, dan saat ini telah tiba dengan selamat di Tanah Suci Madinah.

Kami juga membaca Doa yang terdapat di dalam buku panduan Doa jamaah haji, yaitu Doa ketika sampai di tempat tujuan :

Allahumma inni as'aluka khairaha wa khaira ahlihaa wa khaira maa fiihaa, wa a'udzu bika min syarrihaa wa syarri ahlihaa wa syarii maa fiihaa.

“Ya Allah, saya mohon kepada-Mu kebaikan negeri ini dan kebaikan penduduknya seta kebaikan yang ada di dalamnya. Dan saya berlindung kepada-Mu dari kejahatan negeri ini dan kejahatan penduduknya serta kejahatan yang ada didalamnya“

Petugas maskapai yang berada di landasan, segera mengarahkan kami untuk segera menaiki mobil bandara yang akan membawa kami menuju ke ruangan imigrasi.

Walau baru saja melakukan perjalanan selama 9 jam di atas pesawat, tidak ada raut lelah di wajah para jamaah haji. Hampir seluruh jamaah haji menunjukkan muka riang karena telah tiba di Kota Suci Madinah.

Proses antrian di bagian imigrasi Bandara memakan waktu sekitar 1 jam. Petugas imigrasi nampak bertugas dengan cepat dan cekatan. Proses pemeriksaan paspor, Sidik jari, stempel kedatangan dan Foto di konter pemeriksaan Imigrasi dilakukan dengan cepat.

Jamaah yang selesai melakukan proses imigrasi jamaah haji, kemudian diarahkan untuk menuju ke Bis yang selanjutnya akan membawa kami ke Hotel Pemondokan selama kami berada di Madinah.

Pada saat selesai melakukan proses imigrasi, paspor yang kami serahkan kepada petugas imigrasi tidak dikembalikan kepada kami. Petugas haji Indonesia yang melihat kebingungan para jamaah yang paspornya tidak dikembalikan usai pemeriksaan imigrasi, mengatakan bahwa paspor akan diurus oleh petugas khusus yang menangani paspor. “Tenang saja, paspor akan diurus oleh petugas “ begitu kata si petugas menenangkan jamaah.

Belakangan baru kami ketahui, bahwa paspor saat jamaah tiba di Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA) langsung dikumpulkan Maktab Wukala kemudian diserahkan ke Muasassah Adilla.

Maktab Wukala adalah Lembaga swasta yang resmi ditunjuk pemerintah Arab Saudi untuk menyambut kedatangan dan melepas kepulangan jamaah haji dari luar negeri di pintu-pintu gerbang kedatangan dan kepulangan.

Muasassah Adilla adalah Lembaga swasta yang resmi ditunjuk pemerintah Arab Saudi untuk melayani jamaah yang datang dari luar negeri selama berada di madinah.

Jadi jamaah haji asal Indonesia akan memegang dokumen selama penerbangan dari Tanah Air ke Arab Saudi. Namun, Maktab Wukala akan mengambil dokumen milik jamaah selepas turun dari pesawat. Setelah itu, dokumen akan diserahkan ke pengemudi. Di Madinah, pengemudi menyerahkan dokumen ke Muassasah Adilla. Ketika akan berangkat dari Madinah ke Makkah, dokumen akan diserahkan kepada pengemudi. Sampai di Jumum (check point), dokumen diserahkan ke petugas Maktab.

Selama di Mekah, jamaah tidak pegang paspor, hanya dibekali kartu sobekan dokumen administrasi perjalananan haji (Dapih). Jamaah akan kembali menerima paspor mereka ketika ada di bandara menjelang kembali ke Tanah Air.

 

Perjalanan dari Bandara Madinah menuju hotel memakan waktu sekitar setengah jam. Kami sampai di hotel pukul 10.00 pagi waktu setempat. Dari kejauhan menara Masjid Nabawi sudah kelihatan dari atas bis. Semakin mendekati Masjid Nabawi barulah terasa betapa ramainya kota Madinah. Ribuan orang berjalan kaki hilir mudik, ada yang masih berpakaian ihram, ada yang memakai baju batik haji Hijau dari Indonesia, ada yang memakai gamis, ibu-ibu yang memakai mukena, wanita India memakai sari, laki-laki afrika berbadan besar dengan baju jubah warna warni, dan lain-lain aneka macam jenis pakaian setiap bangsa.

Hotel kami tempat menginap ternyata jaraknya begitu dekat dengan Masjid Nabawi, hanya sekitar 50 m dari gerbang masjid, sangat dekat seperti jarak selemparan tongkat. Nama Hotel kami adalah Al Rawda Royal Inn Hotel, yang merupakan Hotel Bintang 5 di Madinah.

Tiba di Hotel, kami menunggu sejenak di Lobby Hotel menanti kunci kamar yang sedang diambil dan diatur pengalokasiannya oleh Ketua Rombongan kami. Pengaturan standar pembagian kamar adalah bahwa setiap 1 kamar akan diisi oleh 3 orang Jamaah Haji. Jamaah Haji laki-laki akan dipisahkan dengan jamaah haji perempuan.

Alhamdulillah, kami bersama rekan jamaah haji satu regu mendapatkan kamar dengan kapasitas 2 tempat tidur. Begitu pula dengan istri tercinta, mendapatkan kamar yang sama.

Kunci sudah kami dapatkan, saatnya mencari Koper Besar kami. Petugas lobby hotel, yang kebetulan orang Indonesia, menyatakan bahwa semua tas sudah dinaikkan ke lantai 7. Kami segera mencari Koper kami ke lantai 7. Keluar dari lift, kami lihat ada banyak koper jamaah haji yang belum diambil oleh pemiliknya. Kami amati satu per satu, dengan mengingat tanda identitas yang kami pasangan pada koper besar kami. Koper milik istri tercinta dapat kami temukan. Namun koper atas nama saya sendiri ternyata tidak kami temukan. Setelah 2 kali berkeliling mencari koper, akhirnya saya memastikan bahwa koper saya tidak ada di antara tumpukan koper tersebut.

Masih bersama rekan satu regu, Kami segera kembali ke lobby hotel. Beberapa jamaah yang kami jumpai di lobby hotel menyatakan bahwa jika koper tidak ditemukan di lantai 7, bisa jadi ada di jalan di depan hotel yang lokasinya ada di belakang hotel kami saat ini.

“lho … koq bisa nyasar kesana ? “ tanya kami kebingungan. Belakangan kami ketahui bahwa secara teknis petugas pengangkut koper sebenarnya telah mengirimkan koper jamaah haji Kloter 12 JKS ke lokasi yang benar. Merujuk pada Aplikasi Haji Pintar tentang akomodasi, ternyata Jamaah Haji JKS 12 seharusnya ditempatkan di Hotel Zahra yang lokasinya di belakang Hotel Al Rawda Royal inn. Entah kenapa kami dipindahkan ke Hotel Al Rawda Royal inn …. Yang pasti kami bersyukur kami berpindah hotel, karena hotel kami saat ini lokasinya sangat dekat dengan Masjid Nabawi.

Bersama rekan satu Regu, kami bergegas keluar dari hotel dan menuju ke Hotel Zahra yang lokasinya di belakang hotel kami saat ini. Benar saja, di depan hotel tersebut dijalanan umum, kami lihat ada banyak tumpukan Koper besar yang dari beberapa tulisan di kopernya kami lihat adalah koper Jamaah Haji Kloter 12 JKS. Segera kami cek keberadaan Koper atas nama saya. Alhamdulillah, koper itu kami temukan.

Problem selanjutnya adalah membawa koper dengan berat 32 kilogram melintasi jalanan pada siang hari dengan suhu udara mencapai 45 derajat celcius !

Mengucap Bismillahhirrahmanirrahim …. Koper saya angkat ke atas dan saya letakkan di atas kepala. Dengan model mengangkat koper seperti itu, beban koper jatuh ke seluruh tubuh saya dengan topangan di kepala. Saya berjalan cepat menuju ke lokasi hotel kami. Jaraknya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 300 meter. Namun cukup membuat kelelahan yang luar biasa.

Alhamdulillah, kami akhirnya tiba di hotel dan langsung membawa koper ke dalam kamar. Begitu pula dengan rekan kami satu kamar.

Saat bertemu di dalam kamar, kami baru menyadari bahwa istri saya juga sekamar dengan istri dari rekan kami satu kamar. Kami hanya berdua dan istri kami juga hanya berdua.

“Alhamdulillah ……alhamdulillah “ berulang kali kami ucapkan begitu menyadari kondisi kamar kami berdua, Jadilah akhirnya kami saling bertukar kamar, sehingga saya dan istri tercinta dapat menempati kamar yang sama, begitu pula rekan jamaah haji kami tersebut.

Kami Tiba di Madinah

Alhamdulillah, tepat pukul 7 pagi waktu setempat, pesawat kami mendarat dengan sempurna di Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA) Madinah.

Saat tiba di pintu keluar pesawat, istri tercinta sudah menunggu, dan kami beriringan turun menapaki tangga pesawat.

Hal pertama saat menjejakkan kaki di Bumi Tanah Suci Madinah, kami berdua melakukan sujud syukur. Memanjatkan doa syukur Alhamdulillah atas segala limpahan Rahmat yang telah diberikan Allah Subhana Wa Ta’ala kepada kami berdua, sehingga apa yang kami impikan untuk menjalankan ibadah haji ke tanah suci, dapat terwujud, dan saat ini telah tiba dengan selamat di Tanah Suci Madinah.

Kami juga membaca Doa yang terdapat di dalam buku panduan Doa jamaah haji, yaitu Doa ketika sampai di tempat tujuan :

Allahumma inni as'aluka khairaha wa khaira ahlihaa wa khaira maa fiihaa, wa a'udzu bika min syarrihaa wa syarri ahlihaa wa syarii maa fiihaa.

“Ya Allah, saya mohon kepada-Mu kebaikan negeri ini dan kebaikan penduduknya seta kebaikan yang ada di dalamnya. Dan saya berlindung kepada-Mu dari kejahatan negeri ini dan kejahatan penduduknya serta kejahatan yang ada didalamnya“

Petugas maskapai yang berada di landasan, segera mengarahkan kami untuk segera menaiki mobil bandara yang akan membawa kami menuju ke ruangan imigrasi.

Walau baru saja melakukan perjalanan selama 9 jam di atas pesawat, tidak ada raut lelah di wajah para jamaah haji. Hampir seluruh jamaah haji menunjukkan muka riang karena telah tiba di Kota Suci Madinah.

Proses antrian di bagian imigrasi Bandara memakan waktu sekitar 1 jam. Petugas imigrasi nampak bertugas dengan cepat dan cekatan. Proses pemeriksaan paspor, Sidik jari, stempel kedatangan dan Foto di konter pemeriksaan Imigrasi dilakukan dengan cepat.

Jamaah yang selesai melakukan proses imigrasi jamaah haji, kemudian diarahkan untuk menuju ke Bis yang selanjutnya akan membawa kami ke Hotel Pemondokan selama kami berada di Madinah.

Pada saat selesai melakukan proses imigrasi, paspor yang kami serahkan kepada petugas imigrasi tidak dikembalikan kepada kami. Petugas haji Indonesia yang melihat kebingungan para jamaah yang paspornya tidak dikembalikan usai pemeriksaan imigrasi, mengatakan bahwa paspor akan diurus oleh petugas khusus yang menangani paspor. “Tenang saja, paspor akan diurus oleh petugas “ begitu kata si petugas menenangkan jamaah.

Belakangan baru kami ketahui, bahwa paspor saat jamaah tiba di Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA) langsung dikumpulkan Maktab Wukala kemudian diserahkan ke Muasassah Adilla.

Maktab Wukala adalah Lembaga swasta yang resmi ditunjuk pemerintah Arab Saudi untuk menyambut kedatangan dan melepas kepulangan jamaah haji dari luar negeri di pintu-pintu gerbang kedatangan dan kepulangan.

Muasassah Adilla adalah Lembaga swasta yang resmi ditunjuk pemerintah Arab Saudi untuk melayani jamaah yang datang dari luar negeri selama berada di madinah.

Jadi jamaah haji asal Indonesia akan memegang dokumen selama penerbangan dari Tanah Air ke Arab Saudi. Namun, Maktab Wukala akan mengambil dokumen milik jamaah selepas turun dari pesawat. Setelah itu, dokumen akan diserahkan ke pengemudi. Di Madinah, pengemudi menyerahkan dokumen ke Muassasah Adilla. Ketika akan berangkat dari Madinah ke Makkah, dokumen akan diserahkan kepada pengemudi. Sampai di Jumum (check point), dokumen diserahkan ke petugas Maktab.

Selama di Mekah, jamaah tidak pegang paspor, hanya dibekali kartu sobekan dokumen administrasi perjalananan haji (Dapih). Jamaah akan kembali menerima paspor mereka ketika ada di bandara menjelang kembali ke Tanah Air.

 

Perjalanan dari Bandara Madinah menuju hotel memakan waktu sekitar setengah jam. Kami sampai di hotel pukul 10.00 pagi waktu setempat. Dari kejauhan menara Masjid Nabawi sudah kelihatan dari atas bis. Semakin mendekati Masjid Nabawi barulah terasa betapa ramainya kota Madinah. Ribuan orang berjalan kaki hilir mudik, ada yang masih berpakaian ihram, ada yang memakai baju batik haji Hijau dari Indonesia, ada yang memakai gamis, ibu-ibu yang memakai mukena, wanita India memakai sari, laki-laki afrika berbadan besar dengan baju jubah warna warni, dan lain-lain aneka macam jenis pakaian setiap bangsa.

Hotel kami tempat menginap ternyata jaraknya begitu dekat dengan Masjid Nabawi, hanya sekitar 50 m dari gerbang masjid, sangat dekat seperti jarak selemparan tongkat. Nama Hotel kami adalah Al Rawda Royal Inn Hotel, yang merupakan Hotel Bintang 5 di Madinah.

Tiba di Hotel, kami menunggu sejenak di Lobby Hotel menanti kunci kamar yang sedang diambil dan diatur pengalokasiannya oleh Ketua Rombongan kami. Pengaturan standar pembagian kamar adalah bahwa setiap 1 kamar akan diisi oleh 3 orang Jamaah Haji. Jamaah Haji laki-laki akan dipisahkan dengan jamaah haji perempuan.

Alhamdulillah, kami bersama rekan jamaah haji satu regu mendapatkan kamar dengan kapasitas 2 tempat tidur. Begitu pula dengan istri tercinta, mendapatkan kamar yang sama.

Kunci sudah kami dapatkan, saatnya mencari Koper Besar kami. Petugas lobby hotel, yang kebetulan orang Indonesia, menyatakan bahwa semua tas sudah dinaikkan ke lantai 7. Kami segera mencari Koper kami ke lantai 7. Keluar dari lift, kami lihat ada banyak koper jamaah haji yang belum diambil oleh pemiliknya. Kami amati satu per satu, dengan mengingat tanda identitas yang kami pasangan pada koper besar kami. Koper milik istri tercinta dapat kami temukan. Namun koper atas nama saya sendiri ternyata tidak kami temukan. Setelah 2 kali berkeliling mencari koper, akhirnya saya memastikan bahwa koper saya tidak ada di antara tumpukan koper tersebut.

Masih bersama rekan satu regu, Kami segera kembali ke lobby hotel. Beberapa jamaah yang kami jumpai di lobby hotel menyatakan bahwa jika koper tidak ditemukan di lantai 7, bisa jadi ada di jalan di depan hotel yang lokasinya ada di belakang hotel kami saat ini.

“lho … koq bisa nyasar kesana ? “ tanya kami kebingungan. Belakangan kami ketahui bahwa secara teknis petugas pengangkut koper sebenarnya telah mengirimkan koper jamaah haji Kloter 12 JKS ke lokasi yang benar. Merujuk pada Aplikasi Haji Pintar tentang akomodasi, ternyata Jamaah Haji JKS 12 seharusnya ditempatkan di Hotel Zahra yang lokasinya di belakang Hotel Al Rawda Royal inn. Entah kenapa kami dipindahkan ke Hotel Al Rawda Royal inn …. Yang pasti kami bersyukur kami berpindah hotel, karena hotel kami saat ini lokasinya sangat dekat dengan Masjid Nabawi.

Bersama rekan satu Regu, kami bergegas keluar dari hotel dan menuju ke Hotel Zahra yang lokasinya di belakang hotel kami saat ini. Benar saja, di depan hotel tersebut dijalanan umum, kami lihat ada banyak tumpukan Koper besar yang dari beberapa tulisan di kopernya kami lihat adalah koper Jamaah Haji Kloter 12 JKS. Segera kami cek keberadaan Koper atas nama saya. Alhamdulillah, koper itu kami temukan.

Problem selanjutnya adalah membawa koper dengan berat 32 kilogram melintasi jalanan pada siang hari dengan suhu udara mencapai 45 derajat celcius !

Mengucap Bismillahhirrahmanirrahim …. Koper saya angkat ke atas dan saya letakkan di atas kepala. Dengan model mengangkat koper seperti itu, beban koper jatuh ke seluruh tubuh saya dengan topangan di kepala. Saya berjalan cepat menuju ke lokasi hotel kami. Jaraknya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 300 meter. Namun cukup membuat kelelahan yang luar biasa.

Alhamdulillah, kami akhirnya tiba di hotel dan langsung membawa koper ke dalam kamar. Begitu pula dengan rekan kami satu kamar.

Saat bertemu di dalam kamar, kami baru menyadari bahwa istri saya juga sekamar dengan istri dari rekan kami satu kamar. Kami hanya berdua dan istri kami juga hanya berdua.

“Alhamdulillah ……alhamdulillah “ berulang kali kami ucapkan begitu menyadari kondisi kamar kami berdua, Jadilah akhirnya kami saling bertukar kamar, sehingga saya dan istri tercinta dapat menempati kamar yang sama, begitu pula rekan jamaah haji kami tersebut.

Ibadah Sholat Arbain

Sholat arbain adalah sholat di Masjid Nabawi selama 40 waktu yang dilakukan secara terus-menerus tidak terputus dan tidak tertinggal takbiratul ihram. Meskipun dalam berbagai pertemuan kajian disampaikan bahwa hadist yang mendasari ibadah sholat Arbain adalah lemah, namun ustadz firanda andirja menyampaikan bahwa Pembahasan mengenai lemahnya Hadist tentang Sholat Arbain tersebut harus disikapi sebagai berikut :

Pertama : Bukan berarti tatkala kita atau para jama'ah haji mengetahui akan lemahnya hadits sholat arba'in lantas menggampang-gampangkan untuk meninggalkan sholat berjama'ah di masjid Nabawi. Akan tetapi hendaknya para jama'ah haji berusaha untuk terus sholat 5 waktu berjam'ah di masjid Nabawi. Karena sebagaimana kita ketahui bahwasanya sholat di masjid Nabawi pahalanya 1000 kali lipat lebih baik daripada sholat di masjid-masjid yang lainnya. Karenanya bisa kita banyangkan, jika seandainya seorang jama'ah haji bisa sholat seharian penuh 5 waktu di masjid Nabawi, maka hal ini sama saja seperti ia sholat 1000 hari di masjid Demak, mesjid Ampel, mesjid Istiqlal, dan masjid-masjid lainnya. Artinya sehari sholat di masjid Nabawi sama seperti 1000 hari di masjid yang lainnya, yaitu sekitar 3 tahun. Dan siapakah yang mampu sholat selama 3 tahun di masjid terus tidak ketinggalan jama'ah??!

Kedua : Maksud pembahasan lemahnya hadits sholat arba'in ini adalah untuk menghibur para jama'ah haji yang terkadang berudzur sehingga tidak bisa memenuhi bilangan 40 waktu tersebut. Bisa jadi ada jama'ah yang sakit, atau wanita yang haid, dan halangan-halangan yang lainnya. Dengan demikian para jama'ah tidak terlalu sedih, karena mereka tahu bahwasanya hadits sholat arba'in adalah hadits yang lemah dan tidak bisa dijadikan sebagai argumen.

Ketiga : Para jema'ah haji hendaknya tatkala tiba di Madinah berusaha untuk terus sholat berjam'ah, sehingga jika suatu hari mereka berhalangan karena sakit dan lainnya, mereka akan tetap juga mendapatkan pahala sholat berjam'ah. Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

"Jika seorang hamba sakit atau bersafar maka tetap dicatat baginya seperti amalan yang biasa ia lakukan tatkala tidak sedang safar dan tatkala sehat" (HR Al-Bukhari no 2996)

Keempat : Hendaknya para jam'ah haji tidak hanya membiasakan sholat berjama'ah tatkala sedang berhaji saja, lantas begitu kembali ke tanah air kembali juga meninggalkan sholat berjam'ah sebagaimana kebiasaan sebelum haji. Maka hendaknya para jama'ah haji menjadikan ibadah di tanah suci Madinah dan Mekah sebagai latihan untuk selalu sholat berjama'ah, sehingga tatkala pulang di tanah air menjadi terbiasa sholat secara berjama'ah.

Masjid Nabawi – Madinah

Ini adalah kali pertama kami ke Masjid Nabawi. Kami sepakat pergi menuju masjid Nabawi bersama beberapa rekan jamaah haji lain yang tergabung dalam 1 regu.

Hotel kami tepat berada di depan Gerbang masuk Masjid Nabawi No. 17. Hawa di luar hotel sangat panas untuk ukuran jamaah haji asal Indonesia. Suhu saat pertama kami datang mencapai 45 derajat celcius.

Kami disarankan untuk menggunakan masker wajah, kacamata hitam, dan membawa penyemprot air ukuran mini.

Saat keluar dari lobby hotel, hawa panas kami rasakan menerpa wajah kami.   Cuaca di Arab Saudi adalah cuaca kering. Walaupun angin bertiup kencang, namun angin tersebut membawa hawa panas yang menerpa wajah. Jadi jika di tanah air angin kencang dapat mengurangi cuaca panas, maka di arab Saudi angin kencang malah membawa hawa panas.

Setiap kaki melangkah sebanyak 3 langkah, kami semprotkan air ke wajah kami untuk mengurangi rasa panas yang menerpa wajah. Ini kami lakukan sampai kami tiba di pelataran Masjid Nabawi,

Hawa panas di pelataran Masjid Nabawi tidak terlalu terasa, karena di area tersebut banyak terpasang kipas angin water cooler yang membantu mengurangi hawa panas.

Di Masjid Nabawi, Lokasi sholat untuk Jamaah laki-laki dan jamaah perempuan adalah terpisah. Jadilah kami dan istri berpisah jalan dengan sebelumnya berjanji untuk bertemu di depan gerbang masuk nomor 17.

Kami tak sempat berlama-lama memandangi indahnya pelataran Masjid Nabawi untuk pertama kalinya. Hal ini karena waktu sholat dzuhur sebentar lagi tiba, dan gelombang jamaah haji berangsur-angsur datang memasuki masjid nabawi.  

Sebelum masuk, kami menuju ke salah satu pilar di pelataran Masjid Nabawi yang menyediakan plastik untuk menyimpan sandal kami.   Setelah melepas sandal, memasukkkannya ke dalam plastik, dan menyimpannya dalam tas yang kami bawa, Kami segera masuk ke dalam masjid untuk memastikan mendapatkan shaff sholat yang tidak terlalu jauh dari pintu gerbang masuk.

Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia memang cukup memanjakan para jamaah haji. Segala kebutuhan jamaah haji disediakan oleh pemerintah kerajaan Saudi Arabia. Plastik memang sangat dibutuhkan jamaah untuk tempat menyimpan sandal dan alas kaki para jamaah haji.

Sebelum memasuki masjid Nabawi, kami membaca doa seperti yang terdapat di buku panduan doa jamaah haji :

Bismillaahi wa’alaa millati rasuulillaahi. Rabbi adkhilnii mudkhala shidqin wa akhrijnii mukhraja shidqin waj’al lii min ladukna sulthaanan nashiiraa. Allaahumma shalli ‘alaa sayyidinaa Muhammadin wa’alaa aali sayyidinaa Muhammadin, waghfir lii dzunuubii waftah lii abwaaba rahmatika wa adkhilnii fiihaa yaa arhamar raahimiin.

”Dengan nama Allah dan atas agama rasulullah. Ya Allah, masukkanlah aku dengan cara masuk yang benar, dan keluarkanlah pula aku dengan cara keluar yang benar, dan berikanlah padaku jalan keluar yang benar, dan berikanlah padaku dari sisi-Mu kekuasaan yang dapat menolong. Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Muhammad dan keluarganya. Ampunilah dosaku, bukalah pintu rahmat-Mu bagiku dan masukkanlah aku ke dalamnya, wahai Tuhan Yang maha Pengasih dari segala yang pengasih.”