^Kembali ke Atas

foto1 foto2 foto3 foto4 foto5

PASPOR HAJI - DOKUMEN UTAMA

Ada yang berbeda di musim haji tahun 1436 H/2015 terkait dengan Dokumen Paspor. Pada musim haji tahun-tahun sebelumnya, proses pembuatan Paspor dilakukan oleh Kantor Kemenag Kota/Kabupaten asal domisili Jamaah Haji. Namun di musim haji tahun 1436 H, proses pembuatan paspor diserahkan kepada Jamaah Haji. Jadilah kami bersama istri harus mengatur waktu dengan baik untuk melakukan proses pembuatan Paspor.

Syarat Paspor masih berlaku selama 6 bulan sebelum waktu pemberangkatan Haji telah memaksa istri untuk membuat Paspor yang baru, karena masa berlaku paspor miliknya expired sekitar 2 bulan sebelum masa pemberangkatan haji. Saya sendiri belum pernah memiliki paspor karena belum pernah bepergian ke Luar Negeri.

Browsing melalui situs google didapatkan informasi bahwa pembuatan Paspor dapat dilakukan secara online, sehingga tidak perlu melakukan proses antrian panjang di kantor imigrasi.   Namun saat mencoba melakukan pengisian aplikasi online Paspor, ternyata kami tidak dapat memanfaatkan aplikasi online tersebut, karena pengajuan paspor secara online mengharuskan pemohon paspor untuk hadir di kantor imigrasi sesuai dengan tanggal yang sudah ditentukan. Hal ini tentu saja merepotkan kami berdua yang statusnya adalah pekerja swasta yang terikat dengan waktu kerja. Jadilah kami putuskan untuk melakukan pengajuan pembuatan paspor secara offline langsung ke kantor imigrasi.

Pilihannya adalah melakukan pengajuan ke Kantor Imigrasi Kota Bekasi yang lokasinya berada di belakang Stadion Olah Raga Kota Bekasi.

Hari Kamis, tanggal 7 Mei 2015, kami putuskan untuk melakukan pengurusan paspor. Setelah meminta izin kantor untuk tidak masuk kerja karena hendak mengurus paspor, pukul 05.30 Wib kami berangkat dari kediaman kami di Grand Cibubur menuju ke Kantor Imigrasi Kota Bekasi.

Arus lalu lintas menuju ke Kantor Imigrasi termasuk kategori arus balik, jadi kondisi lalu lintas cukup lancar dan hanya membutuhkan waktu 45 menit untuk tiba di Kantor Imigrasi.

Tiba di kantor imigrasi, langsung kami parkirkan kendaraan kami dan bergegas menuju ke area Kantor Imigrasi.   Waktu masih menunjukkan pukul 06.15 Wib, namun antrian pemohon paspor sudah mengular membentuk barisan letter “double S”.

Tepat Pukul 07.00 Wib, nomor antrian sudah mulai dibagikan oleh petugas security.   Antrian perlahan maju merapat ke pintu masuk Kantor Imigrasi. Pukul 07.15, pihak security memberikan informasi kepada para pemohon Paspor bahwa nomor antrian hanya bersisa 14 nomor saja dari kuota 100 nomor antrian.   Bergegas saya melakukan penghitungan, dan jreng-jreng ....... dari sisa 14 nomor antrian tersebut, saya dan istri masuk nomor antrian ke 24, hiks hiks .... Artinya hari itu kami gagal mendapatkan nomor antrian dan harus mencoba lagi di hari yang lainnya.  

Jadilah kami akhirnya memutuskan untuk menuju ke kantor untuk menjalankan tugas kerja seperti biasa dan merencanakan hadir kembali pada keesokan harinya.

Hari Jumat, tanggal 8 Mei 2015, kami putuskan untuk kembali ke Kantor Imigrasi untuk melakukan pengajuan Paspor.   Tidak ingin mengulang kesalahan di hari sebelumnya, kami putuskan untuk berangkat ke Kantor Imigrasi pada Pukul 03.00 pagi !

Tiba di kantor Imigrasi, kami sempat berpikir bahwa kami adalah orang pertama yang hadir. Ternyata tidak ! ..... saat menulis nama di buku antrian, kami masuk nomor antrian 24 dan 25 !!!

Namun kami tetap bersyukur dan mengucap Alhamdulillah, karena akhirnya kami berharap dapat menuntaskan pengurusan Paspor pada hari ini. Setelah mendapatkan nomor antrian, kami bergegas mencari masjid terdekat untuk melaksanakan Sholat Subuh.

Sejatinya di kantor imigrasi ada bangunan musholla, namun menurut petugasnya belum boleh digunakan, karena pintu gerbang Kantor Imigrasi secara aturan prosedur, baru bisa dibuka pada pukul 07.00 Wib. Lumayan berjalan kaki menuju ke masjid terdekat, namun kepastian penyelesaian paspor mampu meringankan langkah kaki kami ke masjid untuk melaksanakan ibadah Sholat Subuh. Sesudahnya kami kembali ke Kantor Imigrasi, karena pada pukul 08.00 Wib, panggilan untuk nomor antrian pertama di mulai.

Walaupun cukup senang karena nomor antrian kami masih masuk nomor antrian “muda”, namun kami masih was-was dan berharap tidak ada masalah dalam berkas persyaratan pengajuan paspor kami.

Berkas yang harus dibawa untuk pengajuan permohonan paspor adalah Foto Copy KTP ukuran ½ kertas A4, Foto Copy Kartu Keluarga, Foto Copy Akte Kelahiran, dan semua dokumen harus dapat menunjukkan dokumen aslinya. Karena alasan pengajuan Paspor kami adalah untuk keperluan berangkat Haji, maka kami tambahkan persyaratan berupa Foto Copy Bukti Pembayaran Ibadah Haji. Materai sebanyak 3 lembar juga harus kami siapkan untuk dilekatkan di formulir pengajuan.

Salah satu formulir yang harus kami isi adalah Formulir pengajuan Penambahan Nama.   Pihak Imigrasi Saudi Arabia mensyaratkan nama harus minimal terdiri dari 3 suku kata. Jadilah kami mengajukan penambahan nama kami. Saya dan Istri masing-masing mengajukan menambahkan nama ayah kami di belakang nama kami.

Tepat pada pukul 10.00 panggilan untuk Nomor Urut 24 – Nomor urut kami, akhirnya terdengar dan meminta kami untuk memasuki ruangan proses penerbitan paspor.

Istri kami masuk pertama ke ruang proses dan saya menanti panggilan berikutnya. Setelah melalui proses wawancara standard, data-data dokumen kami kemudian diinput ke dalam komputer.

Setelah data-data kami terinput, lanjut dengan rekam sidik jari dan rekam retina mata. Selama proses input data, kami dapat melihat apa yang dilakukan petugas di layar komputer.   Kami dapat melihat dengan jelas, bahwa setelah semua data terinput, sidik jari dan Rekam retina terinput, Komputer kemudian melakukan proses scanning data-data pencekalan.

Alhamdulillah data-data kami clear, dan kami siap melakukan proses selanjutnya, yaitu proses Foto.   Jeda waktu antara menunggu proses “clearance” data ke proses Foto lumayan cukup lama.  

Sayangnya petugas yang melayani kami terkesan “jutek” karena sambil menunggu proses komputer, sang petugas yang usianya masih sekitar 30 tahunan tersebut asyik bermain smartphone. Sementara pemohon harus ikhlas menunggu dan menonton si petugas bermain Handphone.

Tapi pada akhirnya, kami bersyukur tepat pukul 10.30 proses selesai, dan kami diminta melakukan pembayaran biaya paspor ke Bank BNI terdekat karena mesin EDC pembayaran sedang mengalami masalah. Kami juga diminta untuk kembali esok hari untuk mengambil Paspor yang sudah tercetak.

Bergegas kami menuju ke Bank BNI terdekat untuk melakukan pembayaran, mengingat hari itu kami harus menjalankan ibadah sholat Jumat. Kami memutuskan untuk sholat di Islamic Centre yang lokasinya tidak jauh dari lokasi Bank tempat kami melakukan pembayaran Biaya Paspor.

Usai sholat jumat, kami kembali ke rumah tercinta di Grand Cibubur. Tidak lupa untuk mampir di Rumah Makan Sop Pak Min untuk santap siang dengan menu Sop Ayam istimewa.

Dua hari kemudian, istri tercinta kembali ke kantor imigrasi untuk mengambil paspor yang sudah dijanjikan dapat diambil. Alhamdulillah, proses pengambilan paspor tidak mengalami hambatan yang berarti. Paspor sudah ditangan, saatnya melanjutkan ke proses administrasi berikutnya.

Cerita paspor belum berakhir,   ketika kembali ke tanah air, kami mendapatkan informasi bahwa dana yang dikeluarkan jamaah untuk membuat paspor akan mendapatkan penggantian dari Kantor kementrian Agama.

Hal ini dikarenakan komponen ONH di dalamnya sudah termuat pula biaya pembuatan paspor. Alhamdulillah, satu bulan setelah berada di tanah air usai berhaji, kami melakukan pengurusan pengembalian biaya paspor.

Syaratnya hanya melampirkan Copy Bukti penyetoran ONH dan Copy Kuitansi pembayaran biaya paspor. Lumayan, uang pengembalian paspor bisa digunakan untuk makan bersama keluarga.

TUNTASKAN -ADMINISTRASI

Alhamdulillah, seluruh berkas persyaratan pendaftaran haji sudah kami lengkapi. Satu tahap lagi yang harus dilakukan, yaitu melaporkan kelengkapan administrasi tersebut ke kantor Kementerian Agama Kota Bekasi untuk memastikan masuk dalam daftar jamaah haji yang dapat berangkat ke tanah suci pada musim haji tahun 2015/1436H.

Pagi hari, kami sudah berada di Kantor Kemenag Kota Bekasi. Agak kecewa saat masuk ke kantor yang seharusnya menunjukkan sebuah kantor yang mengatur segala hal terkait penyelenggaraan ibadah haji. Tidak ada sapaan Assalamualaikum ....   petugas yang duduk di meja yang mirip meja resepsionis di kantor-kantor pemerintah, tidak memberikan sambutan apapun kepada mereka yang masuk ke dalam gedung. Saat bertanya dimana lokasi pelaporan Jamaah Haji, hanya dijawab .. “disana ....” sambil tangannya menunjuk salah satu ruangan yang ada di kantor tersebut.

Di dalam ruangan, tetap saja tidak ada sambutan istimewa. Petugas penerimaan berkas, seorang ibu berseragam PNS (Pegawai Negeri Sipil) berusia tua, nampaknya beberapa bulan lagi akan pensiun, hanya memberikan sapaan singkat, “ duduk disini bu ...”

Kami berikan berkas yang dipersyaratkan kepada ibu tersebut. Petugas tersebut mengeluarkan form tanda terima, dan bukannya menulis sendiri Form Tanda Terima tersebut, namun malah meminta kami untuk mengisinya sendiri .....

Kami tidak permasalahkan hal tersebut, kami segera isi form tanda terima tersebut dan menandatangani kolom tanda tangan kami sebagai pihak yang menyerahkan dokumen.

Berkas kami dimasukkan ke dalam Map Plastik bening yang memastikan dokumen yang ada di dalamnya tidak akan tercecer. Usai semua proses, sang ibu tersebut meminta kami mengganti uang untuk pembelian Map Plastik tersebut sebesar 20 ribu rupiah. Tanpa banyak bertanya, kami berikan uang sebesar 40 ribu rupiah sebagai ganti 2 map plastik untuk penyimpan dokumen milik kami dan istri tercinta.

Sang ibu tersebut selanjutnya memberikan 1 Paket buku dan 1 keping VCD berisi Panduan Manasik dan Doa Ibadah Haji. “Silahkan infaq seikhlasnya untuk pengganti VCD dan Buku ini ...” kata si Ibu. Lagi-lagi tanpa berpikir panjang, kami serahkan uang sebesar 100 ribu rupiah untuk memenuhi permintaan sang ibu.

Sesudahnya kami diberikan Form Tanda Terima Berkas dan segera pulang kembali ke rumah kami.

Melalui situs resmi Kemenag dan Account FB Informasi Haji, belakangan kami baru tahu bahwa Buku dan VCD Bimbingan Manasik dan Doa Haji tersebut adalah hak jamaah haji dan seharusnya diberikan secara cuma-cuma kepada jamaah haji.

“Hmmm .. tak apalah .... kami ikhlas ... “ mensikapi permintaan uang oleh petugas Kemenag Kota Bekasi, yang diistilahkan sebagai “uang infaq”.