^Kembali ke Atas

foto1 foto2 foto3 foto4 foto5

BERIBADAH HAJI-WAJIB BERILMU

Seluruh calon Jamaah Haji sebelum berangkat ke tanah suci diwajibkan untuk mengikuti kegiatan manasik haji. Bagi Calon Jamaah Haji yang tergabung dalam KBIH, kegiatan manasik Haji biasanya dilaksanakan secara intensif 1 kali dalam satu minggu dalam 4 bulan sebelum jadwal pemberangkatan ke tanah suci. Untuk Calon Jamaah Haji yang berstatus Haji Mandiri, tetap mendapatkan hak mengikuti kegiatan manasik Haji yang diselenggarakan di tingkat Kota/Kabupaten dan di tingkat kecamatan.   Biaya Manasik Haji sudah termasuk dalam komponen ONH (Ongkos Naik Haji) yang disetorkan oleh Calon Jamaah Haji.

Saya dan istri termasuk kategori Haji Mandiri. Kami berdua mengandalkan kegiatan manasik yang diberikan oleh Kementerian Agama Kota Bekasi dan Kantor Urusan Agama Kecamatan Jatisampurna – Kota Bekasi untuk bekal pengetahuan tata cara ibadah haji di Tanah suci.

Sebagai Haji Mandiri, kami mendapatkan jatah sebanyak 6 kali kegiatan Manasik. 2 kali di Asrama Haji Kota Bekasi, dan 4 kali di Kantor Urusan Agama Kecamatan Jatisampurna.

Manasik haji dilakukan untuk dapat memberikan pemahaman kepada setiap calon jamaah haji tentang tujuan utama keberangkatan mereka ke tanah suci.

Tujuan dari diadakannya manasik haji adalah untuk mempermudah calon Jama’ah Haji dalam memahami tentang ibadah haji baik secara teoritis maupun praktis sehingga diharapkan menjadi calon Jama’ah Haji yang mandiri dapat melaksanakan ibadah haji dengan baik dan benar.

Manfaat melakukan Manasik Haji bagi Calon Jamaah haji antara lain adalah :

  1. Dapat Mengetahui Tentang doa-doa sunnah mulai dari keluar rumah untuk melaksanakan ibadah haji sampai kembali ke Indonesia dari Makkah.
  2. Dapat memberikan pemahaman mana yang wajib, rukun, sunnah, dan haram saat melaksanakan ibadah haji.
  3. Dapat Mengetahui kondisi Makkah dan Madinah yang akan berguna untuk persiapan ibadah haji nantinya.
  4. Dapat saling mengenal jamaah lain sehingga saat di Makkah dapat saling membantu.
  5. Diajarkan Bahasa Arab untuk percakapan ringan di Makkah nantinya.

Berdasarkan penjelasan dari Petugas Pembimbing Manasik Haji di Kantor Urusan Agama Kecamatan Jatisampurna, kami mendapatkan penjelasan, bahwa Pengertian haji, secara garis besar, dapat disimpulkan bahwa “Haji adalah berkunjung ke Baitullah, untuk melakukan Thawaf, Sa’i, Wukuf di Arafah dan melakukan amalan – amalan yang lain dalam waktu tertentu untuk mendapatkan keridhaan Allah Subhanna Wa Ta’ala.

Manasik haji adalah peragaan pelaksanaan ibadah haji sesuai dengan rukun-rukunnya. Dalam kegiatan ibadah haji, calon jamaah haji akan dilatih tentang tata cara pelaksanaan ibadah haji yang akan dilaksanakannya, misalnya rukun haji, persyaratan, wajib, sunnah, maupun hal-hal yang tidak boleh dilakukan selama pelaksanaan ibadah haji.

Selain itu, para calon jamaah haji juga akan belajar bagaimana cara melakukan praktik tawaf, sa’i, wukuf, lempar jumrah, dan prosesi ibadah lainnya dengan kondisi yang dibuat mirip dengan keadaan di tanah suci.

Rukun Haji (Sesuatu yang harus dilaksanakan bila ada salah satu atau lebih tidak dilaksanakan, maka tidak dapat diganti dengan dam (denda), dan hajinya batal (tidak sah).

1.   Ihram

2.   Wukuf di Arafah

3.   Thawaf Ifadlah

4.   Sa’i

5.   Memotong rambut / Tahallul

6.   Tertib

Haji (Sesuatu yang harus dilaksanakan dan apabila salah satu ada yang ditinggalkan, maka hajinya sah tapi harus membayar dam (denda).

1.   Ihram dari Miqat

2.   Mabit di Muzdalifah

3.   Mabit di Mina

4.   Melempar Jumrah

5.   Thawaf Wada’

Urutan kegiatan dalam Ibadah Haji

Dalam kegiatan dan pelaksanaan Ibadah Haji, terdapat urutan rukun dan wajib Haji yang harus dilaksanakan oleh setiap jamaah Haji. urutan kegiatan tersebut sebagai berikut :

Thawwaf Qudum

Sebelum tanggal 8 Dzulhijjah, calon jamaah haji melaksanakan Thawwaf Qudum di Masjid Al Haram, Makkah. Calon jamaah haji memakai pakaian Ihram (dua lembar kain tanpa jahitan sebagai pakaian haji), sesuai miqatnya, kemudian berniat haji, dan membaca bacaan Talbiyah, yaitu mengucapkan Labbaikallahumma labbaik labbaika laa syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syarika laka..                                                                                                        

Wukuf

Tanggal 9 Dzulhijjah, pagi harinya semua calon jamaah haji menuju ke padang Arafah untuk menjalankan ibadah wukuf. Kemudian jamaah melaksanakan ibadah Wukuf, yaitu berdiam diri dan berdoa di padang Arafah hingga Maghrib datang. Sebagaimana Sabda Nabi, Al-hajju ‘Arafah”, maksudnya adalah inti dan puncak haji adalah melaksanakan wukuf di Arafah. Arafah berarti mengenal, mengetahui, dan menyadari. Sedangkan makna wukuf adalah berdiam diri.

Dengan demikian, makna wukuf di Arafah adalah berdiam diri untuk merenungkan eksistensi diri di hadapan Allah Subhanna Wa Ta’ala. dan dihadapan makhluk alam semesta kemudian melakukan transformasi ruhaniah secara besar-besaran.

Dengan wukuf di Arafah tersebut, orang-orang yang melaksanakan haji diharapkan menjadi arif dan sadar akan eksistensi dirinya, dari mana ia berasal dan ke mana ia akan pergi, sadar akan tugas dan tanggung jawabnya, serta memanifestasikan dan mengaplikasikan kesadaran tersebut dalam bentuk tindakan konkret dalam kehidupan pribadi dan kehidupan masyarakatnya.                                                                                                                                                                                                                                  

Mabit

Tanggal 9 Dzulhijjah malam, jamaah menuju ke Muzdalifah untuk mabbit (bermalam) dan Mabit di Musdzalifah. mengambil batu untuk melontar jumroh secukupnya. Mabit di Muzdalifah artinya bermalam atau berhenti sejenak atau menginap   di Muzdalifah pada malam 10 Dzul Hijjah selepas wukuf di Arafah. Dibagian sebelah barat dari Muzdalifah ini terletak Masy'aril Haram, yaitu gunung Quzah.. Mufassir lain mengatakan, Masy'aril Haram adalah Muzdalifah seluruhnya. Di tempat itu jama'ah Haji melakukan mabit atau wukuf, minimal telah melewati tengah malam. Memang, yang lebih utama mabit dilakukan sampai selesai shalat Subuh sebelum berangkat ke Mina untuk melakukan Jumroh Aqobah.                                                                                                                                              

Lontar Jumrah

Tanggal 9 Dzulhijjah tengah malam (setelah mabbit) jamaah meneruskan perjalanan ke Mina untuk melaksanakan ibadah melontar Jumroh. Mina adalah sebuah lembah di padang pasir yang terletak sekitar 5 kilometer sebelah Timur kota Mekkah, Arab Saudi. Ia terletak di antara Mekkah dan Muzdalifah. Mina mendapat julukan kota tenda, karena berisi tenda-tenda untuk jutaan jamaah haji seluruh dunia. Tenda-tenda itu tetap berdiri meski musim haji tidak berlangsung. Mina paling dikenal sebagai tempat dilaksanakannya kegiatan lempar jumrah dalam ibadah haji

Tempat atau lokasi melempar jumrah ada 3 yaitu Jumrah Aqabah, Jumrah Wusta dan Jumrah Ula. Di Mina jama'ah haji wajib melaksanakan mabit (bermalam) yaitu malam tanggal 11,12 Dzulhijah bagi jamaah haji yang melaksanakan Nafar Awal atau malam tanggal 11,12,13 dzulhijah bagi jamaah yang melaksanakan Nafar Tsani.

Mina juga merupakan tempat atau lokasi penyembelihan binatang kurban. Di Mina ada mesjid Khaif, merupakan masjid dimana Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melakukan shalat dan khutbah ketika berada di Mina saat melaksanakan ibadah haji.

Tanggal 10 Dzulhijjah, jamaah melaksanakan ibadah melempar Jumrah sebanyak tujuh kali ke Jumrah Aqobah sebagai simbolisasi mengusir setan. Melempar jumrah adalah simbol perlawanan manusia terhadap setan. Manusia harus melakukan perlawanan kepada setan karena mereka selalu berupaya menyesatkan manusia dari jalan kebenaran dan menjauhkan mereka dari jalan Allah Subhanna Wa Ta’ala. Melempar jumrah adalah simbol keteladanan Hajar yang menunjukkan sikap permusuhan terhadap setan.

Dalam ibadah haji, melempar jumrah tidak hanya dilakukan dalam satu hari melainkan tiga atau empat hari. Ini menunjukkan perintah Allah yang sangat tegas agar manusia benar-benar memusuhi setan dan tidak bersekutu dengannya. Panji-panji harus terus dikibarkan dan genderang perang melawan setan harus terus ditabuh. Dilanjutkan dengan tahallul yaitu mencukur rambut atau sebagian rambut.                                                

Jika jamaah mengambil nafar awal maka dapat dilanjutkan perjalanan ke Masjidil Haram untuk Thawwad ifadhah/Thawaf Haji (menyelesaikan Haji). Sedangkan jika mengambil nafar akhir jama'ah tetap tinggal di Mina dan dilanjutkan dengan melontar jumroh sambungan (Ula dan Wustha).

Tanggal 11 dan 12 Dzulhijjah, melempar jumrah sambungan (Ula) di   tugu pertama, tugu kedua, dan tugu ketiga.Melontar pertama kali adalah melontar Jumrah 'Aqabah pada hari Ied. Tetapi jika seseorang melakukannya pada tengah malam bagian kedua dari malam Ied, maka demikian itu cukup baginya. Sedangkan yang utama adalah melontar Jumrah 'Aqabah antara waktu dhuha sampai terbenam matahari pada hari Ied. Tapi jika terlewatkan dari waktu itu, maka dapat melontar setelah terbenamnya matahari pada hari Ied. Caranya adalah dgn 7 kali melontar dgn membaca takbir setiap kali melontar.

Adapun melontar pada hari-hari tasyriq adalah dilakukan setelah matahari condong ke barat (setelah dzuhur). Yaitu memulai dgn melontar Jumrah Ula yang dekat dgn masjid Al-Khaif sebanyak 7 kali lontaran disertai takbir setiap melontar. Lalu Jumrah Wustha dgn 7 kali melontar disertai takbir setiap kali melontar. Kemudian melontar di Jumrah 'Aqabah sebanyak 7 kali lontaran disertai takbir setiap kali melontar. Dan demikian itu dilakukan pada tanggal 11,12, & 13 Dzulhijjah bagi orang yang tak hendak mempercepat pulang dari Mina. Tapi bagi orang yang ingin mempercepat pulang dari Mina, maka hanya sampai tanggal 12 Dzulhijjah.

Dan disunnahkan setelah melontar Jumrah Ula & Jumrah Wustha berhenti di samping tempat melontar. Di mana setelah melontar Jumrah Ula disunahkan berdiri di arah kanan tempat melontar dgn menghadap kiblat seraya berdo'a panjang kepada Allah. Sedang sehabis melontar Jumrah Wustha disunnahkan berdiri disamping kiri tempat melontar dgn menghadap kiblat seraya berdo'a panjang kepada Allah. Tapi sehabis melontar Jumrah 'Aqabah tak disunnahkan berdiri di sampingnya karena Nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wassalam setelah melontar Jumrah Aqabah tak berdiri disampingnya.                                                                  

Thawaf

Thawaf artinya mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali di mana posisi Ka’bah berada di sebelah kiri jama’ah. Diawali dan diakhiri sejajar dan searah dengan Hajar Aswad. Macam-macam thawwaf:

  1. Thawaf Qudum ialah: thawaf selamat datang, yang dikerjakan ketika baru datang di kota Mekah bilamana tidak dikerjakan hajinya tetap sah, karena hukumnya sunnah.
  2. Tawaf Ifadhah ialah: thawaf yang termasuk rukun haji, bilamana tidak dikerjakan maka hajinya tidak sah karena hukumnya wajib.
  3. Tawaf sunnah ialah, tawaf yang bila dikerjakan mendapat pahala dan bila tidak dikerjakan tidak berdosa.
  4. Thawaf Nadzar ialah, Thawaf yang dilakukan karena punya nadzar
  5. Tawaf wada' ialah: sebagai tawaf pamitan, (tawaf selamat tinggal ) tawaf yang dikerjakan ketika akan meninggalkan kota Mekah, sedangkan hukumnya wajib, jika tidak mengerjakan maka harus membayar Dam.

Setelah melakukan Lontar Jumrah, Jamaah haji kembali ke Makkah untuk melaksanakan Thawaf   Wada’ (Thawaf perpisahan) sebelum pulang ke negara masing-masing. Dilakukan pada saat akan meninggalkan Mekah yang biasanya dilakukan untuk menghormati Baitullah karena akan berpisah. Hukum Thawaf Wada' adalah wajib, sehingga kalau tidak dikerjakan wajib membayar dam (menyembelih kambing). Thawaf ini di sebut juga Thawaf Perpisahan. Thawaf wada’ merupakan penutup dari kewajiban – kewajiban haji yang seorang haji wajib melakukannya sebelum pergi menuju negerinya atau meninggalkan kota Mekkah.

Selain melaksanakan kegiatan manasik saat masih berada di Tanah Air, calon jamaah Haji juga akan mendapatkan Manasik saat berada di Madinah untuk persiapan melakukan Umrah Wajib dan saat berada di Mekkah untuk persiapan melakukan prosesi Armina.

Haji Tamattu'

Haji Tamattuk adalah mendahulukan umrah dari ibadah haji. Yaitu memakai ihram dari miqat dengan niat umrah pada musim haji, setelah tahallul, memakai ihram lagi dengan niat haji pada hari Tarawiah (8 Zulhijah). Bagi yang melaksanakan haji Tamattu' diwajibkan membayar dam.

Untuk niat haji tamattu' adalah sebagai berikut :

  

“Aku sambut panggilan-Mu ya Allah untuk berhaji.“

Sebagian besar jamaah haji Indonesia adalah Haji Tamattu’

Haji Qiran

Haji Qiran adalah haji dan umrah dilakukan secara bersamaan. Yaitu memakai ihram dengan niat umrah dan haji sekaligus. Dengan demikian segala amalan umrah sudah tercakup dalam amalan haji.

Cara pelaksanaannya adalah:

  1. ihram dari miqad dengan niat untuk haji dan umrah sekaligus melakukan seluruh amalan haji
  2. Bagi yang melaksanakan haji Qiran diwajibkan membayar dam.

Adapun niat haji Qiran adalah sebagai berikut :

  

“Aku datang memenuhi panggilan-Mu untuk berhaji dan umrah”

Atau

“Aku niat haji dan umrah, dengan berihram untuk haji dan umrah karena Allah”

Haji Ifrad

Haji Ifrad adalah proses melakukan ibadah haji yang terpisah antara ibadah haji dan ibadah umrah. Dalam ritual ibadah haji Ifrad, yaitu melaksanakan ibadah haji terlebih dahulu kemudian dilanjutkan dengan ibadah umrah. Dalam pelaksanaannya waktu memakai ihram dari miqad dengan niat haji saja, kemudian tetap dalam keadaan ihram sampai selesai haji (hari raya kurban). Setelah selesai melaksanakan ibadah haji baru dilanjutkan dengan melaksanakan ibadah umrah. Yang melaksanakan haji ifrad tidak diharuskan membayar dam.

Untuk bacaan niat haji ifrad adalah sebagai berikut :

  

“Aku sambut panggilan-Mu ya Allah untuk berhaji.“

Atau

“Aku niat haji dengan berihram karena Allah ta’ala.”