^Kembali ke Atas

foto1 foto2 foto3 foto4 foto5

Walimatussafar

Tiba di kediaman kami di kawasan Cibubur, kami langsung melakukan persiapan untuk melaksanakan kegiatan Walimatussafar. Terkait dengan kegiatan ini, beberapa kalangan mengatakan bahwa kegiatan walimatussafar adalah kegiatan yang tidak ada tuntunannya.

Namun, setelah bertanya kepada beberapa kalangan dan juga membaca beberapa tulisan yang terkait dengan kegiatan walimatussafar, kami memutuskan untuk tetap mengadakan kegiatan walimatussafar di kediaman kami di Cibubur.

Ustazd HM Rizal Fadillah dalam kolom Tanya jawab di harian Republikas Online menjelaskan, bahwa secara harfiah Walimatussafar artinya “menjamu” atau “pesta” dalam rangka safar “perjalanan” haji. Tentu yang dimaksud dalam kaitan ini adalah calon jamaah haji mengundang sanak saudara, kerabat, dan tetangga untuk hadir dalam acara “pamitan” calon jama’ah untuk menunaikan ibadah haji. Biasanya disamping kalimat pamit, mohon maaf, juga diisi dengan ceramah atau taushiyah yang berhubungan dengan ibadah haji.

Walimatussafar tentu tidak dikenal dalam manasik haji karenanya tidak berhubungan dengan tatacara ibadah dan Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga tidak mencontohkan. Ada yang melarang kegiatan ini karena ghoir masyru’ adapula yang mengharuskan dan ada pula yang sekedar menganjurkan.

Jalan tengahnya adalah jika hendak melakukan walimatus safar, maka kegiatan itu harus diyakini bukan merupakan kegiatan ibadah haji, tidak berlebih-lebihan, tidak didasarkan atas pamer diri atau riya serta jauh dari hal-hal yang berbau kemusyrikan.

Semangat Walimatussafar adalah silaturahim, mensyukuri nikmat Allah (tasyakur bini’mah), dan berbagi kebahagiaan sebagaimana firman Allah “wa ammaa bini’matirobbika fahadits” (dan terhadap nikmat rabb mu hendaklah kamu menyebut-nyebutnya).

Menurut Ustadz HM Rizal Fadillah, Adapun hal hal yang perlu dilakukan saat mengadakan kegiatan Walimatussafar adalah:

Pertama, mengundang kedatangan sanak saudara, kerabat, ataupun tetangga adalah jalan lain sebagai pengganti kita harus mendatangi satu persatu orang yang kita semestinya bersilaturahmi kepadanya baik secara umum maupun khusus dalam rencana keberangkatan ibadah haji. Mengundang makan apalagi disertai pengajian adalah perbuatan baik yang tidak bertentangan dengan sunnah Rosulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM .

Kedua, mengumumkan rencana keberangkatan baik waktu maupun hal lain, sehingga sanak keluarga, kerabat, sahabat, maupun tetangga menjadi mengetahui serta dapat membantu memperhatikan dan menjaga keluarga yang ditinggalkan, hal kewajiban muslim terhadap muslim lainnya.

Ketiga, menjadikan Walimatussafar sebagai momentum strategis untuk berda’wah menyampaikan hal-hal yang baik dan mencegah hal yang buruk dalam berbagai bidang yang tentunya bisa dikaitkan dengan ibadah haji sebagai rukun Islam kelima.

Keempat, karena perjalanan beribadah haji merupakan perjalanan suci (rihlah muqaddasah) maka tidaklah salah jika calon jama’ah meminta maaf secara terbuka kepada seluruh handai taulan yang hadir sebagai upaya membersihkan hati sebelum berangkat. Harapannya, maaf yang diberikan itu menjadi sebab dari karunia Allah Subhanna Wa Ta’ala untuk membersihkan noda dan kotoran yang melekat pada dirinya akibat sikap buruk dalam pergaulan sesama.

Kelima, saling mendo’akan baik saat berkumpul maupun setelah berpisah. Mereka yang berangkat mendo’akan yang ditinggalkan, begitu juga sebaliknya yang ditinggalkan mendoakan yang berangkat.

Alangkah baiknya jika acara ini mengundang juga anak-anak yatim, fakir miskin, dan orang-orang yang tidak mampu agar semangat berbagi kebahagiaan itu semakin terasa. Sementara bagi yang memang berat untuk mengeluarkan biaya bagi acara Walimatussafar tidaklah perlu untuk memaksakan diri karena di samping tidak ada dalil baik Alquran maupun Sunnah yang mengharuskannya, juga wujud tasyakur dan silaturahmi dapat dilakukan dalam bentuk-bentuk yang lain.

Bagi yang ingin mendo’akan keberangkatan saudaranya yang berangkat haji dapat mengamalkan hadits dari Abu Hurairoh Ra ini yang menyatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengucapkan “astawdu’ukallaha alladzi laa tadhi’u wa daa-i’uhu” (Aku menitipkan kalian kepada Allah yang tidak mungkin menyia-nyiakan titipannya)—HR Ibnu Majjah dan Ahmad.

Acara walimatussafar di kediaman kami, digelar pada tanggal 23 Agustus 2015. Kami mengundang tetangga, saudara, serta kerabat yang tinggal di sekitar jabodetabek.

Pada kesempatan tersebut, saya beserta istri menyampaikan niat kami untuk melaksanakan ibadah haji ke tanah suci, memohon perkenan doa untuk kelancaran perjalanan dan prosesi ibadah haji kami, serta memohon perkenan maaf atas segala khilaf dan salah kata serta perbuatan yang telah kami buat di masa lalu, baik disengaja atau tidak. Perkenan memberikan permohonan maaf kami harapkan untuk menjadi pelancar jalan kami ke tanah suci dan kepulangan kami ke tanah air.