^Kembali ke Atas

foto1 foto2 foto3 foto4 foto5

BERSIAP KEMBALI KE TANAH AIR

Satu hari menjelang jadwal kepulangan kami ke tanah air. Kami bersama istri memutuskan untuk melaksanakan Tawaf Wada pada pagi hari usai sholat subuh.

Thawaf wada’ adalah sebagai penghormatan terakhir pada Masjidil Haram. Jadinya thawaf ini adalah amalan terakhir bagi orang yang menjalankan haji sebelum ia meninggalkan Mekkah, tidak ada lagi amalan setelah itu.

Thawaf wada’ ini wajib menjadi akhir amalan orang yang berhaji di Baitullah dan ia tidak boleh lagi tinggal lama setelah itu. Jika ia tinggal lama setelah itu, thowaf wada’nya wajib diulangi. Adapun jika diamnya sebentar seperti karena menunggu rombongan, membeli makanan atau ada kebutuhan lainnya, maka itu tidaklah masalah. Begitu pula jika ada yang belum menunaikan sa’i hajinya, maka ia boleh menjadikan sa’inya setelah thowaf wada’. Karena melakukan sa’i hanyalah sebentar saja tidak membutuhkan waktu lama. Sedangkan Sholat sunnah 2 rokaat di Multazam adalah bagian dari sunnahnya Thawaf.

Prosesi Tawaf Wada kami lakukan sesudah kami melaksanakan Sholat Subuh di Masjidil Haram. Kami putuskan untuk melakukan Tawaf Wada dengan mengambil area tawaf di lantai 2. Keputusan ini kami ambil setelah melihat kenyataan bahwa kepadatan di area tawaf lantai dasar terlihat sangat tinggi.

Mengambil lokasi Tawaf di lantai 2 membuat prosesi tawaf kami berjalan dengan lancar karena memang lebih banyak jamaah yang memilih tawaf di lantai dasar ketimbang di lantai atas.

Konsekuensi memilih lokasi tawaf di lantai atas adalah jarak putaran tawaf mengelilingi Ka’bah menjadi lebih jauh dibandingkan dengan melakukan tawaf di lantai dasar. Namun karena tingkat kepadatannya yang rendah, pada saat melakukan tawaf kami tidak khawatir terdorong oleh jamaah yang berada di belakang kami.

Saat melakukan Tawaf di lantai atas, kami juga dapat memandang Ka’bah dengan persfektif yang berbeda dibanding memandang Kabah dari posisi lantai bawah.

Kami dan Istri tercinta merasa bahwa melakukan 7 putaran tawaf di lantai atas ternyata tidak membuat kami kelelahan. Mungkin karena dampak situasi kepadatan yang rendah, sehingga kami dapat berjalan normal seperti layaknya berjalan kaki biasa.

Usai bertawaf, kami juga tidak kesulitan mencari area untuk sholat sunnah Tawaf. Begitu pula saat hendak berdoa di depan Multazam. Terasa dimudahkan.

Saat berdoa di depan multazam, air mata kami mengucur deras, karena membayangkan bahwa ini adalah tawaf perpisahan kami sebelum kami kembali ke Tanah Air.   Kami panjatkan doa, semoga Allah Subhana Wa Ta’ala memberikan kami kesempatan untuk berkunjung kembali ke Baitullah.