Kembali ke Tanah Air

Usai Tawaf Wada, kami kembali ke Hotel Pemondokan di Mekkah untuk mempersiapkan keberangkatan ke Bandara King Abdul Aziz Mekkah dan selanjutnya diterbangkan ke Tanah Air.

Petugas kesehatan haji nampak berkeliling ke kamar-kamar jamaah haji. Mereka meminta seluruh jamaah haji memastikan kesehatan diri masing-masing.   Bagi jamaah haji yang merasa mengalami demam, untuk segera meminum obat penurun panas. Hal ini penting, karena pihak imigrasi Bandara King Abdul Azis tidak akan mengizinkan jamaah haji keluar dari Arab Saudi jika pada saat dilakukan pemindaian suhu tubuh didapati suhu tubuhnya tidak normal.

Kami yang merasa agak sedikit demam, segera bergegas menemui petugas medis kloter untuk meminta obat. Namun ternyata stock obat penurun panas sudah habis. Petugas medis kloter meminta kami meminum obat apa saja yang didalamnya terkandung parasetamol. Jadilah akhirnya kami meminum Paramex yang di dalamnya terdapat kandungan Parasetamol.

Petugas kloter juga mengingatkan seluruh jamaah haji untuk melaksanakan sholat Isya yang di Jama’ dengan sholat Mahgrib. Mengingat pada pukul 8 malam, bis yang membawa kami sudah harus berangkat ke Bandara.

Berada di atas bis, sebelum diberangkatkan, petugas perwakilan Maktab memberikan kata sambutan perpisahan kepada seluruh jamaah haji. Petugas perwakilan Maktab menyampaikan permohonan maaf jika selama berada di Hotel Pemondokan di Mekkah, tidak dapat memberikan pelayanan yang memuaskan untuk seluruh Jamaah Haji.

Petugas Perwakilan Maktab juga menyampaikan selamat kepada seluruh jamaah haji yang telah menyelesaikan seluruh prosesi ibadah haji, seraya mendoakan semoga menjadi haji yang Mabrur.   “ aminnnn ….” Begitu jawab rekan jamaah haji yang ada di dalam bis.

Terlambat dari waktu yang dijadwalkan, bis mulai berjalan meninggalkan hotel pada pukul 9 malam. Perjalanan menuju ke Bandara King Abdul Azis memakan waktu selama 2 jam perjalanan. Seluruh jamaah haji nampak duduk diam di atas bis. Sepertinya seluruh jamaah haji sudah membayangkan tiba di tanah air, berjumpa dengan anak-anak, keluarga, adik, kakak dan kerabat, melepas kerinduan setelah selama 40 hari tidak berjumpa.

Akhirnya kami tiba di kawasan Bandara King Abdul Aziz Jeddah.   Kami diturunkan di area khusus jamaah haji. Petugas Haji Indonesia yang bertugas di Bandara melakukan penyambutan kepada kami yang baru saja tiba. Kami diarahkan untuk menuju ke area transit jamaah haji yang telah disediakan khusus untuk jamaah haji Indonesia. Bendera Merah putih nampak berkibar di tengah ruangan sebagai penanda bahwa area tersebut adalah area berkumpul jamaah haji Indonesia.

Kami semua beristirahat sejenak di area transit. Melalui ketua Rombongan, Petugas kemudian membagikan makan malam untuk seluruh jamaah haji. Lesehan di area transit, kami nikmati makan malam kami dengan lahap.

Sambil kami menyantap hidangan, petugas airline di bandara kemudian mendatangi kami di area istirahat, dan memberikan beberapa pengumuman kepada jamaah haji terkait dengan kebijakan barang bawaan. Disampaikan oleh petugas Saudia Airline yang berkewarganegaraan Indonesia, bahwa seluruh jamaah haji hanya diperkenankan membawa 1 tas tentengan saja. Pada saat boarding tidak diperkenankan membawa tas lain selain 1 tas tentengan yang berkapasitas 7 kilogram.

Selain itu, petugas airline juga menginfomasikan bahwa beberapa barang tidak boleh ada di tas bagasi, antara lain :

  1. Pisau, gunting, dan logam sejenisnya
  2. Tali, Kabel listrik, dan alat elektronik
  3. Korek Api Gas, dan barang berbentuk cairan.

Ketentuan tidak boleh membawa tas selain 1 tas tentangan kontan membuat seluruh jamaah haji menjadi kelimpungan. Hampir sebagian besar jamaah haji membawa tas tentengan berisi oleh-oleh untuk sanak kerabat di tanah air. Jadilah akhirnya seluruh jamaah haji melakukan aktivitas sortir tas untuk memastikan barang bawaan yang tidak perlu dan dilarang dibawa, berada di luar tas tentengan.

Untuk mengurangi isi tas tentengan dan menambah ruang untuk oleh-oleh kerabat, beberapa jamaah nampak menggunakan baju berlapis-lapis agar isi tas dapat dikurangi.

Kami sendiri terpaksa meninggalkan beberapa barang yang dilarang masuk ke bagasi, antara lain kabel listrik cabang, gunting, pisau, serta gelas mug almunium yang niatnya akan kami bawa sebagai kenang-kenangan.

Mainan Onta Padang pasir untuk oleh-oleh Andra juga terpaksa kami keluarkan dari kardus, karena petugas airline meminta kami melepaskan kardusnya dan memasukkannya pada 1 kantong plastic kecil biasa.

Banyak jamaah haji yang terpaksa harus ikhlas meninggalkan barang-barang yang mereka beli untuk oleh-oleh kerabat di tanah air, karena kapasitas tas mereka sudah penuh.

Urusan pengepakan ulang tas akhirnya selesai. Ketua Rombongan melalui Ketua regu kemudian membagikan paspor dan tiket kami masing-masing. Sempat terjadi kericuhan, karena nama tiket yang diterima jamaah ternyata berbeda-beda dan tidak sesuai dengan nama kami masing-masing.

Sempat ricuh beberapa saat, sampai akhirnya ada informasi bahwa perbedaan nama pada tiket tidak menjadi masalah, karena saat boarding tidak dilakukan pengecekan nama, hanya diminta untuk menyerahkan tiket saja. Jamaah haji yang namanya tertukar akhirnya menjadi tenang.

Setelah berada di area transit sekitar 3 jam lamanya, kami kemudian diminta petugas untuk berbaris dan masuk ke area pemeriksaan Bagasi. Proses pemeriksaan bagasi di area X-Ray serasa berjalan sangat lambat. Pihak petugas Bandara Arab Saudi melakukan pemeriksaan dengan seksama.

Alhamdulillah, pada saat giliran kami, tidak ada hambatan apapun, proses scanning dengan pemindai tubuh berjalan lancar. Tidak ada bunyi yang keluar dari alat pemindai dan kami diminta segera masuk ke ruangan tunggu bandara.

Proses pemeriksaan jamaah dibedakan antara Jamaah Haji Pria dan Jamaah Haji wanita. Jadilah selama proses antrian pemeriksaan bagasi, kami dan istri harus terpisah cukup lama.

Waktu yang dibutuhkan untuk antri proses pemeriksaan bagasi hingga masuk ke dalam ruang tunggu, nyaris hingga 2 jam lamanya. Saat ini pukul 4 pagi dan kami semua sama sekali belum tidur …

Memasuki area ruang tunggu bandara, seluruh jamaah haji mendapatkan masing-masing 1 kitab Al Quran sebagai cinderamata dari Kerajaan Arab Saudi.

Untung saja ada bangku yang tersedia di ruang tunggu bandara. Kami sempatkan untuk “tidur-tidur ayam” sambil menunggu waktu boarding.   Ketika adzan sholat subuh berkumandang, kami melakukan sholat bergantian.

Akhirnya pada pukul 04.30 kami diminta untuk naik ke atas bis bandara untuk proses boarding.   Dari kejauhan kami melihat pesawat yang akan membawa kami ke tanah air.

Tiba di landasan, kami harus menunggu sejenak di landasan karena pintu pesawat masih tertutup. Petugas di landasan meminta kami meletakkan tas tentengan kami di sisi sebelah kanan tangga naik pesawat. Tas tentengan kami ternyata akan dimuat kedalam kargo pesawat.

Saat pintu pesawat dibuka, saya bersama istri menjadi jamaah haji pertama yang menaiki pesawat. Saat berada di depan pintu pesawat, kami disambut pramugari berkebangsaan Indonesia, mengucapkan selamat datang, dan mempersilahkan kami untuk mencari tempat duduk yang kosong. Tidak ingin direpotkan dengan urusan mencari tempat duduk, kami putuskan duduk di bangku pertama dekat dengan pintu pesawat.

Alhamdulillah ….. ucap kami ketika kami sudah duduk di bangku kami. Bila saat berangkat ke tanah suci kami tidak dapat duduk berdampingan di pesawat. Maka saat kembali ke tanah air, kami dapat duduk berdampingan.

Penerbangan Jeddah ke bandara Halim Perdana Kusumah Jakarta akan memakan waktu 9 jam penerbangan. Pesawat Saudia Airline akhirnya take off tepat pukul 05.20 waktu KSA dan dijadwalkan mendarat di Halim Perdana Kusumah Jakarta pada pukul 23.00 Wib.

Sepanjang penerbangan, di luar waktu makan dan sholat fardhu. Sebagian besar jamaah menghabiskan waktu untuk tidur. Hari-hari terakhir di Tanah Suci memang banyak menguras energi kami.   Kami yakin, saat ini seluruh jamaah haji sudah mulai membayangkan bertemu dengan keluarga dan kerabat mereka di rumah.

Pukul 21.00 WIB, pesawat kami sudah berada di atas kota Jakarta. Pilot memberikan pengumuman bahwa beberapa saat lagi kami akan mendarat di Bandara Halim Perdana Kusuma. Seluruh jamaah haji diminta untuk memasang sabuk pengaman.

Usai pengumumamn dari pilot, lampu tanda sabuk pengaman menyala. Kami yakinkan sabuk pengaman kami terpasang dengan baik. Pramugari berkelling memastikan seluruh penumpang menggunakan sabuk pengaman mereka.

Pramugari kemudian duduk di bangku mereka yang tepat berada di depan tempat duduk kami.   Pramugari memberikan kode informasi melalui intercom kepada pilot. Lampu kabin kemudian padam.

Pesawat kami rasakan mulai menurunkan ketinggian. Namun setelah beberapa saat, kami merasakan bahwa pesawat hanya berputar-putar di udara. Dari kaca kabin pesawat, kami dapat melihat keramaian jalanan Jakarta dan lampu-lampu gedung tinggi yang terang-benderang. Beberapa gedung yang begitu iconic adalah Gedung Menara 165 yang di puncak gedungnya tertulis lafad ALLAH besar berwarna kuning. Nampak agung lafadz ALLAH terbaca jelas dari atas pesawat udara.

Pramugari yang duduk di depan kami nampaknya mengetahui kegelisahan kami, karena sudah lebih dari 15 menit pesawat terus berputar-putar di udara. “Ada kepadatan pesawat di landasan pak haji …. Jadi harus antri untuk mendarat ..” ucap pramugari kepada kami.

“oo .. gitu ya mbak … “ jawab kami.

Tak lama kami menyadari bahwa hari ini adalah tanggal 4 Oktober 2015 atau 1 hari menjelang hari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Pantas saja ada kepadatan di landasan Bandara Halim Perdana Kusuma, karena pasti ada banyak pergerakan pesawat dalam rangka perayaan HUT ABRI tersebut.

Sekitar 1 jam lamanya pesawat kami berputar-putar di atas udara Jakarta.   Tak lama ada kode dari pilot kepada pramugari melalui pengeras suara. Sepertinya kode untuk mendarat.

Benar saja, tak lama pesawat nampak terbang berputar, kemudian seprti terbang lurus, dan tiba-tiba kami menyadari jika pesawat ternyata sudah berada di landasan.

Alhamdulillah ….. kami telah mendarat dengan selamat di Tanah Air.

Saat pintu pesawat terbuka, kami bersama istri menjadi jamaah haji pertama yang turun dan menjejakkan kaki di landasan Bandar udara.   Kami lakukan sujud syukur, mengucapkan doa syukur kepada Allah Subhana Wa Ta’ala atas Rahmat dan karuniaNya, sehingga kami bersama istri dapat menunaikan ibadah haji dan kembali ke tanah air dengan selamat.

Kami kemudian berjalan menuju ke layanan imigrasi bandara. Semua jamaah haji diberikan Air Zam Zam kapasitas 5 liter dan kartu kontrol kesehatan yang harus diserahkan ke Puskesmas kecamatan pada 7 hari setelah tiba di tanah air.

Proses imigrasi dan kesehatan selesai, kami diarahkan untuk naik ke atas bis yang akan membawa kami ke Asrama haji Kota Bekasi.

Saat berada di atas bis, kebiasaan menarik 1 real untuk tips supir rupanya terbawa …. Salah seorang rekan jamaah haji menarik uang 1 real per jamaah dan ketika terkumpul langsung diserahkan ke supir bis.

Sang supir yang kelihatannya baru pertama kali mendapatkan tips dari jamaah haji, nampak berseri-seri dan melalui pengeras suara menyampaikan ungkapan terima kasihnya kepada para jamaah. “Terima kasih bapak dan ibu Haji …. Semoga Bapak dan Ibu menjadi Haji yang Mabrur …” begitu kata sang sopir. Kami semua hanya menjawab “ Amiiin … “

Perjalanan dari Bandara Halim Perdana Kusumah ke Asrama Haji Kota Bekasi ditempuh dalam waktu 1 jam. Pengawalan polisi cukup membantu melancarkan laju bis yang kami tumpangi.

Menjelang masuk ke Asrama Haji, di sepanjang jalan menuju gerbang asrama haji, para penjemput nampak berdiri berjejer hingga ke gerbang masuk asrama haji. Ada keharuan saat melihat para penjemput yang nampak melambai-lambaikan tangan penuh antusias ke orang tua dan kerabat jamaah haji yang ada di dalam bis.

Turun dari bis, petugas asrama haji mengarahkan kami untuk masuk ke Aula Kedatangan Jamaah Haji. Sebelum meninggalkan asrama haji, kami masih harus mengikuti acara ceremony serah terima dari Asrama Haji Kita Bekasi kepada Pemerintah Daerah Kota Bekasi.

Usai acara ceremony, kami kemudian mencari Koper Besar dan Tas Tentengan Kami di ruangan bagasi yang ada di sebelah ruangan kedatangan asrama haji.

Kami kemudian menghubungi ananda Dhany yang berada di depan Gerbang Asrama Haji, mengabarkan bahwa ayah dan bunda sedang menuju ke Gerbang asrama Haji.

Tiba di depan gerbang, kami tak mampu menahan haru bertemu dengan anak-anak kami, orang tua dan kerabat kami. Peluk cium kami berikan ke anak-anak kami … “Ya Allah … terima kasih kami haturkan padaMu …. Telah menjaga anak-anak kami saat kami berkunjung ke rumahMU ….”

Kami kemudian naik ke mobil Avanza kesayangan kami, meluncur ke kediaman kami di kawasan Cibubur. Kami singgah di Masjid At-Taqwa, masjid terdekat dari kediaman kami, untuk melaksanakan Sholat Sunnah 2 rakaat. Sesudahnya kami berdoa :

“Segala puji bagi Allah yang telah memberikan pertolongan kepadaku dengan melaksanakan ibadah haji dan telah menjaga diriku dari kesulitan bepergian sehingga aku dapat kembali lagi kepada keluargaku”. Ya Allah berkatilah dalam hidupku setelah melaksanakan haji dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang shaleh.”

“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tidak ada Tuhan selain Allah yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kerajaan dan milik-Nya semua pujian dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Semoga kami termasuk orang-orang yang kembali, orang ahli taubat, orang ahli ibadah, ahli sujud dan kepada Allah kami semua memuji. Allah maha menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya dan menghancurkan sendiri musuh musuh-Nya.

Kala berdoa saat sujud, Air mata kami kembali menetes, mengucap syukur kepada Allah Subhanna Wa Ta’ala, atas karunia, pertolongan, perlindungan, serta kuasaNya, sehingga kami dapat kembali ke rumah kami dan berkumpul bersama keluarga kami.

Usai sholat dan berdoa, kami melanjutkan perjalanan ke rumah kami yang jaraknya hanya sekitar 500 meter dari Masjid tempat kami sholat.

Tiba di rumah, orang tua menyambut kami dengan haru. Begitu pula sanak saudara kami yang telah berkumpul di rumah kami.

Semua sanak saudara yang menyambut kami di rumah, tak sabar ingin mendengarkan kisah selama kami berhaji. Mereka ingin mendengar tentang Musibah Crane Rubuh, dan juga tentang Musibah Mina. Dua berita besar yang membuat seluruh keluarga jamaah haji yang ada di tanah air menjadi was-was menanti keluarga mereka yang sedang melaksanakan ibadah haji.

Tentu saja, mereka juga tak sabar memperoleh oleh-oleh utama haji, yaitu Air Zam-zam dan Kurma Ajwa.