Bertemu Iran Syiah, aku bertak’kiyah

Hari itu adalah hari Ke-empat saya berada di Madinah. Ketika baru saja usai menjalankan ibadah sholat ashar di Masjid Nabawi, sudah menjadi kebiasaan bagi saya untuk tetap berada di masjid menunggu datangnya waktu sholat Mahgrib. Selama menunggu waktu Mahgrib tiba, seperti hari-hari sebelumnya, saya akan membuka Al-quran dan membacanya secara perlahan untuk mencapai target khatam quran selama berada di Tanah Suci.

Baru saja hendak membuka Al-quran, seorang jamaah yang sedari tadi berada di samping saya, menyapa saya dengan sapaan “Assalamu’alaikum ...” suaranya khas suara timur tengah, dan ketika saya menoleh dan menjawab salamnya, ternyata sosok yang berada di samping saya tersebut, adalah jamaah haji asal Iran.

“Are you from Indonesia ? “ tanyanya, ketika saya menjawab salamnya dengan ucapan “waalaikumsalam”. Dan dengan senyum di bibir, Saya menjawab “yes, I’m from Indonesia”.

Percakapan kemudian berlanjut menjadi percakapan yang saling memuji presiden masing-masing. “Your President, Mr.Jokowi, very famous in Iran “ ungkap jamaah Iran tersebut. Saya tentunya juga membalasnya dengan pujian yang sama terhadap presiden Iran periode yang lalu, Mahmod Achmaddinejad, yang memang terkenal di Indonesia dan dijadikan presiden teladan karena kesederhanaannya. “Your previous presiden, Mr. Ahmadinejad was populer too in Indonesia ..” yang disambut dengan senyum dan ucapan “thanks you”

Tidak berhenti sampai disitu, pembicaraan kemudian berlanjut dengan saling bertanya profil kami masing-masing. Jamaah Iran tersebut memperkenalkan dirinya bernama Achmad, seorang pengajar Bahasa Asing di Iran. Ia menguasai 4 bahasa, antara lain Bahasa Inggris, Bahasa Arab, Bahasa Parsi, dan Bahasa Jerman. Jamaah iran tersebut bertanya kepada saya apakah saya pekerja wiraswasta, karyawan, atau seorang pegawai pemerintah. Saya jelaskan bahwa saya adalah pekerja swasta di salah satu perusahaan retail di Indonesia.

Jamaah Iran tersebut juga bertanya apakah saya lulusan dari Universitas ? yang saya jawab dengan anggukan kepala dan menjelaskan bahwa secara aspek pendidikan, saya adalah Lulusan Sarjana Pertanian dengan spesialisasi Sosial Ekonomi, yang usai wisuda, bekerja di bidang yang tidak sejalan dengan ilmu pada saat kuliah.   Ketika jamaah iran tersebut menanyakan apakah saya berminat untuk melanjutkan ke jenjang Master ? saya memberikan jawaban bahwa saya kebetulan sudah mengambil jenjang S2 dengan spesialisasi Managemen Pemasaran.   Tak dinyana, jamaah Iran tersebut menawarkan kepada saya apakah saya berminat untuk mengambil Phd ? lagi-lagi saya jawab bahwa saya memang berencana untuk kembali ke bangku kuliah, tapi bukan untuk mengambil Phd, melainkan mengambil program Sarjana dari bidang ilmu berbeda dengan yang saya miliki saat ini.

Untuk sesaat kami menjadi semakin akrab, dan saya secara terus terang menanyakan kepada jamaah Iran tersebut, apakah ia seorang Syiah. “Are You Syiah “ tanya saya. yang dijawab dengan pelan namun dengan intinasi jelas, “Yes .. I’m syiah ...” yang dilanjutkan dengan pernyataan “ 90% population in Iran is Syiah”. Saya hanya mengangguk-anggukkan kepala mendengarkan penjelasannya.

Kami berdua terdiam sesaat, dan jamaah Iran tadi kemudian bertanya apakah saya mengenal Jallaluddin Rahmat ?, saya jawab dengan “Yes, i know Jalllaludin Rahmat. He is populer in Indonesia as Kang Jalal. He is known as Syiah Leader in Indonesia”. Tentu saja saya mengetahui tentang sosok yang namanya Kang Jalan ini dari laman internet, bukan mengenalnya secara pribadi.

Selanjutnya jamaah Iran tadi kembali bertanya “Do You know Mr. Alwi Shihab ? “ saya jawab lagi dengan cepat “Yes .. of course I know. He is very populer in Indonesia. He’s brother quraish sihab known in Indonesia as Writer of Tafsir Al-Misbah, and alsa he have cousin Najwa Sihab which populer in Indonesia as a presenter in Tv station in Indonesia

Ketika mendengar bahwa saya menyatakan diri mengenal sosok Jallaludin Rahmat, Alwi Shihab, dan Quraish Sihab, jamaah Iran tersebut terlihat matanya berbinar, seolah baru saja mendapatkan kawan yang ia cari sejak lama. “Last month, i just meet him in Indonesia” kata jamaah Iran tersebut. “I Regurally arange meeting with them in Indonesia” lanjutnya. Saya yang mendengar penjelasannya hanya tersenyum dan mulai mencoba memahami siapa sebenarnya sosok jamaah Iran tersebut. Saya pribadi meyakini bahwa sosok Jamaah Iran tersebut pasti sosok penting di negara Iran, karena kedekatannya dengan tokoh syiah Indonesia. Jallaludin Rahmat dan Alwi Shihab diyakini adalah sosok yang mengembangkan ajaran Syiah di Indonesia.

Pembicaraan kami masih berlanjut. Jamaah Iran tersebut menanyakan apakah saya mengenal dengan baik organisasi Nahdathul Ulama.   Tentu saja saya jawab “Of course, i know well about NU” seraya menjelaskan bahwa saya berasal dari keluarga jawa yang secara turun-temurun merupakan muslim yang mengikuti ajaran kiai NU.

Secara tak terduga, jamaah Iran tersebut menyampaikan bahwa Gus Dur, mantan Presiden RI dan juga tokoh NU, semasa hidupnya pernah mengeluarkan statemen bahwa NU adalah sama dengan Syiah.   “Gus Dur said that NU is same with Syiah” begitu ucapannya kepada saya. Tentu saja saya hanya tersenyum dan tidak memberikan tanggapan apapun tentang statement tersebut.

Melihat saya hanya diam dan tersenyum, Jamaah Iran tersebut kemudian melanjutkan bahwa ada beberapa hal yang mendasari statement bahwa NU sama dengan Syiah. Hal Pertama yang mendasari statement tersebut adalah bahwa Islam Syiah tidak mengakui keberadaaan Khalifah, namun mengakui adanya Imam. Menurut jamaah Iran tersebut, Islam NU juga sama dengan Islam Syiah, yaitu mengakui adanya Imam yang di Muslim NU dikenal dengan istilah Kiai.   Menurut Jamaah Iran tersebut, keyakinan dan penghormatan penganut islam syiah kepada Imam mereka adalah sama dengan yang dilakukan oleh Muslim NU yang sangat menghormati Kiai-Kiai NU.

Hal Kedua yang mendasari pernyataan bahwa NU sama dengan Syiah adalah dari sisi ritual ibadah yang hampir mirip. Diantaranya adalah Doa Qunut yang dilakukan oleh Muslim NU juga dilakukan oleh Muslim Syiah dan Pembacaan Yasin setiap Malam Jumat yang dilakukan kebanyakan muslim NU juga dilakukan oleh Muslim Syiah.

Saya hanya menggangguk-anggukkan kepala dan masih tetap memberikan senyum terbaik saya ketika mendapatkan penjelasan panjang lebar tentang pernyataan Jamaah Iran tersebut terkait dengan statement yang disampaikannya bahwa NU sama dengan Syiah. Di dalam hati saya tentu saja saya membantah statement tersebut, karena satu hal yang membedakan NU dan Syiah adalah kenyataan bahwa Muslim NU tidak pernah menghujat Sahabat Nabi selain Ali bin Abi Tholib seperti yang sering dilakukan oleh Muslim Syiah.

Melihat saya hanya menggangguk dan tersenyum, mungkin Jamaah Iran tersebut merasa bahwa saya melakukan pembenaran atas penjelasan yang ia sampaikan.   Kemudian Jamaah Iran tersebut bertanya kepada saya “ if you growth in javaness family, i’am sure you are NU “ begitu katanya. Saya hanya menjawab bahwa saat ini saya sedang dalam tahapan mempelajari semua mahzab yang ada di Islam, dan nantinya kelak akan memutuskan mahzab mana yang saya yakini untuk saya ikuti sebagai seorang muslim. Sang Jamaah iran balik yang tersenyum dan mengangguk-anggukan kepalanya.

“Brother, can you explained to me, why syiah always do taqiyah ?” balik tanyaku kepada Jamaah Iran tersebut. Agak tercengang mendapatkan pertanyaan seperti itu, Jamaah Iran tersebut menjawab bahwa inti ajaran syiah adalah Taqiyah, yaitu menyembunyikan identitas diri ketika kondisi membahayakan dirinya jika menunjukkan jati diri sebagai seorang syiah.

Saat sang Jamaah Iran hendak berbicara sesuatu, kumandang azdan mahgrib terdengar. Akibatnya sang jamaah Iran tidak jadi melanjutkan pembicaraan. Kami pun menyiapkan diri untuk melaksanakan sholat Mahgrib berjamaah.

Usai sholat Mahgrib, saya segera menyiapkan diri untuk mengikuti Ceramah dalam Bahasa Indonesia yang disampaikan oleh Ustadz Firanda di area Pilar Gerbang 19C Masjid Madinah.   Sejak pagi saya memang merencanakan untuk mengikuti kajian Ustadz Firanda, sehingga sudah mengambil shaff di sekitar area ceramah tersebut.

Sang Jamaah iran saat mengetahui akan ada kajian ustadz Firanda, menyalami saya untuk pamit karena harus bertemu dengan koleganya di Hotel. Ia kemudian meminta nomor kontak saya di WhattApp dan menyampaikan bahwa ia akan mengontak saya untuk mengajak berdiskusi lebih lanjut soal segal hal terkait dunia Islam.

Ia juga mengundang saya malam ini ba’da sholat Isya untuk makan malam bersamanya di Hotel.   Saya menolak dengan halus ajakannya dengan alasan sudah ada janji dengan Rombongan Haji membahas masalah city tour yang akan kami lakukan esok hari.

Sang Jamaah iran dapat memakluminya dan kemudian berpamitan kepada saya. “Assalamualaikum ....brother” pamitnya, yang saya jawab dengan ucapan “wa’alaikumsalam .... see you brother ”.   Sang Jamaah Iran bergeser dari tempat duduknya, dan saya segera bersiap mengikuti Kajian Ustadz Firanda sampai menjelang sholat Isya.

Esok hari, kegiatan di Madinah berjalan seperti hari-hari sebelumnya.   Bangun dari tidur malam pada pukul 2 dinihari dan bersiap melaksanakan Sholat Tahajud di Masjid Nabawi. Usai sholat shubuh kembali ke Hotel untuk mempersiapkan Sarapan Pagi, mengingat sarapan yang disediakan di Hotel hanya Roti Kroisan yang untuk ukuran saya masih “tidak nendang” jika dijadikan sebagai menu sarapan.

Usai sarapan, perangkat Blackbery yang saya miliki berdering. Nomor kontak pada layar menerangkan bahwa yang melakukan panggilan adalah Sang Jamaah Iran yang kemarin berbincang dengan saya membahas tentang Muslim Syiah. Agak ragu untuk menerima panggilan telephone tersebut, akhirnya saya putuskan mendiamkan panggilan tersebut.   Ketika perangkat Blackberry tak lagi berdering, tak lama terdengar nada notifikasi masuknya pesan melalui aplikasi whatsApp.

Pesan pada WhatsApp berbunyi : “brother Didi, i just call you but didn’t answer, I wanna invite you to my hotel for dinner tonigh. Hope we can discuss together. Achmad” .

Jreng-jreng .... semakin yakin jika jamaah Iran ini pasti bukan orang sembarangan di komunitas Syiah Iran, karena menunjukkan keseriuasan luar biasa untuk mengajak saya berdiskusi. Mungkin antusiasmenya didorong oleh statemen saya bahwa saya mengenal dengan baik Tokoh Syiah Indonesia yang bernama Jallaludin Rahmat dan Alwi Shihab. Padahal statement “mengenal dengan baik” maksudnya adalah mengenalnya sebagai orang yang terkenal di Indonesia karena statusnya sebagai Pembela Syiah di Indonesia. Untuk bersimpati pada Kaum Syiah .... tentu saja jawabnya TIDAK !.

Saya putuskan untuk mengabaikan pesan di WhatsApp. Awalnya terbersit niat untuk bertaqiyah, berpura-pura bersimpati dengan Muslim Syiah untuk mengetahui lebih jelas seperti apa sebenarnya Syiah merencanakan sesuatu untuk kalangan di luar syiah. Namun niat tersebut saya batalkan karena membayangkan kengerian tentang apa yang terjadi jika mereka tahu bahwa saya hanya berpura-pura bersimpati pada syiah.

Hari ini akhirnya berjalan seperti biasanya saat kami pertama datang di Madinah. Fokus pada ibadah Sholat Arbain. Namun esok paginya, pesan yang sama datang lagi . Masih dengan isi pesan yang pada intinya mengajak untuk bertemu makan malam di Hotek tempat di Jamaah Iran menginap. Hmmm, makin menambah keyakinan tentang status sang Jamaah Iran. Keputusan sudah bulat, jangan bermain dengan api ..... saya putuskan untuk mengabaikan pesan tersebut.

Dibalik pertemuan dengan sang Jamaah Syiah ketika saya berada di Madinah saat musim Haji 1436 H, beberapa hal yang menjadi bahan pelajaran bagi saya pribadi, adalah sebagai berikut :

  1. Adalah keniscayaan bahwa penganut Syiah di Indonesia hampir dipastikan sebelumnya adalah mereka yang menganut faham NU.   Syiah memanfaatkan klaim “kesamaan” ritual antara NU dan Syiah untuk mempengaruhi muslim di Indonesia untuk mau menganut faham syiah.
  2. Harus berhati-hati jika mendapatkan tawaran atau Iming-iming mendapatkan fasilitas pendidikan di universitas di kawasan Timur Tengah, dikhawatirkan tawaran tersebut datang dari Tim perekrut dari Kaum Syiah
  3. Bahwa orang yang bernama Jallaludin Rahmat dan Alwi Shihab sudah terkonfirmasi langsung dari sumber yang sahih bahwa mereka adalah penganut Syiah, atau setidaknya bersimpati pada Kaum Syiah.