^Kembali ke Atas

foto1 foto2 foto3 foto4 foto5

Rahmat Allah di Raudhah

Saat santap malam, usai sholat Isya di Masjid Nabawi, kami sempat mendengar ucapan salah seorang jamaah haji yang berasal dari regu yang sama dengan kami, yaitu Bapak Aziz, yang menyatakan ingin sekali mengetahui keberadaan Makam rasullulha dan berdoa di Raudhah yang merupakan salah satu tempat yang Insya Allah segala doa diijabah oleh Allah Subhanna Wa Ta’ala.  

Teman sekamar beliau nampaknya tidak dapat membantu Pak Aziz untuk memenuhi harapannya tersebut, karena mereka usia mereka sudah sama-sama tidak muda lagi, dan tidak sanggup ketika harus berdesakan masuk ke Raudoh.

Saya yang siang tadi baru saja berhasil masuk ke raudoh, berdoa dan sholat ashar di area Raudhah persis pada shaff di depan mimbar nabi, serta melihat dengan jelas pintu makam rasulullah, tergerak untuk membantu Pak Aziz mewujudkan keinginan dan harapannya.

“Pak Aziz .... kalo bapak berkenan, besok bisa saya temani ke Raudhah” ucap saya ke Pak Aziz. “Mau mas ... saya mau mas .... besok jam berapa mas ?? “ jawabnya penuh antusias.

Saya tersenyum melihat antusiasme Pak Aziz. “besok kita ke raudhoh jam 2 siang pak ... , selesai sholat dhzuhur nanti, Pak Aziz langsung kembali ke Hotel dan langsung santap siang, selesai makan, kita langsung ke Raudhah” jelasku. “Baik mas, besok saya stanby di depan kamar jam 2 siang” jawab pak Aziz.

Esok hari, seperti janji saya ke beliau, usai sholat dzuhur, saya segera kembali ke Hotel. Ketika keluar dari Lift, Pak Aziz yang kamarnya persis di dekat lift menyambut saya dan berkata “kita berangkat sekarang mas ? “ tanya beliau.

Kontan saja saya jawab “ tiga puluh menit lagi ya pak, saya belum makan siang ....”.   “oooo baik-baik mas, saya tunggu disini ya mas” jawab Pak Aziz seraya duduk di kursi di samping meja tempat ketua rombongan biasa menempatkan konsumsi jatah jamaah haji.

Tak enak hati membuat Pak Aziz menunggu lama, saya putuskan untuk makan siang dengan cepat. 10 menit jatah makan siang tuntas saya lahap. Saya bersiap menjemput Pak Aziz.

Saya putuskan tidak membawa tas yang biasa saya bawa ke Masjid Nabawi, karena pengalaman hari kemarin, agak sulit berdesakan masuk ke raudhoh jika diri kita juga sibuk menenteng tas. Saya putuskan siang ini ke raudhoh hanya membawa perangkat blackberry saya saja.

“Ayo pak kita berangkat ... ” ucapku ketika tiba di depan kamar pak Aziz. Kami berdua berjalan ke depan lift, turun ke lobby hotel, dan keluar hotel menuju ke Masjid Nabawi.

Kami masuk dari gerbang Masjid Nabawi Nomor 19C karena itulah gerbang terdekat dari Hotel kami. Setiba disana, saya baru tersadar bahwa saya ternyata tetap harus membawa tas untuk tempat menyimpan sandal kami. Saya putuskan untuk menyimpan sandal kami di loker penyimpanan sandal di gerbang 19. Ketika meminta Pak Aziz untuk menyimpan sandalnya, saya baru teringat bahwa untuk menuju ke Gerbang 02-Abu Bakar, yaitu gerbang menuju ke Raudhoh, saya harus melewati area terbuka yang lantainya pasti panas jika tidak menggunakan alas kaki.

“Bapak kuat gak kalo nanti jalan tidak pake sandal ? “ tanya saya ke Pak Aziz. Pertanyaan saya dijawab dengan pernyataan pak Aziz bahwa dirinya tidak kuat kalo tidak pake sandal. “Gak kuat mas kalo nggak pake sandal”, jawan pak Aziz. Jadilah akhirnya Pak Aziz tetap membawa sandalnya sampai ke area menuju gerbang Abu Bakar.

Ketika sudah masuk ke gerbang Abu Bakar, antrian masuk ke Raudhoh sudah lumayan padat. Melihat kondisi pak Aziz yang menenteng sandal, sudah terbayang dalam pikiran saya bahwa hal itu akan menyulitkan Pak Aziz saat masuk di tengah padatnya antrian masuk.

“Pak Aziz, sandal pak aziz kita taruh disini aja ya pak ...” pintaku sambil menunjuk area tempat penyimpanan barang jamaah yang tersedia di pilar masjid nabawi. “Kalo sudah keluar dari Raudhoh nanti kita ambil lagi, Insya Allah tidak hilang, soalnya agak ribet kalo Pak Aziz harus nenteng sendal seperti itu ...” demikian terangku ke Pak Aziz.  

“Ya sudah mas, saya taruh aja sandal saya di situ ....” jawab pak Aziz dengan ikhlasnya.

Kami mendekat ke antrian masuk. Petugas askar Masjid Nabawi melakukan pengaturan masuk ke roudhoh dengan melakukan penyekatan antar bidang yang dibatasi oleh Pilar. Untuk masuk ke area roudhoh, ada 3 bidang tahapan yang harus dilalui oleh jamaah haji.   Pengaturan per bidang tahapan ini ditujukan untuk memastikan area raudhoh dimasuki oleh jamaah seusai dengan daya tampungnya. Disamping untuk memastikan tidak terjadi kekacauan saat antrian masuk ke raudhoh.

Pada bidang tahap pertama, saat memasuki barisan antrian kami ada di sekitar baris ke 5 dari depan bidang antrian pertama. Jamaah terus masuk memenuhi ruang antrian di Bidang Pertama ini. Sampai pada posisi jelang akan dibukanya pembatas bidang pertama, posisi saya dan pak Aziz berada di tengah-tengah antrian.

Di depan Pak Aziz adalah jamaah haji asal Nigeria yang posturnya tinggi besar. Posisi di depan Jamaah Haji Nigeria memberi keuntungan tersendiri bagi kami, karena dengan begitu Pak Aziz akan terhindar dari terjatuh karena dorongan antrian dari belakang karena ada jamaah haji tinggi besar yang menahannya di depan.

Alhamdulillah, setelah berjuang selama hampir 1 jam, akhirnya kami berada di area Raudhoh. Sholat sunat mutlak kami tunaikan di raudhoh. Kemudian doa-doa kami panjatkan.

Tak terasa air mata bercucuran tatkala doa-doa kami panjatkan. Semua jamaah dari berbagai negara sepertinya merasakan hal yang sama dengan kami. Larut dalam keharuan memuji asma Allah dan melantunkan doa-doa kepada yang sang khalik.

Karena sesaat lagi masuk waktu sholat ashar, petugas askar melakukan pengaturan semua jamaah yang ada di raudhoh untuk memastikan jamaah berada di jalur shaff yang sudah ditentukan. Jamaah yang berada di luar jalur shaff, oleh askar diarahkan untuk keluar area raudhoh. Alhamdulillah, saya dan pak aziz masuk ke dalam jalur shaff yang ditentukan, sehingga tidak harus keluar dari area Raudhoh.

Ketika sholat ashar usai dan doa ba’da sholat fardhu usai dipanjatkan, para askar meminta semua jamaah untuk bangun dan bergerak meninggalkan area raudhoh untuk memberikan kesempatan jamaah lain yang akan memasuki raudhoh.

Saya dan Pak Aziz bangun dari duduk dan bersama jamaah haji lainnya bergerak menuju ke pintu keluar raodhoh yang nantinya akan melewati makan rasullullah. Ketika melewati depan makanm rasullullah, solawat serta salam untuk baginda besar nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam diucapkan oleh para jamaah, dan lagi-lagi tak terasa air mata menetes sebagai rasa syukur diberikan kesempatan oleh Allah Subhanna Wa Ta’ala untuk berkunjung ke makam rasullullah, manusia terbaik pilihan Allah yang telah membawa kami dari zaman zahiliiah ke zaman islam yang penuh rahmat dan barokah.

Kami berjalan pelan meninggalkan raudhoh. Sampai akhirnya tiba di pintu keluar nomor 25. Cuaca di luar masjid sangat panas. Suhu mendekati 42 derajat celcius. Hmmm .... tak terbayang panasnya lantai area luar masjid nabawi. Sempat bingung bagaimana ini ..... sandal saya ada di loker gerbang nomor 19 dan sandal Pak Azis ditinggalkan di loker gerbang no.2 .

“Pak Aziz kita jalan lewat pinggir menyusuri bangunan itu ya pak ,“ ucapku kepada pak Aziz sambil menunjuk bangunan putih yang nampaknya adalah dinding area raudhoh. “nanti kita berjalan di pinggir sampai ke gerbang nomor 2 tempat awal kita masuk tadi “, lanjutku.

“Iya ... iya mas .... tapi saya pengin pipis mas ...” ujar pak Aziz yang tentu saja membuat saya mengeryitkan dahi saya. Bagaimana tidak, lokasi toilet ada di tengah-tengah area terbuka masjid nabawi. Jaraknya sekitar 100 meter. Sudah terbayang betapa panasnya lantai menuju ke toilet. Sementara kami berdua tidak membawa sandal. Kondisi kesehatan Pak Aziz memang membuat beliau harus sering buang air kecil ke toilet.

“iya pak, kita jalan agak cepat ya pak .... supaya kaki kita nggak kepanasan, mudah-mudahan lantai tidak terlalu panas .. Bapak bisa khan ??? “ tanyaku ke Pak Aziz.

“Bisa Mas .... Insya Allah bisa ... mudah-mudahan gak panas lantainya “ Jawab Pak Aziz.   Kami kemudian mulai berjalan cepat menuju ke toilet, baru sekitar 6 langkah kaki menapak lantai, pak Aziz berteriak kepanasan ... “panas mas ... lantainya panas mas .... kaki saya gak kuat ...”

Bingung dengan kondisi yang dihadapi, saya hanya bisa meminta Pak Azis untuk berlari menuju ke toilet. “Ayo pak kita lari saja .... mudah-mudahan kaki kita bisa menahan panas ....” kami berdua kemudian berlari agak cepat menuju ke Pintu masuk toilet.

Alhamdulillah, kami tiba di pintu toilet. Kaki kami berdua masih merasakan panas yang agak lumayan. Area pintu toilet yang agak basah, menjadi penyejuk kaki kami.

“Mudah-mudahan gak melepuh pak .... “ ujarku ke Pak Aziz.   “Iya mas ... Insya Allah kaki kita gak melepuh”. Kami beristirahat sejenak di pintu masuk toilet. Nafas kami masih agak ngos-ngos’an karena harus berlari menghindari lantai yang panas. Sambil beristirahat, saya memikirkan bagaimana cara untuk kembali ke gerbang pintu Abu Bakar tanpa kaki kami harus kepanasan. Hmmmm, terpikir untuk menggunakan Masker yang saya gunakan untuk dijadikan sebagai alas kaki. “Ayo pak aziz, kita masuk ke dalam toilet”.

Lokasi toilet adalah di lantai basement, sehingga kami harus menuruni tangga yang tersedia. Ada 2 tangga yang disediakan, tangga eskalator untuk naik dan tangga manual yang dapat digunakan untuk naik dan turun. Kami menuruni tangga manual dengan perlahan.

Untuk sampai ke lantai basement, tangga manual yang tersedia dibuat menjadi 2 tahapan tangga menurun. Separuh perjalanan sampai ke dasar, tangga dibuat mendatar sehingga tangga tidak turun terlalu curam.

Saya harus menuntun Pak Aziz menuruni tangga. Ketika sampai di area lantai toilet, kami harus berbelok ke kanan menuju area Toilet.   Saat berbelok ke kanan, tak disangka-sangka ada hal yang membuat kami berdua mengucap syukur alhamdulillah.

Saat kami berjalan menuju area toilet, sekonyong-koyong ada seorang tua, jamaah haji asal indonesia yang kami kenali dari seragam batiknya, menyodorkan sepasang sandal ke kami.

“Ini saya ada 2 sandal, saya pakai satu, kamu pakai satu “ ujar orang tua itu sambil menyorongkan sandal ke arah saya. Subhanallah .....Alhamdulillah .....

ini adalah hal yang tak disangka-sangka. Ketika sedang bingung bagaimana cara kembali ke Gerbang Abu Bakar tanpa menggunakan sandal, tiba-tiba ada orang tua yang memberikan sandal ke kami, seolah-olah orang tua itu tahu bahwa kami berdua membutuhkan sandal.

Sepasang sandal jepit warna hijau tersebut saya ambil seraya mengucapkan terima kasih kepada orang tua tersebut. Dari logat bicaranya, saya bisa pastikan orang tersebut berasal dari kawasan timur indonesia.

“ Alhamdulillah pak Aziz .... saat kita butuh sandal, ada orang yang menyorongkan sandal ke kita, ini benar-benar pertolongan Allah .... “ ujarku ke Pak Aziz. “ iya mas, alhamdulillah ...” jawab pak Azis.

“Nanti pak azis yang pake sandal ini supaya kaki pak Azis tidak kepanasan, kalo saya khan masih muda, Insya Allah bisa agak kuat melewati lantai yang panas “ jelasku ke Pak Aziz.

Usai melepaskan hajat buang air kecil, saya mengajak pak Azis untuk menuju ruang wudhu untuk mengambil wudhu. Saat di Ruang Wudhu, saya tersadar dengan kesombongan yang saya tunjukan dengan kata-kata “ kalo saya khan masih muda, Insya Allah bisa agak kuat melewati lantai yang panas ... “

Astagfirullah .... saya segera beristigfar. “ Ya Allah ... maafkan hambaMu yang telah berkata sombong ...” Kalimat istigfar saya ucapkan karena saya menyadari bahwa perjalanan menuju gerbang 02 adalah cukup jauh. Jika untuk jarak 50 meter saja saya sudah amat merasakan panas, apalagi jika harus berjalan sekitar 300 meter menuju ke gerbang nomor 02.

Saya kembali berniat menggunakan masker sebagai alas kaki untuk dapat mengurangi rasa panas ketika melewai lantai area luar masjid nabawi.

Usai berwudhu, saya dan pak Azis berjalan menuju ke tangga naik untu keluar dari area Toilet. Sampai di area tangga, banyak jamaah yang akan keluar area Toilet. Tangga eskalator yang biasanya difungsikan sebagai tangga naik, ternyata mengalami kerusakan.

Namun saya melihat hampir sebagian besar jamaah lebih memilih menggunakan eskalator tersebut dibandingkan menggunakan tangga manual. Saya mengajak pak Aziz untuk naik menggunakan tangga manual.

“Kita lewat tangga biasa saja pak, itu tangga lebih sepi dibandingkan tangga eskalator ..” ajakku ke Pak Azis. “iya mas ... lewat tangga biasa saja ....” jawab Pak Azis

Kami menapaki perlahan area tangga naik. Saat itu, dari sekian banyak jamaah yang akan naik ke area halaman masjid nabawi, hampir semua orang menggunakan tangga eskalator, nyaris kami berdua saja yang menggunakan tangga manual.

Saya masih dalam keadaan tidak beralas kaki, sedangkan pak Aziz menggunakan sandal jepit pemberian orang tua di area toilet. Ketika akan tiba di area tangga yang landai, ada hal yang mengejutkan kami.

Saat tinggal satu anak tangga menjelang ke area datar tangga, saya melihat 1 pasang sandal jepit yang seolah-olah diletakkan secara sengaja dan diletakkan seperti menyambut kedatangan saya.

“Subhanallah ..... Alhamdulillah Pak Azis .... ada sandal tergeletak pak ... “ kataku ke Pak Azis.   “Bismillahirahmanirrohim ..... mohon izin menggunakan sandal ini “ ucapku seraya menggunakan sandal tersebut.

Kalimat Tasbih dan kalimat .............. “Subhanallah .... Alhamdulillah .... “ tak putus-putus kami ucapkan sepanjang perjalanan kami ke gerbang abu bakar.   “Alhamdulillah Pak Azis .... pertolongan Allah sangat luar biasa ..... kita terhindar dari kepanasan karena sandal ini pak azis ,“ ujarku kepada pak Azis. “iya mas ..... alhamdulillah koq tiba-tiba ada sandal yang bisa kita pake ...” jawab pak Azis.

Kami tiba di Gerbang Abu Bakar. Aku dan Pak Aziz memiliki pemikiran yang sama untuk meninggalkan sandal jepit itu di area gerbang abu bakar.

“Kita tinggalkan sendal ini disini ya pak ...... mudah-mudahan ada orang yang memerlukan sandal ini untuk mengurangi rasa panas lantai.

Saat akan masuk menuju ke area dalam masjid nabawi, saya sempatkan untuk masuk ke gerbang abu bakar untuk mengambil sandal Pak Azis yang ditinggalkan di loker gerbang abu bakar. Alhamdulillah, sandal pak Azis bisa saya temukan kembali.

“Ini sendal pak Azis ... alhamdulillah tidak hilang pak” .... kataku sambil menyerahkan sandal kulit milik pak Azis.   “wah ... alhamdulillah mas .... padahal saya sudah ikhlasin nih sandalnya .... eh alhamdulillah gak jadi hilang .....” jawab pak Azis.

Kami kemudian masuk ke ruangan dalam masjid nabawi. Sambil menunggu datangnya waktu mahgrib, saya dan pak azis merebahkan badan di area masjid, dengan mengambil tempat yang tidak mengganggu jamaah lain.

Saat berbaring, aku panjatkan doa syukur “Alhamdulillah ya Allah ... telah memnberikan hambaMu ini kesempatan untuk berbagi kebahagiaan dengan Pak Azis yang ingin sekali berkunjung ke Raudhoh, tempat yang Kau janjikan dimakbulkan segala doa, dan berkunjung ke makan RasulMu Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ....

“terima kasih atas segala yang engkau berikan kepada hamba, sehingga memudahkan langkah kami membantu mewujudkan harapan dan keinginan pak Azis”

 

Cerita ini sebenarnya belum selesai. Usai “berhasil” masuk ke raudhoh dengan segala perjuangannya, pada malam harinya, saat makan malam bersama dengan beberapa jamaah haji, Pak Aziz selalu menceritakan apa yang kami alami tadi siang. Khusus soal sandalnya yang akhirnya ditemukan, pak Azis selalu berkali-kali bilang “Padahal sendal itu sudah saya ikhlaskan ..... eh koq ketemu lagi .... “ begitu katanya.

Besok malamnya, saya bertemu kembali dengan Pak Aziz. Beliau menyempatkan diri menemui saya, untuk sekedar bilang .... “mas sendal saya, tadi siang hilang ....”

Hmmmm, rasanya ingin tertawa atau bagaimana ..... saya hanya tersenyum simpul saja dan berkata   “Makanya pak ... jangan salah bicara ..... saat kemarin sandal bapak saya temukan, bapak berkali-kali bilang sudah ikhlas kalo sandalnya hilang ...... nah sekarang jadinya hilang beneran dech ......”

Pak Aziz hanya berkata pendek ..” iya mas, saya ikhlas ...”