^Kembali ke Atas

foto1 foto2 foto3 foto4 foto5

Peristiwa Jatuhnya Crane di Masjidil Haram

Hari itu, Jumat 11 September 2015, usai menunaikan ibadah sholat subuh di Masjidil Haram, kami putuskan untuk kembali ke Hotel tempat kami menginap.   Pada hari-hari selain Hari Jumat, kami biasanya akan kembali ke Hotel pada saat usai melaksanakan sholat Sunnah Dhuha.

Pada setiap hari Jumat, sebagian besar jamaah Haji Indonesia memang akan segera pulang ke Hotel usai melaksanakan sholat subuh berjamaah di Masjidil Haram, mengingat pada pukul 10.00 waktu setempat, kami harus sudah kembali menuju ke Masjidil Haram untuk melaksanakan Sholat Jumat berjamaah.

Hari itu jamaah sholat Jumat di Masjidil Haram sangat padat. Hal ini wajar saja, karena jamaah haji dari berbagai negara sudah mulai berdatangan di Kota Mekkah.   Kami harus berangkat dari Hotel pada pukul 10.00 pagi untuk memastikan mendapatkan shaf di dalam masjidil haram.

Jika kami terlambat tiba di Masjidil haram, bisa jadi gerbang masuk ke dalam masjidil haram sudah ditutup karena sudah dipadati oleh jamaah sholat jumat. Jika itu terjadi, maka kami harus melaksanakan sholat di Pelataran Masjidil Haram yang tidak beratap. Musim Haji Tahun 1436 H jatuh pada musim panas, sehingga dapat dibayangkan jika harus melaksanakan ibadah sholat ditengah terik matahari yang pada saat tengah hari dapat mencapai suhu 45 derajat celcius. Kami menghindari hal tersebut dengan meninggalkan hotel lebih awal.

Alhamdulillah, kami mendapatkan shaff di area perluasan masjidil haram. Sunggu kenikmatan yang luar biasa, mendengarkan khutbah jumat sambil memandangi arsitektur area perluasan masjidil haram yang sangat-sangat indah.

Usai sholat Jumat, perjalanan kembali ke Hotel juga menjadi perjuangan tersendiri. Cuaca Panas Terik sangat menyulitkan bagi jamaah yang tidak membawa payung atau berkacamata hitam. Cahaya Terik Matahari membuat mata kami sulit untuk terbuka karena silau yang amat sangat.

Belum lagi hawa panas yang menyengat kepala kami. Kondisi ini membuat para jamaah yang tidak membawa payung memanfaatkan sajadah untuk penutup kepala mereka.

Perjalanan kami menuju Hotel dibawah terik matahari harus dilakukan dengan berjalan kaki sejauh 2km.   Jalan Raya sekitar Masjidil Haram dipadati oleh ribuan jamaah yang akan kembali ke Hotel. Bagi kami, itu adalah pemandangan dan pengalaman yang sangat indah, berjalan bersama ribuan jamaah dari berbagai negara di dunia.

Makan siang adalah aktifitas kami selanjutnya ketika tiba di Hotel tempat kami menginap. Tentu saja kami makan dengan sangat lahap, mengingat perjalanan sejauh 2 km dibawah terik panas matahari meningkatkan nafsu makan kami. Selesai santap siang, istirahat tidur siang menjadi pilihan kami selanjutnya.

Seperti hari jumat minggu lalu, Sholat ashar kami tunaikan di musholla hotel. Pada pukul 5 sore baru kami menuju ke Masjidil Haram kembali untuk melaksanakan sholat mahgrib dan sholat Isya berjamaah.

Usai sholat ashar di Musholla Hotel dan kembali ke kamar, melalui jendela kamar kami melihat cuaca yang siang tadi panas, berubah menjadi berawan dan turun hujan yang sangat deras.  

Hujan turun disertai dengan angin yang menyerupai badai, karena kekuatan angin tersebut nampak membuat beberapa pohon meliuk, atap bangunan terlihat terangkat, dan sampah yang ada di jalan terangkat sampai ke atas.   Kami putuskan untuk menuju area loby hotel untuk melihat lebih jelas kondisi hujan yang terjadi.

Tiba di Lobby hotel, kesibukan sedang terjadi. Area lobby hotel nampak dibanjiri oleh air hujan yang masuk melalui pintu masuk hotel. Hujan memang turun sangat deras. Angin yang kencang membawa air hujan masuk melalui pintu lobby hotel.

Petugas Cleaning Service hotel nampak sibuk menyapu air di area loby dan mendorongnya ke area luar lobby hotel. Kesibukan semakin menjadi, karena disaat yang sama datang jamaah haji dari beberapa kloter ke Hotel tempat kami menginap.  

Subhanallah, kami panjatlkan puji dan syukur kepada Allah Subhanna Wa Ta’ala, karena pada musim haji ini, kami diberikan kesempatan oleh Allah Subhanna Wa Ta’ala untuk melihat kuasa Allah yang menurunkan hujan yang sangat deras di Tanah Haram Mekkah Al Mukaromah.

 

Turunnya hujan yang amat sangat deras ini tentunya tidak kami bayangkan sebelumnya, karena sejak sekolah dasar dulu, kami selalu mendapatkan pelajaran dari guru kami, bahwa Mekkah yang berada di kawasan Arab Saudi, adalah salah satu daerah yang memiliki curah hujan terkecil di dunia, sehingga turunnya hujan yang sangat deras ini, adalah sesuatu yang luar biasa bagi kami.

Sampai menjelang pukul 5 sore, hujan masih turun. Hal ini tentu saja membuat kami memutuskan untuk tidak berangkat ke Masjidil Haram menunaikan sholat mahgrib dan Isya berjamaah. Kami putuskan untuk melaksanakan sholat Mahgrib di musholla hotel. Begitu pula saat adzan Isya berkumandang, kami putuskan untuk melaksanakan sholat isya juga di Musholla Hotel.

Saat waktu menunjukkan pukul 8 malam, saat kami sedang melakukan aktivitas santap malam, beberapa rekan jamaah nampak keluar dari lift dan memberikan kabar kepada kami bahwa di Masjidil Haram terjadi musibah runtuhnya crane ketika hujan deras tadi sore. Tidak begitu jelas seperti apa kejadian yang sebenarnya terjadi, karena jamaah pembawa berita tersebut juga mendapatkan informasi dari jamaah yang lainnya.

Rekan jamaah haji kami berinisiatif untuk menghubungi keluarganya di Jakarta, untuk kemudian meminta keluarganya untuk memantau siaran televisi yang memberikan kabar soal kejadian di Masjidil Haram.   Benar saja, tak lama kemudian banyak rekan jamaah kami yang dihubungi oleh keluarga mereka di tanah air, karena televisi di tanah air baru saja menyiarkan kejadian runtuhnya crane di masjidil haram yang menelan banyak korban jiwa.   Berita via internet di detik.com juga sudah mulai memberitakan hal yang sama.  

Pengeras Suara di lorong hotel berdenting yang menandakan akan ada pengumuman dari pihak hotel atau dari pihak Pengurus Kloter.   Benar saja, melalui pengeras suara hotel, disampaikan berita tentang terjadinya musibah crane di Masjidil Haram yang menelan beberapa korban jiwa dan korban luka-luka. Ketua Kloter kami mengintruksikan seluruh Ketua Regu dan Ketua Rombongan untuk melakukan pendataan jamaah untuk memastikan keberadaan seluruh anggota kloter.

Seluruh ketua regu sigap bekerja melakukan pendataan anggotanya. Regu kami alhamdulillah lengkap berada di hotel, hanya saja keberadaan Ketua Rombongan kami pada malam itu tidak diketahui keberadaannya.

Dari 10 Rombongan yang tergabung dalam kloter kami, hanya Ketua Rombongan kami yang tidak ada di hotel.   Dari seluruh anggota Jamaah Kloter kami, selain ketua rombongan kami, juga ada 1 jamaah wanita yang belum kembali ke hotel.  

Alhamdulillah, tak lama kemudian, 1 jamaah wanita yang belum kembali ke hotel tersebut, sudah memberikan kabar kepada suaminya di hotel dan memberikan informasi bahwa dirinya selamat dari musibah, dan saat ini sedang berlindung bersama jamaah lainnya, di salah satu Toilet Pria yang ada di pelataran Masjidil haram.  

Jamaah wanita tersebut mengabarkan bahwa saat ini belum bisa kembali ke hotel karena situasi masjidil haram masih crowded pasca terjadinya musibah.

Hingga jelang tengah malam, belum ada kabar tentang keberadaan Ketua Rombongan kami. Salah satu ketua Regu mencoba menghubungi HP sang ketua rombongan, namun HP ternyata dalam kondisi tidak aktif.   Jadilah pada malam itu kami semua menunggu kabar tentang keberadaan Ketua Rombongan Kami. Kami panjatkan doa, memohon kepada Allah Subhanna Wa Ta’ala untuk keselamatan ketua rombongan kami.

Esok hari, usai sholat Subuh berjamaah, kami belum mendapatkan kabar tentang keberadaan ketua rombongan kami. Beberapa ketua Regu berinisiatif untuk melakukan pencarian dan penelusuran ke rumah sakit dimana korban musibah crane dirawat.

Sekitar pukul 1 siang, tim yang melakukan pencarian sudah kembali ke Hotel. Hasilnya tetap tidak mendapatkan titik terang keberadaan Ketua Rombongan kami. Mereka juga mengabarkan bahwa di rumah sakit mereka tidak mendapatkan akses masuk karena kondisi rumah sakit terlihat masih sangat sibuk menangangi korban musibah crane.

Ketika usai sholat ashar, rekan kami satu kamar memberikan kabar duka, Ketua Rombongan Kami sudah terindentifikasi menjadi salah satu korban tewas pada musibah crane tersebut.   Kami semua larut dalam kesedihan.

Beberapa jamaah nampak tidak mampu membendung air mata yang tumpah ketika mendapatkan berita duka tersebut.   Kabar yang kami dapatkan, almarhum tewas tertancap plat besi berukuran panjang sekitar 1 meter yang nampaknya terkena hantaman crane dan meluncur bak anak panah dan menancap di punggung almarhum menembus paru-parunya.   Innalillahi wainnailaihi rojiun. Semoga almarhumah mendapatkan surga yang Allah Subhanna Wa Ta’ala janjikan untuk mereka yang syahid ketika melaksanakan ibadah haji.

Hari itu seluruh jamaah haji kloter kami tidak menjalankan ibadah di Masjidil Haram, kami melaksanakan ibadah sholat di masjid hotel. Kengerian cerita jatuhnya crane di Masjidil Haram, masih terngiang di kepala kami.  

Ba’da Sholat Isya, dalam obrolan dengan jamaah haji lainnya, kami mendapatkan rekaman detik-detik jatuhnya crane beserta kengeriannya, mendapatkan foto-foto jamaah haji Indonesia yang terluka, dan yang paling menyedihkan hati kami, adalah foto Almarhum Ketua Rombongan kami yang dalam posisi tengkurap di atas tempat tidur dengan plat besi yang masih menancap di bagian atas punggungnya.

Banyak versi cerita yang beredar di seputar peristiwa jatuhnya crane. Salah satu versi yang saya dapatkan dari salah seorang jamaah, menyebutkan bahwa pada hari kejadian, ba’da sholat ashar secara tiba-tiba kondisi angin kencang dan terjadi badai pasir. Area seputar Ka’bah dipenuhi dengan pasir. Tak lama kemudian, suhu mendadak turun, angin bertiup kencang dan berjatuhan butir-butir es dari atas langit, dan sejurus kemudian turun hujan yang sangat lebat disertai angin yang bertiup sangat kencang.   Soal Hujan lebat dan angin kencang, saya sendiri menyaksikan hal tersebut dari kamar kami di lantai 19 dan juga melihat langsung dari Lobby Hotel.  

Pada saat kejadian, Ketika kembali ke kamar usai melihat situasi dan kondisi di area lobby hotel, Saluran TV di kamar kami nampaknya mengalami gangguan. Posisi chanel TV sedang menanyangkan Saluran Masjidil Haram. Posisi gambar terakhir adalah gambar Talang Air Ka’bah yang mengalirkan air hujan yang sangat deras. Kembali ke situasi di Masjidil Haram, ketika hujan sedang turun dengan lebat, tiba-tiba saja salah satu crane nampak rubuh. Posisi crane yang rubuh berada di area jalur menuju ke lokasi sai.  

Area di sekeliling Ka’bah memang sedang dalam proses renovasi perluasan Masjidil Haram, sehingga disekelilingnya dipenuhi dengan crane berukuran besar. Namun ternyata, crane yang jatuh dan menimbulkan banyak korban jiwa, adalah crane yang kategorinya Crane Mobile. Pada saat kejadian, nampaknya terjadai keterlambatan melakukan pemindahan Crane Mobile tersebut, sehingga akhirnya jatuh setelah terkena hembusan angin yang sangat kencang.

Malam ba’da isya, handset blackberry kami mengeluarkan bunyi notifikasi SMS dari operator lokal. Isi SMSnya adalah ucapan Turut Bersimpati atas terjadinya musibah jatuhnya crane di Masjidil Haram disertai dengan pemberian 5 menit gratis bicara untuk memberi kabar ke keluarga Jamaah haji di Tanah Air.

 

Semua sanak saudara di Tanah Air menghubungi orang tua kami untuk mencari tahu kabar kami di tanah suci. Alhamdulillah, pulsa bicara dari operator lokal sangat membantu kami memberikan kabar ke tanah air.

Tiga Hari setelah kejadian runtuhnya crane, tayangan Televisi di hampir seluruh kamar tempat kami menginap, kondisinya masih belum dapat menanyangkan gambar. Entah karena sedang dilakukan kebijakan blokir siaran dari pemerintah Arab Saudi, atau memang terjadi kerusakan sistem penerimaan sinyal televisi di Hotel kami menginap.  

Pada hari ke-empat pasca kejadian crane rubuh, barulah sistem penerimaan siaran televisi di Hotel berfungsi dengan normal. Mencoba mencari update soal perisitiwa crane, ternyata kami tidak temui satupun chanel siaran televisi yang menampilkan berita jatuhnya crane di Masjidil Haram. Update peristiwa rubuhnya crane, lebih banyak kami dapatkan dari situs berita online tanah air.

Bagi kami pribadi, kejadian rubuhnya crane yang didahului dengan hujan yang sangat lebat, adalah bukti kuasa Allah Subhanna Wa Ta’ala. Saat kami kecil dulu, pada saat pelajaran geografi, guru selalu menjelaskan bahwa negara Arab Saudi adalah negara yang berada di kawasan gurun pasir dengan curah hujan terkecil di dunia.

Namun apa yang kami lihat dan alami sendiri pada hari dimana peristiwa rubuhnya crane di Masjidil Haram, apa yang guru kami sampaikan tersebut sangat bertolak belakang dengan apa yang kami lihat dan saksikan.

Hari itu kami melihat Hujan yang menurut pandangan kami, adalah hujan yang paling lebat yang pernah kami lihat selama hidup kami. Allahu Akbar, Maha Besar Allah dengan segala kuasanya.