^Kembali ke Atas

foto1 foto2 foto3 foto4 foto5

Kerusakan pasca Hujan Badai

Pasca kejadian Crane rubuh di Masjidil Haram, kami memutuskan untuk memulai kembali aktifitas ibadah kami di Masjidil Haram. Ini kami lakukan setelah mendapatkan kabar bahwa kondisi masjidil haram sudah normal kembali, dan seluruh area sudah dibuka dan dapat diakses kembali oleh para jamaah.

Bersama istri, kami putuskan untuk melakukan sholat tahajud di masjidil haram. Pukul 2 dini hari, kami meninggalkan pemondokan menuju ke Masjidil Haram dengan menggunakan kendaraan umum. Butuh waktu sekitar 10 menit untuk tiba di Masjidil Haram.

Jika menggunakan Angkutan Umum, biasanya kami diturunkan di terowongan area dekat pelataran masjidil haram, kemudian naik menggunakan escalator yang disediakan, lanjut berjalan melalui pelataran masjidil haram masuk ke dalam masjid melalui pintu King Abdul aziz langsung menuju ke area thawaf.

Tiba di pelataran Masjidil Haram, kami masih menyaksikan banyaknya Crane yang berada di area Masjidil Haram. Mendadak teringat kepada para jamaah yang menjadi korban jatuhnya crane tersebut.

Kami berjalan masuk ke dalam Masjidil haram dan kangsung menuju ke area tawaf. Alhamdulillah, kondisi area tawaf tidak terlalu ramai. Mungkin karena banyak jamaah yang belum mengetahui jika seluruh area masjidil haram sudah boleh dimasuki oleh jamaah pasca kejadian crane 2 hari yang lalu.

Kami bersama istri melakukan tawaf mengitari Ka’bah.   Pada putaran tawaf pertama hingga putaran ke 3, kami melakukan putaran mendekati ka’bah. Alhamdulillah, kami dimudahkan mencapai ka’bah dan menyentuhnya.

Ada rasa haru ketika kami berhasil berada dekat dengan ka’bah dan menyentuh serta mencium wangi ka’bah yang kami sendiri tidak pernah mencium aroma wangi seperti aroma wangi ka’bah.

Saat tiba di rukun yamani, kami bersama istri merapat ke ka’bah dan berdesakan bersama jamaah lain menuju ke hajar aswad.

Sungguh perjuangan luar biasa untuk dapat melangkah, bergeser secara perlahan dari titik Rukun Yaman ke Hajar Aswad. Kepadatan jamaah sangat luar biasa. Beberapa jamaah dari kawasan afrika, yang postur tubuhnya besar, menyeruak masuk ke kerumunan, sehingga membuat beberapa jamaah terdesak dan terjepit.

Saya beserta istri tinggal berjarak 2 orang jamaah lagi untuk dapat menyentuh hajar aswad, namun karena ada desakan dari area belakang, kami berdua terjepit. Sambil memegang dinding ka’bah, kami bertahan dari dorongan jamaah di belakang kami. Beberapa jamaah haji dari afrika menyarankan kami untuk mengurungkan niat bergeser ke arah Hajar Aswad karena situasinya sangat tidak memungkinkan. Istri kami nafasnya sudah terlihat tersengal karena terjepit antara dinding kabah dan jamaah. Akhirnya kami putuskan untuk mundur dan menjauh dari area hajar aswad.

Istri menyatakan ikhlas tidak dapat menyentuh dan mencium hajar aswad. Insya Allah jika diperkenankan oleh Allah Subhanna Wa Ta’ala , pasti keinginan untuk menyentuh dan mencium Hajar Aswad dapat terpenuhi.

Kami melanjutkan tawaf kami menyelesaikan putaran ke 4 hingga ke 7. Pada setiap putaran kami menjauh dari kabah untuk memudahkan kami nantinya keluar dari area kabah. USai tawaf kami lanjutkan dengan Sholat sunat Tawaf di belakang Maqom Ibrohim, dan sesudahnya kami bergeser ke depan multazam untuk melantunkan doa-doa kami.

Air mata selalu menetes ketika kami tiba pada ritual doa di depan multazam. Menangis memohonkan ampun atas segala dosa dosa yang kami lakukan, memanjatkan doa untuk diri kami, keluarga, dan orang tua, serta adik dan kakak kami.

Pada situasi kepadatan area tawaf, Ritual sholat Sunat Tawaf dan berdoa di depan multazam, tidak dapat kami lakukan dalam waktu lama, karena harus bergantian memberikan kesempatan jamaah haji lainnya.   Usai berdoa, kami bergeser menuju ke area ruang sholat masjidil haram untuk bersiap melaksanakan sholat Fajar dan Sholat Subuh.

Usai sholat subuh, kami berdiam di masjidil haram menanti waktu sholat dhuha. Waktu menunggu tersebut kami manfaatkan untuk membaca Al Quran dan menyelesaikan target khatam selama berada di tanah suci.

Waktu sholat dhuha tiba, kami bersegera melakukan sholat sunnat Dhuha. Kami Khusuk melaksanakan sholat dhuha dan sesudahnya kami panjatkan doa dan Harapan untuk kesehatan dan kesejahteraan keluarga kami, orang tua, dan adik serta kakak kami. Usai sholat dhuha kami bersiap untuk meninggalkan masjidil haram dan kembali ke pemondokan.

Setiap kali meninggalkan masjidil haram menuju ke pemondokan, kami lakukan dengan berjalan kaki. Jaraknya hanya 2 kilometer. Jika menggunakan angkutan umum, perjalanannya harus berputar-putar dan terkadang terhambat dengan banyaknya jamaah yang berjalan kaki di sepanjang jalan ke pemondokan.

Saat dalam perjalan pulang ke pemondokan, di sepanjang perjalanan, kami menyaksikan sisa-sisa kedahsyatan Hujan badai yang terjadi 2 hari lalu.

Tenda-tenda peneduh di pinggir jalan, yang notabene dibangun dengan menggunakan besi yang kokoh, ternyata tidak mampu menahan dahsyatnya kekuatan angin yang menerjang. Hampir seluruh tenda yang ada, posisinya sudah hancur luluh lantak.

Menyaksikan hal tersebut, kami panjatkan doa, memohon perlindungan Allah untuk menjaga kami selama ibadah kami di tanah suci.