^Kembali ke Atas

foto1 foto2 foto3 foto4 foto5

GEMURUH - SAAT SUBUH

Rabu, 16 September 2015 , menjadi pengalaman haji yang tidak akan kami lupakan semur hidup kami. Pada hari itu, di Masjidil Haram, kami diingatkan untuk memilah kata dengan baik selama berada di tanah suci.   Sudah banyak kisah yang kita dengar tentang beberapa hal kejadian di tanah suci, yang jika ditelaah, adalah kejadian yang atas kuasa Allah Subhanna Wa Ta’ala diwujudkan untuk menjadikan kita ummat yang selalu menjaga lisan.

Cerita ini berawal dari rencana kami berserta istri yang merencanakan untuk melaksanakan tawaf di masjidil haram dan berharap dapat menyentuh dan mencium Hajar Aswad. Keinginan bertawaf ini tercetus setelah 3 hari sebelumnya, saat kami melaksanakan tawaf, kami gagal mencium Hajar Aswad karena kepadatan Jamaah yang luar biasa.

Pukul 2 dinihari, kami meninggalkan pemondokan menuju ke Masjidil Haram dengan menggunakan angkutan umum yang sejak dinihari sudah mangkal di depan pemondokan. Mobil angkutan umum tersebut, seperti biasa membawa kami ke Masjidil Haram melalui area terowongan yang ketika masuk ke pelataran masjidil haram, tepat searah dengan Pintu Gerbang King Abdul Aziz.   Tiba dipelataran masjidil haram, suasana dinihari itu ternyata sudah ramai oleh jamaah haji. Kami bergegas menuju area thawaf.

Hmmm … sepertinya banyak jamaah haji yang berpikiran sama dengan kami, mengharapkan waktu dinihari akan sepi dari jamaah haji. Namun ternyata kondisinya tidak demikian. Hari itu nampaknya banyak jamaah haji yang baru saja tiba di masjidil haram dan melaksanakan Umroh Wajib. Jadilah area thawaf dipadati oleh jamaah haji.   Kami putuskan untuk melakukan tawaf, dan tidak terlalu banyak berharap untuk dapat menyentuh dan mencium hajar aswad.

Kepadatan area thawaf yang luar biasa menyebabkan kami harus memulai tawaf dari sisi terluar area tawaf. Setiap 1 putaran terasa jauh, karena tawaf dilakukan dengan berjalan perlahan karena kondisinya yag sangat padat.

Pada putaran pertama hingga ke 3, Kami tetap melakukan putaran yang mengarah ke dinding kabah. Alhamdulillah, pada putaran ke 3, kami sudah dapat mencapai dinding kabah. Lagi-lagi …. Setiap kali tangan ini menyentuh dinding kabah, terasa kesejukan dinding kabah meresap ke seluruh tubuh ….. dan membuat kami menangis.  

Kami berhenti sejenak di dinding kabah sebelum Rukun Yamani, kami panjatkan doa untuk kesehatan, keselamatan, serta kesejahteraan keluarga kami, orang tua, dan adik kakak kami.

Usai berdoa, kami meneruskan tawaf dengan menyusuri dinding kabah menuju Rukun Yamani dan berlanjut ke arah Hajar Aswad. Namun kepadatan jamaah haji yang luar biasa, membuat kami memutuskan menjauh dari dinding kabah, serta melakukan putaran tawaf selanjutnya dengan cara menjauhi kabah untuk menuju ke titik terluar putaran tawaf. Putaran terakhir tawaf menjadi perjuangan tersendiri bagi kami. Saat akan keluar area tawaf, kami harus melambatkan langkah kami, untuk memberi kesempatan beberapa rombongan jamaah haji yang baru mulai memasuki area tawaf

Alhamdulillah, tepat di putaran terakhir, kami sudah berada di titik terluar tawaf. Melanjutkan ritual selanjutnya, saya beserta istri segera mencari posisi untuk melaksanakan sholat sunnat tawaf di depan maqom Ibrahim.   Kami melaksanakan sholat sunat tawaf secara bergantian. Saat istri sedang melaksanakan sholat, maka saya akan menjaga area sholatnya agar tidak ada jamaah haji lainnya yang melintas di depan istriku ketika sedang sholat. Begitu pula sebaliknya. Istriku bergantian menjaga area sholatku hingga kami selesai melaksanakan rukun tawaf.

Usai sholat, kami bergeser menghadap ke depan multazam untuk memanjatkan doa. Ketika doa dipanjatkan, air mata selalu menetes menahan haru, karena Allah telah memberikan rahmat dan karunia tiada tara, sehingga kami dapat melaksanakan ibadah haji. Kami juga tak pernah lupa memanjatkan doa untuk kesehatan dan kesejahteraan kami sekeluarga, orang tua kami, serta adik dan kakak kami.

Saat sedang melantunkan doa, askar yang bertugas Nampak mulai mengatur jamaah untuk mempersiapkan diri melaksanakan sholat Fajar. Kami berdua segera beranjak dan mencari lokasi shaff untuk melaksanakan sholat fajar dan kemudian dilanjutkan dengan sholat subuh berjamaah.

Alhamdulillah, kami mendapatkan shaff tepat di hadapan ka’bah. Begitu pula dengan istri. Mendapatkan shaff sholat agak kebelakang bercampur dengan jamaah perempuan, namun masih dapat langsung melihat ka’bah.   Tak lama Adzan berkumandang.   Usai adzan, kami semua melaksanakan sholat sunnah Fajar 2 rakaat. Usai sholat fajar, kami manfaatkan waktu menunggu masuk sholat subuh dengan membaca Al Quran.

Sesaat sebelum membuka Al Quran, sambil memandang sekeliling area tawaf yang masih dipenuhi dengan crane hampir di separuh lingkaran area tawaf, saya sempat bergumam membayangkan seperti apa kepanikan dan keriuhan jamaah haji ketika terjadi peristiwa Crane jatuh lima hari yang lalu.

Tak lama, adzan sholat subuh berkumandang. Kami semua khusuk mendengarkan dan berdoa setiap kal muadzin mengumandangkan kalimat adzan. Usai adzan, seluruh jamaah melaksanakan sholat qobliyah subuh.

Usai sholat qobliyah subuh, sesuatu yang menyebabkan kepanikan luar biasa terjadi ….. dan saya kemudian menyesali membayangkan seperti apa kepanikan dan keriuhan jamaah haji ketika terjadi peristiwa Crane jatuh lima hari yang lalu.

Ketika baru saja merubah posisi duduk usai mengucapkan salam di akhir rakaat sholat qobliyah, tiba-tiba saya mendengar suara seperti suara gemuruh, yang dalam pendengaran saya, lebih mirip seperti suara derap kuda yang berlari kencang dan datang dari arah sebelah kiri saya.   Terdengar teriakan “Allahu Akbar ….   Allahu Akbar ….. “ yang saling bersahutan. Saya menengok kea rah sebelah kiri.   Sekitar 50 meter dari saya duduk, saya melihat banyak Jamaah berdiri dan berlari menuju ke bagian dalam masjid. Suara derap kuda yang saya dengar, terdengar makin keras menuju ke arah saya duduk.

10 orang jamaah yang ada di sisi kiri saya mendadak bangun dan mengumandangkan takbir dan berlari ke arah dalam masjid. Suara derap kuda semakin terdengar kecang seperti hendak menabrak diriku …. Seketika saya bangkit dan hanya membwa tas yang saya letakkan di depan saya duduk. Sajadah tak sempat saya ambil. Saya berlari sambil mengumandangkan takbir ….. “Allahu Akbar ….. Allahu Akbar “ ….. semua jamaah nampak panik dan berlarian menuju ke bagian dalam masjid.   Jika saja saya terlambat bangun, pasti saya sudah tertabrak jamaah yang ada di depan dan sisi kanan saya ….

Satu hal yang ada dalam pikiran saya adalah ….. segera menemui istri saya di shaff belakang. Alhamdulillah, istri saya saya temukan dalam keadaan panik bersama dengan jamaah lainnya, namun tidak ikut berlari ke arah dalam masjidil haram. Saya segera gandeng istri saya dan bergeser menjauhi area tawaf. Suasana masih kacau …. Suara gemuruh yang tadi terdengar , perlahan menjauh ….. benar-benar seperti derap kuda yang sedang mengitari area tawaf.   Ditengah kepanikan. Muadzin kemudian mengumandangkan Iqomah ….. dan serta merta suara gemuruh yang terdengar tadi ….. seketika lenyap tak terdengar.   Semua jamaah kemudian mengambil posisi untuk melaksanakan sholat subuh.   Posisi shaf sudah tidak beraturan. Semua jamaah laki-laki dan perempuan bercampur.   Saya beserta istri sholat berdampingan.

Usai sholat subuh, kami berdua memanjatkan doa.   Saya panjatkan doa syukur kepada Allah atas segala lindungannya kepada kami berdua, saya juga mengucapkan istigfar dan memohonkan ampun atas kelancangan saya bergumam ingin mengetahui seperti apa kepanikan yang terjadi saat kejadian crane.

Ya ….. hari ini Allah memberikan teguran kepadaku karena telah melakukan kelancangan …. Lancang karena ingin sekali mengetahui seperti apa situasi kepanikan di area tawaf saat terjadi musibah crane rubuh. Sungguh ini adalah suatu bentuk kelancangan yang jangan pernah dilakukan oleh siapapun.

Ya Allah …. Saya mohon ampun atas kelancangan ini ….. jangan sekali-kali kau tunjukan kepanikan ini kepada hambaMU …. Sesungguhnya aku adalah hambaMu yang lemah dan tak ada kekuatan dan daya upaya untuk menyaksikan kekuasanMU ….

Saya mengajak istriku untuk keluar dari Masjidil Haram menuju ke area pelataran masjidil haram untuk menenangkan diri. Beralasan 1 sajadah yang masih ada, Kami berdua duduk di pelataran masjidil haram. Beristirahat dan menenangkan diri, sambil menatap gerbang Utama masuk ke Masjidil Haram.   Kami putuskan untuk menunggu waktu dhuha. Melanjutkannya dengan sholat dhuha, dan segera pulang ke pemondokan.

Esok harinya, berita seputar kepanikan akibat sara gemuruh tersiar hingga ke tanah air. Kami hanya bersyukur bahwa suara gemuruh yang terdengar itu hanya berlangsung singkat, sehingga kepanikan yang terjadi tidak berlangsung lama.

Saat tiba di tanah air, saya mencoba mencari tahu, apakah fenomena suara gemuruh yang terdengar di Masjidil Haram, juga pernah terjadi pada musim haji tahun sebelumnya.

Penelusuran internet, akhirnya kami dapati juga berita tentang Suara Gemuruh yang terjadi di Masjidil Haram. SItus berita online, suaramerdeka.com pada tanggal 5 Oktober 2010 menurunkan artikel tentang serba-serbi berhaji. Dimana salah satunya menurunkan cerita tentang Kepanikan Jamaah haji tahun 2005/2006.  

Isi ceritanya hampir mirip dengan yang kami alami, yaitu kepanikan Jamaah Haji di Masjidil Haram karena mendengar suara gemuruh yang terdengar seperti suara Derap Kuda, seperti suara Air Bah, seperti suara tsunami, atau gempa bumi. Suara gemuruh berlangsung singkat, namun mampu membuat panik jamaah haji yang sedang menunggu waktu sholat wajib. Jika yang saya alami adalah Suara Gemuruh menjelang sholat subuh, maka yang terjadi di musim Haji 2005/2006 adalah Suara Gemuruh menjelang Sholat Dzuhur.

Ketika bertanya kepada beberapa sahabat kami tentang suara apakah gerangan yang kami dengarkan tersebut ? Beberapa sahabat menjelaskan bahwa beberapa ulama memberikan pendapat bahwa suara gemuruh tersebut adalah suara para malaikat yang sedang melakukan tawaf di Baitul Makmur. Wallahualam ….

Hmmm …. Suara Gemuruh yang saya dengar memang datang tidak secara tiba-tiba, tetapi perlahan terdengar dari kejauhan dan makin keras dan jelas ketika mencapai diri kita. Jalur suaranya mirip seperti lingkaran tawaf, karena jamaah bangun dari duduk tidak dalam satu waktu yang sama.

Para Jamaah mendengar suara Gemuruh tidak bersamaan, sehingga bangun dari duduk karena panik, juga tidak dilakukan bersamaan. Jamaah bangun dari duduk mirip dengan efek domino, dimana setiap jamaah bangun dari duduk karena jamaah disebelahnya kaget mendengar suara, dan mereka juga kemudian ikut bangun dari duduk karena juga mendengar suara gemuruh setelah orang disebelahnya mendengar dan segera bangun dari duduk.

Saya tidak dapat membayangkan, Jika suara Gemuruh itu datang seperti suara bom, suaranya datang dalam satu waktu dan didengar jamaah dalam waktu yang sama ….. entah seperti apa kepanikan yang akan terjadi.