^Kembali ke Atas

foto1 foto2 foto3 foto4 foto5

2011 - PERJALANAN RELIGIUS INI BERMULA

Registrasi Haji

Hari Sabtu dan Minggu adalah hari kami bersama keluarga. Biasanya kami sudah merancang kegiatan apa yang akan kami lakukan disepanjang Libur Sabtu dan Minggu ini. Tapi saat itu tidak ada rencana kegiatan yang kami agendakan. Kami memilih berkumpul bersama keluarga di rumah sederhana kami. Usai menyantap sarapan pagi, dengan menu istimewa - satu piring nasi pecel dengan bumbu yang dikirimkan langsung dari Blora - istri tercinta menyampaikan sesuatu yang menjadi awal cerita perjalanan haji kami.

“Siapkan kelengkapan persyaratan dokumen haji ya yah …” kata istriku sambil menyerahkan brosur dari Bank Mandiri Syariah Cabang Cibubur tentang pembiayaan Haji ke Tanah Suci dengan menggunakan mekanisme biaya talangan. Sejak tahun 2002, skema pembiayaan Dana Talangan haji sudah mulai ditawarkan kepada masyarakat oleh beberapa Bank Syariah di Tanah Air.

Keputusan untuk mengikuti skema Dana Talangan Haji kami lakukan setelah membaca surat Fatwa yang dikeluarkan oleh MUI yang memfatwakan bahwa Pembiayaan Ibadah Haji dapat menggunakan Skema Pembiayaan Dana Talangan Haji.

Pembiayaan Talangan Haji adalah pinjaman (Qard) dari bank Syariah Mandiri kepada nasabah untuk menutupi kekurangan dana guna memperoleh kursi (seat) haji pada saat pelunasan BPIH (BiayaPerjalanan Ibadah Haji).

Dana talangan ini diberikan oleh Bank dengan melakukan penilaian kemampuan nasabah untuk mengembalikan dana talangan tersebut. Nasabah kemudian wajib mengembalikan sejumlah uang yang dipinjam itu dalam jangka waktu tertentu.  Atas jasa peminjaman dana talangan ini, bank Syariah memperoleh imbalan (fee/ujrah) yang besarnya tidak didasarkan pada jumlah dana yang dipinjamkan.

Saat menandatangani Akad Dana Talangan Pembayaran Haji dengan pihak Bank Syariah Mandiri, kami meminta opsi jangka waktu pelunasan selama 2 tahun. Artinya dalam jangka waktu 2 tahun sejak akad ditandatangani, kami harus sudah melakukan pelunasan Dana Talangan Pembayaran Haji tersebut. Tidak ada kewajiban cicilan per bulan dengan jumlah tertentu dalam akad yang kami tandatangani. Kewajiban pelunasan dapat dilakukan kapan saja selama masa periode 2 tahun tersebut. Alhamdulillah, kami dapat melakukan pelunasan dan memenuhi akad perjanjian tersebut sesuai dengan kesepakatan Akad yang kami tandatangani

Lembaga–lembaga Keuangan Syariah di dalam menerapkan Dana Talangan Haji merujuk kepada Fatwa DSN (Dewan Syariah Nasional) MUI Nomor 29/DSN-MUI/VI/2002 tanggal 26 Juni 2002 tentang biaya pengurusan haji oleh LKS (Lembaga Keuangan Syariah). Jadi akad qardh wa ijarah adalah gabungan dua akad, yaitu akad qardh (pinjaman) dengan akad ijarah (jasa), yaitu jasa LKS memberikan pinjaman kepada nasabah. Dalil utama fatwa DSN ini, antara lain dalil yang membolehkan ijarah (seperti Qs. Al-Qashash [28]:26) dan dalil yang membolehkan meminjam uang (qardh) (seperti Qs. Al-Baqarah [2]:282).

Ketentuan umum yang termaktub dalam Fatwa tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Dalam pengurusan haji bagi nasabah, LKS dapat memperoleh imbalan jasa (ujrah) dengan menggunakan prinsip al-ijarah sesuai fatwa DSN-MUI nomor 9/DSN-MUI/IV/2000.
  2. Apabila diperlukan, LKS dapat membantu menalangi pembayaran BPIH nasabah dengan menggunakan prinsip al-Qardh sesuai fatwa DSN-MUI nomor 19/DSN-MUI/IV/2001.
  3. Jasa pengurusan haji yang dilakukan LKS tidak boleh dipersyaratkan dengan pemberian talangan haji.
  4. Besar imbalan jasa al-ijarah tidak boleh didasarkan pada jumlah talangan al-Qardh yang diberikan LKS kepada nasabah.

Terlepas dikemudian hari ternyata ada Pro dan Kontra terhadap permasalahan Dana Talangan Haji, sampai dengan tulisan ini dibuat, belum ada pembatalan Fatwa DSN (Dewan Syariah Nasional) MUI Nomor 29/DSN-MUI/VI/2002 tanggal 26 Juni 2002 tentang biaya pengurusan haji oleh LKS (Lembaga Keuangan Syariah) yang menjadi dasar pemberian Dana Talangan Haji.  

Kebijakan pelarangan Dana Talangan Haji baru dikeluarkan pada Bulan Juni 2016 oleh Menteri Agama melalui Peraturan Menteri Agama Nomor 24 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Agama Nomor 30 Tahun 2013 tentang Bank Penerima Setoran Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji.

Di dalam peraturan itu disebutkan Bank Penerima Setoran Haji dilarang memberikan layanan dana talangan haji baik secara langsung maupun tidak langsung.   Tidak disebutkan sama sekali pernyataan soal aspek halal haram dalam Peraturan Menteri Agama tersebut. Bahkan dalam Peraturan Menteri Agama tersebut terdapat aturan yang menyatakan bahwa Bank masih diberikan waktu hingga tahun 2020 untuk menyelesaikan Dana Talangan haji yang telah dikeluarkan oleh Bank. Jika sampai dengan Tahun 2020 masih belum diselesaikan, Nomor Porsi jamaah juga masih tetap aktif.

Kami menilai bahwa Aspek pelarangan tersebut hanya dari aspek administrasi layanan pembayaran PBIH saja, dan tidak terkait dengan masalah Halal dan Haramnya. Pelarangan dilakukan hanya karena – Daftar Antrian Haji sudah terlalu panjang.

Atas keputusan kami memanfaatkan fasilitas Dana Talangan Pembiayaan Haji yang mengacu kepada Fatwa Dewan Syariah MUI, Kami dan istri tercinta menyerahkan segalanya kepada Allah Subhana Wa Ta’ala.

Kami segera mempersiapkan seluruh dokumen dan berkas yang dipersyaratkan oleh pihak Bank Mandiri Syariah cabang Cibubur untuk dapat memperoleh Pembiayaan Dana Talangan Haji.

Pada Hari Jumat, tanggal 21 Januari 2011, setelah beberapa hari sebelumnya kami melakukan penandatanganan Akad Pembiayaan Ibadah Haji di Kantor Bank Syariah Mandiri Cabang Cibubur, kami segera melakukan pengurusan Pendaftaran Calon Jamaah Haji ke Kantor Kementrian Agama Kota Bekasi untuk mendapatkan Nomor Porsi Ibadah Haji.

Setiba di kantor Kementerian Agama Kota Bekasi, kami langsung menuju ke Ruangan Pendaftaran Ruang pendaftaran Haji. Berkas permohonan pendaftaran haji kami serahkan kepada petugas. Setelah berkas dicek kelengkapannya, petugas melakukan penginputan data ke Aplikasi Siskohat.

Sesudahnya kami diminta untuk masuk ke dalam ruangan untuk pengambilan Pas Foto dan pengambilan sidik jari. Hanya menunggu selama 1 jam, berkas Pendaftaran haji kami sudah selesai. Petugas kemudian mempersilahkan kami untuk melakukan pembayaran ke Bank untuk mendapatkan Nomor Porsi Ibadah Haji.

Sesudahnya, Kami segera menuju ke Kantor Bank Syariah Mandiri Cabang Cibubur untuk proses Pelunasan Biaya Awal Biaya Haji. Alhamdulillah, setelah menunggu selama 2 jam, proses pendaftaran Haji kami selesai, dan kami mendapatkan nomor porsi yang nantinya dapat dicek secara berkala di situs Kemenag RI untuk mengetahui estimasi keberangkatan Haji.

“Alhamdulillah, langkah awal Ibadah Haji sudah kita lakukan …“ kata istriku seraya melanjutkan “Saatnya sekarang untuk mempersiapkan diri dengan ilmu dan akhlak, sehingga pada saatnya nanti, kita siap untuk berangkat ke tanah suci … ”

Saya hanya tersenyum dan menjawab pelan .. “Insya Allah kita sama-sama persiapkan hati, persiapkan ilmu dan akhlak hingga tiba saat keberangkatan …”

Akhirnya Waktunya Tiba

Handphone yang sedang saya letakkan di meja kerja kantor berdering. Pada layar handphone terpampang panggilan datang dari istri tercinta. “ Assalamualaikum …. Ada apa bun ? “ salam dan tanyaku saat menerima penggilan handphone tersebut.

“Alhamdulillah yah … barusan kantor urusan agama kecamatan menghubungi via handphone, tahun ini Insya Allah berangkat …” jawab istriku di seberang sana

Alhamdulillah, yang kami tunggu selama 4 tahun akhirnya tiba.   Ada perasaan senang dan haru mendapatkan kabar tersebut. Saatnya kami lebih kuat lagi menata hati dan menata iman untuk satu Ibadah yang menjadi dambaan muslim di seluruh dunia, ibadah yang sangat berat, ibadah yang membutuhkan kekuatan fisik dan batin …. Ibadah Haji ke Tanah Suci.

Masih ada waktu sekitar 4 bulan untuk mempersiapkan segala sesuatu terkait dengan rencana perjalanan Ibadah Haji kami.

Rabu, 8 April 2015, pukul 08.00 pagi, kami melakukan pelaporan ke Kantor Urusan Agama Kecamatan Jatisampurna. Pelaporan ini dibutuhkan oleh Pihak Kantor Urusan Agama Kecamatan untuk memastikan berapa banyak jamaah asal kecamatan Jatisampurna yang menyatakan kepastian untuk berangkat ke tanah suci pada musim haji tahun 2015 ini.

“Selamat untuk Bapak dan Ibu yang pada tahun ini berkesempatan untuk menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci …. “ demikian salam dari petugas kecamatan saat menerima kami di Kantor Urusan Agama Kecamatan Jatisampurna.

Pada pertemuan di Kantor KUA Kecamatan, petugas memberikan informasi seputar rencana perjalanan haji, tahapan yang harus dilakukan, serta persiapan dokumen yang dibutuhkan. Pertemuan di Kantor Urusan Agama Kecamatan Jatisampurna tidak berlangsung terlalu lama. Sekitar pukul 10.00 acara selesai.   Kami putuskan untuk segera meluncur ke kantor tempat kami bekerja, karena izin yang kami minta adalah izin untuk masuk setengah hari kerja.

Saat berada di kantor, kami sempatkan untuk menelusuri web Kementerian Agama Republik Indonesia untuk mencari informasi hal-hal terkait dengan kegiatan ibadah haji.

Kegiatan pencarian informasi secara mandiri harus dilakukan oleh Jamaah Haji yang memutuskan untuk beribadah haji tanpa melalui Yayasan yang mengelola Kelompok Bimbingan Ibadah Haji.

Alhamdulillah, situs www.kemenag.go.id yang dikelola oleh kantor kementerian Agama RI, ternyata dikelola dengan cukup baik. Informasi awal seputar ibadah haji dapat kami akses melalui situs tersebut.

Selain mengakses situs kementerian agama, kami juga mencari informasi seputar haji melalui aplikasi sosial media facebook. Kementerian Agama ternyata juga mengelola account resmi seputar Informasi Haji melalui media sosial facebook dengan nama account Informasi Haji.

Melalui situs Kementerian Agama RI, kami juga mendapatkan Ebook terkait Ibadah Haji, yang berisi Hak dan Kewajiban Jamaah Haji Reguler. Kami mengunduh ebook tersebut untuk menambah pengetahuan kami.

Kami juga menyempatkan untuk mencari informasi seputar haji melalui situs-situs islami yang tersebar di internet. Semuanya adalah dalam rangka mempersiapkan bekal haji bagi diri kami dan istri untuk berangkat ke tanah suci.

Ibadah Haji Reguler minimal akan berlangsung selama 40 hari terhitung sejak jamaah haji masuk asrama haji, sampai dengan kembali ke tanah air. Hal ini tentunya membutuhkan persiapan yang baik, agar selama berada di tanah suci tidak ada hambatan apapun yang dapat mengganggu kelancaran ibadah haji kami.

Beberapa hari kemudian, kami mendapatkan informasi tentang Dokumen apa saja yang harus kami persiapkan untuk kelengkapan Pelaporan Jamaah Haji di Kantor Kementerian Agama Kota Bekasi. Informasi tersebut kami peroleh dari salah satu calon jamaah haji yang sama-sama berasal dari Kecamatan Jatisampurna.

Dokumen yang dibutuhkan cukup banyak. Kami segera melakukan pengaturan waktu kerja untuk memastikan dokumen yang dibutuhkan dapat tersedia tepat pada waktunya.

Beberapa dokumen yang harus segera kami urus adalah dokumen Surat Keterangan Domisili, Surat Keterangan Kesehatan dari Puskesmas, Pas Foto, dan dokumen Paspor.

Untuk Dokumen Foto mudah saja, kami hanya harus ke studio foto untuk membuat foto denngan spesifikasi cetak Foto Haji. Surat Keterangan Domisili juga relatif mudah, ada petugas kelurahan yang biasa kami mintakan pertolongan untuk mengurus dokumen kependudukan. Sedangkan Paspor dan Surat Kesehatan kami harus proses sendiri karena tidaklah mungkin mewakilkannya kepada orang lain.

Kami segera melakukan perencanaan untuk mengatur jadwal kerja kami dan istri. Pengaturan jadwal ini kami lakukan untuk memastikan beberapa dokumen yang harus diurus sendiri oleh kami dapat terselesaikan pada waktunya.

Saat itu kami tidak dapat langsung segera melakukan pelunasan BPIH (Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji) yang lebih dikenal di masyarakat dengan istilah ONH (Ongkos Naik Haji), karena masih harus menunggu penetapan dari pemerintah tentang berapa besaran BPIH yang harus dibayarkan oleh Jamaah Haji Tahun 2015.

Kementerian Agama bersama Komisi VIII DPR RI akhirnya menyepakati untuk menetapkan rata-rata direct cost Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) tahun 1436H/2015M sebesar USD2.717. Artinya, dengan asumsi nilai tukar USD1 adalah 12.500, rata-rata BPIH 2015 sebesar Rp. 33.962.500,-.

Hal ini sebagaimana tertuang dalam Kesimpulan Rapat Kerja Komisi VIII DPR RI dengan Menteri Agama yang diselenggarakan Rabu tanggal 22 April 2015. Rata-rata BPIH 1435H/2014M sebesar USD3.219. Artinya, BPIH 1436H/2015M ini terjadi penurunan sebesar USD502 dibanding BPIH tahun sebelumnya.

Hasil kesepakatan Kementerian Agama bersama Komisi VIII DPR RI tersebut kemudian ditetapkan oleh Presiden melalui Penandatanganan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 64 Tahun 2015 tentang Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) Tahun 1436 H/2015 M

Dalam Peraturan Presiden No. 64 Tahun 2015 itu disebutkan, bahwa BPIH Tahun 1436 H/2015 M itu meliputi biaya pemondokan di Makkah, dan biaya hidup.

Adapun besaran BPIH Tahun 1436H/2015M sebagaimana dimaksud untuk 12 (dua belas) embarkasi adalah:

  1. Embarkasi Aceh sebesar 2.401 dollar AS;
  2. Embarkasi Medan sebesar 2.404 dollar AS;
  3. Embarkasi Batam sebesar 2.556 dollar AS;
  4. Embarkasi Padang sebesar 2.561 dollar AS;
  5. Embarkasi Palembang sebesar 2.623 dollar AS;
  6. Embarkasi Jakarta sebesar 2.626 dollar AS;
  7. Embarkasi Solo sebesar 2.769 dollar AS;
  8. Embarkasi Surabaya sebesar 2.801 dollar AS;
  9. Embarkasi Banjarmasin sebesar 2.924 dollar AS;
  10. Embarkasi Balikpapan sebesar 2.926 dollar AS;
  11. Embarkasi Makassar sebesar 3.055 dollar AS;
  12. Embarkasi Lombok sebesar 2.962 dollar AS

Untuk pelunasan PBIH tersebut, kami segera melakukan perencanaan untuk mencairkan Tabungan kami. Bukan Tabungan di Bank, tapi tabungan dalam bentuk kendaraan.

Ya … untuk perencanaan pembiayaan haji, kami memang menyimpan dananya dalam bentuk Harta Bergerak, yaitu Mobil Dhaihatsu Xenia yang sambil menunggu jadwal keberangkatan haji, kami gunakan sebagai kendaraan operasional kerja kami.

Syukur Alhamdulillah, proses penjualan mobil untuk pelunasan BPIH, dapat berjalan dengan lancar. Kami bersyukur bahwa ketika tiba waktunya untuk berangkat haji, kami dimudahkan dalam mencairkan dana untuk pembayaran segala hal yang terkait dengan persiapan pemberangkatan Ibadah haji kami.

Proses pelunasan BPIH harus dilakukan di Bank yang menjadi tempat pembayaran Biaya Awal Perjalanan Haji. Ini artinya kami harus melakukan pelunasan BPIH di Bank Mandiri Syariah Cabang Cibubur.

BERHAJI – IBADAH FISIK HARUS SEHAT

Hari ini, Sabtu tanggal 25 April 2015, usai mengirimkan pesan singkat ke atasan kami di kantor, untuk meminta izin melakukan pemeriksaan kesehatan haji, tepat pukul 07.00 Wib kami berangkat menuju ke Puskesmas Jatisampurna yang lokasinya tidak jauh dari lokasi kediaman kami di Grand Cibubur.

Ini adalah kali pertama kami berkunjung ke Puskesmas. Pagi hari suasana Puskesmas sudah ramai pengunjung. Sebagian besar adalah manula. Istri kami menuju loket pendaftaran untuk menanyakan bagaimana proses pemeriksaan kesehatan untuk calon jamaah haji. Petugas Loket menyampaikan informasi bahwa kami dapat melakukan pemeriksaan kesehatan di gedung baru puskesmas, seraya menunjukkan lokasi gedung baru puskesmas tersebut.

Kami segera bergeser ke Gedung Baru Puskesmas Jatisampurna. Di depan anak tangga terbawah tertulis informasi “alas kaki harap dilepas”, kami melepas sepatu kami seraya bergumam ...”seperti mau masuk masjid saja ...”.

Kami langsung menuju loket pendaftaran dan menyampaikan maksud kedatangan kami.

Petugas menginformasikan kepada kami untuk menuju ke Ruang Dokter di lantai atas dan sebelumnya kami diminta untuk membayar biaya layanan sebesar 5.000 rupiah.

Kondisi Gedung Baru Puskesmas Jatisampurna memang cukup bersih, pantas saja seluruh pengunjung diminta untuk melepas alas kaki. Antrian pasien tidak terlalu banyak. Kami mendapatkan antrian pasien nomor 5.   Ketika tiba waktu nomor antrian kami, segera kami menuju ke Ruangan Dokter. Di dalam ruangan ada 2 dokter, kami menuju ke salah satu meja dokter yang kosong. Kami dilayani oleh dokter Sri Fitri.

Selanjutnya dokter melakukan pemeriksaan fisik dasar dan wawancara kesehatan. Sesudahnya kami diberikan surat keterangan sehat oleh dokter dan diminta untuk melengkapi dengan pemeriksaan Laboratorium di Rumah Sakit pribadi, atau di rumah sakit yang direkomendasikan oleh Kemenag.

Kami memilih untuk menggunakan Rumah Sakit yang direkomendasikan oleh Kemenag, yaitu Rumah Sakit Hermina Bekasi. Alasan pemilihan rumah sakit tersebut adalah karena biaya paket pemeriksaannya yang relatif lebih murah dibandingkan dengan Rumah Sakit lainnya.

Medical Checkup

Kami putuskan untuk melakukan Medical Checkup Haji di Rumah Sakit Hermina Bekasi.   Hari Sabtu, tanggal 2 Mei 2015, menjadi hari pilihan kami, sehingga tidak perlu meminta izin meninggalkan tugas kantor. Untuk keperluan cek darah, mulai pukul 10 malam sebelum Medical checkup, kami melakukan puasa. Pagi hari pukul 07.00 Wib kami berangkat ke Rumah Sakit Hermina Bekasi. Situasi jalan yang lancar membuat kami sudah tiba di Rumah Sakit Hermina Bekasi pada pukul 08.00 Wib.

Setibanya di Rumah Sakit Hermina, kami menyerahkan Surat Pengantar yang diberikan Dokter Puskesmas. Petugas rumah sakit kemudian mengarahkan kami ke ruangan khusus Medical checkup.   Di Ruangan medical checkup kami menjumpai banyak orang yang memiliki maksud yang sama dengan kami, yaitu melakukan medical checkup untuk memenuhi persyaratan calon jamaah haji.

Berdasarkan pengamatan kami, ada beberapa orang yang selama proses Medical checkup nampak dipandu dan dibantu oleh orang berseragam.

Ternyata orang berseragam itu adalah petugas KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji) yang membantu Jamaah Calon Haji yang bergabung dalam KBIH.   Itulah salah satu kemudahan jika bergabung dengan KBIH, kita mendapatkan panduan dan bimbingan selama mempersiapkan segala sesuatu yang terkait dengan keperluan ibadah haji kita.

Sambil menunggu panggilan petugas laboratorium, kami duduk di bangku yang tersedia di selasar rumah sakit dan berbincang-bincang dengan pengunjung rumah sakit lainnya yang ternyata juga calon jamaah haji dari Kota Bekasi. Satu jam menunggu akhirnya kami mendengar suara panggilan. Kami bergegas masuk ke ruangan Laboratorium. Petugas akan mengambil sample darah kami.

Pemeriksaan kemudian berlanjut memberikan wadah air seni dan meminta kami untuk menyerahkan sample air seni ke loket pendaftaran awal. Agak susah juga untuk mendapatkan sample air seni, karena sejak malam kami melakukan puasa.  

Petugas memberikan air mineral untuk memancing kami dapat berkemih, sehingga sample urine dapat kami serahkan kepada petugas.

Akhirnya kami dapat berkemih dan segera menuju ke toilet yang disediakan. Sample urine kami masukkan ke dalam wadah, dan sesudahnya kami berikan pada petugas loket.   Kini tinggal satu lagi pemeriksaan yang harus kami lakukan, Foto Rontgen. Lagi-lagi kami harus ikhlas menunggu antrian.

Kali ini kami harus menunggu agak lama, karena memang proses foto rontgen membutuhkan waktu yang lebih lama ketimbang proses pengambilan sample darah dan sample urine.

Ketika panggilan nomor antrian kami tiba, kami bersegera menuju ke Ruang X-ray untuk melakukan foto rontgen. Sekitar 20 menit waktu yang dibutuhkan di ruang X-ray dan akhirnya semuanya tuntas.   Kami menuju ke Loket kasir untuk melakukan proses pembayaran dan sesudahnya diinformasikan oleh petugas bahwa hasil medical checkup dapat diambil dalam waktu 3 hari ke depan.

Lima hari usai melakukan medical checkup, istri kami menyempatkan diri untuk singgah ke Rumah Sakit Hermina Bekasi saat aktivitas kerjanya berada di kawasan Bekasi. Hasil pemeriksaan Medical Checkup selanjutnya kami kirimkan ke Petugas Puskesmas Kecamatan jatisampurna untuk diinput ke dalam Siskohatkes, setelah sebelumnya menghadap Dokter Sri Fitri untuk mendapatkan saran medis pasca Medical checkup.

Secara umum, berdasarkan hasil laboratorium tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Untuk kami sendiri dokter menyarankan untuk melakukan perubahan pola makan dan meningkatkan olah raga rutin, mengingat kadar kolestrol kami yang relatif sedikit di atas normal.

Khusus untuk istri, diminta untuk melakukan kontrol lanjutan ke Dokter spesialist Paru-Paru karena hasil rontgen mengindikasikan ada flek di hasil rontgen Torak.

Untuk tujuan menurunkan kadar kolestrol, berdasarkan saran yang diberikan oleh rekan dokter di kantor istri bertugas, kami mengkonsumsi obat penurun kolestrol dan tentu saja diimbangi dengan melakukan perubahan pola makan. Salah satu jenis makanan yang harus kami hindari adalah Mie Instan ... makanan pembuka hari yang selama ini menjadi menu wajib sarapan kami.

Istri kami sendiri melakukan kontrol lanjutan ke dokter spesialist Paru-paru di Rumah Sakit Permata Cibubur. Alhamdulillah, berdasarkan pemeriksaan dokter, indikasi adanya flek pada paru-paru tidak terlalu mengkhawatirkan. Dokter Rumah Sakit Permata Cibubur tersebut juga memberikan Surat Rekomendasi Berangkat Haji yang ditujukan untuk Dokter Puskesmas Kecamatan Jatisampurna.

Test Fisik Calon Jamaah Haji

Ternyata tidak cukup hanya dengan pemeriksaan Medical checkup, pihak Puskesmas Kecamatan Jatisampurna mengabarkan kepada kami bahwa seluruh Calon jamaah Haji harus melakukan test fisik yang akan diselenggarakan di Lapangan Kecamatan Jatisampurna. Test fisik ini wajib dilakukan sebagai bagian dari data yang harus dimasukkan ke dalam Siskohatkes.

Jadilah akhirnya pada Hari Sabtu, tanggal 9 mei 2015, kami melakukan test fisik yang disyaratkan tersebut. Jangan berpikir bahwa test fisik yang dilakukan adalah test fisik seperti penerimaan taruna militer .....   test fisik yang dilakukan hanyalah berlari kecil mengelilingi lapangan sebanyak 7 putaran dan kemudian dilakukan pengecekan denyut nadi pra dan pasca kegiatan.

Kami sendiri berpikir bahwa test fisik mengelilingi lapangan sebanyak 7 putaran ini adalah salah satu simulasi aktivitas tawaf yang akan kami lakukan di tanah suci.   Tentunya jika di lapangan ini kita dapat melakukannya dengan baik, maka Insya Allah di tanah suci nanti kita dapat melakukan tawaf dengan baik tanpa ada halangan apapun.

Alhamdulillah, proses test fisik berjalan dengan baik. Kegiatan test fisik yang dimulasi pada pukul 07.00 wib, berakhir tepat pada pukul 09.00 Wib. Satu hal lagi yang kami dapatkan dari proses test fisik, adalah mulai terjalinnya silaturahmi antar calon jamaah haji yang berasal dari Kecamatan Jatisampurna.


 

Vaksin Meningitis

Terkait dengan proses pemeriksaan kesehatan, masih ada satu lagi proses yang harus kami lakukan selaku Calon Jamaah Haji, yaitu Vaksin Meningitis. Kepastian jadwal untuk melakukan vaksin meningitis kami dapatkan pada hari Selasa, 4 Agustus 2015, ketika kami tengah melakukan Manasik Haji Bersama di Asrama Haji Kota Bekasi.

Kami dijadwalkan untuk melakukan vaksin Meningitis yang disyaratkan oleh otoritas Arab Saudi pada hari Rabu, Tanggal 5 Agustus 2015 di Rumah Sakit Hermina Bekasi.

Pagi-pagi pukul 06.00 kami sudah bersiap untuk menuju ke Rumah Sakit Hermina Bekasi. Tidak lupa, istri membawa bekal sarapan ke Rumah Sakit untuk kami santap setiba di Rumah Sakit.

Di Gerbang Rumah Sakit Hermina Bekasi, kami sudah disambut dengan Spanduk Selamat Datang yang dipasang pihak Rumah Sakit Hermina. Masuk ke dalam Lift juga sudah disambut informasi lokasi pelaksanaan Vaksinasi Meningitis.

Tiba di lantai 6 Ruang Serbaguna Rumah Sakit Hermina Bekasi, kami langsung menuju ke Papan Pengumuman yang berisi panduan proses Vaksinasi Meningitis.

Hmmm .... ternyata prosedur pemeriksaannya lumayan panjang. Prosedur pertama, kami melakukan pendaftaran dengan menyerahkan Foto Copy Bukti Setor BPIH dan kepada kami diberikan nomor antrian.

Usai mendapatkan nomor antrian di angka 90, kami kembali ke tempat duduk yang disediakan pihak Rumah Sakit Hermina.

Sambil menunggu panggilan, kami manfaatkan waktu tunggu tersebut untuk menyantap bekal sarapan yang kami bawa dari rumah.

Alhamdulillah, hanya menunggu sekitar 1 jam, akhirnya nomor antrian kami dipanggil oleh petugas. Kami bergegas menuju ke meja petugas, kepada kami diberikan Buku Hijau Kesehatan Haji dan diminta bergeser ke kasir untuk melakukan Pembayaran Biaya Vaksin.

Usai melakukan pembayaran, petugas melakukan input data dan kami dipersilahkan untuk bergeser ke meja pemeriksaan tekanan darah.

Usai pemeriksaan tekanan darah, kami harus antri kembali di area pemeriksaan darah. Ketika petugas di area pemeriksaan darah memanggil, sebelum pengambilan sample darah, kami diminta melakukan pembayaran biaya laboratorium.

Usai pengambilan sample darah, kami kembali harus menunggu proses selanjutnya, yaitu pemeriksaan oleh Dokter untuk memutuskan apakah kami dapat diberikan vaksin Meningitis atau tidak.

Alhamdulillah, saya dan istri tidak ada halangan apapun di sesi pemeriksaan dokter. Dokter Sri Safitri yang melakukan pemeriksaan hasil laboratorium kami, memberikan kesimpulan medis bahwa Kami dapat melanjutkan proses vaksin Meningitis di ruang vaksin.   Kami segera menuju ruang vaksin untuk proses vaksin tersebut.

Usai mendapatkan suntik vaksin meningitis, kami mendapatkan Dokumen Surat Keterangan Vaksinasi.

Sampai disini, proses masih berlanjut dengan proses Validasi di Siskohatkes. Ujian kesabaran masih berlanjut, karena proses validasi masih harus menunggu proses komputer selesai.

Khusus istri tercinta, sebelum dilakukan proses validasi Siskohatkes, dirinya diminta untuk menandatangani Surat pernyataan Jamaah Haji Wanita Usia Subur.

Sementara menunggu proses validasi Siskohatkes, kami ditawarkan untuk mendapatkan suntik vaksinasi influensa yang berguna menambah daya tahan tubuh dari penyakit flu selama berada di tanah suci.  

Mempertimbangkan fisik yang tidak lagi muda dan menyadari selama ini tidak pernah melakukan aktivitas olahraga, kami putuskan untuk mengambil paket vaksinasi influensa. Awalnya kami berpikir biaya vaksin influensa sebesar 150ribu rupiah dapat kami klaim ke kantor, namun saat melakukan pembayaran, ternyata pihak rumah sakit tidak mengeluarkan kuitansi pembayaran. Weleh .... weleh ...., jadilah kami ikhlaskan biaya vaksin influensa tersebut kami tanggung sendiri, toh ... untuk kesehatan pribadi kami sendiri.

PASPOR HAJI - DOKUMEN UTAMA

Ada yang berbeda di musim haji tahun 1436 H/2015 terkait dengan Dokumen Paspor. Pada musim haji tahun-tahun sebelumnya, proses pembuatan Paspor dilakukan oleh Kantor Kemenag Kota/Kabupaten asal domisili Jamaah Haji. Namun di musim haji tahun 1436 H, proses pembuatan paspor diserahkan kepada Jamaah Haji. Jadilah kami bersama istri harus mengatur waktu dengan baik untuk melakukan proses pembuatan Paspor.

Syarat Paspor masih berlaku selama 6 bulan sebelum waktu pemberangkatan Haji telah memaksa istri untuk membuat Paspor yang baru, karena masa berlaku paspor miliknya expired sekitar 2 bulan sebelum masa pemberangkatan haji. Saya sendiri belum pernah memiliki paspor karena belum pernah bepergian ke Luar Negeri.

Browsing melalui situs google didapatkan informasi bahwa pembuatan Paspor dapat dilakukan secara online, sehingga tidak perlu melakukan proses antrian panjang di kantor imigrasi.   Namun saat mencoba melakukan pengisian aplikasi online Paspor, ternyata kami tidak dapat memanfaatkan aplikasi online tersebut, karena pengajuan paspor secara online mengharuskan pemohon paspor untuk hadir di kantor imigrasi sesuai dengan tanggal yang sudah ditentukan. Hal ini tentu saja merepotkan kami berdua yang statusnya adalah pekerja swasta yang terikat dengan waktu kerja. Jadilah kami putuskan untuk melakukan pengajuan pembuatan paspor secara offline langsung ke kantor imigrasi.

Pilihannya adalah melakukan pengajuan ke Kantor Imigrasi Kota Bekasi yang lokasinya berada di belakang Stadion Olah Raga Kota Bekasi.

Hari Kamis, tanggal 7 Mei 2015, kami putuskan untuk melakukan pengurusan paspor. Setelah meminta izin kantor untuk tidak masuk kerja karena hendak mengurus paspor, pukul 05.30 Wib kami berangkat dari kediaman kami di Grand Cibubur menuju ke Kantor Imigrasi Kota Bekasi.

Arus lalu lintas menuju ke Kantor Imigrasi termasuk kategori arus balik, jadi kondisi lalu lintas cukup lancar dan hanya membutuhkan waktu 45 menit untuk tiba di Kantor Imigrasi.

Tiba di kantor imigrasi, langsung kami parkirkan kendaraan kami dan bergegas menuju ke area Kantor Imigrasi.   Waktu masih menunjukkan pukul 06.15 Wib, namun antrian pemohon paspor sudah mengular membentuk barisan letter “double S”.

Tepat Pukul 07.00 Wib, nomor antrian sudah mulai dibagikan oleh petugas security.   Antrian perlahan maju merapat ke pintu masuk Kantor Imigrasi. Pukul 07.15, pihak security memberikan informasi kepada para pemohon Paspor bahwa nomor antrian hanya bersisa 14 nomor saja dari kuota 100 nomor antrian.   Bergegas saya melakukan penghitungan, dan jreng-jreng ....... dari sisa 14 nomor antrian tersebut, saya dan istri masuk nomor antrian ke 24, hiks hiks .... Artinya hari itu kami gagal mendapatkan nomor antrian dan harus mencoba lagi di hari yang lainnya.  

Jadilah kami akhirnya memutuskan untuk menuju ke kantor untuk menjalankan tugas kerja seperti biasa dan merencanakan hadir kembali pada keesokan harinya.

Hari Jumat, tanggal 8 Mei 2015, kami putuskan untuk kembali ke Kantor Imigrasi untuk melakukan pengajuan Paspor.   Tidak ingin mengulang kesalahan di hari sebelumnya, kami putuskan untuk berangkat ke Kantor Imigrasi pada Pukul 03.00 pagi !

Tiba di kantor Imigrasi, kami sempat berpikir bahwa kami adalah orang pertama yang hadir. Ternyata tidak ! ..... saat menulis nama di buku antrian, kami masuk nomor antrian 24 dan 25 !!!

Namun kami tetap bersyukur dan mengucap Alhamdulillah, karena akhirnya kami berharap dapat menuntaskan pengurusan Paspor pada hari ini. Setelah mendapatkan nomor antrian, kami bergegas mencari masjid terdekat untuk melaksanakan Sholat Subuh.

Sejatinya di kantor imigrasi ada bangunan musholla, namun menurut petugasnya belum boleh digunakan, karena pintu gerbang Kantor Imigrasi secara aturan prosedur, baru bisa dibuka pada pukul 07.00 Wib. Lumayan berjalan kaki menuju ke masjid terdekat, namun kepastian penyelesaian paspor mampu meringankan langkah kaki kami ke masjid untuk melaksanakan ibadah Sholat Subuh. Sesudahnya kami kembali ke Kantor Imigrasi, karena pada pukul 08.00 Wib, panggilan untuk nomor antrian pertama di mulai.

Walaupun cukup senang karena nomor antrian kami masih masuk nomor antrian “muda”, namun kami masih was-was dan berharap tidak ada masalah dalam berkas persyaratan pengajuan paspor kami.

Berkas yang harus dibawa untuk pengajuan permohonan paspor adalah Foto Copy KTP ukuran ½ kertas A4, Foto Copy Kartu Keluarga, Foto Copy Akte Kelahiran, dan semua dokumen harus dapat menunjukkan dokumen aslinya. Karena alasan pengajuan Paspor kami adalah untuk keperluan berangkat Haji, maka kami tambahkan persyaratan berupa Foto Copy Bukti Pembayaran Ibadah Haji. Materai sebanyak 3 lembar juga harus kami siapkan untuk dilekatkan di formulir pengajuan.

Salah satu formulir yang harus kami isi adalah Formulir pengajuan Penambahan Nama.   Pihak Imigrasi Saudi Arabia mensyaratkan nama harus minimal terdiri dari 3 suku kata. Jadilah kami mengajukan penambahan nama kami. Saya dan Istri masing-masing mengajukan menambahkan nama ayah kami di belakang nama kami.

Tepat pada pukul 10.00 panggilan untuk Nomor Urut 24 – Nomor urut kami, akhirnya terdengar dan meminta kami untuk memasuki ruangan proses penerbitan paspor.

Istri kami masuk pertama ke ruang proses dan saya menanti panggilan berikutnya. Setelah melalui proses wawancara standard, data-data dokumen kami kemudian diinput ke dalam komputer.

Setelah data-data kami terinput, lanjut dengan rekam sidik jari dan rekam retina mata. Selama proses input data, kami dapat melihat apa yang dilakukan petugas di layar komputer.   Kami dapat melihat dengan jelas, bahwa setelah semua data terinput, sidik jari dan Rekam retina terinput, Komputer kemudian melakukan proses scanning data-data pencekalan.

Alhamdulillah data-data kami clear, dan kami siap melakukan proses selanjutnya, yaitu proses Foto.   Jeda waktu antara menunggu proses “clearance” data ke proses Foto lumayan cukup lama.  

Sayangnya petugas yang melayani kami terkesan “jutek” karena sambil menunggu proses komputer, sang petugas yang usianya masih sekitar 30 tahunan tersebut asyik bermain smartphone. Sementara pemohon harus ikhlas menunggu dan menonton si petugas bermain Handphone.

Tapi pada akhirnya, kami bersyukur tepat pukul 10.30 proses selesai, dan kami diminta melakukan pembayaran biaya paspor ke Bank BNI terdekat karena mesin EDC pembayaran sedang mengalami masalah. Kami juga diminta untuk kembali esok hari untuk mengambil Paspor yang sudah tercetak.

Bergegas kami menuju ke Bank BNI terdekat untuk melakukan pembayaran, mengingat hari itu kami harus menjalankan ibadah sholat Jumat. Kami memutuskan untuk sholat di Islamic Centre yang lokasinya tidak jauh dari lokasi Bank tempat kami melakukan pembayaran Biaya Paspor.

Usai sholat jumat, kami kembali ke rumah tercinta di Grand Cibubur. Tidak lupa untuk mampir di Rumah Makan Sop Pak Min untuk santap siang dengan menu Sop Ayam istimewa.

Dua hari kemudian, istri tercinta kembali ke kantor imigrasi untuk mengambil paspor yang sudah dijanjikan dapat diambil. Alhamdulillah, proses pengambilan paspor tidak mengalami hambatan yang berarti. Paspor sudah ditangan, saatnya melanjutkan ke proses administrasi berikutnya.

Cerita paspor belum berakhir,   ketika kembali ke tanah air, kami mendapatkan informasi bahwa dana yang dikeluarkan jamaah untuk membuat paspor akan mendapatkan penggantian dari Kantor kementrian Agama.

Hal ini dikarenakan komponen ONH di dalamnya sudah termuat pula biaya pembuatan paspor. Alhamdulillah, satu bulan setelah berada di tanah air usai berhaji, kami melakukan pengurusan pengembalian biaya paspor.

Syaratnya hanya melampirkan Copy Bukti penyetoran ONH dan Copy Kuitansi pembayaran biaya paspor. Lumayan, uang pengembalian paspor bisa digunakan untuk makan bersama keluarga.

TUNTASKAN -ADMINISTRASI

Alhamdulillah, seluruh berkas persyaratan pendaftaran haji sudah kami lengkapi. Satu tahap lagi yang harus dilakukan, yaitu melaporkan kelengkapan administrasi tersebut ke kantor Kementerian Agama Kota Bekasi untuk memastikan masuk dalam daftar jamaah haji yang dapat berangkat ke tanah suci pada musim haji tahun 2015/1436H.

Pagi hari, kami sudah berada di Kantor Kemenag Kota Bekasi. Agak kecewa saat masuk ke kantor yang seharusnya menunjukkan sebuah kantor yang mengatur segala hal terkait penyelenggaraan ibadah haji. Tidak ada sapaan Assalamualaikum ....   petugas yang duduk di meja yang mirip meja resepsionis di kantor-kantor pemerintah, tidak memberikan sambutan apapun kepada mereka yang masuk ke dalam gedung. Saat bertanya dimana lokasi pelaporan Jamaah Haji, hanya dijawab .. “disana ....” sambil tangannya menunjuk salah satu ruangan yang ada di kantor tersebut.

Di dalam ruangan, tetap saja tidak ada sambutan istimewa. Petugas penerimaan berkas, seorang ibu berseragam PNS (Pegawai Negeri Sipil) berusia tua, nampaknya beberapa bulan lagi akan pensiun, hanya memberikan sapaan singkat, “ duduk disini bu ...”

Kami berikan berkas yang dipersyaratkan kepada ibu tersebut. Petugas tersebut mengeluarkan form tanda terima, dan bukannya menulis sendiri Form Tanda Terima tersebut, namun malah meminta kami untuk mengisinya sendiri .....

Kami tidak permasalahkan hal tersebut, kami segera isi form tanda terima tersebut dan menandatangani kolom tanda tangan kami sebagai pihak yang menyerahkan dokumen.

Berkas kami dimasukkan ke dalam Map Plastik bening yang memastikan dokumen yang ada di dalamnya tidak akan tercecer. Usai semua proses, sang ibu tersebut meminta kami mengganti uang untuk pembelian Map Plastik tersebut sebesar 20 ribu rupiah. Tanpa banyak bertanya, kami berikan uang sebesar 40 ribu rupiah sebagai ganti 2 map plastik untuk penyimpan dokumen milik kami dan istri tercinta.

Sang ibu tersebut selanjutnya memberikan 1 Paket buku dan 1 keping VCD berisi Panduan Manasik dan Doa Ibadah Haji. “Silahkan infaq seikhlasnya untuk pengganti VCD dan Buku ini ...” kata si Ibu. Lagi-lagi tanpa berpikir panjang, kami serahkan uang sebesar 100 ribu rupiah untuk memenuhi permintaan sang ibu.

Sesudahnya kami diberikan Form Tanda Terima Berkas dan segera pulang kembali ke rumah kami.

Melalui situs resmi Kemenag dan Account FB Informasi Haji, belakangan kami baru tahu bahwa Buku dan VCD Bimbingan Manasik dan Doa Haji tersebut adalah hak jamaah haji dan seharusnya diberikan secara cuma-cuma kepada jamaah haji.

“Hmmm .. tak apalah .... kami ikhlas ... “ mensikapi permintaan uang oleh petugas Kemenag Kota Bekasi, yang diistilahkan sebagai “uang infaq”.

BERIBADAH HAJI-WAJIB BERILMU

Seluruh calon Jamaah Haji sebelum berangkat ke tanah suci diwajibkan untuk mengikuti kegiatan manasik haji. Bagi Calon Jamaah Haji yang tergabung dalam KBIH, kegiatan manasik Haji biasanya dilaksanakan secara intensif 1 kali dalam satu minggu dalam 4 bulan sebelum jadwal pemberangkatan ke tanah suci. Untuk Calon Jamaah Haji yang berstatus Haji Mandiri, tetap mendapatkan hak mengikuti kegiatan manasik Haji yang diselenggarakan di tingkat Kota/Kabupaten dan di tingkat kecamatan.   Biaya Manasik Haji sudah termasuk dalam komponen ONH (Ongkos Naik Haji) yang disetorkan oleh Calon Jamaah Haji.

Saya dan istri termasuk kategori Haji Mandiri. Kami berdua mengandalkan kegiatan manasik yang diberikan oleh Kementerian Agama Kota Bekasi dan Kantor Urusan Agama Kecamatan Jatisampurna – Kota Bekasi untuk bekal pengetahuan tata cara ibadah haji di Tanah suci.

Sebagai Haji Mandiri, kami mendapatkan jatah sebanyak 6 kali kegiatan Manasik. 2 kali di Asrama Haji Kota Bekasi, dan 4 kali di Kantor Urusan Agama Kecamatan Jatisampurna.

Manasik haji dilakukan untuk dapat memberikan pemahaman kepada setiap calon jamaah haji tentang tujuan utama keberangkatan mereka ke tanah suci.

Tujuan dari diadakannya manasik haji adalah untuk mempermudah calon Jama’ah Haji dalam memahami tentang ibadah haji baik secara teoritis maupun praktis sehingga diharapkan menjadi calon Jama’ah Haji yang mandiri dapat melaksanakan ibadah haji dengan baik dan benar.

Manfaat melakukan Manasik Haji bagi Calon Jamaah haji antara lain adalah :

  1. Dapat Mengetahui Tentang doa-doa sunnah mulai dari keluar rumah untuk melaksanakan ibadah haji sampai kembali ke Indonesia dari Makkah.
  2. Dapat memberikan pemahaman mana yang wajib, rukun, sunnah, dan haram saat melaksanakan ibadah haji.
  3. Dapat Mengetahui kondisi Makkah dan Madinah yang akan berguna untuk persiapan ibadah haji nantinya.
  4. Dapat saling mengenal jamaah lain sehingga saat di Makkah dapat saling membantu.
  5. Diajarkan Bahasa Arab untuk percakapan ringan di Makkah nantinya.

Berdasarkan penjelasan dari Petugas Pembimbing Manasik Haji di Kantor Urusan Agama Kecamatan Jatisampurna, kami mendapatkan penjelasan, bahwa Pengertian haji, secara garis besar, dapat disimpulkan bahwa “Haji adalah berkunjung ke Baitullah, untuk melakukan Thawaf, Sa’i, Wukuf di Arafah dan melakukan amalan – amalan yang lain dalam waktu tertentu untuk mendapatkan keridhaan Allah Subhanna Wa Ta’ala.

Manasik haji adalah peragaan pelaksanaan ibadah haji sesuai dengan rukun-rukunnya. Dalam kegiatan ibadah haji, calon jamaah haji akan dilatih tentang tata cara pelaksanaan ibadah haji yang akan dilaksanakannya, misalnya rukun haji, persyaratan, wajib, sunnah, maupun hal-hal yang tidak boleh dilakukan selama pelaksanaan ibadah haji.

Selain itu, para calon jamaah haji juga akan belajar bagaimana cara melakukan praktik tawaf, sa’i, wukuf, lempar jumrah, dan prosesi ibadah lainnya dengan kondisi yang dibuat mirip dengan keadaan di tanah suci.

Rukun Haji (Sesuatu yang harus dilaksanakan bila ada salah satu atau lebih tidak dilaksanakan, maka tidak dapat diganti dengan dam (denda), dan hajinya batal (tidak sah).

1.   Ihram

2.   Wukuf di Arafah

3.   Thawaf Ifadlah

4.   Sa’i

5.   Memotong rambut / Tahallul

6.   Tertib

Haji (Sesuatu yang harus dilaksanakan dan apabila salah satu ada yang ditinggalkan, maka hajinya sah tapi harus membayar dam (denda).

1.   Ihram dari Miqat

2.   Mabit di Muzdalifah

3.   Mabit di Mina

4.   Melempar Jumrah

5.   Thawaf Wada’

Urutan kegiatan dalam Ibadah Haji

Dalam kegiatan dan pelaksanaan Ibadah Haji, terdapat urutan rukun dan wajib Haji yang harus dilaksanakan oleh setiap jamaah Haji. urutan kegiatan tersebut sebagai berikut :

Thawwaf Qudum

Sebelum tanggal 8 Dzulhijjah, calon jamaah haji melaksanakan Thawwaf Qudum di Masjid Al Haram, Makkah. Calon jamaah haji memakai pakaian Ihram (dua lembar kain tanpa jahitan sebagai pakaian haji), sesuai miqatnya, kemudian berniat haji, dan membaca bacaan Talbiyah, yaitu mengucapkan Labbaikallahumma labbaik labbaika laa syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syarika laka..                                                                                                        

Wukuf

Tanggal 9 Dzulhijjah, pagi harinya semua calon jamaah haji menuju ke padang Arafah untuk menjalankan ibadah wukuf. Kemudian jamaah melaksanakan ibadah Wukuf, yaitu berdiam diri dan berdoa di padang Arafah hingga Maghrib datang. Sebagaimana Sabda Nabi, Al-hajju ‘Arafah”, maksudnya adalah inti dan puncak haji adalah melaksanakan wukuf di Arafah. Arafah berarti mengenal, mengetahui, dan menyadari. Sedangkan makna wukuf adalah berdiam diri.

Dengan demikian, makna wukuf di Arafah adalah berdiam diri untuk merenungkan eksistensi diri di hadapan Allah Subhanna Wa Ta’ala. dan dihadapan makhluk alam semesta kemudian melakukan transformasi ruhaniah secara besar-besaran.

Dengan wukuf di Arafah tersebut, orang-orang yang melaksanakan haji diharapkan menjadi arif dan sadar akan eksistensi dirinya, dari mana ia berasal dan ke mana ia akan pergi, sadar akan tugas dan tanggung jawabnya, serta memanifestasikan dan mengaplikasikan kesadaran tersebut dalam bentuk tindakan konkret dalam kehidupan pribadi dan kehidupan masyarakatnya.                                                                                                                                                                                                                                  

Mabit

Tanggal 9 Dzulhijjah malam, jamaah menuju ke Muzdalifah untuk mabbit (bermalam) dan Mabit di Musdzalifah. mengambil batu untuk melontar jumroh secukupnya. Mabit di Muzdalifah artinya bermalam atau berhenti sejenak atau menginap   di Muzdalifah pada malam 10 Dzul Hijjah selepas wukuf di Arafah. Dibagian sebelah barat dari Muzdalifah ini terletak Masy'aril Haram, yaitu gunung Quzah.. Mufassir lain mengatakan, Masy'aril Haram adalah Muzdalifah seluruhnya. Di tempat itu jama'ah Haji melakukan mabit atau wukuf, minimal telah melewati tengah malam. Memang, yang lebih utama mabit dilakukan sampai selesai shalat Subuh sebelum berangkat ke Mina untuk melakukan Jumroh Aqobah.                                                                                                                                              

Lontar Jumrah

Tanggal 9 Dzulhijjah tengah malam (setelah mabbit) jamaah meneruskan perjalanan ke Mina untuk melaksanakan ibadah melontar Jumroh. Mina adalah sebuah lembah di padang pasir yang terletak sekitar 5 kilometer sebelah Timur kota Mekkah, Arab Saudi. Ia terletak di antara Mekkah dan Muzdalifah. Mina mendapat julukan kota tenda, karena berisi tenda-tenda untuk jutaan jamaah haji seluruh dunia. Tenda-tenda itu tetap berdiri meski musim haji tidak berlangsung. Mina paling dikenal sebagai tempat dilaksanakannya kegiatan lempar jumrah dalam ibadah haji

Tempat atau lokasi melempar jumrah ada 3 yaitu Jumrah Aqabah, Jumrah Wusta dan Jumrah Ula. Di Mina jama'ah haji wajib melaksanakan mabit (bermalam) yaitu malam tanggal 11,12 Dzulhijah bagi jamaah haji yang melaksanakan Nafar Awal atau malam tanggal 11,12,13 dzulhijah bagi jamaah yang melaksanakan Nafar Tsani.

Mina juga merupakan tempat atau lokasi penyembelihan binatang kurban. Di Mina ada mesjid Khaif, merupakan masjid dimana Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melakukan shalat dan khutbah ketika berada di Mina saat melaksanakan ibadah haji.

Tanggal 10 Dzulhijjah, jamaah melaksanakan ibadah melempar Jumrah sebanyak tujuh kali ke Jumrah Aqobah sebagai simbolisasi mengusir setan. Melempar jumrah adalah simbol perlawanan manusia terhadap setan. Manusia harus melakukan perlawanan kepada setan karena mereka selalu berupaya menyesatkan manusia dari jalan kebenaran dan menjauhkan mereka dari jalan Allah Subhanna Wa Ta’ala. Melempar jumrah adalah simbol keteladanan Hajar yang menunjukkan sikap permusuhan terhadap setan.

Dalam ibadah haji, melempar jumrah tidak hanya dilakukan dalam satu hari melainkan tiga atau empat hari. Ini menunjukkan perintah Allah yang sangat tegas agar manusia benar-benar memusuhi setan dan tidak bersekutu dengannya. Panji-panji harus terus dikibarkan dan genderang perang melawan setan harus terus ditabuh. Dilanjutkan dengan tahallul yaitu mencukur rambut atau sebagian rambut.                                                

Jika jamaah mengambil nafar awal maka dapat dilanjutkan perjalanan ke Masjidil Haram untuk Thawwad ifadhah/Thawaf Haji (menyelesaikan Haji). Sedangkan jika mengambil nafar akhir jama'ah tetap tinggal di Mina dan dilanjutkan dengan melontar jumroh sambungan (Ula dan Wustha).

Tanggal 11 dan 12 Dzulhijjah, melempar jumrah sambungan (Ula) di   tugu pertama, tugu kedua, dan tugu ketiga.Melontar pertama kali adalah melontar Jumrah 'Aqabah pada hari Ied. Tetapi jika seseorang melakukannya pada tengah malam bagian kedua dari malam Ied, maka demikian itu cukup baginya. Sedangkan yang utama adalah melontar Jumrah 'Aqabah antara waktu dhuha sampai terbenam matahari pada hari Ied. Tapi jika terlewatkan dari waktu itu, maka dapat melontar setelah terbenamnya matahari pada hari Ied. Caranya adalah dgn 7 kali melontar dgn membaca takbir setiap kali melontar.

Adapun melontar pada hari-hari tasyriq adalah dilakukan setelah matahari condong ke barat (setelah dzuhur). Yaitu memulai dgn melontar Jumrah Ula yang dekat dgn masjid Al-Khaif sebanyak 7 kali lontaran disertai takbir setiap melontar. Lalu Jumrah Wustha dgn 7 kali melontar disertai takbir setiap kali melontar. Kemudian melontar di Jumrah 'Aqabah sebanyak 7 kali lontaran disertai takbir setiap kali melontar. Dan demikian itu dilakukan pada tanggal 11,12, & 13 Dzulhijjah bagi orang yang tak hendak mempercepat pulang dari Mina. Tapi bagi orang yang ingin mempercepat pulang dari Mina, maka hanya sampai tanggal 12 Dzulhijjah.

Dan disunnahkan setelah melontar Jumrah Ula & Jumrah Wustha berhenti di samping tempat melontar. Di mana setelah melontar Jumrah Ula disunahkan berdiri di arah kanan tempat melontar dgn menghadap kiblat seraya berdo'a panjang kepada Allah. Sedang sehabis melontar Jumrah Wustha disunnahkan berdiri disamping kiri tempat melontar dgn menghadap kiblat seraya berdo'a panjang kepada Allah. Tapi sehabis melontar Jumrah 'Aqabah tak disunnahkan berdiri di sampingnya karena Nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wassalam setelah melontar Jumrah Aqabah tak berdiri disampingnya.                                                                  

Thawaf

Thawaf artinya mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali di mana posisi Ka’bah berada di sebelah kiri jama’ah. Diawali dan diakhiri sejajar dan searah dengan Hajar Aswad. Macam-macam thawwaf:

  1. Thawaf Qudum ialah: thawaf selamat datang, yang dikerjakan ketika baru datang di kota Mekah bilamana tidak dikerjakan hajinya tetap sah, karena hukumnya sunnah.
  2. Tawaf Ifadhah ialah: thawaf yang termasuk rukun haji, bilamana tidak dikerjakan maka hajinya tidak sah karena hukumnya wajib.
  3. Tawaf sunnah ialah, tawaf yang bila dikerjakan mendapat pahala dan bila tidak dikerjakan tidak berdosa.
  4. Thawaf Nadzar ialah, Thawaf yang dilakukan karena punya nadzar
  5. Tawaf wada' ialah: sebagai tawaf pamitan, (tawaf selamat tinggal ) tawaf yang dikerjakan ketika akan meninggalkan kota Mekah, sedangkan hukumnya wajib, jika tidak mengerjakan maka harus membayar Dam.

Setelah melakukan Lontar Jumrah, Jamaah haji kembali ke Makkah untuk melaksanakan Thawaf   Wada’ (Thawaf perpisahan) sebelum pulang ke negara masing-masing. Dilakukan pada saat akan meninggalkan Mekah yang biasanya dilakukan untuk menghormati Baitullah karena akan berpisah. Hukum Thawaf Wada' adalah wajib, sehingga kalau tidak dikerjakan wajib membayar dam (menyembelih kambing). Thawaf ini di sebut juga Thawaf Perpisahan. Thawaf wada’ merupakan penutup dari kewajiban – kewajiban haji yang seorang haji wajib melakukannya sebelum pergi menuju negerinya atau meninggalkan kota Mekkah.

Selain melaksanakan kegiatan manasik saat masih berada di Tanah Air, calon jamaah Haji juga akan mendapatkan Manasik saat berada di Madinah untuk persiapan melakukan Umrah Wajib dan saat berada di Mekkah untuk persiapan melakukan prosesi Armina.

Haji Tamattu'

Haji Tamattuk adalah mendahulukan umrah dari ibadah haji. Yaitu memakai ihram dari miqat dengan niat umrah pada musim haji, setelah tahallul, memakai ihram lagi dengan niat haji pada hari Tarawiah (8 Zulhijah). Bagi yang melaksanakan haji Tamattu' diwajibkan membayar dam.

Untuk niat haji tamattu' adalah sebagai berikut :

  

“Aku sambut panggilan-Mu ya Allah untuk berhaji.“

Sebagian besar jamaah haji Indonesia adalah Haji Tamattu’

Haji Qiran

Haji Qiran adalah haji dan umrah dilakukan secara bersamaan. Yaitu memakai ihram dengan niat umrah dan haji sekaligus. Dengan demikian segala amalan umrah sudah tercakup dalam amalan haji.

Cara pelaksanaannya adalah:

  1. ihram dari miqad dengan niat untuk haji dan umrah sekaligus melakukan seluruh amalan haji
  2. Bagi yang melaksanakan haji Qiran diwajibkan membayar dam.

Adapun niat haji Qiran adalah sebagai berikut :

  

“Aku datang memenuhi panggilan-Mu untuk berhaji dan umrah”

Atau

“Aku niat haji dan umrah, dengan berihram untuk haji dan umrah karena Allah”

Haji Ifrad

Haji Ifrad adalah proses melakukan ibadah haji yang terpisah antara ibadah haji dan ibadah umrah. Dalam ritual ibadah haji Ifrad, yaitu melaksanakan ibadah haji terlebih dahulu kemudian dilanjutkan dengan ibadah umrah. Dalam pelaksanaannya waktu memakai ihram dari miqad dengan niat haji saja, kemudian tetap dalam keadaan ihram sampai selesai haji (hari raya kurban). Setelah selesai melaksanakan ibadah haji baru dilanjutkan dengan melaksanakan ibadah umrah. Yang melaksanakan haji ifrad tidak diharuskan membayar dam.

Untuk bacaan niat haji ifrad adalah sebagai berikut :

  

“Aku sambut panggilan-Mu ya Allah untuk berhaji.“

Atau

“Aku niat haji dengan berihram karena Allah ta’ala.”

Istilah dalam Haji dan Umrah

  1. Miqat Makani adalah ketentuan tempat bagi seseorang yang hendak mengawali melaksanakan haji atau umrah dalam memulai niat haji atau umrah
  2. Miqat Zamani adalah ketentuan waktu untuk melaksanakan ibadah haji.
  3. Hukum mabit di Mina, Iman Maliki, imam hambali dan imam Syafi’I berpendapat bahwa mabit dimina hukumnya wajib.
  4. Tempat mabit di Mina adalah seluruh wilayah Mina termasuk haratullisan dan daerah yang termasuk dalam batas perluasan hukum mabit (Mina Jadid)Fatwa ulama Muhammad bin Shalih al ‘Atsimin dan Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz
  5. Hukum Shalat Arbain dan Pelaksanaannya, Selama di Madinah jamaah haji melaksanakan shalat arbain yaitu 40 waktu shalat, hadits riwayat Ahmad dan Thabrani dari shahabat Anas bin Malik mengenai shalat arbain sanadnya shahih : “Barang siapa shalat di masjid ku 40 shalat tanpa terputus maka dia ditetapkan terbebas dari neraka dari adzab dan dari sifat kemunafikan”. Maksud hadits ini sebagai Targhib dorongan untuk memperbanyak ibadah di masjid Nabawi.
  6. Baitullah, adalah bangunan Ka’bah yang disebut juga sebagai Baitullah atau rumah Allah.
  7. Babus Salam, Nama salah satu pintu masuk ke Masjidil Haram.
  8. Bier Ali, Merupakan tempat Miqat (mulai memakai ihram). Terletak sekitar 12 kilometer dari kota Madinah.
  9. Binatang Hadyu, Binatang ternak yang disenbelih untuk Dam dan untuk kurban saat hari raya Idul Adha.
  10. Dam, Denda bagi mereka yang melakukan pelanggaran ketentuan saat menunaikan Ibadah Haji atau Umrah
  11. Fidyah, Denda yang dikenakan pada umat Muslim yang melakukan pelanggaraan saat ibadah. Dengan cara : Berpuasa, Memberi makan fakir miskin atau Menyembelih binatang kurban
  12. Green Dome, Merupakan Kubah Hijau yang terletak di area Masjid Nabawi. Di bawah Kubah Hijau ini terletak makam Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam .
  13. Gua Hira, Gua tempat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menerima wahyu pertama (Surat Al-Alaq, ayat 1-5). Gua ini terletak di Bukit/Jabal Nur.Sekitar 5 km di utara kota Mekah.
  14. Haji Ifrad, Ibadah Haji dengan cara melaksanakan Ibadah Haji dahulu kemudian Ibadah Umroh, dan diselingi Tahallul.
  15. Haji Qiran, Ibadah Haji dengan cara melaksanakan Ibadah Haji dan Ibadah Umroh pada waktu bersamaan, tanpa diselingi Tahallul.
  16. Haji Tamattu, Ibadah Haji dengan cara melaksanakan Ibadah Umroh dahulu kemudian Ibadah Haji, dan diselingi Tahallul.
  17. Niat Haji, adalah dengan mengucapkan Labbaikallahumma hajjan atau Nawaitul-hajja wa ahramtu bihi lillahi ta’ala.
  18. Hijir Ismail, Salah satu bagian dari Ka’bah. Hijir Ismail ini berbentuk setengah lingkaran, merupakan makam Nabi Ismail AS. dan juga Siti Hajar (ibunda Nabi Ismail AS).
  19. Ifrad, Ibadah Haji dengan cara melaksanakan Ibadah Haji dahulu kemudian Ibadah Umroh, dan diselingi Tahallul.
  20. Ihram, Ihram ialah berniat untuk memulai mengerjakan Ibadah Haji atau Umroh, dengan mengucapkan lafazh niat (tidak hanya dalam hati)
  21. Idh-thiba’ adalah sunnah dalam mengenakan pakaian ihram saat thawaf dengan membuka ihramnya dibagian bahu sebelah kanan saja dan menyelempangkan kain ihramnya dibahu kiri.
  22. Raml adalah lari-lari kecil saat sa’ diantara dua pilar hijau bagi laki-laki yang mampu melaksanakannya.
  23. Jumrah, jama’nya Jamarat yaitu tempat pelemparan, yang yang didirikan untuk memperingati saat Nabi Ibrahim digoda oleh setan agar tidak melaksanakan perintah Allah Subhanna Wa Ta’ala.
  24. Kiswah, Penutup Ka’bah. Pada Kiswah dihiasi tulisan ayat suci Al Qu’an yang disulam.
  25. Lafazh Niat Haji, Labbaik Allahumma Hajjan. Lafazh Niat Umrah, Labaik Allahumma Umratan
  26. Tabdilun-niyah (merubah niat), yaitu bagi jamaah yang haji tamattu’ (dalam ihram umrah) bila tidak selesai umrahnya sebelum wukuf karena udzur syar’I maka diperbolehkan berubah niat dari umrah menjadi haji.
  27. Mabit, Bermalam beberapa hari atau berhenti sejenak untuk mempersiapkan pelaksanaan melontar jumroh. Mabit dilakukan di Muzdalifah dan Mina.
  28. Miqat, Miqat adalah tempat atau waktu untuk memulai berniat ihram. Miqat Makani, Miqat berdasarkan peta atau batas geografis. Yaitu Bir Ali (bagi penduduk Madinah dan yang melewatinya), Juhfah (penduduk Syam), Qarnul Manazil (penduduk Najad), Yalamlam (penduduk Yaman) dan Zatu Irqin (penduduk Iraq).
  29. Multazam, adalah dinding yang terletak diantara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah. Merupakan tempat yang sanqat dianjurkan untuk berdoa (Insya Allah do’a yang diminta akan dikabulkan oleh Allah Subhanna Wa Ta’ala)
  30. Waktu wukuf di Arafah, adalah mulai tergelincir matahari tanggal 9 dzulhijjah hingga terbit fajar tanggal 10 dzulhijjah.
  31. Nafar Awal, Disebut Nafar Awal, jika jama’ah meninggalkan Mina pada tgl 12 Zulhijah. Disebuat Nafar Awal krn jamaah lebih dulu meninggalkan Mina,utk kembali ke Mekah dan hanya melontar jumroh 3 hari.Total kerikil yang dilontar jamaah Nafal Awal adalah 49 butir. Nafar Tsani, Disebut Nafar Tsani atau Nafar Akhir jika jamaah melontar jumroh selama 4 hari (tgl : 10,11,12 dan 13 Zulhijah).Sehingga jumlah batu yang dilontar 70 kerikil. Jamaah baru meninggalkan Mina tgl 13 Zulhijah.
  32. Qiran, Ibadah Haji dengan cara melaksanakan Ibadah Haji dan Ibadah Umroh pada waktu bersamaan, tanpa diselingi Tahallul.
  33. Rukun Haji, Rukun Haji adalah kegiatan yang harus dilakukan dalam Ibadah Haji. Jika tidak dikerjakan maka Hajinya tidak syah.
  34. Rukun Haji ada 6 yaitu Ihram (niat), wukuf di arafah, Thawaf Ifadhah, Sa’I, Tahallul (bercukur) dan Tertib sesuai tuntunan manasik.
  35. Wajib Haji, ada 6 yaitu Ihram haji dari miqat, Mabit di Muzdalifah, Mabit di Mina, Melontar Jumrah, Menghindari yang dilarang saat ihram dan Thawaf wada’ saat hendak meninggalkan Makkah.
  36. Sa’i.Berjalan kaki atau lari-lari kecil antara Bukit Safa dan Bukit Marwah. Dengan total 7 kali.
  37. Sunat Haji, Merupakan Sunat (tidak wajib) pada Ibadah Haji. Sunat Umrah, Merupakan sunat (tidak wajib) pada Ibadah Umrah.
  38. Tahallul, adalah mencukur seluruh rambut atau memotong sedikit rambut. Dengan tahalul berarti sudah bebas dari larangan-larangan saat ihram ibadah Haji atau Umroh.
  39. Talang Emas, Merupakan Talang Emas (Mizhab) yang terdapat pada Ka’bah. Posisi Talang Emas ini terletak di atas Hijir Ismail.
  40. Talbiyah, Bacaan Talbiyah : Labbaik Allahumma labbaik, labbaik laa Syariika laka labbaik, innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syariika lak.
  41. Raudhah adalah suatu tempat didalam masjid Nabawi (letaknya ditandai dengan tiang-tiang putih) yang letaknya berada diantara rumah A’isyah (sekarang makam Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam) sampai mimbar. Rasul bersabda : antara rumahku dengan mimbarku adalah raudhah taman diantara taman-taman surga.
  42. Rukun Ka’bah, dari Hajar aswad yaitu rukun hajar aswad, rukun ‘Iraqi, rukun Syami kemudian rukun Yamani.
  43. WIZAROTUL HAJJ, Kementerian Haji (memiliki cabang di Mekah, Madinah, Jeddah, Riyadh, Masyair dan pintu-pintu gerbang kedatangan dan pemulangan).
  44. MUASSASAH ATTHAWWAFAH, Lembaga swasta yang resmi ditunjuk pemerintah untuk melayani jamaah yang datang dari luar negeri selama berada di mekah.
  45. MUASSASAH ADILLA’, Lembaga swasta yang resmi ditunjuk pemerintah untuk melayani jamaah yang datang dari luar negeri selama berada di madinah.
  46. MAKTAB WUKALA MUWAHHAD, Lembaga swasta yang resmi ditunjuk pemerintah untuk menyambut kedatangan dan melepas kepulangan jamaah haji dari luar negeri di pintu-pintu gerbang kedatangan dan kepulangan.
  47. MAKTAB WUKALA MUWAHHAD, MAKTAB ZAMAZIMAH, Instansi yang berwenang menyediakan air zam-zam kepada jamaah haji di pintu-pintu kedatangan, di pemondokan dan pusat pemberangkatan jamaah haji.
  48. NAQABAH AMMAH LISSAYYARAT, Assosiasi yang mengawasi perusahaan angkutan yang mengangkut jamaah haji antarkota perhajian dan masyair.