^Kembali ke Atas

foto1 foto2 foto3 foto4 foto5

Setiap kali tiba masa lebaran, warga perumahan Grand Cibubur selalu dihadapi dengan permasalahan klasik, libur panjang para pembantu rumah tangga dan tukang cuci yang berasal dari kawasan kampung sekitar Perumahan Grand Cibubur.

Salah satu alasan libur panjang yang diajukan para Pembantu Rumah Tangga dan Tukang Cuci tersebut adalah karena harus melakukan aktivitas ziarah ke makam leluhur di Gunung Putri.  

Warga Grand Cibubur sendiri hanya memiliki informasi yang sedikit tentang aktivitas Ziarah Makam Leluhur tersebut.   Informasi yang diketahui warga Grand Cibubur hanya sebatas informasi bahwa kegiatan Ziarah Makam Leluhur tersebut dilakukan pada hari ke 7 setelah Idhul Fitri di wilayah Gunung Putri. Satu hari sebelum aktivitas ziarah, biasanya peziarah mempersiapkan beragam makanan yang oleh banyak warga Grand Cibubur diyakini sebagai makanan sesajian yang menjadi bagian aktivitas Ziarah Makam Leluhur.

Rasa penasaran untuk mengetahui lebih jauh aktivitas Ziarah Makam Leluhur tersebut akhirnya membawa kami untuk melakukan peliputan di lokasi kegiatan.   Kami melakukan peliputan pada pagi hari tanggal 16 September 2010. Dimulai dengan menyusuri jalur menuju lokasi makam di kawasan Gunung Putri Kabupaten Bogor. Perjalanan dimulai dari pintu gerbang Grand Cibubur menuju ke arah Cikeas dan langsung mengarahkan kendaraan berbelok ke arah kawasan Bojong Nangka dan lurus mengambil jalur ke arah pintu Tol Keranggan Gunung Putri.

 

Sepanjang perjalanan, kami berpapasan dengan peziarah yang baru saja kembali dari makam.   Belakangan kami ketahui bahwa ternyata aktivitas ziarah dimulai sejak malam hingga pagi hari sekitar pukul 8 pagi.   Hanya perlu waktu kurang dari 1 jam untuk tiba di kawasan makam yang jaraknya ternyata hanya sekitar 1 km dari pintu gerbang tol Keranggan Gunung Putri.

Kendaraan harus kami parkir di depan jalan masuk ke makam karena jalan arah masuk makam sudah penuh dengan ribuan peziarah. Jalan menuju lokasi makam hanya berukuran 1 mobil saja.   Kondisi jalan walaupun sudah dilakukan perkerasan, relative kondisinya tidak terlalu baik. Untuk mencapai lokasi makam, kami harus berjalan sejauh 1 kilometer. Sepanjang jalan menuju makam, aneka ragam pedagang memenuhi sisi kiri dan kanan jalan memanfaatkan situasi keramaian pengunjung.   Polisi juga nampak berjaga di setiap pertigaan jalan. Setelah susah payah berjalan di antara ribuan peziarah, kami akhirnya tiba di lokasi makam.

Di lokasi makam terdapat 1 bangunan beratap yang terbuat dari kayu yang berukuran kira-kira 10 x 30 meter, dimana dindingnya menggunakan dinding anyaman kawat, sehingga peziarah yang berada di luar dapat melihat kondisi di dalam bangunan. Di dalam bangunan terdapat 2 bangunan makam. Salah satu makam ukurannya nampak panjang dan di atasnya terdapat 3 cungkup atau batu nisan makam yang ditutupi oleh kain putih.   Pada bagian ujung makam terdapat informasi siapa sosok yang dimakamkan di makam tersebut.   Informasi pada makam tersebut tertulis “Bapak Kolot PIDIN – Wafat Tahun 1500 M” tulisan tersebut tertulis di bawah tulisan arab yang berbunyi ALLAH.

Satu bangunan makam lainnya ukurannya lebih kecil dan nampaknya makam untuk satu orang saja, karena cungkup atau nisan makamnya hanya satu. Tidak ada tulisan yang menjelaskan siapa yang dimakamkan di makam tersebut.

Ritual ziarah nampaknya dipusatkan di makam “Bapak Kolot PIDIN” di depan makam nampak terdapat tempat pembakaran kemenyan dan di depannya terhampar tikar pandan untuk tempat peziarah memanjatkan do’a.   Ritualnya cukup unik, pertama peziarah duduk bersila di depan makam setelah sebelumnya melakukan gerakan seperti menyembah seorang raja selama beberapa kali. Setelah itu peziarah meletakkan ikatan merang padi hingga api menyala membakar merang dilanjutkan dengan meletakkan kemenyan hingga asap mengepul. Doa diucapkan di dalam hati peziarah dan kemudian dilanjutkan dengan gerakan seolah-olah menangkap asap kemenyan dan diusapkan beberapa kali ke muka peziarah. Usai ritual tersebut kemudian peziarah bangkit dari duduk, mengambil air bunga mawar dan menyiramkannya ke seluruh makam yang ada. Doa dipanjatkan di setiap batu nisan makam. Ritual ziarah selesai ketika seluruh makam sudah disiram air mawar dan sudah melakukan do’a di setiap nisan makam yang ada.

Lalu seluruh makanan yang ditata seperti sesajen yang sudah dipersiapkan dari rumah, disantap bersama di lokasi makam.   Jadi makanan yang selama ini oleh warga Grand Cibubur dianggap sebagai sesaji persembahan, ternyata adalah makanan yang sengaja dibawa dari rumah oleh peziarah untuk disantap bersama di lokasi makam usai melakukan ritual dan doa ziarah.

Jika warga Grand Cibubur menyatakan bahwa para pembantu dan Tukang Cuci mereka dipastikan mengikuti ritual ziarah makam leluhur tersebut, ternyata di lokasi kegiatan tidak hanya kalangan masyarakat bawah saja yang datang melakukan ziarah. Hampir dari segala lapisan masyarakat dapat ditemui di lokasi ziarah makam.   Dari jenis kendaraan yang digunakan para peziarah, dapat kita jumpai mulai dari mobil bak terbuka yang usianya tua, truk sampah, truk pasir, mobil sedan tua, Xenia, Avanza, Inova, hingga Pajero dapat kita jumpai di lokasi makam. Ini membuktikan bawa kegiatan ziarah makam leluhur tersebut memang diikuti oleh beragam lapisan masyarakat.

Lalu siapa sebenarnya yang dimakamkan di lokasi makam tersebut ? Untuk mencari tahu hal tersebut, kami berkesempatan mewawancarai Bapak Anim Imanuddin SE.MM yang saat ini menjabat sebagai Ketua Komisi C DPRD Kota Bekasi yang juga merupakan Keturunan ke-7 dari sosok yang dimakamkan di makam tersebut.

Bapak Anim menjelaskan bahwa yang dimakamkan di makam tersebut adalah orang pertama yang membuka kawasan Keranggan pada abad 15 M. Orang tersebut adalah salah satu pelarian dari Kerajaan Padjajaran yang pada saat itu tengah menghadapi gempuran dari Kerajaan Islam yang mulai berkembang di Nusantara. Bapak Anim mengatakan bahwa siapa sosok sebenarnya yang ada di makam tersebut tidak dapat disampaikan, karena sudah ada sumpah dari anak keturunannya untuk tidak membuka jati diri pelarian dari kerajaan Padjajaran tersebut. Informasi Sosok tersebut hanya diberikan dalam bentuk nama dunia atau nama samarannya saja, yaitu Bapak Pidin.

Ritual Ziarah Leluhur yang diadakan pada hari ke tujuh bulan syawal menurut Bapak Anim adalah semata-mata untuk membiasakan anak keturunan dari warga Keranggan untuk tetap menghormati para leluhur yang telah berjasa membuka kawasan keranggan. Wujud penghormatan kepada para leluhur tersebut diwujudkan dalam bentuk Ziarah Makam Leluhur. Ritual Ziarah Leluhur di makam keranggan tersebut dilakukan 2 kali dalam setahun, yaitu pada saat Maulid nabi Muhammad SAW dan pada saat hari ke 7 - Idhul Fitri. Bapak Anim juga menambahkan bahwa para peziarah selalu diingatkan bahwa ritual ziarah leluhur tidak boleh menjadi ritual yang berbau syirik. Setiap doa yang dipanjatkan harus do’a yang dipanjatkan kepada Allah Subhanna Wa Ta’ala.

Bapak Anim juga menyatakan bahwa pada tahun yang akan datang kegiatan Ziarah Makam Leluhur ini akan dijadikan sebagai salah satu Ritual Budaya yang akan terus dipertahankan dan juga akan terus dikembangkan sarana dan prasarana penunjangnya.

Jadi, buat seluruh warga Grand Cibubur, mudah-mudahan sekarang sedikit bertambah informasinya tentang aktivitas Ziarah Makam Leluhur yang rutin dilakukan oleh warga sekitar kawasan perumahan Grand Cibubur.