^Kembali ke Atas

foto1 foto2 foto3 foto4 foto5

"Izan koq cuma dapat nilai 65 ?" tanyaku ketika Izan menunjukkan Nilai Ulangan Harian sekolahnya.   Jawaban Izan cukup santai saja " Khan kata ayah minimal nilainya 60, kalo dapet 65 berarti khan gak' apa-apa ..." begitu ujarnya.

Ya ... kami memang tidak pernah memaksakan anak-anak kami untuk mendapatkan nilai Seratus pada setiap kali test atau ulangan di sekolah mereka.  "Pokoknya ayah gak' akan mengharuskan Izan dapet nilai Seratus... minimal 60, tapi kalo bisa dapet 100, bakal ayah kasih Bonus " begitu ujarku waktu itu.

 

Kebijakan yang tidak mewajibkan anak-anakku untuk mendapatkan nilai seratus memang sengaja kami terapkan agar anak-anak kami tidak merasa mendapatkan tekanan ketika belajar di sekolah mereka.  Kami juga tidak pernah memberikan "waktu wajib untuk belajar" bagi anak-anak kami.  "Pokoknya Dhany dan  Izan terserah mau belajar kapan saja .. bebas ... tidak ada paksaan .." ujarku kepada Dhany dan Izan dengan memberikan kalimat tambahan sesudahnya yaitu : "Bebas belajar kapan aja, yang penting nilainya diatas 60 dan kalo dapet 100 bisa dapet bonus special dari ayah" begitu ujarku

 

Bukan tanpa alasan jika kami memberikan kebebasan anak-anak kami untuk tidak harus belajar pada jam yang dianut banyak orang tua sebagai "Jam belajar Anak".  Banyak beberapa fakta yang kami dapatkan bahwa belajar itu harus datang dari diri sendiri.  Belajar tidak bisa dipaksa dan diatur-atur.   Kami masih ingat ketika kami kecil dahulu, ada teman sepermainan kami yang memiliki orang tua yang menerapkan "Jam Khusus Belajar" bagi anak-anak mereka.  Ayah temanku tersebut menerapkan aturan bahwa setiap Pukul 18.30 Wib - 20.00 Wib adalah  waktunya untuk Belajar.  Mereka semua diwajibkan untuk memegang buku pelajaran dan membaca dengan khusu'.   Ketika Belajar jadi sebuah kewajiban, aktivitas temanku pada jam "Wajib Belajar" tersebut hanyalah memandangi buku sementara pikirannya melayang-layang entah kemana.  Hasilnya luar biasa ... tiap kali ketika sang Ayah keluar rumah pada Jam wajib belajar tersebut, maka buku yang sedang dipegang segera dilempar dan pergi ke luar rumah untuk bermain yang ia inginkan.

 

Bagi kami adalah sesuatu yang sangat penting untuk menanamkan kepada anak-anak bahwa setiap kebebasan yang diberikan kepada mereka harus diterima dengan rasa tanggungjawab.  Pada kasus anak kami, kami berikan kebebasan kepada mereka untuk belajar kapan saja mereka mau, dengan syarat yang juga sederhana, yaitu nilai di sekolah mereka minimal adalah 60.

 

Dampaknya, Dhany dan Izan menunjukkan kegembiraan mereka atas kebebasan jam belajar dengan rasa malu setiap kali melaporkan bahwa hasil test mereka disekolah hanya mendapatkan nilai 60.  Dhany lebih sering mendapatkan nilai 90 dan 100, sedangkan Izan walaupun jarang mendapatkan nilai 100, selalu meminta maaf jika nilai yang ia dapatkan hanya 60 atau 70 saja.

Dhany dan Izan juga memberikan janji mereka kepada kami, bahwa atas kebebasan yang diberikan oleh kami, mereka berjanji akan membawa piala peringkat 10 besar disekolah.  Semoga saja ...