^Kembali ke Atas

foto1 foto2 foto3 foto4 foto5

MENUMBUHKAN MINAT BACA SEJAK USIA DINI

oleh

Hari Karyono / Dosen Pascasarjana Universitas PGRI Adibuana Surabaya

 

Masalah minat baca sampai saat ini masih menjadi tema yang cukup aktual. Tema ini sering dijadikan topik pertemuan ilmiah dan diskusi oleh para pemerhati dan para pakar yang peduli terhadap perkembangan minat baca di Indonesia. Namun hasil dari pertemuan-pertemuan ilmiah tersebut belum memberikan suatu rekomendasi yang tepat bagi perkembangan yang signifikan terhadap minat baca masyarakat. Permasalahan yang dirasakan oleh bangsa Indonesia sampai saat ini adalah adanya data berdasarkan temuan penelitian dan pengamatan yang menunjukkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia relatif masih sangat rendah. Ada beberapa indikator yang menunjukkan masih rendahnya minat baca masyarakat Indonesia. Rendahnya budaya membaca ini juga dirasakan pada pelajar dan mahasiswa. Perpustakaan di sekolah/kampus yang ada jarang dimanfaatkan secara optimal oleh siswa/mahasiswa. Demikian pula perpustakaan umum yang ada di setiap kota/kabupaten yang tersebar di nusantara ini, pengunjungnya relatif tidak begitu banyak. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia belum mempunyai budaya membaca. Sehingga wajar apabila Indeks Sumber Daya Manusia bangsa Indonesia juga rendah.

Upaya menumbuhkan minat baca bukannya tidak dilakukan. Pemerintah melalui lembaga yang relevan telah mencanangkan program minat baca. Hanya saja yang dilakukan oleh pemerintah maupun institusi swasta untuk menumbuhkan minat baca belum optimal. Oleh karena itu, agar bangsa Indonesia dapat mengejar kemajuan yang telah dicapai oleh negara-negara tetangga, perlu menumbuhkan minat baca sejak dini. Sejak mereka mulai dapat membaca. Dengan menumbuhkan minat baca sejak anak-anak masih dini, diharapkan budaya membaca masyarakat Indonesia dapat ditingkatkan.

Bacaan yang kurang memikat dan minimnya sarana perpustakaan sekolah menjadi faktor utama penyebab minat baca siswa rendah. Sementara itu, sekolah tidak selalu mampu menumbuhkan kebiasaan membaca bagi para siswanya. Dengan kondisi kualitas buku pelajaran yang memprihatinkan, padatnya kurikulum, dan metode pembelajaran yang menekankan hafalan materi justru 'membunuh' minat membaca. Menurut Prof. Dr. Riris K. Toha Sarumpaet, Guru besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia ini melihat, sekolah tidak memadai sebagai tempat untuk menumbuhkan minat baca anak didik. Hal ini, menurut dia, tidak terlepas dari kurikulum pendidikan. Kurikulum yang terlalu padat membuat siswa tidak punya waktu untuk membaca. Riris mengemukakan bahwa siswa terlalu sibuk dengan pelajaran yang harus diikuti tiap hari. Belum lagi harus mengerjakan PR.(www.republika.co.id., diakses 24 Desember 2007). Oleh karena itu, solusi terbaik dalam membuka jalan pikiran seorang siswa agar mereka mempunyai wawasan yang luas, adalah dengan cara membaca. Agar siswa dapat membaca buku secara ajeg, maka kepada mereka perlu disediakan bahan bacaan yang cukup koleksinya. Oleh karena itu, perpustakaan merupakan wacana baca yang mampu menyediakan beragam buku baik fiksi nonfiksi, referensi, atau nonbuku seperti majalah, koran, kaset serta alat peraga, wajib dimiliki setiap sekolah.

Selengkapnya: MENUMBUHKAN MINAT BACA SEJAK USIA DINI


Belajarlah seiring dengan hembusan nafas, berhenti belajar ketika nafas berhenti. Belajar juga yang akan membedakan seseorang bisa menyikapi kondisi yang sama dengan cara yang berbeda, tentu saja mendapatkan keuntungan dari kondisi paling merugikan sekalipun. Mengisi hidup yang penuh tidak hanya membutuhkan kepintaran, tapi juga kecerdasan, kreativitas dan inovasi. Apa bedanya?

Kepintaran adalah kemampuan Anda dalam menyerap informasi. Ketika Anda mampu membaca dan mengambil ilmu pengetahuan dari buku atau informasi yang Anda serap, Anda cukup pintar. Akan tetapi, kepintaran berhenti disitu saja. Orang pintar memiliki banyak pengetahuan, akan tetapi kadang menghambatnya dalam pengambilan keputusan, karena pengetahuan yang banyak itu memberikan banyak informasi.

Kecerdasan adalah kemampuan mengelola kepintaran. Orang yang sukses kadang orang yang tidak terlalu pintar, akan tetapi bisa mengelola orang pintar. Kecerdasan membuat Anda tahu siapa orang pintar yang cocok mengerjakan jenis pekerjaan tertentu. Kecerdasan membuat Anda bisa mengambil keuntungan dari kombinasi kepintaran.

Kreativitas adalah kemampuan untuk membuat perbedaan. Orang yang kreatif adalah orang yang melihat hal yang sama tapi berpikir dengan cara yang berbeda. Kreativitas menghasilkan perbedaan dan orang yang kreatif bisa stand out of the crowd, tampil diantara kerumunan orang. Perbedaan membuat peluang baru terbuka.

Inovatif adalah kemampuan untuk menemukan nilai komersil dari kreativitas. Inovasi membuat kreativitas tidak cukup untuk meraih sukses. Kreatif hanya membuat perbedaan, inovasi membuat perbedaan tersebut memiliki nilai komersil.

Oleh karena itu, belajarlah seumur hidup, dan Anda bisa memiliki kepintaran, kecerdasan, kreativitas dan inovasi. Semuanya bukanlah bakat, akan tetapi disiplin. Tentu saja bisa dipelajari.

Sumber: http://hermawayne.blogspot.com

Jadi Aktivis Kampus – Bikin Lama Kuliah ?

Pada satu kesempatan mendapatkan tugas kantor untuk melakukan interview bagi Pelamar yang mengajukan aplikasi untuk posisi sebagai Management Trainee, saya mendapatkan statement menarik dari salah satu pelamar yang saya interview.

Statement menarik tersebut adalah pernyataan dari salah seorang pelamar yang menyatakan bahwa dirinya selama kuliah tidak aktif dalam kegiatan kampus karena tidak ingin studinya terganggu. Masih menurut pelamar tersebut, Jika kita aktif di organisasi kampus, maka artinya kita harus siap untuk menyelesaikan kuliah dalam jangka waktu yang cukup lama.

Pada waktu itu saya memang mengajukan satu pertanyaan tentang apa aktivitas organisasi yang pernah diikuti oleh sang pelamar. Pertanyaan ini saya ajukan karena saya melihat IPK sang pelamar memang sangat memuaskan, yaitu mencapai IPK 3.25 pada skala 4. Saya berharap IPK yang tinggi tersebut ditunjang dengan pengalaman berorganisasi dari sang pelamar.

Tapi rupanya kekecewaan menghinggapi saya dengan kenyataan bahwa sang kandidat yang memiliki IPK tinggi tersebut, ternyata selama kuliah sama sekali tidak aktif dalam satupun organisasi kemahasiswaan yang ada. Bahkan hanya sekedar menjadi anggota biasapun sang kandidat tidak pernah tercatat dalam satupun organisasi kemahasiswaan. Masih berharap mendapatkan jawaban yang cukup memuaskan, ternyata sang kandidat juga menegaskan bahwa dirinya juga tidak mengikuti organisasi apapun di luar kampus. Bahkan organisasi karang taruna di wilayah tempat tinggalnya, dirinya juga tidak pernah megikutinya.

Selengkapnya: Jadi Aktivis Kampus – Bikin Lama Kuliah ?

Radio Sekolah merupakan alat peraga auditif yang besar nilainya pada sebuah proses pendidikan. Sekolah dapat mengikuti siaran radio yang dipancarkan dari luar mengenai masalah-masalah yang berkenaan dengan pelajaran di kelas, atau apabila fasilitas memungkinkan sekolah dapat juga mendirikan pemancar radio pendidikan tersendiri.

Keberadaan radio sekolah yang dikelola oleh seluruh stake holder yang ada di sekolah, akan mampu memberikan nilai tambah dalam kegiatan pembelajaran di sekolah.

Tertarik membuat Radio Sekolah ? jika ya … mari kita lakukan langkah-langkah pembuatan Stasiun Pemancar Radio Sekolah dengan rincian seperti berikut ini :

1. Persiapan Sarana dan Prasarana

A. Ruang Studio

Ruang studio yang dibutuhkan untuk pengelolaan Radio Sekolah, dapat disesuaikan dengan kondisi yang ada di sekolah. Jika dimungkinkan, ruangan diupayakan dalam bentuk ruangan tertutup untuk memastikan penyiar yang sedang bertugas dapat melakukan siaran dengan nyaman, dan tidak ada distorsi suara dari luar studio yang dapat mengganggu kualitas suara yang dipancarkan melalui pemancar. Ukuran Studio juga sangat relatif. Ruangan dengan ukuran 4m x 3 m juga sudah dapat dimanfaatkan sebagai Ruangan Studio.

Furniture yang harus disediakan di Ruang Studio minimal adalah Meja untuk meletakkan Komputer, Mixer, dan Microphone.   Meja dilengkapi dengan 2 atau 3 kursi. Sediakan juga rak untuk tempat meletakkan Pemancar.

Jangan lupa sediakan Power Listrik untuk kebutuhan listrik seluruh perangkat siaran yang membutuhkan akses listrik. Minimal dibutuhkan 6 stop kontak.

Selengkapnya: Panduan Pembuatan Radio Sekolah

"Izan koq cuma dapat nilai 65 ?" tanyaku ketika Izan menunjukkan Nilai Ulangan Harian sekolahnya.   Jawaban Izan cukup santai saja " Khan kata ayah minimal nilainya 60, kalo dapet 65 berarti khan gak' apa-apa ..." begitu ujarnya.

Ya ... kami memang tidak pernah memaksakan anak-anak kami untuk mendapatkan nilai Seratus pada setiap kali test atau ulangan di sekolah mereka.  "Pokoknya ayah gak' akan mengharuskan Izan dapet nilai Seratus... minimal 60, tapi kalo bisa dapet 100, bakal ayah kasih Bonus " begitu ujarku waktu itu.

 

Kebijakan yang tidak mewajibkan anak-anakku untuk mendapatkan nilai seratus memang sengaja kami terapkan agar anak-anak kami tidak merasa mendapatkan tekanan ketika belajar di sekolah mereka.  Kami juga tidak pernah memberikan "waktu wajib untuk belajar" bagi anak-anak kami.  "Pokoknya Dhany dan  Izan terserah mau belajar kapan saja .. bebas ... tidak ada paksaan .." ujarku kepada Dhany dan Izan dengan memberikan kalimat tambahan sesudahnya yaitu : "Bebas belajar kapan aja, yang penting nilainya diatas 60 dan kalo dapet 100 bisa dapet bonus special dari ayah" begitu ujarku

Selengkapnya: Tidak Harus Nilai 100...