^Kembali ke Atas

foto1 foto2 foto3 foto4 foto5

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Setiap kali tiba tanggal 1 Muharram, saya selalu mengingat satu kejadian yang tidak dapat saya lupakan. Waktu itu 4 tahun yang lalu, di Perumahan kami tinggal di wilayah Bogor, saya “berkelahi” dengan teman pengurus DKM berkaitan dengan penentuan jenis kegiatan dalam rangka menyambut 1 Muharram.

Ketika itu, dengan latar belakang adanya fakta bahwa peringatan Tahun Baru Islam di lingkungan kami adalah jauh dari suasana gegap gempita, serta bertolak belakang dengan gegap gempitanya masyarakat ketika menyambut Perayaan Tahun Baru Masehi, saya mengusulkan untuk mengadakan kegiatan yang targetnya adalah menanamkan ingatan anak-anak kita bahwa 1 Muharram adalah Tahun Baru milik Umat Islam yang seharusnya dirayakan dengan keriangan, keramaian serta ucapan syukur. Acara yang saya usulkan pada waktu itu adalah kegiatan Pawai Obor.

Tak dinyana tak diduga, pengurus DKM mentah-mentah menolak kegiatan yang saya usulkan dengan satu kalimat yang sesungguhnya tidak saya mengerti, yaitu : “ Nabi Muhammad SAW tidak pernah mencontohkan untuk melakukan kegiatan meyambut 1 Muharram dengan kegiatan Pawai Obor … lebih baik kita melakukan kegiatan tafakur di mesjid …”

 

Saya ajukan argumentasi bahwa nyatanya sudah 3 tahun berturut-turut kegiatan tafakur di mesjid dalam rangka menyambut Tahun Baru 1 Muharram, hanya dihadiri oleh tidak kurang dari 20 orang jama’ah yang separuh diantaranya adalah jamaah yang sudah tergolong usia lanjut. Saya ajukan juga tantangan kepada pengurus DKM untuk bertanya ke siswa-siswi TPA untuk membuktikan keyakinan saya, bahwa dari sekian ratus siswa-siswi TPA yang belajar dimasjid, tidak lebih dari 10 persen saja yang mengerti dan mengetahui bahwa 1 Muharram adalah Tahun Baru Islam. Ini tentu saja satu ironi yang harus kita sikapi dengan segera.

Saya juga sampaikan argumentasi, bahwa alasan saya mengajukan kegiatan perayaan 1 Muharram dalam bentuk Pawai Obor, adalah untuk menanamkan ke memory anak-anak kita, bahwa 1 Muharram adalah Tahun Baru Islam yang seharusnya dirayakan dan diperingati lebih meriah dibandingkan dengan Tahun Baru Masehi.

Saya juga sampaikan kepada pengurus DKM, bahwa saya memberikan jaminan bahwa melalui kegiatan Pawai Obor, saya mampu menghadirkan tidak kurang dari 500 orang yang terdiri dari anak dan orang tua mereka. Ketika 500 orang sudah berhasil saya kumpulkan, maka saya persilahkan pengurus DKM mengambil peran dengan melakukan Ceramah dan Siraman Rohani yang berkaitan dengan Hikmah 1 Muharram.   Cara seperti ini menurut saya lebih baik ketimbang memaksakan kegiatan Tafakur Masjid yang untuk saat ini hanya diminati oleh 20 orang jamaah saja.

Tapi Argumentasi saya yang menurut para pengurus DKM adalah berasal dari “kaum abangan” yang tidak memiliki ilmu keislaman yang mumpuni, tetap tidak membuat pengurus DKM menyetujui usulan yang saya ajukan dan lebih memilih untuk tetap menyambut Tahun Baru Islam dengan melakukan kegiatan Tafakur Masjid.

Sepulang dari Mesjid, saya terpikir untuk melakukan secara mandiri kegiatan Pawai Obor dalam rangka meyambut Tahun Baru Hijriah. Tujuannya hanya satu, membuktikan kepada pengurus DKM bahwa adalah lebih bermanfaat melakukan kegiatan yang mampu mengumpulkan jamaah dalam jumlah besar dan kemudian mengisinya dengan Tauziah dan Siraman Rohani dengan mengambil topik Hikmah Tahun Baru Hijriah, ketimbang melakukan kegiatan Tafakur Mesjid menyambut Tahun Baru Hijriah dengan hanya diikuti oleh 20 orang jamaah saja. Jika 20 persen saja dari 500 orang yang mengikuti Pawai Obor di tahun ini dapat kita gugah hatinya untuk mengikuti kegiatan Tafakur Masjid di tahun depan, maka minimal di tahun depan kegiatan Tafakur Masjid dapat dilaksanakan dengan jumlah jamaah yang jauh lebih banyak. Harapannya, ditahun berikutnya nanti, kegiatan Pawai Obor dapat dilaksanakan sebagai bagian dari kegiatan Tafakur Masjid dalam rangka menyambut Tahun Baru Hijriah.

Menggandeng beberapa anak muda serta ibu-ibu rumah tangga, saya membentuk Panitia Kegiatan Pawai Obor dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam. Ketika jelang tiga hari sebelum hari kegiatan, kami berhasil mendapatkan konfirmasi keikutsertaan lebih dari 200 orang anak untuk mengikuti kegiatan Pawai Obor dan pada 1 hari menjelang hari pelaksanaan, melonjak menjadi hampir 300 anak untuk mengikuti kegiatan pawai Obor. Dengan membuat ketentuan bahwa peserta Pawai Obor harus didampingi oleh orang tua mereka, maka hingga satu hari jelang pelaksanaan kegiatan, kami mendapatkan konfirmasi kehadiran 500 orang untuk mengikuti kegiatan Pawai Obor.

Kami merancang kegiatan yang terdiri dari Pawai Obor dan dilanjutkan dengan kegiatan Nada dan Dakwah. Kegiatan Nada dan Dakwah adalah kegiatan menyanyikan lagu-lagu religius yang diselingi dengan Dakwah yang mengambil tema Hikmah di Tahun Baru Hijriah. Lagu-lagu Religius dilantunkan oleh beberapa remaja yang mengklaim diri mereka sebagai Anak Band. Sedangkan untuk penyampai Dakwah, kami mengundang Ustadz dari “Mesjid Kampung Sebelah” yang menyambut baik konsep acara yang kami buat.

Ketika tiba di hari pelaksanaan kegiatan, 2 jam sebelum acara berlangsung, Hujan Badai dan pemadaman listrik terjadi di lingkungan perumahan kami.   Hujan reda 1 jam kemudian, tetapi pemadaman listrik tetap berlangsung. Kami seluruh panitia dihinggapi rasa “deg-deg’an” apakah kegiatan Pawai Obor kami akan terlaksana sesuai dengan rencana. Seluruh panitia menuju ke Lapangan Utama perumahan untuk menanti kehadiran para peserta kegiatan. Sound System yang kami persiapkan sebelumnya praktis tidak dapat kami gunakan. Sebagai gantinya kami menggunakan Megaphone.

Kata Alhamdulillah terucap ketika kami melihat beberapa rombongan peserta dengan cahaya terang obor mulai terlihat keluar dari beberapa ruas jalan yang ada di perumahan kami. Sesuai dengan waktu yang diharapkan, kegelapan lingkungan perumahan kami yang terjadi karena adanya pemadaman listrik oleh PLN, berganti menjadi terang benderang oleh cahaya lebih dari 300 obor yang dibawa oleh anak-anak dengan didampingi oleh orang tua mereka.

Malam itu dengan segala keterbatasan sarana yang ada, kemeriahan malam Tahun Baru Islam terasa melebihi kemeriahan Malam Tahun Baru Masehi yang biasa terjadi di Perumahan Kami. Ustadz yang kami undang untuk mengisi ruang Dakwah, memberikan uraian Hikmah Tahun Baru Hijriah kepada seluruh peserta yang hadir yang jumlahnya cukup memuaskan dengan kehadiran yang mencapai 600 orang peserta..

Acara akhirnya usai dengan kegembiraan yang amat sangat. Hari itu kami gembira karena telah membenamkan ingatan ke 300 anak di lingkungan perumahan kami bahwa 1 Muharram adalah Tahun Baru Islam yang harus dirayakan dengan keceriaan, keramaian, kebahagiaan, serta yang terpenting adalah ucapan syukur atas rahmat dan karunia yang telah dilimpahkan Allah SWT kepada kita di tahun yang lalu.

Bagaimana kegiatan Tafakur Masjidnya ? masih dilaksanakan dan masih dengan 20 orang jamaah saja. Entahlah …. Pengurus DKM masih tetap membutakan mata mereka. Pengurus DKM masih tetap tidak menyadari bahwa inilah medan dakwah yang sesungguhnya.   Mereka lebih suka memilih dakwah di depan 20 orang jamaah ketimbang berdakwah di depan 600 orang.

Padahal jika tahun depan mereka bersedia melakukan sinergi kegiatan Pawai Obor dengan kegiatan Tafakur, saya memberikan garansi bahwa kegiatan Tafakur Masjid akan seramai kegiatan pawai Obor. Betapa membahagiakan ketika masjid kita diramaikan dengan Jamaah di malam Tahun Baru Hijriah. Pengurus DKM tetap berpegang pada kalimat “ Nabi Muhammad SAW tidak pernah memberikan contoh untuk melakukan Pawai Obor …“

Nabi Muhammad SAW memang tidak pernah memberikan contoh memperingati 1 Muharram dengan kegiatan Pawai Obor. Tapi mereka lupa, bahwa Islam berkembang pesat di Pulau Jawa melalui dakwah yang disampaikan lewat pertunjukkan wayang, yang juga tidak pernah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Wassalammu’alaikum Wr.Wb

Didi Mardiyanto

 

(Bukan Pendakwah, mohon dimaafkan bila ada isitilah islam yang salah ..)